parenting

Jangan Salah, Anak Juga Bisa Terkena Emotional Eating Lho Bunda

Amelia Sewaka Minggu, 30 Dec 2018 11:00 WIB
Jangan Salah, Anak Juga Bisa Terkena Emotional Eating Lho Bunda
Jakarta - Emotional eating alias makan demi membuat diri nyaman dan bukan karena lapar biasanya memang terjadi pada orang dewasa. Namun ternyata, anak-anak bisa juga lho mengalaminya.

Hal ini disampaikan langsung oleh psikolog Tara de Thouars, BA, MPsi. Ia meyakini bahwa anak-anak juga bisa terkena perilaku emotional eating. Karena, emotional eating sebenarnya adalah habit atau kebiasaan yang terbentuk sejak kecil.

"Biasanya ini adalah habit yang terbentuk dari kecil karena pola asuhnya dibiasakan. Sehingga, masuk ke dalam mindset anak bahwa, 'Oh berarti kalau saya lagi tidak nyaman atau stres, salah satu pelariannya adalah makanan'. Inilah yang akhirnya jadi habit hingga mereka tumbuh dewasa dan akhirnya berdampak nggak baik," papar Tara di sela acara 'Unilever Ajak Masyarakat Waspadai Kelebihan Asupan Gula Garam Lemak Akibat Emotional Eating' di di Blue Jasmine Restaurant, Jakarta Selatan, baru-baru ini.



Tara menjelaskan, usia anak bisa terpapar kebiasaan emotional eating sejak 3 hingga 4 tahun. Karena menurut Tara, anak-anak itu kalau stres nggak dirasa, tidak seperti orang dewasa yang tahu ketika mereka sedang stres dan butuh sesuatu, maka makanan pun jadi pelarian.

"Kalau anak biasanya nggak tahu kalau dia lagi stres. Biasanya anak-anak ini akan tantrum dan marah, let's say anak usia 3 hingga 4 tahun. Dia bisa marah, nangis, nah yang menjadikan mereka emotional eater bukan anaknya tapi orang tuanya sendiri. 'Duh, biar diam kasih permen deh'," tambah Tara.

Jangan Salah, Anak Juga Bisa Terkena Emotional Eating Lho BundaIlustrasi emotional eating/ Foto: iStock


Nah, hayo pasti Bunda atau Ayah secara nggak sadar pernah nih memperlakukan anak seperti ini. Padahal menurut Tara, hal seperti inilah yang membuat anak berpikir, 'Oh supaya saya lebih nyaman, saya makan permen'. Jadi, bukan anak yang paham kalau dia lagi nggak nyaman dengan keadaannya lalu dia makan permen, namun dari pola asuh orang tuanya sendiri yang akhirnya berdampak pada emotional eating anak.

"Orang tuanya, balik lagi, ketika mengasuh dan mereka membiasakan hal seperti itu. Seperti ketika anak ngamuk, kemudian orang tua menjanjikan beli es krim jika anak diam. Maka anak akan menangkap, ya sudah ketika dia kesal dia harus cari es krim," imbuh Tara.

Nah, ingat ya Bunda, hal tersebut akan tertanam di pikiran anak hingga dia dewasa atau fungsi kognitifnya mulai jalan. Anak baru menyadari ketika merasakan yang namanya stres, ya dia akan lari ke makanan karena sejak kecil dibiasakan seperti itu oleh orang tuanya.

Hal ini juga disimpulkan dalam studi longitudinal dari orangtua dan anak-anak yang dilakukan Dr Claire Farrow dari Aston University dan rekan-rekannya di Loughborough dan Birmingham Universities. Studi ini melihat bagaimana orang tua menggunakan makanan dan praktik pemberian makanan berbeda pada anak saat berusia tiga hingga lima tahun.

"Makanan tinggi lemak, gula dan garam sering digunakan sebagai hadiah atau bahkan respon untuk meringankan sakit jika anak-anak marah. Bukti dari penelitian awal kami menunjukkan bahwa dalam melakukan hal ini, justru kita telah mengajarkan emotional eating pada anak di kemudian hari," tutur Dr Claire Farrow, selaku dosen senior Psikologi di Aston University, dikutip dari detikcom.

Dr Farrow menyimpulkan bahwa mereka yang belajar menggunakan makanan sebagai alat untuk menangani gangguan emosi sejak kecil, lebih mungkin untuk alami pola makan yang sama di kemudian hari saat dewasa. Seringkali ketika alami emotional eating, mereka konsumsi kalori tinggi, lemak tinggi, makanan padat energi yang tidak kondusif untuk kesehatan.

(rap/muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi