HaiBunda

PARENTING

Siswa Tewas di Sekolah, Apa Dampak Beri Hukuman Fisik pada Anak?

Yuni Ayu Amida   |   HaiBunda

Jumat, 04 Oct 2019 15:58 WIB
Siswa Tewas di Sekolah, Apa Dampak Beri Hukuman Fisik pada Anak? /Foto: iStock
Jakarta - Nasib malang menimpa siswa SMP di Mapanget, Manado, Sulawesi Utara. Ia meninggal setelah dapat hukuman fisik dari gurunya, akibat terlambat datang ke sekolah.

Melansir detikcom, siswa bernama Fanli, bersama lima siswa lainnya dihukum sang guru karena terlambat masuk sekolah pada Selasa (1/10/2019). Saat itu, Fanli datang sekitar pukul 07.15 Wita.

"Ada 6 orang terlambat, kemudian oleh guru mereka dijemur lebih kurang 15 menit. Kemudian mereka diperintahkan lari di lapangan," kata Kapolresta Manado Kombes Benny Bawensel.


Fanli beserta siswa yang terlambat lainnya dihukum memutari lapangan sekolah, yang berukuran 68 meter persegi sebanyak 20 putaran. Saat putaran keempat, Fanli jatuh tersungkur. Menurut polisi, Fanli sempat bicara ke temannya tentang kondisi dia yang tidak kuat berlari.

Fanli kemudian dibawa ke RS Auri dan dirujuk ke RS Malalayang Manado. Di RS Malalayang, Fanli dinyatakan tim dokter meninggal dunia. Sementara itu, guru yang memberi hukuman juga dirawat di rumah sakit akibat syok mengetahui siswanya meninggal.

Foto: iStock


Bicara soal hukuman fisik, psikiater dan psikoanalis dewasa dan anak remaja, Paul C. Holinger, M.D. menerangkan, hukuman fisik adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius di seluruh dunia. Karena ini sangat memengaruhi kesehatan mental anak-anak dan masyarakat di manapun kita hidup.

Penelitian bahkan menunjukkan, hukuman fisik dikaitkan dengan peningkatan kenakalan, perilaku antisosial, dan agresi pada anak-anak, dan penurunan kualitas hubungan orang tua dengan anak. Serta bisa mengganggu kesehatan mental anak, dan kapasitas anak untuk menginternalisasi perilaku yang dapat diterima secara sosial.

"Orang dewasa yang mengalami hukuman fisik di masa anak-anak lebih mungkin untuk menganiaya anak, atau pasangan mereka sendiri, dan menunjukkan perilaku kriminal," terang Holinger dilansir Psychology Today.

Menurut Holinger, daripada memberi hukuman fisik, lebih baik gunakan kata-kata untuk menjelaskan perasaan kita. Serta untuk menghindari anak berperilaku yang menyebabkan kita menghukumnya, sebaiknya sejak dini berikan contoh yang baik pada anak.

"Bertindak dan berbicara sebagaimana Anda ingin anak Anda bertindak dan berbicara. Karena anak berusaha untuk menjadi seperti Anda," terangnya.

[Gambas:Video 20detik]

(yun/muf)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Ciri Kepribadian EQ Tinggi yang Membedakannya dari Kebanyakan Orang Menurut Psikologi

Mom's Life Annisa Karnesyia

7 Cara Mengenali Atasan dengan EQ Tinggi dari Sikapnya di Tempat Kerja

Mom's Life Arina Yulistara

5 Potret Menggemaskan Arya Anak Anggika Bolsterli yang Baru Ultah Pertama

Parenting Annisa Karnesyia

Mengenal Apa Itu Gummy Bear Mom, Pola Asuh yang Tidak Batasi Makanan Anak Secara Ketat

Parenting Kinan

3 Cara Membuat Tempe Goreng Tepung Renyah dan Tahan Lama Meski Sudah Dingin

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Ciri Kepribadian EQ Tinggi yang Membedakannya dari Kebanyakan Orang Menurut Psikologi

Mengenal Apa Itu Gummy Bear Mom, Pola Asuh yang Tidak Batasi Makanan Anak Secara Ketat

5 Potret Menggemaskan Arya Anak Anggika Bolsterli yang Baru Ultah Pertama

7 Cara Mengenali Atasan dengan EQ Tinggi dari Sikapnya di Tempat Kerja

5 Kebiasaan Ini Bisa Melatih Kecerdasan EQ di Tempat Kerja

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK