PARENTING
Bolehkah Membiarkan Anak Main dengan Lawan Jenis Sejak Kecil?
Kinan | HaiBunda
Kamis, 02 Oct 2025 17:25 WIBSeiring bertambah usia anak, mereka akan mulai senang bermain dengan banyak teman. Dalam hal ini, masih banyak orang tua atau pengasuh merasa ragu. Amankah jika membiarkan anak bermain bersama teman lawan jenis sejak dini?
Sebagian orang tua khawatir hal itu bisa memicu interaksi sosial yang belum waktunya, atau mungkin membuat anak tidak paham tentang perbedaan gender.
Namun perlu dipahami bahwa anak pada dasarnya adalah makhluk sosial yang senang bereksplorasi, termasuk saat bermain dan mencari teman.
Di sinilah peran orang tua untuk mengawasi perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak agar dapat tumbuh secara sehat.
Kapan anak mulai mengenal identitas gender?
Dikutip dari jurnal Annual Review of Psychology, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak mulai mengenal dan menggunakan istilah gender ('laki-laki' dan 'perempuan') sejak usia sekitar 18 hingga 24 bulan.
Pada usia tersebut, mereka mulai mengamati perbedaan sosial di lingkungan. Termasuk cara berpakaian, pilihan mainan, atau perilaku teman sebaya.
Seiring waktu di usia sekitar 3 tahun, sebagian besar anak sudah mampu mengidentifikasi diri mereka sebagai 'anak laki-laki' atau 'anak perempuan'. Mereka juga mampu menyebutkan identitas gender sendiri.
Nantinya pada usia 4 hingga 5 tahun, anak mungkin akan mulai menunjukkan cara bermain yang lintas gender (cross-gender play). Hal ini wajar karena merupakan bagian dari eksplorasi normal perkembangan gender anak.
Pentingnya berteman bagi tumbuh kembang anak
Jangan sepelekan pentingnya bermain dan berteman bagi tumbuh kembang anak ya, Bunda.
Dikutip dari Child Mind Institute, melalui interaksi dengan teman maka anak belajar berbagai keterampilan sosial. Misalnya tentang berbagi, menunggu giliran, menyelesaikan konflik, dan memahami perspektif orang lain.
Bermain juga membuka kesempatan bagi anak untuk mengasah empati dan kecerdasan emosional. Sebagai contoh, jenis permainan imajinatif (pretend play) bersama teman bermanfaat untuk perkembangan bahasa, pemikiran kreatif, dan regulasi emosi.
Selain itu, penelitian dalam Sex Journal: A Journal of Research juga menunjukkan bahwa pertemanan lintas gender bisa berdampak positif pada sikap anak, terutama pada anak laki-laki.
Bolehkah membiarkan anak main dengan lawan jenis?
Jawabannya ya, tetapi dengan syarat pengawasan dan batasan yang wajar, Bunda.
Dikutip dari Healthy Children, bermain dengan teman lawan jenis jika diterapkan dan diawasi dengan tepat dapat memberi banyak manfaat dalam pembelajaran sosial anak.
Lalu bagaimana perkembangan anak mengenal dan bermain dengan lawan jenis sesuai usianya? Berikut ulasannya:
Usia 0–3 tahun
Dikutip dari Focus on The Family, bayi dan balita berada dalam tahap penuh rasa ingin tahu untuk mengeksplorasi dunia di sekitar mereka.
Penting untuk memenuhi kebutuhan rasa ingin tahu mereka dan memberikan mainan yang sesuai usia, bukan sekadar mempermasalahkan apakah mainan tersebut berwarna 'biru' atau 'pink'.
Di masa ini, anak juga lebih banyak terlibat dalam eksplorasi sensorik, pengembangan keterampilan motorik halus, serta interaksi sosial awal.
Usia 4–6 tahun
Mulai senang bermain dengan banyak mainan dan teman, pemilihan jenis yang tepat juga sebenarnya tidak perlu selalu dipermasalahkan pada tahap usia ini.
Anak masih perlu mencerna lebih banyak tentang identitas gender. Penelitian juga menunjukkan adanya preferensi yang cukup kuat dan konsisten pada anak untuk memilih mainan sesuai dengan gender mereka.
Usia 7–9 tahun
Di masa sekolah awal ini, sebagian besar anak perempuan cenderung memilih mainan yang menonjolkan estetika menarik atau sifat pengasuhan.
Sementara itu, anak laki-laki lebih menyukai mainan yang mengarah pada aktivitas fisik. Hal ini juga memengaruhi cara anak mencari teman yang sefrekuensi, meski mungkin berbeda jenis kelamin.
Pentingnya pengawasan tentang teman lawan jenis anak
Seperti disebutkan sebelumnya, bermain dengan teman lawan jenis sebenarnya bisa memberi manfaat bagi tumbuh kembang anak. Tapi pengawasan dari orang tua atau pengasuh tidak boleh disepelekan.
Berikut beberapa tips tentang pengawasan saat anak mulai bermain dengan lawan jenis:
1. Tetap awasi sebisa mungkin
Sangat penting bagi orang tua atau pengasuh untuk selalu memantau situasi, terutama ketika anak mulai memasuki usia sekolah dasar ke atas. Tujuannya agar interaksi tidak melampaui batas sesuai usia.
2. Komunikasi terbuka
Anak perlu diberi penjelasan sesuai usia tentang batasan, kenyamanan diri, dan cara menjalin pertemanan yang sehat.
Sediakan waktu untuk berbincang bersama anak, jangan terlalu memberi tekanan dan biarkan anak leluasa menyampaikan pendapatnya.
3. Hargai minat dan preferensi anak
Jika anak lebih nyaman bermain dengan anak sejenis atau lawan jenis, itu hal yang wajar. Jangan memaksa mereka bermain lintas gender jika merasa tidak nyaman.
4. Hindari stereotip gender berlebihan
Jika orang tua selalu melarang atau membatasi anak bermain dengan lawan jenis karena asumsi seperti pemilihan mainan, maka ini itu dapat membatasi ekspresi minat alami anak.
Misalnya, anak laki-laki dilarang bermain masak-masakan. Padahal mungkin ia memiliki minat di bidang memasak.
Penelitian menunjukkan bahwa bermain sesuai stereotip gender bisa membatasi perkembangan potensi anak.
Itulah boleh atau tidak membiarkan anak bermain dengan lawan jenis sejak kecil. Ingat, tetap berikan pemahaman dan pengawasan sesuai kebutuhan ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
7 Rekomendasi Game Online Edukatif untuk Si Kecil, Ada Mewarnai hingga Memasak!
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Studi: Bertengkar di Depan Anak Merusak Kesehatan Otaknya
Anak Tak Mau Ditinggalkan dan Cemas Berpisah, Harus Bagaimana?
Apa yang Sebaiknya Bunda Lakukan Saat Anak Dipukul Temannya?
Tips Agar Anak Tak Jadi Pelampiasan Emosi Bunda
TERPOPULER
Penampilan Tissa Biani Usai Berhasil Diet Turunkan BB, Makin Langsing dan Bugar
Hukum Istri Meninggalkan Rumah karena Bertengkar, Bolehkah Menurut Islam?
Kabar Terbaru Eks Artis Cilik Cantika Felder, Sudah Menikah & Jadi Instruktur Zumba
Cara Mengenali Orang dengan Kecerdasan Emosional dari 'Kebiasaan Buruk'
Fakta Mengejutkan Tragedi Pura-pura Hamil di Balik Kasus Taylor Parker yang Diangkat di Netflix
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Vitamin D untuk Promil, Bagus untuk Suami Istri
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
5 Panci Deep Fryer Kecil Multifungsi Stainless Steel Anti Lengket dan Tahan karat
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Sampul Buku Lengkap dari Aesthetic, Plastik Bening, Cokelat, dan Warna
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
7 Alat Pel Lantai yang Bagus dari Putar, Tanpa Bilas & Otomatis
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Hair Tonic Bantu Atasi Rambut Rontok
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Aturan MPLS SD, SMP, SMA 2026 dari Kemendikdasmen
Penampilan Tissa Biani Usai Berhasil Diet Turunkan BB, Makin Langsing dan Bugar
Hukum Istri Meninggalkan Rumah karena Bertengkar, Bolehkah Menurut Islam?
Kabar Terbaru Eks Artis Cilik Cantika Felder, Sudah Menikah & Jadi Instruktur Zumba
5 Rekomendasi Vitamin D untuk Promil, Bagus untuk Suami Istri
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Video: Uut Permatasari Minta Wanita Waspadai Pria yang Kenal di Sosmed
-
Beautynesia
5 Pekerjaan Bergaji Tinggi yang Cocok untuk Orang Introvert
-
Female Daily
TikTok Made Us Try It, Ini 5 Makanan Viral yang Tim Editorial FD coba di Jogja!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Gaya WAGs Nonton Piala Dunia 2026, Pacar Cristiano Ronaldo Hingga Lamine Yamal
-
Mommies Daily
Perempuan Lelah Jadi Provider Emosional dalam Hubungan? Kenali Tandanya