sign up SIGN UP search


parenting

Kisah Nabi Harun, Saudara Nabi Musa yang Setia Mendampingi Berdakwah

Tim HaiBunda Kamis, 03 Jun 2021 12:06 WIB
Jakarta Islamic Center memiliki koleksi Al-Quran dengan bentuk yang tidak biasa. Al-Quran raksasa itu berukuran 100 cm x 50 cm. caption
Jakarta -

Kisah Nabi Harun tak kalah menariknya dari perjalanan para nabi lainnya. Dikenal sebagai kakak dari Nabi Musa, Nabi Harun memiliki suri tauladan yang bisa Bunda petik untuk mendidik buah hati.

Allah mengutus Nabi Harun untuk mendampingi Nabi Musa dalam berdakwah menyebarkan agama Islam. Berbeda dari Nabi Musa yang tegas dan pemberani, Nabi Harun dituding lemah namun sangat fasih dalam berbicara.

Sebab itulah, Nabi Harun menjadi juru bicara Nabi Musa saat menghadap Firaun maupun di hadapan umatnya. Lalu, seperti apa kisah kehidupan Nabi Harun? Yuk, simak ulasannya berikut ini.


Banner Pria Sopir di Arab

Kisah Hidup Nabi Harun

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Nabi Harun dan Nabi Musa memiliki selisih usia tiga tahun. Nabi Harun yang merupakan kakak dari Nabi Musa senantiasa mendampingi adiknya dalam mengemban tugas Allah. Allah mengangkat Nabi Harun sebagai nabi untuk memberikan peringatan sekaligus mengajak Firaun dan Bani Israil agar kembali ke jalan yang lurus.

Nabi Harun dan Pembangkangan Kaumnya

Setelah menyelamatkan kaum Bani Israil dari kejaran Firaun dan bala tentaranya, mereka berjalan menuju tanah yang telah Allah janjikan. Sepanjang perjalanan tersebut, bibit-bibit pembangkangan telah terlihat dari segelintir orang yang berada dalam rombongan Nabi Harun dan Nabi Musa.

Saat singgah di sebuah desa dengan penduduk yang menyembah patung anak sapi, segelintir kaum Bani Israil mengajukan permintaan aneh kepada Nabi Musa. Mereka meminta agar dibuatkan patung sesembahan seperti milik penduduk desa. Nabi Musa yang mendengar permintaan tersebut merasa marah. Setelah Allah menyelamatkan mereka dari kejaran Firaun, Bani Israil seolah tidak bersyukur.

Nabi Harun Menjadi Pemimpin Sementara Bani Israil

Singkat cerita, Nabi Musa harus menjalankan saum selama 30 hari di Bukit Sinai. Selama itu pula, Nabi Musa menitipkan kaumnya kepada Nabi Harun. Nabi Harun yang menjadi pemimpin kaum Bani Israil kala itu ditugaskan untuk memperbaiki tingkah laku mereka. Namun, bukan perkara mudah untuk menyadarkan Bani Israil agar berada di jalan yang lurus.

Salah satu rombongan Nabi Harun, Samiri, menghasut kaumnya agar mengumpulkan perhiasan emas untuk membuat patung anak sapi. Nantinya, patung anak sapi tersebut akan mereka jadikan sesembahan. Nabi Harun tak pantang menyerah. Beliau terus menasehati kaumnya agar tidak menyembah selain Allah.

Namun, nasehat Nabi Harun tidak mereka indahkan, sebab mereka menganggap Nabi Harun lebih lemah dari kaumnya. Nabi Musa yang kembali dari Bukit Sinai dibuat marah saat mendapati kaumnya kembali menyembah berhala. Bahkan, beliau menumpahkan amarahnya kepada Nabi Harun. Kendati demikian, Nabi Harun tetap setia dalam mendampingi Nabi Musa berdakwah.

Nabi Harun dan Pemberontakan Korah

NabiHarun dan Nabi Musa memiliki sepupu bernamaKorah.Korah mengajak anak-anakEliab dan kaum Bani Israel untuk melakukan pemberontakan terhadap NabiHarun dan Nabi Musa. Hal ini terjadi karena rasa iri Korah terhadap kedudukan Nabi Harun dan Nabi Musa.

Saat kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Korah berkumpul, atas izin Allah, bumi terbelah dan menelan mereka hidup-hidup. Setelah bumi terbelah, Allah mendatangkan api yang membakar seluruh kelompok pemberontak.

Wafatnya Nabi Harun

Kisah Nabi Harun yang mendampingi Nabi Musa dalam berdakwah tidak berhenti begitu saja meski terjadi pemberontakan. Keduanya tetap menyeru kepada agama Allah. Nabi Harun dan Nabi Musa yang saat itu akan masuk ke kawasan Kan'an mendapatkan penolakan.

Mereka akhirnya menuju suatu daerah hingga sampai di Gunung Hor, di kawasan perbatasan Edom. Sesuai perintah Allah, Nabi Harun dan Nabi Musa mendaki gunung tersebut bersama Eleazar -putra Nabi Harun. Di puncak Gunung Hor itulah Nabi Harun wafat. Kabar meninggalnya Nabi Harun terdengar oleh seluruh bangsa Isreal. Mereka menangis dan merasa kehilangan panutan saat Nabi Harun wafat.

Nabi Harun dan Kesetiaannya Pada Agama Allah

Dari kisah Nabi Harun, ada banyak pelajaran yang bisa Bunda petik dan dijadikan teladan dalam mendidik Si Kecil. Salah satunya adalah kesetiaan Beliau pada agama Allah. Nabi Harun yang kala itu belum diangkat menjadi nabi tetap setia mendampingi saudaranya dalam berdakwah. Segala cobaan dan ujian yang mereka hadapi tak membuat Nabi Harun gentar. Bahkan, saat menghadapi berbagai pemberontakan, Beliau dan Nabi Musa tetap mengajak Bani Israel menuju jalan yang lurus hingga akhir hayatnya.

Rasa Persaudaraan yang Begitu Erat

Hikmah lain yang dapat Bunda ajarkan pada si kecil adalah rasa persaudaraan yang begitu erat di antara Nabi Harun dan Nabi Musa. Walaupun belum diangkat menjadi nabi, Nabi Harun tak merasa iri sedikit pun. Beliau justru mendukung saudaranya dalam menyeru agama Allah.

Hal ini menjadi poin penting yang bisa Bunda ajarkan untuk Si Kecil agar tidak menyimpan rasa iri terhadap saudara sendiri. Ajari mereka untuk saling tolong menolong dalam hal kebaikan, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Harun dan Nabi Musa.

Tidak Menyombongkan Kemampuan

Disebutkan dari beberapa sumber bahwa Nabi Musa memiliki kekurangan dalam hal berbicara. Sebab itulah, Nabi Musa menjadikan Nabi Harun sebagai juru bicaranya. Dengan kelebihan yang beliau miliki, Nabi Harun tak sedikitpun merasa sombong. Beliau mengetahui batasannya sebagai juru bicara dengan menghargai Nabi Musa sebagai pemimpin Bani Israil. Nabi Harun tidak tetap mematuhi perintah yang diberikan oleh Nabi Musa.

Tidak Menyalahgunakan Kepercayaan yang Diberikan

Sebagai sosok yang dipercaya untuk mendampingi dakwah Nabi Musa, Nabi Harun tak menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Beliau tetap bersikap rendah hati meski menjadi tangan kanan Nabi Musa.

Bahkan, ketika Nabi Musa mempercayakan kaumnya kepada Nabi Harun, Beliau tidak mengingkari kepercayaan tersebut. Meskipun terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Samiri, Nabi Harun tetap melakukan tugasnya dengan menasehati mereka.

Sekalipun Nabi Harun dianggap lemah, beliau tidak berhenti begitu saja. Saat mendapati kemarahan Nabi Musa yang kembali dari Bukit Sinai, Nabi Harun tak sedikit pun menyimpan dendam kepada saudaranya. Beliau tetap menyertai perjuangan Nabi Musa dalam berdakwah.

Poin ini merupakan pembelajaran yang sangat baik untuk diterapkan pada buah hati Bunda. Agar ketika beranjak dewasa nanti, mereka tidak lalai dengan jabatan yang diemban dan tidak menyalahgunakan kepercayaan.

Nah, Bunda, itu tadi kisah Nabi Harun yang sarat akan suri tauladan. Kisah ini bisa Bunda jadikan cerita pengantar tidur untuk Si Kecil agar mereka lebih mengenal para nabi.

Dengan menceritakan kisah para Nabi, Si Kecil diharapkan mampu meniru kebaikannya. Begitu pula dalam kisah Nabi Harun, Si Kecil dapat meniru keberanian dan kesetiaan Nabi Harun dalam berdakwah. Begitu pun dengan kemampuannya yang dimanfaatkan untuk menyeru kebaikan di jalan Allah.

Oiya, saat Bunda membawakan cerita para Nabi, cobalah untuk mengajak Si Kecil berinteraksi. Tujuannya agar mereka tidak bosan dan lebih paham. (PK)

Simak juga video berikut mengenai cara mengenalkan agama pada anak dengan cara menyenangkan.

[Gambas:Video Haibunda]



(ziz/ziz)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi