parenting
Pola Tidur Bayi Ternyata Bisa Digunakan untuk Memprediksi Autisme
HaiBunda
Rabu, 11 Mar 2026 14:35 WIB
Daftar Isi
Tahukah Bunda, baru-baru ini sebuah penelitian menemukan adanya kaitan pola tidur bayi dengan kondisi autisme atau gangguan perkembangan saraf dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Simak temuannya berikut ini, yuk.
Bayi dengan hipersensitivitas atau kepekaan terhadap suara, sentuhan, dan rangsangan lain yang berlebihan cenderung mengalami kesulitan untuk mendapatkan tidur yang benar-benar nyenyak, bahkan ketika mereka berada di ruangan yang tenang, Bunda.
Melalui pemindaian gelombang otak, peneliti menemukan bahwa durasi tidur nyenyak dengan kualitas tidur bayi bisa jadi berbeda. Pada bayi yang mengidap autisme, gelombang otak menjadi lebih lambat, menandakan bahwa otak tidak sepenuhnya beristirahat dari rangsangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Temuan ini membuktikan bahwa sebagian bayi dengan autisme sering terlihat mudah terganggu. Agar Bunda semakin memahami kondisi tersebut, simak lebih lengkap bagaimana penelitian tersebut dapat menentukan autisme melalui pola tidur bayi.
|
Baca Juga : Anak Susah Tidur Jadi Pertanda Autisme?
|
Hasil temuan studi yang membahas pola tidur bayi dengan autisme
Penelitian yang dilakukan oleh Universitas East Anglia (UEA) ini mengatakan, bayi yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami autisme, terlihat dari bagaimana pola tidurnya. Salah satunya ditandai dengan mereka yang mengalami kesulitan tidur.
Pemimpin utama studi, Profesor Teodora Gliga, menjelaskan bahwa banyak orang tua melaporkan bayi mereka mudah terganggu oleh suara atau sentuhan. Bayi yang mengidap autisme memiliki waktu tidur yang sama, tetapi tidurnya tidak bisa senyenyak bayi lain.
“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa bahkan suara sehari-hari pun dapat mempersulit beberapa bayi untuk tetap tidur nyenyak, terutama bayi yang memiliki respons sensorik yang secara alami lebih tinggi,” jelasnya yang dikutip dalam laman Neuroscience.
Selain itu, kondisi tersebut diperkuat dengan kaitannya dengan keturunan. Beberapa bayi dalam penelitian ini memiliki risiko autisme yang lebih tinggi karena memiliki saudara dengan kondisi autisme. Namun, hal tersebut tidak selalu menandakan bahwa mereka akan pasti mengalami autisme.
Dalam dua tahun pertama kehidupan, bayi dengan riwayat keluarga autisme cenderung memiliki pola tidur malam yang kurang stabil, seperti lebih sering terbangun atau durasi tidur lebih pendek. Pada usia 14 bulan, kualitas tidur yang menurun berkaitan dengan kemungkinan munculnya ciri autisme pada usia tiga tahun.
Bagaimana penelitian tersebut dilakukan?
Penelitian tersebut melibatkan 41 bayi yang berusia 8 hingga 11 bulan. Para keluarga diminta untuk mengunjungi laboratorium tidur di Universitas East Anglia. Para peneliti akan melakukan tes, yakni memastikan bahwa bayi menjalani dua kali sesi tidur siang.
Kedua sesi tidur siang tersebut dibedakan menjadi dua kondisi, satu kali di ruangan yang tenang dan satu kali di ruangan dengan suara ‘bip’ lembut yang setara dengan percakapan normal pada manusia.
Kemudian, peneliti merekam aktivitas otak bayi selama tidur dan membandingkan kedalaman atau kenyenyakan tidurnya dalam dua kondisi tersebut. Orang tua juga diminta untuk mengisi kuesioner tentang kebiasaan tidur dan tingkat sensitivitas sensorik bayi mereka.
Data inilah yang kemudian dianalisis untuk melihat kaitan gelombang otak dengan kualitas tidur dan autisme. Namun, peneliti menegaskan bahwa sensitivitas sensorik tidak selalu mengarah pada autisme. Untuk hasil yang pasti, para peneliti menyarankan agar melakukan pemeriksaan autisme saat anak sudah berusia 3 tahun.
Pola tidur yang berkualitas sangat penting untuk perkembangan otak bayi
Profesor Gilga menekankan bahwa tidur yang berkualitas sangat penting bagi perkembangan otak dan kesehatan emosional bayi, Bunda. Mengurangi kebisingan dipercaya dapat membantu bayi dengan kondisi hipersensitivitas. Namun, cara tersebut dinilai belum begitu maksimal.
Sejauh ini, belum ditemukan langkah pasti untuk memperbaiki pola tidur dan membuatnya jauh lebih nyenyak pada bayi autisme. Para peneliti menyarankan perlunya studi lanjutan untuk mencari cara agar bayi bisa tidur lebih nyenyak, terutama dalam membantu otak bayi menyaring rangsangan sensorik saat tidur.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pola tidur sejak tahun pertama kehidupan bisa menjadi petunjuk penting dalam perkembangan Si Kecil di masa depan. Harapannya Bunda dapat mengenali kondisi dan kebutuhan mereka dengan lebih baik sejak dini.
Demikian informasi mengenai keterkaitan autisme dengan pola tidur bayi yang dikemukakan peneliti. Semoga informasinya bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
3 Tanda Paling Umum Anak Mengidap Autisme
Parenting
3 Kriteria sebelum Mendaftarkan Anak dengan Autisme ke Sekolah Inklusi, Catat Bunda!
Parenting
Kenapa Bayi Baru Lahir Sering Terbangun Tengah Malam? Ini 5 Alasannya
Parenting
Durasi dan Jadwal Tidur Bayi Usia 0-6 Bulan untuk Tumbuh Kembang Maksimal
Parenting
5 Jenis Terapi Ini Bisa Atasi Berbagai Keterlambatan Perkembangan Anak
7 Foto
Parenting
7 Potret Cantiknya Zaenab di Usia 4 Th, Putri Young Lex yang Didiagnosis Alami Autisme
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Anak Berkeringat saat Tidur, Waspadai Kemungkinan Masalah Jantung
Bolehkah Membiarkan Bayi Menangis Sampai Diam Sendiri? Ini Efeknya Menurut Pakar
Ketahui Jadwal & Manfaat Rutinitas Harian Anak Usia 1 Tahun untuk Tumbuh Kembangnya