HaiBunda

PARENTING

Bronkopneumonia pada Anak: Penyebab, Gejala, Cara Mencegah, & Mengobatinya

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Selasa, 31 Mar 2026 18:50 WIB
Ilustrasi Bronkopneumonia pada Anak: Penyebab, Gejala, Cara Mencegah, & Mengobatinya/Foto: Getty Images/Panadda Phiakhamen
Jakarta -

Tahukah Bunda, ternyata anak-anak lebih mudah terserang penyakit bronkopneumonia. Terlebih bagi mereka yang usianya di bawah dua tahun, karena sistem kekebalan tubuhnya masih rentan.

Mengutip dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, bronkopneumonia bisa menjadi salah satu penyebab kematian pada anak di bawah lima tahun, Bunda.

Bronkopneumonia sendiri merupakan radang pada saluran pernapasan, mulai dari bronkus sampai alveolus paru. Penyakit ini memang kerap dijumpai pada bayi dan anak kecil.


Menilik data World Health Organization (WHO), infeksi pneumonia pada balita di Indonesia terjadi sekitar 10-20 persen setiap tahunnya. Bronkopneumonia sendiri adalah bentuk pneumonia yang memengaruhi alveoli di paru-paru dan bronkus.

Simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Gejala bronkopneumonia pada anak

Bunda, ada beberapa gejala umum bronkopneumonia yang sering muncul pada anak. Berikut ini adalah tanda-tandanya yang perlu diperhatikan:

1. Batuk berdahak

Salah satu tanda awal bronkopneumonia adalah batuk berdahak. Dalam kondisi ini, Bunda sebaiknya tidak mengabaikannya, apalagi kalau batuk berlangsung lebih dari beberapa hari.

2. Demam

Anak yang terkena bronkopneumonia biasanya mengalami demam. Panas badan yang tinggi bisa menjadi pertanda bahwa tubuh sedang melawan infeksi.

3. Sesak napas atau napas menjadi cepat

Jika Si Kecil terlihat sulit bernapas atau napasnya lebih cepat dari biasanya, Bunda perlu waspada. Hal ini bisa menjadi tanda saluran pernapasan sedang mengalami radang.

4. Menggigil

Selanjutnya, beberapa anak juga bisa mengalami menggigil saat terkena bronkopneumonia. Kondisi ini biasanya disertai rasa tidak nyaman dan lemas.

5. Nyeri dada

Nyeri atau tidak nyaman di dada juga bisa muncul pada anak yang terkena bronkopneumonia, Bunda. Apabila gejala bronkopneumonia pada anak tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menimbulkan komplikasi yang lebih berbahaya. Jadi, sebaiknya Bunda segera memeriksakan Si Kecil ke dokter, ya.

Penyebab bronkopneumonia pada anak

Bunda, ada beberapa penyebab anak bisa mengalami bronkopneumonia. Berikut ini beberapa penyebab yang perlu diketahui:

1. Bakteri

Perlu diketahui bahwa penyakit bronkopneumonia bisa muncul karena berbagai jenis bakteri. Beberapa di antaranya adalah:

  • Streptococcus pneumoniae atau pneumococcus
  • Stafilococcus
  • Hemophilus influenzae tipe B

2. Virus

Selain bakteri, beberapa jenis virus juga bisa menjadi penyebab bronkopneumonia pada anak. Virus-virus tersebut antara lain:

  • Virus influenza
  • Virus respiratoris
  • Insidial virus
  • Virus campak

3. Campuran bakteri dan virus

Tidak jarang bronkopneumonia muncul karena kombinasi antara bakteri dan virus. Kondisi ini biasanya membuat anak merasa sesak napas, Bunda.

4. Jamur dan organisme lainnya

Selain virus dan bakteri, infeksi paru-paru pada anak juga bisa disebabkan oleh jamur atau organisme lain, lho.

5. Paparan asap rokok (perokok pasif)

Lingkungan dengan polusi udara tinggi, terutama asap rokok, dapat melemahkan paru-paru anak. Akibatnya, risiko anak terkena infeksi seperti bronkopneumonia menjadi lebih besar, Bunda.

Apakah penyakit bronkopneumonia pada bayi bisa sembuh total?

Melansir dari Kemenkes, jika bronkopneumonia pada bayi disebabkan oleh virus, biasanya kondisi Si Kecil akan membaik dengan sendirinya. Bronkopneumonia ringan akibat virus bisa sembuh dalam beberapa hari atau minggu.

Sementara jika disebabkan karena bakteri, dokter biasanya akan meresepkan antibiotik. Selain itu, orang tua juga bisa membantu pemulihan anak di rumah.

Pastikan Si Kecil cukup istirahat, mendapatkan asupan cairan dan makanan yang cukup, serta rutin mengonsumsi obat sesuai dengan anjuran dokter.

Berapa lama penyembuhan bronkopneumonia pada bayi?

Bronkopneumonia yang disebabkan virus pada bayi biasanya tidak membutuhkan perawatan medis, kecuali kondisinya cukup parah. Pada umumnya, gejala bronkopneumonia akibat virus akan membaik dengan sendirinya dalam waktu sekitar dua minggu.

Cara mengobati bronkopneumonia pada bayi

Bunda, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi bronkopneumonia pada Si Kecil. Berikut ini telah dirangkum beberapa langkah yang perlu diperhatikan:

1. Terapi cairan (infus)

Salah satu gejala bronkopneumonia pada bayi adalah demam dan bisa membuat tubuh kehilangan banyak cairan. Bunda perlu memastikan Si Kecil tetap cukup minum dan terhidrasi dengan baik.

Jika anak dirawat di rumah sakit, dokter biasanya akan memberikan tambahan cairan melalui infus supaya kebutuhan tubuhnya tetap terpenuhi.

2. Pemberian obat-obatan

Demam dan gejala lain dari bronkopneumonia perlu diatasi dengan obat-obatan yang sesuai, misalnya dengan obat penurun panas. Jangan lupa untuk memberi obat lain sesuai dengan anjuran dokter untuk meredakan gejala lainnya.

3. Terapi oksigen

Jika Si Kecil mengalami sesak napas atau batuk yang berat, sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit. Di sana, anak akan mendapatkan penanganan yang tepat, termasuk terapi oksigen jika dibutuhkan.

Komplikasi bronkopneumonia pada anak

Bronkopneumonia yang tidak segera ditangani atau tergolong parah bisa memicu komplikasi, terutama pada anak yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah.

Mengutip dari Medical News Today, pada tahun 2015, sekitar 920.000 anak di bawah lima tahun meninggal akibat pneumonia di seluruh dunia. Sebagian besar kematian ini disebabkan oleh bronkopneumonia.

Komplikasi bronkopneumonia dapat meliputi beberapa kondisi berikut:

1. Infeksi darah

Infeksi darah terjadi ketika bakteri masuk ke aliran darah dan menyerang organ lain. Kondisi ini dikenal juga sebagai sepsis dan bisa memicu kegagalan fungsi organ.

2. Abses paru-paru

Abses paru-paru muncul saat nanah terbentuk di rongga paru-paru. Biasanya bisa ditangani dengan antibiotik, tapi terkadang operasi diperlukan untuk mengangkat nanahnya.

3. Efusi pleura

Efusi pleura adalah penumpukan cairan di sekitar paru-paru dan rongga dada. Cairan ini bisa dikeluarkan melalui jarum (thoracentesis) atau kateter (chest tube), dan pada kasus serius, prosedur operasi mungkin dibutuhkan.

4. Gagal napas

Gagal napas terjadi saat pertukaran oksigen dan karbon dioksida di paru-paru terganggu. Anak yang mengalami kondisi ini mungkin perlu bantuan ventilator atau alat bantu pernapasan lainnya.

Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) adalah bentuk gagal napas yang lebih parah dan sangat berisiko bagi nyawa.

Bagaimana mencegah bronkopneumonia pada anak?

Meski bronkopneumonia pada anak terdengar menakutkan, kondisi ini sebenarnya bisa dicegah dengan beberapa cara. Dikutip dari Kemenkes, berikut penjelasan lengkapnya:

1. Berikan ASI eksklusif dan MPASI

Pastikan Si Kecil mendapatkan ASI eksklusif hingga usia enam bulan ya, Bunda. Selanjutnya, lanjutkan dengan MPASI yang sesuai hingga dua tahun supaya daya tahan tubuhnya juga lebih kuat.

2. Hindari paparan rokok dan polusi udara

Anak juga sebaiknya dijauhkan dari asap rokok dan lingkungan dengan polusi tinggi. Mengapa demikian? Hal ini dapat membantu paru-paru mereka tetap sehat dan mencegah infeksi.

3. Lengkapi imunisasi

Imunisasi seperti DPT-Hib (2, 3, 4 bulan), Pneumococcus Conjugated Vaccine/PCV (2, 3, 12 bulan), dan vaksin Influenza (mulai usia 6 bulan) sangatlah penting. Imunisasi ini juga membantu anak terhindar dari infeksi penyebab bronkopneumonia.

4. Jaga kebersihan dan alat makan

Selanjutnya, pastikan anak tetap bersih dan tidak berbagi peralatan makan dengan orang lain, ya. Kebiasaan ini juga bisa mencegah kuman dan bakteri masuk ke tubuh anak.

5. Asupan nutrisi yang baik

Bunda juga perlu memastikan anak mendapatkan nutrisi yang cukup dan sesuai dengan usia mereka. Nutrisi yang baik mendukung sistem kekebalan tubuh anak agar lebih kuat menghadapi penyakit.

6. Hindari orang sakit

Satu hal yang tidak kalah penting, anak harus dijauhi dengan orang-orang yang sedang sakit. Cara ini juga mengurangi risiko anak tertular infeksi pernapasan.

7. Terapkan pola hidup bersih dan sehat

Biasakan anak hidup bersih, mencuci tangan, dan menjaga kebersihan diri ya, Bunda. Pola hidup sehat ini juga mendukung tubuh anak tetap kuat menghadapi infeksi.

8. Manfaatkan buku KIA

Bunda juga bisa memanfaatkan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) untuk mendapat informasi lengkap tentang kesehatan anak. Buku ini dapat memantau tumbuh kembang dan mencegah berbagai penyakit, termasuk bronkopneumonia.

Itulah ulasan mengenai penyakit bronkopneumonia pada anak, seperti penyebab, gejala, cara Mencegah, & mengobatinya. Semoga informasinya bisa bermanfaat, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Bunda Wajib Tahu, Penyebab Pusar Bayi Menonjol Keluar

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Potret Menggemaskan Launa Anak Sabrina Anggraini & Belva Devara, Sudah Pintar Ngoceh

Parenting Nadhifa Fitrina

Cara Menghitung Weton Kelahiran untuk Mengetahui Karakter Anak saat Lahir

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

Deretan Figur Publik Hamil di Atas 40 Tahun, Ada yang Sempat Rahasiakan Baby Bump

Kehamilan Annisa Karnesyia

Alasan Mengapa Orang dengan Golongan Darah O Jadi yang Terfavorit di Korea

Mom's Life Amira Salsabila

5 Tanaman Indoor Efektif Menyerap Asap Rokok

Mom's Life Arina Yulistara

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Dinda Hauw Diajak Pulang ke Kampung Rey Mbayang, Tinggal di Rumah Kebun Dikelilingi Pegunungan

Potret Menggemaskan Launa Anak Sabrina Anggraini & Belva Devara, Sudah Pintar Ngoceh

5 Tanaman Indoor Efektif Menyerap Asap Rokok

Kenali Bahaya Tuberkulosis (TB) Anak, Bikin Berat Badan Susah Naik

Cara Menghitung Weton Kelahiran untuk Mengetahui Karakter Anak saat Lahir

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK