Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

13 Ciri Kepribadian Orang yang Tidak Pernah Dengar Kata "Aku Cinta Kamu" di Masa Kecil

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Senin, 23 Mar 2026 16:40 WIB

13 Ciri Kepribadian Orang yang Tidak Pernah Dengar Kata "Aku Cinta Kamu" di Masa Kecil
Ilustrasi / Foto: Getty Images/LightFieldStudios
Daftar Isi
Jakarta -

Di masa kecil, anak-anak butuh merasa dicintai agar tumbuh percaya diri, Bunda. Ternyata, ucapan seperti "Aku cinta kamu" punya pengaruh besar terhadap perkembangan mereka.

Seorang psikolog klinis dari Los Angeles, Amerika Serikat, Dr. Dakari Quimby, Ph.D., menjelaskan pentingnya ucapan ini bagi perkembangan anak.

"'Aku cinta kamu' membantu anak-anak merasa aman dan dihargai," katanya, dikutip dari laman Parade.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Ucapan itu membantu anak menciptakan keterikatan yang aman, yang nantinya jadi contoh untuk hubungan mereka di masa depan. Hal ini juga membangun kepercayaan diri dan ketahanan mereka. Ketika anak-anak tahu bahwa mereka dicintai tanpa syarat, mereka lebih siap untuk mengatasi tantangan dan membangun hubungan yang positif," lanjutnya.

Namun sayangnya, ada anak-anak yang tumbuh tanpa mendengar ucapan cinta dari orang tua mereka. Kabar buruknya, hal ini bisa memengaruhi kepribadian anak ketika mereka dewasa.

Berkaitan dengan ini, para psikolog menyebut bahwa orang yang tidak pernah mendengar kata "Aku cinta kamu" saat kecil cenderung memiliki kepribadian tertentu.

Baca Juga : Apa yang Terjadi Jika Tes DNA Anak Tidak Cocok dengan Ibu Kandung?

Ciri kepribadian orang yang tidak pernah dengar kata "Aku cinta kamu" di masa kecil

Dikutip dari Parade, ada beberapa ciri kepribadian yang muncul pada orang-orang yang tidak pernah mendengar ucapan "Aku cinta kamu" saat masa kecil. Berikut penjelasannya:

1. Kurang percaya diri

Mendengar kata-kata ini saat kecil sebenarnya bisa membangun rasa percaya diri pada anak, Bunda. Kalau anak tidak pernah mendengarnya, mereka bisa mudah merasa kurang 'berharga' dibandingkan dengan orang lain.

Seorang psikolog di Veritas Psychology Partners, Dr. Gayle MacBride, Ph.D., LP, turut memberikan pendapatnya mengenai hal ini.

"Anak-anak sering kali memahami bahwa orang-orang di sekitar mereka diberi tahu bahwa mereka dicintai dan bisa jadi bertanya-tanya, 'Mengapa saya tidak dicintai? Apa yang salah dengan saya? Pasti saya yang bermasalah,'" katanya.

Anak yang tumbuh seperti ini terkadang suka merasa ragu untuk mengekspresikan diri. Mereka bisa sulit percaya pada kemampuan sendiri dan takut gagal di hadapan orang lain.

2. Haus validasi

Psikolog berlisensi di Thriveworks, Amerika Serikat, Dr. Brandy Smith, Ph.D., mengatakan bahwa anak yang tidak pernah mendengar "Aku cinta kamu" kerap merasa perlu diakui terus-menerus. Anak mencari kepastian bahwa mereka dihargai oleh orang lain setiap saat.

"Hal ini dapat terwujud sebagai upaya mencari pengakuan dari orang lain dengan mengajukan pertanyaan terkait rasa harga diri dan pentingnya diri mereka bagi orang tersebut," jelasnya.

Akibatnya, anak bisa terlihat selalu ingin dipuji atau mencari perhatian, Bunda. Kondisi ini juga membuat mereka sulit merasa puas dengan dirinya sendiri.

3. Selalu berusaha menyenangkan orang lain

Anak yang tidak pernah mendengar "Aku cinta kamu" biasanya selalu berusaha membuat orang lain senang. Anak merasa kalau bisa menyenangkan orang lain, maka diri mereka dianggap berharga.

Efeknya bisa kita lihat ketika mereka selalu mengalah atau sulit menolak permintaan orang lain. Mereka juga ingin diterima dan diakui melalui tindakan baiknya.

4. Sulit menemukan jati diri

Beberapa orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain seolah seperti hewan 'bunglon'. Anak selalu menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan jarang menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya.

Psikolog yang berasal dari Texas, Amerika Serikat, Dr. Brittany McGeehan, Ph.D., menyampaikan bahwa anak yang dibesarkan tanpa dukungan dari Bunda dan Ayah cenderung sulit merasa 'aman' dalam menghadapi sekitarnya.

"Ketika orang tua tidak mampu memberikan dukungan secara emosional dalam membesarkan anak, mereka tidak memiliki landasan yang aman untuk menjelajahi dan memahami dunia," katanya.

5. Ingin segalanya sempurna

Bunda, sebagian anak yang kurang mendapat kasih sayang di masa kecil bisa tumbuh menjadi orang yang perfeksionis. Mereka merasa harus melakukan semuanya dengan 'sempurna' agar diterima dan dicintai.

Akibatnya, anak sering menetapkan standar yang tinggi untuk diri sendiri. Hal ini yang juga membuat anak mudah merasa gagal atau cemas jika tidak memenuhi harapan yang mereka buat sendiri.

6. Sulit menetapkan batasan

Berikutnya, anak yang tidak pernah mendengar kata "Aku cinta kamu" bisa merasa kesulitan mengatakan 'tidak' saat dewasa nanti. Mereka ingin menyenangkan orang lain dan takut mengecewakan.

Jika anak tidak percaya bahwa mereka pada dasarnya layak dicintai karena tidak pernah mendengar ucapan ini saat masih kecil, anak mungkin akan terus 'berjuang' untuk menetapkan batasan yang sehat.

Namun masalahnya, anak sering terlalu banyak mengikuti permintaan dari orang lain. Mereka merasa harus melakukan semuanya supaya tetap diterima dan dicintai.

7. Takut ditolak

Psikolog McGeehan mengatakan bahwa anak yang jarang mendengar ucapan manis ini saat kecil cenderung tumbuh dengan perasaan ada yang kurang dalam dirinya. Hal ini bisa membuat mereka jadi berhati-hati, bahkan merasa waswas saat ingin menunjukkan kemampuan diri.

"Jika kita tidak memiliki keyakinan yang kuat bahwa kita dicintai, kita akan menghabiskan seluruh hidup kita dalam ketakutan bahwa seseorang tidak akan menyukai kita, atau yang dikenal sebagai rasa takut ditolak," ungkapnya.

8. Takut ditinggalkan

Rasa kasih sayang orang tua yang jarang diungkapkan bisa membuat anak merasa perhatian itu adalah sesuatu yang rapuh. Perasaan tidak aman ini dapat terbawa hingga mereka dewasa nanti.

Anak mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus selalu bersikap sempurna agar orang tuanya tetap ada di sisi mereka. Jika tidak begitu, anak pun merasa takut ditinggalkan.

9. Sulit dalam mengatur emosi

Tahukah Bunda, bahwa kemampuan anak untuk mengendalikan perasaan sebenarnya berawal dari hubungan yang penuh kasih sayang di rumah. Di dalam pelukan dan kata-kata cinta, anak belajar bagaimana cara menenangkan diri serta mengatur emosinya dengan baik.

Namun, jika anak tidak punya kesempatan belajar mengendalikan emosi sejak kecil, mereka bisa melewatkan momen penting itu.

10. Menarik diri secara emosional

Menarik diri secara emosional biasanya terjadi pada anak yang jarang mendengar "Aku cinta kamu" waktu kecil. Hal ini karena mereka tidak belajar mengekspresikan perasaannya dengan aman.

Karena orang tua jarang menunjukkan perasaan mereka, anak jadi sulit mengekspresikan emosinya sendiri. Akibatnya, mereka kerap merasa kesulitan mempertahankan persahabatan dan mudah move on dari satu hubungan ke hubungan yang lain.

11. Sulit mempercayai dan mengungkapkan cinta dalam hubungan

Hubungan pertama anak biasanya terbentuk bersama orang tua di masa kecil.  Anak yang tidak pernah diberi tahu bahwa mereka dicintai mungkin akan kesulitan untuk mempercayai orang lain ketika orang tersebut mengungkapkan kasih sayang mereka.

12. Kesulitan menilai hubungan yang sehat

Ketika anak jarang mendengar kata cinta saat kecil, mereka suka merasa bingung memahami batasan hubungan yang baik. Mereka cenderung menjaga jarak dari orang lain atau justru sebaliknya, yaitu terlalu cepat memberikan hati kepada siapa saja.

13. Kecemasan dan depresi

Anak yang tumbuh tanpa rasa dicintai ternyata punya risiko yang lebih besar terhadap masalah mental saat mereka dewasa. Perasaan 'hampa' yang dirasakan sejak kecil ini bisa menjadi beban yang cukup berat bagi anak.

"Kesehatan mental terpengaruh ketika seseorang merasa bahwa mereka, tidak 'cukup' dalam beberapa hal," kata psikolog Brandy Smith.

"Hal itu dapat melibatkan perasaan sedih dan bertanya-tanya, apakah orang lain 'benar-benar' peduli, yang berujung pada suasana hati yang buruk, depresi, dan kecemasan tentang apa yang mungkin terjadi dalam hubungan," pungkasnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda