PARENTING
Ciri Anak Mengalami Gaslighting, Orang Tua Sering Ucapkan 9 Kalimat Ini Menurut Psikolog
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Minggu, 25 Jan 2026 12:30 WIBMenjadi orang tua tentu dijalani dengan berusaha sebaik mungkin, tak terkecuali ingin membangun komunikasi yang baik dengan anak. Namun kadang tanpa sadar kita suka melakukan hal yang justru merugikan mereka.
Salah satunya adalah bentuk komunikasi yang dikenal juga dengan gaslighting. Biasanya hal ini dilakukan orang tua tanpa sadar hingga memengaruhi psikologi anak.
"Gaslighting membuat anak merasa bahwa apa yang mereka rasakan, katakan, atau persepsikan itu salah, atau bahwa mereka bersalah atas sesuatu yang buruk yang terjadi padahal sebenarnya tidak," kata seorang psikolog di Amerika Serikat, Irene Daria, Ph.D, dikutip dari laman Parade.
Niat awalnya hanya ingin mendengarkan perasaan anak, tapi banyak orang tua yang selalu mengatakan hal-hal yang membuat anak mempertanyakan apa yang mereka rasakan.
"Alih-alih mendengarkan dan memvalidasi apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dialami anak, orang tua, hampir selalu tanpa sengaja, akan mengatakan hal-hal yang membuat anak mempertanyakan persepsi mereka, atau membuat anak merasa tidak didengar dan disalahpahami," ungkapnya.
Lebih lanjut, Daria menyampaikan bahwa terdapat kalimat yang kerap diucapkan orang tua dan bisa menjadi ciri anak mengalami gaslighting.
Kalimat orang tua yang membuat anak mengalami gaslighting
Melansir dari Parade, berikut berbagai ungkapan yang tanpa sadar sering diucapkan oleh orang tua dan sebaiknya kita hindari:
1. "Jangan menangis"
Kalimat "jangan menangis" ternyata secara tidak langsung melarang anak untuk jujur mengungkapkan perasaan yang mereka alami. Menurut Psikolog Daria, ucapan ini justru membuat anak merasa bahwa emosi yang ia rasakan itu salah atau tidak penting.
Efeknya, Si Kecil mulai belajar memendam sendiri segala emosinya saat sedang merasa sedih, terluka, bahkan ketakutan.
2. "Jangan jadi..."
Kadang, Bunda mungkin sering berkata, "Jangan jadi sedih" atau "Jangan jadi takut" kepada anak. Maksudnya baik, tapi hal ini bisa membuat mereka merasa perasaannya tidak valid.
Memberi tahu anak apa yang seharusnya anak rasakan bisa menutup emosi mereka, Bunda. Mengapa demikian? Anak bisa bingung antara perasaan mereka sendiri dan yang orang tua ingin mereka rasakan.
"Hal itu akan membuat anak merasa lebih buruk karena selain sedih, khawatir, atau takut, mereka sekarang akan stres karena diberi tahu bahwa apa yang mereka rasakan itu salah. Jika hal ini terus terjadi, anak bisa mulai ragu pada perasaannya sendiri," jelasnya.
3. "Kamu terlalu sensitif"
Mungkin kita pernah tidak sengaja menyebut anak terlalu sensitif, berlebihan, atau menganggap mereka sedang drama saat menangis. Sayangnya, ungkapan ini cukup sering didengar anak dan bisa melukai hati mereka.
Kata-kata tersebut sebenarnya mengabaikan perasaan jujur yang sedang dirasakan anak, Bunda. Bukannya memberi rasa nyaman, kalimat ini justru seolah-olah menyalahkan anak atas emosi dari dalam dirinya.
"Anak mungkin mulai berpikir bahwa apa yang mereka rasakan itu salah. Mereka akan berhenti mempercayai emosi mereka atau mungkin berhenti mengekspresikannya," ungkapnya.
4. "Bukan itu yang terjadi"
Saat anak mencoba menceritakan sesuatu yang menyakitkan atau tidak mengenakkan, hindari memberi respons seperti "Bukan itu yang terjadi," atau "Kamu salah paham".
Menurut Psikolog Daria, kalimat-kalimat tadi bisa menyangkal ingatan asli anak, seolah-olah ia terlalu berlebihan atau salah menafsirkan kejadian yang ada, Bunda.
Si Kecil mungkin akan mulai kehilangan kepercayaan pada orang tuanya. Hal ini karena jauh di lubuk hatinya, ia tahu persis apa yang terjadi dan bagaimana rasanya.
Lebih parah lagi, anak bisa saja mulai meragukan persepsi dirinya sendiri, Bunda.
5. "Itu tidak sakit"
Ketika Si Kecil terjatuh atau terluka, terkadang kita suka refleks berujar bahwa itu tidak sakit demi menenangkannya. Namun, Daria mengingatkan bahwa kalimat tersebut termasuk bentuk gaslighting karena menyangkal tentang apa yang sedang dirasakan anak.
Jika hal ini terus terjadi, mereka akan belajar untuk mengabaikan tanda-tanda dari tubuhnya, Bunda. "Anak tersebut mungkin belajar untuk mengabaikan atau tidak mempercayai sinyal tubuh mereka," ujarnya.
"Mereka mungkin merasa bingung apakah rasa sakit fisik mereka nyata atau valid, yang dapat membuat mereka lebih rentan terhadap bahaya di masa depan," tambahnya.
6. "Jika kamu bersikap lebih baik, aku tidak akan marah seperti ini"
Saat kita merasa lelah, tanpa sadar orang tua suka menyalahkan sikap anak sebagai penyebab kemarahan kita. Psikolog Daria mengatakan bahwa kalimat seperti ini sebenarnya sedang mengalihkan emosi orang dewasa ke pundak anak yang masih kecil.
7. "Anak-anak lain tidak bertingkah seperti ini"
Ungkapan seperti "Anak lain saja tidak bertingkah seperti ini" atau "Adikmu tidak pernah begitu" mungkin terdengarnya biasa saja, tapi bisa berdampak besar, lho. Kalimat ini kerap digunakan untuk membandingkan perilaku atau perasaan anak kita dengan orang lain.
Membanding-bandingkan seperti ini membuat anak merasa bahwa orang lain selalu lebih baik darinya. Nantinya, anak pun akan merasa dirinya kurang berharga atau tidak sebaik anak-anak lainnya.
8. "Oh, kasihan sekali anak itu..."
Kadang, Bunda atau Ayah spontan mengatakan, "Oh, kasihan sekali anak itu," saat anak sedang sedih atau takut. Maksudnya ingin menunjukkan perhatian, tapi ucapan itu bisa membuat anak merasa perasaannya diremehkan.
Alih-alih membantu anak mengekspresikan emosinya, kalimat seperti ini bisa bikin mereka bingung, Bunda. Mereka menjadi tidak yakin apakah perasaannya itu benar atau salah.
9. "Kamu mengarang cerita itu"
Ketika anak menceritakan sesuatu yang mungkin sulit kita percaya, hindari langsung menuduhnya mengarang cerita, ya. Ungkapan ini adalah bentuk gaslighting yang bisa merusak rasa percaya diri anak.
Menurut psikolog Daria, kalimat tersebut seperti menuduh anak berbohong dan merusak ingatan mereka. Padahal, mungkin anak sedang mengatakan kebenaran tentang sesuatu hal yang tidak nyaman baginya.
"Hal itu menuduh anak berbohong, atau merusak persepsi atau ingatan mereka, padahal mereka mungkin mengatakan yang sebenarnya tentang sesuatu yang tidak nyaman atau menyakitkan," ungkapnya.
Bagaimana jika orang tua terlanjur melakukan gaslighting pada anak?
Jika Bunda menyadari bahwa selama ini melakukan gaslighting pada anak, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, ya. Biasanya, hal ini dilakukan sebagai bentuk perlindungan diri karena Bunda merasa tidak nyaman dengan situasi tertentu.
Memang, ada kalanya kita merasa marah saat menghadapi emosi Si Kecil. Untuk meminimalkan rasa tidak nyaman tersebut, tanpa sengaja kita justru menyangkal apa yang sebenarnya dirasakan oleh anak.
"Orang tua mungkin merasa marah, rentan atau tidak berdaya dalam tindakan perlindungan diri yang tidak disadari. Mereka mencoba untuk meminimalkan situasi tersebut," kata Daria.
Kini, cobalah untuk lebih banyak mendengarkan apa yang dirasakan anak meskipun hal itu terasa menyesakkan bagi Bunda. Saat anak sedang kesal di lain waktu, usahakan untuk tidak langsung mencari solusi atau menghentikan tangisannya, ya.
Bunda hanya cukup hadir di sampingnya dan dengarkan setiap kata yang ia ucapkan. Setelah mereka merasa didengar oleh orang tuanya, barulah kita bisa mencari cara untuk membantu memperbaiki keadaannya.
"Pastikan untuk memvalidasi perasaan mereka. Katakan sesuatu seperti, 'Aku mendengarmu,' atau 'Wah, aku mengerti betapa kesalnya kamu. Ceritakan lebih lanjut,'" ungkapnya.
Itulah penjelasan seputar ciri anak yang mengalami gaslighting dan berbagai kalimat yang sering diucapkan orang tua menurut psikolog.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
Tanda Anak Mengalami Child Grooming dan Alasan Mereka Tidak Melawan
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
20 Perbuatan Orang Tua yang Tanpa Disadari Menyakiti Hati Anak, Hindari ya Bun
Kini Jadi Psikolog, Caca Tengker Tak Ingin Andalkan Teori dalam Mengasuh Anak
7 Tanda Bunda Gaslighting dalam Mengasuh Si Kecil
Kunci Sukses Pola Asuh Ideal, Ini Saran Ahli
TERPOPULER
8 Ciri Karakteristik Kalau Kamu Disukai Banyak Orang
Momen Anak-Anak Fairuz A Rafiq Belajar Hafal Al-Qur'an di Bulan Ramadhan, Ada Rewardnya Bun
Telat Suntik KB 3 Bulan selama Beberapa Hari tapi Sudah Berhubungan, Apakah Bisa Hamil?
Cara Merebus Ketupat Hemat Gas dan Tidak Cepat Basi
9 Ucapan Anak yang Kerap Disalahartikan Orang Tua Menurut Psikolog
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Bakso Kemasan Enak dan Terjangkau, Daging Sapi Berkualitas!
Natasha ArdiahREKOMENDASI PRODUK
5 Vitamin Anak untuk Daya Tahan Tubuh Selama Libur Lebaran
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Android TV Box Terbaik & Terjangkau untuk Streaming dan Gaming 2026
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Tas Brand Lokal untuk Ibu & Mertua di Bawah Rp500 Ribu, Bagus Semua!
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
6 Rekomendasi Vacuum Cleaner Handy dan Terjangkau
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
8 Ciri Karakteristik Kalau Kamu Disukai Banyak Orang
Momen Anak-Anak Fairuz A Rafiq Belajar Hafal Al-Qur'an di Bulan Ramadhan, Ada Rewardnya Bun
Telat Suntik KB 3 Bulan selama Beberapa Hari tapi Sudah Berhubungan, Apakah Bisa Hamil?
Hanung Bramantyo Baru Sadar Selama Ini Bernapas dari Satu Lubang Hidung, Kini Putuskan Oplas
5 Rekomendasi Bakso Kemasan Enak dan Terjangkau, Daging Sapi Berkualitas!
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
10 Ide Hampers Lebaran Buatan Sendiri yang Unik dan Hemat Budget
-
Beautynesia
Tes Kepribadian: Gambar Pertama yang Dilihat Ungkap Sifat Paling Menawan dalam Dirimu
-
Female Daily
Teen Approved! Jelly Lip Tint yang Bikin Bibir Juicy Tapi Tetap Tahan Lama
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Demi Moore Tampil Super Ramping di Red Carpet, Netizen Ramai Bahas Ozempic
-
Mommies Daily
Baru di Minggu Ini: Film Na Willa, hingga Ramadan Series Wardah