HaiBunda

PARENTING

Kenapa Gen Z & Gen Alpha Lebih Peka Secara Emosional Dibanding Generasi Lain?

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Rabu, 25 Feb 2026 07:50 WIB
Ilustrasi Gen Z & Gen Alpha Lebih Peka secara Emosional/Foto: Getty Images/charnsitr
Jakarta -

Belakangan ini, banyak orang tua merasa anak-anak zaman sekarang lebih peka terhadap perasaannya. Sedikit kejadian saja bisa membuat mereka bereaksi cukup dalam, Bunda.

Generasi Z dan Generasi Alpha memang kerap disebut sebagai generasi yang ekspresif secara emosional. Mereka terlihat lebih berani menunjukkan apa yang dirasakan.

Dikutip dari laman Parents, seorang psikiater anak dan remaja asal Amerika Serikat, Dr. Zishan Khan, mengamati terkait hal ini. Ia menilai anak-anak generasi sekarang cenderung lebih mudah terbawa perasaan.


"Mereka memiliki lebih banyak bahasa, alat, dan izin untuk membicarakan perasaan-perasaan itu daripada orang tua atau kakek-nenek mereka," kata Dr. Khan.

Perubahan ini menjadi topik menarik di kalangan profesional kesehatan mental. Para ahli pun mencoba mengulas dan mencari tahu alasan di balik Gen Z dan Gen Alpha lebih peka secara emosional.

Kenapa Gen Z & Gen Alpha lebih peka secara emosional?

Perlu diketahui bahwa sebagian besar anak Gen Z dan Gen Alpha lahir dari orang tua Generasi X dan Milenial. Jadi, cara mereka tumbuh dan belajar soal perasaan dipengaruhi oleh pola asuh generasi orang tuanya.

Menilik dari Parents, Generasi X dan Milenial membesarkan anak-anak mereka dengan pendekatan yang lebih sadar emosi. Mereka banyak belajar dari pengalaman pribadi dan buku parenting yang kini lebih mudah diakses.

Perubahan ini tentu tidak terjadi dalam waktu singkat ya, Bunda. Cara mendidik anak berubah perlahan selama puluhan tahun, seiring berkembangnya penelitian dan perubahan sosial yang ada.

Gaya parenting sekarang bikin anak lebih sadar emosi

Gaya parenting saat ini memang banyak berubah, Bunda. Orang tua sekarang lebih diajak untuk mengenalkan anak pada perasaan mereka.

Seorang ahli neuropsikologi di Amerika Serikat, William Cheung Tsang, Psy.D, menjelaskan bahwa buku parenting kini banyak membahas pentingnya emosi dalam tumbuh kembang anak.

"Buku dan literatur parenting mendorong orang tua untuk membangun kedekatan dengan anak, membantu anak mengelola emosi, serta menstimulasi perkembangan pikirannya," ujarnya.

"Contoh buku populer termasuk Parenting from the Inside Out karya Daniel Siegel dan Mary Hartzell, dan Raising Your Spirited Child karya Mary Sheedy Kurcinka," tambahnya.

Selain itu, konsep gentle parenting juga kini semakin sering dibahas, Bunda. Meski kerap disalahartikan, sebenarnya pola ini bukan berarti orang tua terlalu membebaskan anak, ya.

Kesehatan mental kini lebih terbuka dibicarakan

Ilustrasi Gen Z & Gen Alpha Lebih Peka secara Emosional/ Foto: Getty Images/FatCamera

Seiring berjalannya waktu, pandangan tentang kesehatan mental juga ikut berubah, Bunda. Topik ini kini lebih sering dibicarakan secara terbuka.

Terapi pun tidak lagi dianggap sebagai hal yang tabu. Banyak anak dan remaja merasa lebih nyaman membicarakan perasaan mereka dan mencari bantuan saat dibutuhkan.

Seorang penulis buku Practicing Stillness sekaligus psikiater asal Amerika Serikat, Nissa Keyashian, MD, memberikan pandangannya terkait hal ini.

"Generasi Z dan Generasi Alpha sedang menghadapi tantangan mereka sendiri, termasuk trauma tumbuh dewasa di era penembakan di sekolah, media sosial, serta melewati pandemi selama masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa muda mereka," kata Nissa Keyashian.

Selain itu, para ahli juga menilai orang tua punya peran besar dalam hal ini. Dengan pola asuh yang lebih terbuka, anak-anak jadi lebih sadar akan emosi dan berani mengekspresikan perasaan mereka.

Sekolah mulai ikut mengajarkan kecerdasan emosional

Selain dari rumah, anak-anak sekarang juga belajar soal emosi di sekolah, Bunda. Banyak sekolah yang sudah memiliki program khusus untuk anak memahami perasaan dan cara berkomunikasi dengan baik.

"Program pembelajaran sosial-emosional di sekolah dirancang untuk membantu anak-anak belajar tentang perasaan mereka dan bagaimana perasaan tersebut memengaruhi diri mereka sendiri dan orang lain dalam lingkungan yang sesuai dengan perkembangan mereka," tutur konselor profesional di Thriveworks Counseling Cromer, Alexandra Cromer, LPC.

"Program-program ini mendorong kesadaran dan komunikasi yang terbuka dan jelas tentang perasaan dan hambatan apa pun yang mungkin dialami anak dalam mengelola perasaan tersebut," lanjutnya.

Menurutnya, program ini biasanya dibuat interaktif dan mudah dipahami oleh anak. Jadi, anak-anak dari berbagai usia bisa belajar mengenali emosi dan menghadapi masalahnya dengan cara yang lebih sehat.

Itulah beberapa alasan mengapa Gen Z dan Gen Alpha lebih peka secara emosional dibandingkan dengan generasi lainnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

7 Tanda Anak Tumbuh Bahagia Berkat Pola Asuh Orang Tua yang Hebat

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

8 Tips Jitu Menghadapi Orang NPD dalam Kehidupan Sehari-hari

Mom's Life Nadhifa Fitrina

Anak People Pleaser Bisa Jadi Tak Bahagia saat Dewasa Menurut Psikologi, Ini 3 Cara Mencegahnya

Parenting Nadhifa Fitrina

Apakah Vasektomi Bisa Dibatalkan? Ini Fakta dan Efek Samping yang Akan Terjadi

Kehamilan Melly Febrida

7 Cara Hadapi Suami Selingkuh

Mom's Life Angella Delvie Mayninentha & Muhammad Prima Fadhilah

17 Resep Nasi Goreng Komplet dan Lezat, Ala Restoran hingga Abang-abang

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Apakah Vasektomi Bisa Dibatalkan? Ini Fakta dan Efek Samping yang Akan Terjadi

Kesetiaan Ali Zainal Dampingi Istri saat Alami Stroke Mendadak, Beri Pesan Bahaya Bergadang

Anak People Pleaser Bisa Jadi Tak Bahagia saat Dewasa Menurut Psikologi, Ini 3 Cara Mencegahnya

8 Tips Jitu Menghadapi Orang NPD dalam Kehidupan Sehari-hari

7 Cara Hadapi Suami Selingkuh

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK