PARENTING
Siswa SD di NTT Meninggal Dunia, Alami Tekanan karena Tak Dibelikan Perlengkapan Sekolah
Amira Salsabila | HaiBunda
Rabu, 04 Feb 2026 14:50 WIBDisclaimer: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
Kabar duka datang dari salah satu daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa kelas IV sekolah dasar (SD), berinisial YBR, ditemukan meninggal dunia. Pihak kepolisian menemukan surat tulisan tangan saat melakukan evakuasi korban berusia 10 tahun tersebut.
Surat tersebut ditulis oleh YBR menggunakan bahasa daerah Bajawa. Ia mengungkap perasaan kecewa terhadap ibunya yang tidak bisa membelikan kebutuhan perlengkapan sekolahnya.
Berikut isi surat YBR kepada ibunya:
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan surat itu ditulis oleh YRB.
“Surat itu betul, petugas turun ke TKP temukan surat itu, anak itu yang tulis,” ujar Benediktus, dikutip dari laman detikcom, Rabu (4/2/2026).
Penyebabnya karena tak dibelikan buku dan pulpen
Penyebab siswa tersebut diduga kecewa karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah, Bunda.
Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan pada malam sebelum kejadian, korban berinisial YBR minta uang kepada ibunya untuk beli buku tulis dan pulpen. Namun, permintaan itu tidak bisa dipenuhi oleh ibunya karena kondisi ekonomi yang susah.
Dion mengatakan YBR sehari-hari tinggal bersama neneknya. Rumah nenek dan ibunya berada di desa tetangga. Malam sebelum kejadian, YBR menginap di rumah ibunya untuk meminta uang tersebut.
“Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal,” jelas Dion.
Menurut spesialis kesehatan jiwa dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, dari sudut pandang psikologis, anak dan remaja memiliki pemahaman yang berbeda tentang kematian. Ia menjelaskan, saat memasuki usia 9-10 tahun, anak umumnya sudah mulai mengerti bahwa kematian adalah sesuatu yang bersifat permanen dan tidak bisa kembali seperti semula.
TERUSKAN MEMBACA KLIK DI SINI.
Disclaimer: Jika Bunda menemukan gejala bunuh diri/menyakiti diri sendiri pada orang terdekat segera hubungi lima rumah sakit yang disiagakan.
Kementerian Kesehatan untuk melayani panggilan telepon konseling pencegahan bunuh diri, yakni:
RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565
RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025, 8320467
RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841
RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601
RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444
Ada pula nomor hotline Halo Kemkes di 1500-567 yang bisa dihubungi untuk mendapatkan informasi di bidang kesehatan, 24 jam.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/rap)