PARENTING
6 Saran Psikolog Menghadapi Anak Tantrum di Depan Keluarga saat Kumpul Lebaran
Indah Ramadhani | HaiBunda
Minggu, 22 Mar 2026 09:00 WIBHari Lebaran selalu identik dengan kumpul keluarga. Menghadapi situasi ramai, anak-anak seringkali tantrum dan susah untuk ditenangkan.
Anak-anak perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan suasana baru yang dihadapinya, sehingga wajar apabila anak cenderung rewel, cengeng, bahkan tantrum. Namun, bagaimana jika perilaku tak terkendalinya terjadi di tengah momen penting seperti Lebaran?
Tentunya menghadapi anak yang tantrum bukanlah sesuatu yang mudah bagi orang tua, Bunda. Anak akan berisik, menguras energi, dan tantrum yang dapat terjadi kembali sewaktu-waktu membuat orang tua membutuhkan kesabaran ekstra.
Terlebih jika tantrumnya terjadi saat momen kumpul bersama keluarga. Tak sedikit anggota keluarga yang akan menyaksikan Si Kecil rewel, bahkan tanpa sadar mereka menanggapinya dengan marah, mempermalukan, atau mengkritiknya di depan orang lain.
Meski begitu, tantrum merupakan bagian normal dari proses perkembangan anak. Namun, tidak semua tantrum yang muncul disebabkan oleh hal tersebut, Bunda. Terkadang, faktor lain seperti kondisi psikologis anak juga dapat mempengaruhi perilakunya.
Agar Bunda memahami lebih lanjut bagaimana cara menghadapi anak tantrum di depan keluarga, yuk simak informasi dari para ahli berikut ini.
Faktor psikologis yang membuat anak tantrum menurut ahli
Menurut psikoterapis sekaligus penulis beragam buku parenting terkenal, Debbie Pincus, anak yang tantrum dapat dipengaruhi dari interaksi dan keterlibatan psikologis antara anak dan orang tua. Melansir dari laman Empowering Parents, berikut beberapa faktor yang diungkapnya.
1. Anak menyerap energi negatif dalam keluarga
Saat orang tua sedang stres, marah, atau tegang, tanpa disadari anak juga akan merasakannya, Bunda. Menurut Pincus, anak dapat menyerap kecemasan yang dialami orang tua dan mengekspresikannya melalui perilaku tantrum, marah, atau berteriak.
2. Konflik atau ketegangan yang terjadi di keluarga
Anak juga dapat merasakan tegang dan gelisah ketika hubungan antara anggota keluarga sedang tidak baik-baik saja. Kondisi ini dapat membuat anak menjadi lebih emosional dan mudah meluapkan perasaannya, Bunda.
3. Memiliki temperamen yang sulit dikendalikan
Beberapa anak pada dasarnya memiliki temperamen yang kuat atau sulit dikendalikan. Hal ini dapat memicu anak untuk menunjukkan perilaku marah, emosi, gelisah, bahkan tantrum, jika tidak diimbangi dengan pengasuhan yang baik dan konsisten.
4. Pola asuh yang terlalu keras
Jangan salah, tantrum pada anak juga dapat dipengaruhi oleh pola pengasuhan, Bunda. Orang tua yang bersikap impulsif atau terlalu keras, mudah emosi, dan penuh rasa khawatir saat menghadapi anak justru dapat memperburuk perilakunya.
5. Stres emosional
Ketika tekanan emosional, konflik, serta masalah keluarga tidak kunjung selesai, maka anak juga dapat menjadi stres. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menimbulkan berbagai masalah perilaku, seperti tantrum, perilaku agresif, atau menarik diri.
Apa yang bisa dilakukan orang tua menghadapi anak tantrum
Jika Bunda sudah tahu Si Kecil memungkinkan untuk tantrum, sebaiknya siapkan beberapa langkah untuk menanganinya. Psikiater anak dan remaja, Steven Dickstein, MD, menekankan bahwa tantrum sebaiknya dihadapi bukan dihindari, sebab mengabaikannya justru dapat memperburuk perilakunya.
Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua dalam menangani anak tantrum yang telah dikutip dari laman Child Mind. Di antaranya:
1. Ingatkan anak untuk mengontrol perilaku
Sebelum pergi menemui keluarga besar, Bunda bisa mengingatkan Si Kecil untuk berperilaku dengan baik (behave) seperti mengingatkan anak untuk tidak berteriak-teriak dan tidak berebut mainan. Dengan begitu anak mengerti bagaimana ia harus bersikap di tempat orang lain.
2. Memberikan kabar kepada keluarga lain atau tuan rumah
Jika sikap tantrumnya menjadi kekhawatiran Bunda, tidak ada salahnya untuk berinisiatif memberi tahu kepada keluarga lain atau pemilik rumah. Ini dapat membantu mereka mengerti kondisi Si Kecil dan memiliki ekspektasi yang lebih realistis.
4. Sediakan ruangan dan waktu untuk beristirahat
Kumpul keluarga terkadang membuat fisik menjadi lelah karena situasi yang terlalu ramai. Bagi sebagian anak, kondisi ini bisa membuat mereka overstimulasi atau rewel. Karenanya, Bunda bisa menyediakan waktu dan tempat agar anak dapat beristirahat dengan nyaman.
5. Buat anak sibuk dengan berbagai aktivitas
Bunda pasti mengerti bahwa anak sangatlah cepat merasa bosan. Oleh karena itu, siapkan aktivitas seperti bermain game interaktif bersama sepupu, menonton film keluarga, serta aktivitas sederhana lainnya agar suasana hati anak tetap terjaga.
6. Mengontrol dan mengelola ekspektasi orang tua
Penting diingat oleh orang tua bahwa tidak semua anak mampu duduk diam atau mengikuti seluruh rangkaian acara keluarga. Bunda perlu bersikap realistis dan memahami bahwa anak butuh untuk bermain dan bergerak agar mereka tidak rewel.
Cara menghadapi anak tantrum di depan keluarga saat kumpul Lebaran
Mendukung langkah yang disarankan oleh Dickstein, psikolog anak dari Tiga Generasi @ Brawijaya Clinic, Saskhya Aulia Prima, turut memberikan cara untuk menghadapi anak yang tantrum di tengah pertemuan dengan orang banyak. Cara ini juga dapat Bunda terapkan saat tantrum kembali datang ketika momen Lebaran.
1. Hindari memarahi atau mempermalukan anak di depan keluarga
Meski sulit, Bunda harus tetap menjaga sikap untuk tidak memarahinya selagi Si Kecil tantrum di depan keluarga. Memarahi atau mempermalukan anak termasuk kekerasan verbal dan emosional yang dapat membuat anak merasa tidak berharga atau disalahkan.
2. Tetap tenang dan cobalah untuk mengontrol emosi
Saat anak tantrum, orang tua yang terlalu keras dan emosional justru dapat memperburuk perilakunya. Bunda bisa mengambil napas sejenak, berpikir dengan jernih, dan hindari terpengaruh omongan keluarga lain yang tidak penting.
3. Pahami kondisi psikologis anak
Perlu diingat kembali bahwa anak-anak sedang menilai dirinya sendiri, Bunda. Apabila terlalu sering dimarahi, maka anak akan menilai bahwa dirinya tidak berguna dan membuat rasa percaya dirinya hilang.
4. Alihkan perhatiannya dan beri ruang untuk menenangkan diri
Jika memungkinkan, Bunda bisa membawa anak ke tempat dan suasana yang lebih tenang. Dengan begitu, Bunda dan Si Kecil bisa menenangkan diri. Selain itu, hindari untuk memaksa anak bersikap baik demi orang lain.
5. Bicarakan perasaan dan batasan dengan lembut setelah anak tenang
Setelah tantrum mereda, Bunda bisa bantu Si Kecil untuk mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata. Setelah itu, Bunda bisa memberitahunya tentang perilaku mana yang baik dan tidak baik dengan kata-kata yang lembut dan tegas.
6. Jaga komunikasi dengan anggota keluarga lain
Bunda bisa mengingatkan keluarga lain untuk tidak mempermalukan Si Kecil atau mengkritik perilakunya di depan umum. Bantu juga keluarga untuk memahami bahwa tantrum adalah bentuk ekspresi stres atau cemas berlebih pada anak.
Demikian informasi mengenai cara menghadapi anak tantrum di depan keluarga saat kumpul Lebaran. Semoga penjelasannya bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)