parenting

Tips agar Anak Tak Jadi Sosok Pendendam

Amelia Sewaka Minggu, 06 Jan 2019 18:00 WIB
Tips agar Anak Tak Jadi Sosok Pendendam
Jakarta - Sifat pendendam sudah pasti bukan sifat yang baik. Nah, gimana caranya orang tua menanamkan pendidikan yang baik ke anak soal rasa dendam ini?

Jeanete, seorang psikolog dari Universitas Pattimura, Ambon mengatakan, jangan pernah orang tua bercerita hal-hal buruk termasuk pengalaman buruk yang mereka alami ke anak-anaknya. Coba katakan pada anak banyak hal positif di luar sana dibanding kita mengingat masa lalu yang kelam.

"Kalau di Ambon, kita selalu mengajarkan anak-anak untuk berbagi rasa. Jadi siapapun, dia tinggal di mana, gendernya, usia, agama, asal usulnya darimana, ketika mengalami kesusahan atau kesulitan, wajib kita bantu. Nggak hanya berbagi sedih tapi juga bahagia," kata Jeanete saat ngobrol dengan HaiBunda.


Bahkan Jeanete bercerita, ada suatu tradisi di Ambon di mana anak-anaknya saling bertoleransi antar agama. Salah satunya dengan cara membangun gereja atau masjid bersama-sama, gotong royong.
Tips agar Anak Tak Jadi Sosok PendendamFoto: Istock



"Ada istilah, 'Cuci Negeri' yaitu membersihkan kampung semacam kerja bakti jadi semua turun tangan termasuk anak-anak. Nah, nilai-nilai itu yang selalu kita tanamkan ke anak sehingga mereka lupa jika mereka punya masa lalu kelam," tambah Jeanete.

Dengan begitu, rasa dendam tersebut akan menipis dan menghilang pada anak. Kemudian, pelan-pelan akan terkikis dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh berbagai pihak terutama orang tua.

"Orang dewasa tak bisa dihindari dari rasa dendam, tapi bukan berarti orang dewasa menularkan rasa dendam tersebut pada generasi di bawahnya. Karena anak bisa tumbuh jadi generasi perusak sehingga anak malah kehilangan masa keemasanya di sekolah," tutur Jeanete.

Menurut Jeanete, lewat budaya kita bisa kok menanamkan sifat positif. Termasuk mengurangi berbagai penyakit hati, salah satunya adalah dendam.
Tips agar Anak Tak Jadi Sosok PendendamFoto: Istock
Ada suatu contoh nih, Bun. Karena kesal terkadang anak-anak 2-3 tahun tidak segan memukul orang tuanya. Tidak terima, orang tua kadang memukul balik anaknya. Meski mungkin orang tua hendak menanamkan 'jika tidak mau sakit karena dipukul, maka jangan memukul', namun hal ini tanpa disadari mengajarkan balas dendam pada anak.

"Kalau orang tuanya memukul balik, itu jadi pelajaran penting bagi anak, di mana mereka jadi belajar balas dendam. Padahal seharusnya balas dendam tidak perlu ada, dan yang perlu adalah defence," jelas psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi, dilansir detikcom.

Lalu apa yang orang tua harus lakukan saat anaknya memukul? Ratih menyarankan agar orang tua memegang tangan anak yang bersiap memukul sembari memberi pengertian atau mengalihkan perhatian.

"Mungkin bisa sambil bilang 'mau panggil mama ya, Nak. Kalau mau panggil nggak usah mukul, dielus saja'. Untuk anak-anak 2-3 tahun, ini memang harus dialihkan," tuturnya.

Sedangkan untuk anak-anak yang lebih besar, usia 4-5 tahun, menurut Ratih sudah perlu diberikan pelajaran tentang konsekuensi. Jadi orang tua memberikan pemahaman kepada anak bahwa selalu ada konsekuensi atas apa yang dia lakukan. Jika anak melakukan perbuatan yang tidak baik, maka harus dibuat konsekuensi, misalnya harus membersihkan halaman.


(aml/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi