PARENTING
5 Cara Mendidik Anak agar Punya Karakter Tangguh di Masa Depan
Kinan | HaiBunda
Kamis, 03 Apr 2025 13:45 WIBSetiap orang tua ingin sang anak tumbuh menjadi sosok yang tangguh dan kuat secara mental. Hal ini bisa terjadi jika orang tua menerapkan cara mendidik yang tepat. Seperti apa pengasuhan agar anak punya karakter resilient?
Tak dapat dipungkiri bahwa kadang orang tua merasa cemas apakah anak-anak bisa memiliki mental yang kuat, termasuk di sekolah.
Apakah mereka mampu mengikuti pelajaran di sekolah? Apakah mereka mempelajari keterampilan yang diperlukan untuk menjadi orang dewasa yang dapat menyesuaikan diri dengan baik?
Ada satu karakter yang dapat dipupuk orang tua untuk membantu anak-anak mengatasi tantangan sosial, emosional, atau mental, yakni ketangguhan.
Seperti apa karakter resilient?
Dikutip dari Raising Children, ketangguhan atau resilience adalah kemampuan untuk 'bangkit kembali' setelah menghadapi tantangan dan masa sulit. Ketangguhan juga merupakan kemampuan untuk beradaptasi dengan tantangan serta masa sulit yang tidak dapat diubah dan terus berkembang.
Karakter ini dapat naik dan turun pada waktu yang berbeda. Sebagian anak mungkin lebih mampu bangkit kembali dari beberapa tantangan daripada yang lainnya.
Anak-anak lebih mampu membangun ketahanan ketika mereka memiliki:
- Hubungan yang kuat dan mendukung dari keluarga dan orang terdekat
- Keterampilan emosional yang membantu mereka menanggapi tantangan dengan baik
Anak-anak yang tangguh lebih mampu mengatur emosi mereka, bangkit kembali dari kegagalan, dan memaafkan diri sendiri karena melakukan kesalahan. Orang tua yang membesarkan anak-anak tangguh tidak menghilangkan pemicu stres, tapi mengajari anak-anak mereka cara mengatasinya.
Cara mendidik anak agar punya karakter resilient
Anak-anak yang tangguh dapat pulih dari kegagalan dan kembali menjalani hidup mereka dengan lebih cepat. Ketika keadaan tidak berjalan baik dan mereka merasa cemas, sedih, kecewa, atau takut, ketangguhan membantu mereka memahami bahwa emosi yang tidak nyaman ini tidak berlangsung selamanya.
Mereka juga cenderung tidak menghindari masalah atau menghadapinya dengan cara yang tidak sehat, seperti bersikap defensif atau agresif. Berikut adalah beberapa cara mendidik anak agar punya karakter resilient alias tangguh:
1. Membiarkan anak merasakan kegagalan
Menurut profesor pediatri Children’s Hospital of Philadelphia, Dr Ken Ginsburg, sebagian orang tua membatasi pengalaman yang menurut mereka tidak menyenangkan bagi anak-anaknya.
Ginsburg menyebutkan kebiasaan ini sebenarnya justru dapat menghambat pertumbuhan mental anak.
"Tugas orang tua adalah melindungi anak-anak dan membiarkan mereka belajar dari kegagalan. Salah satu cara mempersiapkan anak menghadapi kesulitan adalah dengan membiarkan mereka sesekali jatuh dan bangkit kembali," ungkap Ginsburg.
2. Biarkan anak merasa khawatir
Penulis buku The 5 Practices of Highly Resilient People: Why Some Flourish When Others Fold, Taryn Marie Stejskal menyarankan orang tua untuk menyisihkan waktu untuk 'sesi kekhawatiran'. Tetapkan pengatur waktu selama 5 menit dan minta anak untuk meluapkan setiap aspek kekhawatiran mereka.
"Mempelajari cara mengatasi kecemasan dan kekhawatiran merupakan bagian penting dari ketahanan," tutur Stejskal dikutip dari CNBC Make It.
"Mereka dapat menuliskan semua kecemasan yang sedang dipikirkan. Kemudian, setelah periode tersebut berakhir, minta mereka untuk melepaskan kekhawatiran dan tidak lagi memikirkannya," lanjutnya Stejskal.
3. Bantu anak memikirkan skenario terburuk dan terbaik
Cara lain untuk membantu anak mengatasi kekhawatiran adalah dengan meminta mereka untuk menyajikan skenario terburuk dan terbaik dari apa yang mungkin terjadi.
Hal ini membantu anak merasa lebih aman karena dapat menyadari bahwa hasil terburuk yang dibayangkan tidak seburuk yang mereka kira.
"Mengingatkan anak-anak bahwa mereka mampu menangani setiap masalah, bahkan pada skenario terburuk, membantu mereka melihat bahwa sebagian besar masalah sebenarnya dapat dikelola," ujar Stejskal.
4. Hargai perkembangan pribadi anak
Untuk membantu anak-anak mengembangkan kekuatan mental dan ketahanan, penting untuk tidak mencari validasi eksternal. Hal ini berarti anak perlu dibiasakan mengukur kinerja mereka terhadap harapannya sendiri daripada mencari validasi dari orang lain.
"Daripada menilai apakah mereka memenuhi standar orang lain, dorong mereka untuk mempertimbangkan: ‘Apakah saya mencapai apa yang ingin saya lakukan?’ dan ‘Apakah saya menjadi versi yang lebih baik dari diri saya sendiri?’,” ujar Scott Mautz, penulis buku The Mentally Strong Leader.
5. Fokus pada proses, bukan hasil
Tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak dapat mengalami kegagalan saat mencoba mencapai tujuan mereka. Terlalu berfokus pada hasil usaha saja dapat membuat mereka enggan mengambil risiko dan berkembang.
"Terlalu bersemangat tentang hasil dapat merusak kekuatan mental anak-anak karena begitu banyak faktor selain usaha yang dapat memengaruhi hasil," kata Mautz.
Sebaliknya, tanyakan kepada anak apa yang mereka pelajari dalam proses tersebut, atau apakah mereka senang menjalaninya. Ini dapat membantu anak melihat bahwa ada nilai dalam mencoba hal-hal baru, meskipun hasilnya mungkin tidak selalu sesuai rencana.
Demikian ulasan tentang cara-cara mendidik anak agar punya karakter resilient. Ingat, pastikan anak memiliki kesempatan untuk gagal agar bisa belajar bangkit dan kembali berjuang. Semoga bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
7 Ide THR Lebaran Selain Uang Tunai untuk Si Kecil
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kapan Ejekan yang Dibalut Bercanda untuk Anak dalam Keluarga Dikatakan Keterlaluan? Ini Kata Pakar
7 Perilaku Orang Tua Bisa Timbulkan Trauma pada Anak
4 Cara Tepat Mengajarkan Anak Kendalikan Emosi Marah Menurut Psikolog Anak
9 Ciri Anak Harus ke Psikiater, Salah Satunya Senang Menyakiti Diri Sendiri
TERPOPULER
Sarah Sechan Jelaskan Kondisi Mulutnya yang Kerap Disangka Sedang Mengunyah, Ternyata...
Jawaban Luna Maya soal Rencana Punya Momongan di Tahun 2026
7 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang Tidak Bersyukur
Batas Usia Masuk SD yang Ideal Berapa Tahun? Ini Syarat SPMB 2026 & Saran Psikolog
Leshia Anak Lesti Kejora & Rizky Billar Ultah Pertama, Intip 5 Potret Perayaannya
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Bidet Portable yang Bisa Dibawa Ibu Hamil saat Bepergian & Liburan
Dwi Indah NurcahyaniREKOMENDASI PRODUK
30 Vitamin yang Bagus untuk Ibu Hamil agar Tetap Sehat
Azhar HanifahREKOMENDASI PRODUK
8 Rekomendasi Yogurt untuk Ibu Hamil, Ketahui Risiko & Manfaatnya
Natasha ArdiahREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Serum Vitamin C, Cerahkan Wajah Kusam dan Bikin Glowing
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
3 Tips Jaga Pencernaan Anak saat Bepergian
Tim HaiBundaTERBARU DARI HAIBUNDA
Tanpa Disadari, 11 Kebiasaan Ini Bisa Bikin KB Jadi Kurang Efektif
Sarah Sechan Jelaskan Kondisi Mulutnya yang Kerap Disangka Sedang Mengunyah, Ternyata...
Jawaban Luna Maya soal Rencana Punya Momongan di Tahun 2026
Mengenal Craniosynostosis, Kelainan Ubun-ubun Kepala yang Dialami Bayi Cantik Rana Asal Jatim
Pertama Kali Umrah Setelah Mualaf, Marcell Darwin Gugup saat Belajar Pakai Baju Ihram
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Janji Rayn Wijaya usai Resmi Nikahi Ranty Maria
-
Beautynesia
7 Kebiasaan Orang yang Terlihat Sangat Sabar tapi Sebenarnya Pendendam Luar Biasa
-
Female Daily
Berkolaborasi dengan DPR Ian, Alchemist Hadirkan 2 Wewangian yang Ikonis!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Foto: Maudy Ayunda Memukau di Sundance Film Festival, Berbalut Koleksi Biyan
-
Mommies Daily
Stop Lakukan 10 Hal Ini Jika Tak Ingin Memelihara Budaya Patriarki di Keluarga