Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Mengenal Child Grooming: Kisah Aurelie Moeremans dalam Buku 'Broken Strings'

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Senin, 12 Jan 2026 17:50 WIB

aurelie moeremans
Aurelie Moeremans / Foto: Instagram
Daftar Isi
Jakarta -

Kisah perjalanan hidup aktris Aurelie Moeremans tengah menjadi sorotan publik. Bintang film Baby Blues ini mengungkap pengalaman pahitnya menjadi korban child grooming di masa lalu.

Kisah kelam itu dibagikan Aurelie dalam buku berjudul Broken Strings. Di buku tersebut, sang aktris menceritakan tekanan psikologis dan emosional yang dialaminya karena menjadi korban grooming.

Child grooming sebenarnya bukan istilah yang baru, Bunda. Menurut penjelasan di laman BCP Council, child grooming banyak dialami anak di bawah umur yang dapat menyebabkan pelecehan seksual dan eksploitasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Apa itu child grooming?

Child grooming merupakan tindakan ketika seseorang membangun hubungan, kepercayaan, dan koneksi emosional dengan seorang anak, sehingga orang tersebut dapat membuat anak ini melakukan apa yang ia inginkan, termasuk melecehkan.

Melansir dari Psychology Today, grooming juga dapat didefinisikan sebagai proses penipuan oleh pelaku untuk memfasilitasi kontak seksual dengan anak di bawah umur sambil menghindari deteksi dari sekitarnya. Sebelum melakukan grooming, calon pelaku dapat memilih korban, mendapatkan akses dan mengisolasi anak di bawah umur, membangun kepercayaan dan seringkali dengan wali mereka, komunitas, dan lembaga pelayanan pemuda, hingga membuat anak di bawah umur menjadi tidak peka terhadap konten seksual dan kontak fisik.

"Setelah itu, pelaku dapat menggunakan strategi pemeliharaan pada korban untuk memfasilitasi pelecehan seksual di masa depan dan/atau untuk mencegah pengungkapan," kata pakar pencegahan kekerasan seksual, Elizabeth Jeglic, Ph.D.

Orang-orang masih belum mahir dalam mengidentifikasi perilaku grooming, Bunda. Selain itu, ada penelitian yang menunjukkan bahwa grooming pada anak sering kali dipengaruhi oleh Bias Hindsight, yaitu orang lebih mampu mengidentifikasi perilaku grooming setelah mereka mengetahui bahwa pelecehan seksual anak telah terjadi.

"Oleh karena itu, untuk mencegah child grooming, sangat penting bagi orang tua, orang yang dekat dengan anak-anak, dan anak-anak itu sendiri untuk memahami apa artinya," ujar Jeglic.

Pelecehan SeksualIlustrasi child grooming/ Foto: iStock

5 tahap seseorang melakukan child grooming

Diperkirakan hingga 99 persen dari semua kasus child grooming melibatkan beberapa elemen pelecehan seksual. Sebuah studi mengidentifikasi perilaku-perilaku pelecehan seksual yang menjadi tanda bahaya dan secara signifikan lebih banyak dilaporkan dalam kasus-kasus child grooming.

Berikut 5 tahap seseorang melakukan child grooming yang perlu diwaspadai oleh orang tua:

Tahap pertama: memilih korban

Tahap ini melibatkan identifikasi anak yang rentan. Pelaku dapat memilih korban berdasarkan penampilan fisik, seperti ukuran tubuh kecil atau usia muda. Mereka juga dapat mencari korban berdasarkan karakteristik emosional atau psikologis, seperti rendah diri, diabaikan, atau mudah percaya.

"Pelaku juga mungkin mempertimbangkan situasi keluarga saat memilih korban, misalnya memiliki perselisihan dengan orang tua, penyakit mental yang dialami orang tua, dan kurangnya pengawasan orang tua yang mempermudah untuk memanipulasi korban," ujar psikolog klinis Vinita Mehta, Ph.D.

Tahap kedua: mendapatkan akses dan isolasi

Pelaku menggunakan berbagai strategi untuk mendapatkan akses ke korban, termasuk terlibat dalam organisasi pelayanan anak muda, pergi ke tempat umum di mana ada anak-anak, dan memanipulasi keluarga.

Setelah pelaku berhasil mendapatkan akses, mereka sering mencoba mengisolasi anak secara fisik dan emosional dari keluarga dan teman sebaya, sering kali menciptakan situasi di mana mereka sendirian dengan korban, dan tanpa kehadiran orang dewasa lainnya. Ini termasuk kegiatan seperti menginap, mengasuh anak, atau mengantar anak pulang.

Tahap 3: mengembangkan kepercayaan

Pelaku sering kali mendapatkan kerja sama dan kepercayaan anak dan keluarga dengan bersikap ramah dan menawan, sehingga dianggap memiliki reputasi positif. Pelaku juga dapat membuat anak merasa dicintai, menggunakan suap, mengeksploitasi kerentanan, berteman dengan anak, dan terlibat dalam kegiatan yang berorientasi pada remaja.

Tahap 4: desensitisasi anak terhadap konten seksual dan kontak fisik.

Pada tahap ini, pelaku memperkenalkan percakapan dan sentuhan seksual, dengan tujuan mendesensitisasi anak atau menghilangkan kecemasan. Pelaku mungkin membahas topik-topik seksual, seperti menceritakan lelucon yang tidak pantas, memberikan pendidikan seksual, atau melakukan percakapan seksual.

"Pelanggaran privasi, seperti memata-matai atau sentuhan 'tidak sengaja' juga dapat terjadi. Desensitisasi terhadap sentuhan dapat dimulai dengan kontak fisik, seperti berpelukan dan menggelitik, yang kemudian beralih ke hal lebih serius," ungkap Mehta.

Tahap 5: 'pemeliharaan' pasca pelecehan

Setelah pelecehan atau grooming dimulai, pelaku terlibat dalam perilaku 'pemeliharaan' yang memungkinkan tindakan negatif berlanjut dan tidak terungkap. Perilaku ini termasuk mendorong anak untuk merahasiakan kejadian, membujuk anak bahwa pelecehan itu normal, atau membuat anak merasa bertanggung jawab atas pelecehan tersebut.

Pelaku mungkin juga mencoba mengatakan kepada anak bahwa mereka mencintainya, menawarkan suap atau hadiah kepada anak, atau menjatuhkan hukuman," kata Mehta.

Cara melindungi anak dari pelaku child grooming

Orang tua dan lingkungan sekitar anak memegang peranan penting untuk mencegah child grooming. Berikut 3 langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi anak dari pelaku child grooming:

1. Ketahui bahayanya

Cara terbaik untuk melindungi anak-anak adalah dengan mengetahui di mana letak bahayanya. Ada mitos dan kesalahpahaman tentang child grooming, dan penting untuk tidak terjebak di dalamnya. Berikut faktanya:

  • Hanya 7 persen dari child grooming dilakukan oleh orang asing. Hampir semua pelecehan anak dilakukan oleh seseorang yang dikenal oleh anak dan keluarga.
  • 40 persen dari child grooming dilakukan oleh remaja lain. Ini bisa berupa saudara kandung, teman/kenalan, atau pacar.
  • Hampir semua child grooming melibatkan rayuan seksual. Penting bagi orang tua untuk dapat mengidentifikasi perilaku rayuan seksual yang mencurigakan.

2. Jangan biarkan seksualitas menjadi topik yang tabu di rumah

Banyak orang tua takut berbicara dengan anak-anak tentang seksualitas sehat karena membuat mereka merasa tidak nyaman, atau mereka khawatir anak-anak akan menjadi lebih bebas secara seksual. Padahal sebaliknya, berbicara tentang seksualitas sehat dapat meningkatkan kepercayaan diri dan memungkinkan anak atau remaja untuk menghindari situasi yang berpotensi menjadi pelecehan atau mencari bantuan orang dewasa bila mereka merasa tidak nyaman.

Para ahli merekomendasikan agar orang tua berbicara dengan anak-anak dan remaja tentang topik seksualitas yang sehat sesuai dengan usia mereka dengan menggunakan pertanyaan berpikir kritis.

3. Bantu anak dan pastikan ia mendapatkan pengawasan yang memadai

Sebagai orang dewasa atau pihak eksternal, kita juga memiliki peran untuk mencegah child grooming, terutama bila dicurigai dilakukan oleh orang terdekat. Kita dapat memberikan dukungan kepada anak-anak dan mereka yang ada di komunitas.

Misalnya, guru memainkan peran penting dalam mengidentifikasi anak-anak yang berisiko karena mereka lebih sering berinteraksi. Mengidentifikasi anak-anak yang mungkin mengalami kesulitan emosional dan membantu menghubungkan mereka dengan layanan dan dukungan dapat sangat membantu dalam mengurangi risiko.

Demikian penjelasan tentang child grooming dan cara melindungi anak dari pelaku. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda