parenting

Cara Santai Menyampaikan Pendidikan Seks pada Anak Remaja

Ratih Wulan Pinandu Minggu, 13 Jan 2019 12:02 WIB
Cara Santai Menyampaikan Pendidikan Seks pada Anak Remaja
Jakarta - Belakangan, marak kasus prostitusi online ya, Bun. Sebagai orang tua, pasti kita merasa miris sekaligus was-was melihatnya, apalagi yang memiliki anak perempuan beranjak dewasa.

Di tengah pergaulan mereka yang semakin luas, tentu nggak mudah kan mengontrol kegiatan mereka secara terus menerus. Bunda dan Ayah akan mulai kehilangan waktu bersama gadis manis yang semakin dewasa. Seperti cerita ayah Vanessa Angel, Doddy Sudrajat, yang mulai kehilangan kontrol pada anaknya, semenjak tak lagi menjadi manajernya.

Selain itu, yang pasti menjadi kekhawatiran para orang tua adalah mengenai pengetahuan mereka tentang seks. Tentunya, agar anak-anak nggak salah jalan setelah dibekali dengan sex education atau pendidikan seks yang benar.


Melansir Planned Parenthood, pendidkan seks dirancang untuk membantu kaum muda mendapatkan informasi, keterampilan dan motivasi untuk membuat keputusan sehat tentang seksualitas sepanjang hidup mereka. Lalu, apakah cara itu dinilai cukup efektif?


Ternyata, sebuah penelitian tentang sex education, yang difokuskan pada pencegahan penyakit seks menular pada remaja, dapat membuktikan beberapa hal, Bun. Di antaranya, dapat menunda keputusan mereka untuk melakukan hubungan seksual sampai usia lebih tua. Jadi, dapat disimpulkan kalau pendidikan seks dapat membawa efek positif ya, Bun.

Namun sayangnya, hingga saat ini, orang tua masih merasa tabu membicarakan hal itu dengan anak-anaknya. Bunda, termasuk salah satunya nggak nih? Demi mencegah seks bebas, mulai sekarang lakukan pembahasan tentang hal itu melalui cara yang paling nyaman. Bicarakan dengan topik yang paling bisa diterima anak-anak, namun hindari membicarakannya dalam istilah kehidupan nyata.

Bahkan, Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Satyawanti Mashudi, menjelaskan bahwa materi tentang pendidikan seks harus dibedakan sesuai dengan usia dan gender anak. Jadi, pendekatan pada anak perempuan dan laki-laki akan berbeda, Bun.

"Kewajiban seorang ibu memberitahu kepada anaknya. Pada anak perempuan, dia sudah paham bahwa ketika menstruasi pertama, saat itulah dia tidak atau harus berhati-hati atau tidak melakukan hubungan seksual karena bisa terjadi kehamilan," kata Satyawanti baru-baru ini.

Masih bingung ya, Bun, seperti apa pembicaraan yang tepat? Ada stateginya nih. Seperti dilansir Sexedrescue, sebaiknya bicarakan dengan cara sesantai mungkin. Jangan sampai seperti seorang dosen yang sedang memberi kuliah pada anak remaja ya! Cari pembicaraan yang mengalir, seperti misalnya menanyakan tentang sesuatu yang sedang viral seperti tren makanan, fashion hingga game onlie, yang nantinya bisa dikaitkan ke arah sex education.

Lakukan pembicaraan itu saat sedang berada di mobil, berolahraga, bersantai di ruang televisi, atau memasak bersama anak-anak di dapur. Bahkan, sangat disarankan lho, untuk membagikan pengalaman Ayah dan Bunda saat remaja dulu. Seperti kapan waktu pertama bertemu, masa-masa pacaran, hingga pertama kali berciuman.

Percaya deh, Bun, kalau anak-anak akan lebih mendengarkan, sehingga lebih tertanam dalam benak mereka. Mereka akan belajar dari pengalaman orang tuanya, mengenai seks yang aman untuk mereka.

Namun, yang nggak kalah penting adalah membicarakan hal itu sesuai dengan ajaran yang Bunda dan Ayah anut ya. Sesuaikan dengan pendidikan agama, bagaimana hal itu diatur. Bicarakan hal-hal yang dilarang dan diperbolehkan. Sehingga, anak secara sadar mengetahui alasan harus pintar membawa diri dan menghindari seks berbahaya sebelum waktunya.

(rap/muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi