PARENTING
11 Faktor Penentu Kesuksesan Anak Menurut Pakar, Bukan IQ Tinggi Bun!
Kinan | HaiBunda
Minggu, 08 Dec 2024 06:30 WIBKebanyakan orang tua ingin anak-anak mereka terhindar dari masalah, berprestasi di sekolah, dan menjalani kehidupan yang sukses saat dewasa. Namun, sebenarnya faktor penentu kesuksesan anak bukan melulu soal akademik.
Dikutip dari Business Insider, penelitian psikologi telah menunjukkan beberapa faktor penentu kesuksesan anak. Dari hasil studi-studi tersebut, sebagian besar bergantung pada pengasuhan orang tua.
Menurut sebuah studi di Pew Research, kebanyakan orang tua berharap anak-anak mereka tumbuh menjadi orang yang mandiri secara finansial dan puas dengan karier mereka. Ini adalah tujuan yang solid, tetapi itu hanya sebagian kecil dari apa artinya menjadi sukses.
"Faktanya, pengukuran untuk kesuksesan tidaklah realistis dalam masyarakat yang terdiri dari individu-individu dengan kekuatan dan kelemahan yang berbeda," ungkap psikolog klinis Child Mind Institute, Lindsey Giller.
11 faktor penentu kesuksesan anak
Berikut beberapa faktor penentu kesuksesan anak yang bisa Bunda coba terapkan:
1. Kebiasaan mengerjakan tugas
Jangan anggap remeh pentingnya membiasakan anak untuk disiplin dan mengerjakan tugas, baik di sekolah maupun tugas di rumah.
"Jika anak-anak tidak mencuci piring, itu berarti orang lain yang melakukannya untuk mereka. Dengan menyuruh mereka mengerjakan tugas seperti membuang sampah, mencuci pakaian, mereka menyadari bahwa, 'Saya harus melakukan pekerjaan hidup agar menjadi bagian dari kehidupan'," kata penulis How to Raise an Adult, Julie Lythcott-Haims.
Lythcott-Haims percaya bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan rutinitas pekerjaan rumah tangga akan menjadi sosok yang mampu bekerja sama dengan baik dan lebih berempati. Hal ini karena tahu secara langsung seperti apa rasanya berjuang dan mampu mengerjakan tugas secara mandiri.
2. Keterampilan sosial
Peneliti dari Pennsylvania State University dan Duke University melacak lebih dari 700 anak di seluruh Amerika Serikat hingga usia 25 tahun. Ditemukan korelasi yang signifikan antara keterampilan sosial saat kanak-kanak dan keberhasilan mereka sebagai orang dewasa.
Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang dapat bekerja sama dengan teman sebayanya, membantu orang lain, memahami perasaan mereka, dan menyelesaikan masalah sendiri jauh lebih mungkin untuk memiliki pekerjaan penuh waktu pada usia 25 tahun, dibandingkan dengan mereka yang memiliki keterampilan sosial terbatas.
3. Memiliki harapan yang tinggi
Dengan menggunakan data dari survei nasional terhadap 6.600 anak yang lahir pada tahun 2001, peneliti dari University of California, Neal Halfon dan rekan-rekannya menemukan bahwa harapan yang dimiliki orang tua terhadap anak-anak mereka memiliki pengaruh besar pada pencapaian.
"Orang tua yang melihat akademik sebagai masa depan anak tampaknya mengarahkan untuk mencapai tujuan itu terlepas dari pendapatan dan aset lainnya," kata Halfon.
Hal ini sejalan dengan temuan psikologi lainnya, The Pygmalion, yang menyatakan bahwa apa yang diharapkan seseorang dari orang lain dapat menjadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya.
4. Memiliki hubungan keluarga yang sehat
Menurut tinjauan studi University of Illinois, anak-anak dalam keluarga yang sering berkonflik lebih rentan memiliki kecemasan sosial daripada anak-anak dari orang tua yang akur.
Studi lain dalam tinjauan ini menemukan bahwa orang berusia 20-an yang orang tuanya mengalami perceraian saat mereka masih anak-anak melaporkan masih ada tekanan dan trauma hingga 10 tahun kemudian.
5. Perhatian akademik secukupnya
Sebuah studi tahun 2014 dari University of Michigan menemukan bahwa Bunda yang menyelesaikan sekolah menengah atau perguruan tinggi lebih cenderung membesarkan anak-anak yang melakukan hal yang sama.
Berdasarkan penelitian yang melibatkan lebih dari 14.000 anak yang masuk taman kanak-kanak dari tahun 1998 hingga 2007, ditenemukan bahwa tingkat pendidikan Bunda yang lebih tinggi memprediksi pencapaian yang lebih tinggi dari taman kanak-kanak hingga jenjang-jenjang selanjutnya.
Penelitian lain dari Bowling Green State University menunjukkan bahwa tingkat pendidikan orang tua saat anak berusia 8 tahun secara signifikan 'memprediksi' tingkat pendidikan dan karier anak tersebut 4 dekade kemudian.
6. Belajar matematika sejak dini
Sebuah meta-analisis terhadap 35 ribu anak prasekolah di seluruh AS, Kanada, dan Inggris menemukan bahwa mengembangkan keterampilan matematika sejak dini dapat memberi manfaat positif.
"Pentingnya keterampilan matematika sejak dini, memulai sekolah dengan pengetahuan tentang angka, urutan angka, dan konsep matematika dasar lainnya adalah salah satu teka-teki yang muncul dari penelitian tersebut," kata rekan penulis Northwestern University, Greg Duncan.
Menurut Duncan, penguasaan keterampilan matematika sejak dini tidak hanya memprediksi pencapaian matematika di masa mendatang, tetapi juga memprediksi pencapaian membaca di masa mendatang.
7. Bonding orang tua dan anak yang dekat
Sebuah studi tahun 2014 terhadap 243 responden menemukan bahwa anak yang menerima pengasuhan positif dalam tiga tahun pertama, memperoleh hasil yang lebih baik dalam ujian akademis di masa kanak-kanak dibandingkan mereka yang tidak menerima gaya pengasuhan yang sama.
Anak-anak tersebut juga memiliki hubungan yang lebih sehat dan prestasi akademis yang lebih tinggi.
"Hal ini menunjukkan bahwa investasi dalam hubungan orang tua dan anak di masa awal dapat menghasilkan keuntungan jangka panjang yang terakumulasi sepanjang hidup individu," ungkap psikolog University of Minnesota, Lee Raby.
8. Memuji tindakan, bukan karakter
Dikutip dari Fortune, ketika anak melakukan sesuatu dengan baik, wajar jika orang tua memberikan umpan balik yang baik. Namun, terapis Aja Chavez berpesan agar orang tua memberikan umpan balik yang konkret.
Alih-alih menggunakan pujian yang mencerminkan siapa mereka sebagai pribadi dan identitas mereka, gunakan pujian yang menyebutkan perilaku yang diamati dan bagaimana hal itu memengaruhi.
9. Mau mengasah insting anak
Saat anak datang dengan suatu masalah, misalnya pertengkaran dengan teman, berhentilah sejenak dan beri mereka kesempatan untuk menggunakan intuisi mereka sendiri alih-alih menawarkan solusi.
Dengan mengarahkan kembali indra anak ke suara hatinya, Bunda sudah membantu mereka.
10. Tidak ragu meminta bantuan anak
Meminta bantuan dan memberi tugas pada anak tidak hanya membantu orang tua, tetapi juga bermanfaat bagi kesejahteraan mereka. Faktanya, sebuah studi longitudinal selama 75 tahun di Harvard menemukan bahwa anak-anak yang mengerjakan tugas lebih sukses saat dewasa.
Ukuran keberhasilan itu mencakup nilai tinggi dalam kompetensi diri, perilaku prososial, dan efikasi diri.
Tunjukkan kepada mereka cara mengerjakan tugas, praktikkan bersama, lalu tetapkan jadwal yang realistis kapan mereka akan mengerjakannya sendiri. Seiring bertambahnya usia anak, hal ini dapat mencakup tanggung jawab seperti menjadwalkan potong rambut.
11. Ukur anak dengan diri mereka sendiri
Wajar jika Bunda menilai pencapaian dan tonggak anak lain saat menilai kemajuan anak sendiri. Namun, tidak ada dua anak yang memiliki skala keberhasilan yang sama, jadi semakin Bunda dapat berfokus pada batu loncatan yang unik bagi Si Kecil, maka semakin baik pula hasilnya.
"Bagi anak yang mengalami kecemasan, sekadar berdiri di depan kelas untuk memberikan presentasi mungkin merupakan momen keberhasilan. Jadi di rumah, orang tua dapat mengembangkan bahasa dengan berfokus pada di mana anak mereka berada dan menganggap hal lainnya sebagai hal yang tidak penting," pesan Giller.
Demikian ulasan tentang macam-macam faktor penentu kesuksesan anak. Jadi, tak melulu semua hanya berdasarkan kemampuan atau dorongan akademik ya, Bunda. Jangan lupa untuk mengajak anak berdiskusi secara rutin juga.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
Manfaat Merangkak & Dampaknya Jika Bayi Tidak Melewati Fase Ini
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
4 Cara agar Anak Merasa Miliki Privasi, tapi Tetap Bisa Bunda Pantau
20 Nasihat Parenting Aneh Sepanjang Masa, Bayi Diletakkan Dalam Sepatu
3 Teknik Mengendalikan Emosi Bunda saat Memarahi Anak
Kunci Sukses Pola Asuh Ideal, Ini Saran Ahli
TERPOPULER
Potret Nilouh, Putri Bungsu Nadia Mulya yang Cute
Studi Ungkap Generasi Boomer Pilih Pensiun Dini karena Lelah Bekerja dengan Gen Z
Ciri Kepribadian Orang yang Punya Kebiasaan Menggigit Kuku Menurut Psikologi
Sering Dibilang Sensitif? Begini Cara Menjawabnya Menurut Psikolog
Dari Anak Sehat, Masa Depan Bangsa Kuat: Bank Mandiri Hadirkan Layanan Kesehatan Preventif bagi Anak di 10 Kota
REKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Merek Bantal Anti Peyang, Pilih yang Terbaik untuk Si Kecil!
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Kartu Ucapan Kelahiran Aesthetic untuk Bayi Perempuan & Laki-laki
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Kasur Lantai Lipat Terbaik, Ada yang Orthopedic
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Cuaca Panas Bikin Rambut Cepat Lepek? Ini 7 Produk Perawatan Rambut yang Wajib Dicoba
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Outfit Hijab untuk Ibu Hamil, Nyaman Dipakai dan Tetap Stylish
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Dongeng: Anak Itik Buruk Rupa
Mengenal 'Spermageddon' yang Dikaitkan dengan Krisis Kesuburan Pria, Berbahayakah?
Potret Nilouh, Putri Bungsu Nadia Mulya yang Cute
Studi Ungkap Generasi Boomer Pilih Pensiun Dini karena Lelah Bekerja dengan Gen Z
Ciri Kepribadian Orang yang Punya Kebiasaan Menggigit Kuku Menurut Psikologi
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
2 Hotel di Jalur Adisucipto Jogja, Mana yang Paling Cocok buat Kebutuhanmu?
-
Beautynesia
7 Kebiasaan yang Bisa Memicu Kulit Wajah Breakout
-
Female Daily
Sulwhasoo Luncurkan First Care Activating Serum Mist, Skin Reset 3 Detik yang Bisa Dibawa Ke Mana Saja!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Penyiar AI Dikritik karena Busana Seksi, Picu Perdebatan di Industri Penyiaran
-
Mommies Daily
10 Tempat Sarapan di Jakarta yang Jadi Favorit Keluarga, Enak dan Ramah Anak