parenting

Kenal Kebudayaan Daerah Bisa Tumbuhkan Kompetensi Literasi Anak

Asri Ediyati Sabtu, 06 Apr 2019 10:30 WIB
Kenal Kebudayaan Daerah Bisa Tumbuhkan Kompetensi Literasi Anak
Jakarta -
Bicara mengenai literasi, Indonesia termasuk negara yang masih sangat rendah akan tingkat literasinya. Hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2015, Indonesia berada di peringkat 62 dari 70 negara. Duh, jadi ikut prihatin ya, Bun?

Padahal, menurut psikolog anak Najeela Shihab, salah satu ciri masyarakat di masa kini dan nantinya di masa depan adalah jumlah informasi yang sangat banyak, kehidupan yang makin terdigitalisasi, serta jenis pekerjaan yang menuntut penalaran tingkat tinggi. Semuanya itu butuh literasi.

"Literasi bukan tentang kemampuan membaca saja, melainkan adalah perjalanan yang panjang, mulai dari anak-anak yang pemahamannya terbatas hingga jauh. Mulai dari memahami informasi sampai mengaplikasikannya di dunia nyata," kata Ela, panggilan akrabnya di acara Media Gathering Sekolah Cikal 'Playground of Ujung Pandang', Jumat (5/4/2019).


Untuk menumbuhkan kompetensi literasi anak, Ela tak cuma mengajak orang tua, guru, melainkan semua pihak dalam proses belajar mengajar anak. Selama setahun belajar di kelas, harapannya anak tak cuma belajar di lingkungan sekolah. Melainkan di luar sekolah.


"Semoga, dalam waktu segera, kompetensi literasi menjadi bagian dari cita-cita semua guru dan proses pendidikan untuk setiap anak," ujarnya.

Salah satu sekolah yang mendukung pertumbuhan kompetensi literasi anak adalah Sekolah Cikal. Sekolah tersebut menggelar subject showcase tiap tahunnya untuk merayakan kesuksesan perjalanan belajar. Murid-murid memperlihatkan hasil belajarnya dari dalam lingkungan sekolah dan luar sekolah. Tahun ini bertajuk Playground of Ujung Pandang.

Selain untuk memperkenalkan budaya Sulawesi Selatan pada murid-muridnya. Acara tersebut juga jadi ajang untuk berkontribusi pada program melek literasi 2.500 anak di Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Acara tersebut diisi dengan pertunjukan seni, musik, teater, bahkan pameran, dan lelang karya seni murid untuk kegiatan amal.

"Seluruh pendapatan yang diperoleh berlangsungnya acara, baik dari hasil penjualan tiket pertunjukan seni maupun hasil lelang akan disumbangkan dalam bentuk boardgames, dapat digunakan sebagai alat bantu oleh anak-anak di Jeneponto untuk belajar membaca," kata Pia Adiprima, ketua panitia acara.


[Gambas:Video 20detik]

(aci/som)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi