HaiBunda

PARENTING

Milia pada Bayi: Penyebab, Jenis & Cara Menghilangkannya

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Kamis, 02 Apr 2026 17:10 WIB
Ilustrasi Milia pada Bayi: Penyebab, Jenis & Cara Menghilangkannya/Foto: Getty Images/Henadzi Pechan
Jakarta -

Bunda khawatir karena melihat bintik putih seperti jerawat kecil di wajah Si Kecil? Jangan dulu panik, ya. Kondisi ini biasa disebut sebagai milia pada bayi.

Kulit bayi baru lahir memang mengalami banyak perubahan seiring masa pertumbuhan. Salah satunya adalah munculnya milia, biasanya terlihat di hidung, dagu, dahi, atau pipi bayi.

Mengutip dari laman Cleveland Clinic, milia adalah kondisi kulit umum yang menyebabkan munculnya benjolan kecil berwarna putih di bawah permukaan kulit. Sekitar 40-50 persen bayi baru lahir di Amerika Serikat memiliki milia, dan orang dewasa juga bisa mengalaminya.


Meskipun terlihat mengganggu, milia biasanya tidak menimbulkan rasa sakit atau gatal. Sebagian besar kasus akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Jenis milia pada bayi yang perlu diperhatikan orang tua

Ada berbagai jenis milia yang bisa muncul pada bayi, Bunda. Setiap jenis memiliki ciri khas dan kemunculan yang berbeda di wajah.

1. Milia neonatal

Milia neonatal biasanya muncul pada bayi sejak lahir dan terlihat sebagai kista putih kecil di kulit, terutama di sekitar hidung. Bunda bisa memperhatikan bahwa jenis ini memang sudah ada sejak Si Kecil lahir.

2. Milia primer

Milia primer adalah kista kecil yang kerap muncul di kelopak mata, dahi, pipi, atau bahkan area alat kelamin. Jenis ini tidak hanya bisa dialami oleh bayi, tapi juga anak-anak dan orang dewasa.

3. Milia traumatik

Milia traumatik atau milia sekunder biasanya muncul setelah kulit mengalami cedera, misalnya karena luka bakar, ruam, lepuh, atau paparan sinar matahari. Terkadang, kista kecil ini juga bisa terbentuk sebagai reaksi kulit terhadap cream atau salep yang cukup tebal.

Perbedaan milia dengan biang keringat atau jerawat bayi

Meskipun milia dan jerawat bayi tampak mirip, keduanya adalah kondisi yang berbeda ya, Bunda. Milia biasanya muncul sejak lahir sebagai kista kecil dari sel kulit mati di bawah permukaan kulit bayi.

Sementara itu, jerawat bayi muncul beberapa minggu setelah lahir dan ditandai dengan benjolan merah di wajah dan kulit kepala. Biang keringat juga berbeda, biasanya timbul karena pori-pori tersumbat akibat panas atau keringat, dan kerap muncul di lipatan kulit bayi.

Gejala milia pada bayi

Dilansir dari Cleveland Clinic, beberapa gejala milia yang bisa muncul pada bayi antara lain:

1. Benjolan kecil berwarna putih atau kuning

Milia biasanya muncul sebagai benjolan kecil berwarna putih hingga kuning di kulit bayi. Bunda bisa lebih sering melihatnya di wajah bayi, terutama di pipi, hidung, atau dagu, dan jumlahnya cukup banyak meski ukurannya kecil.

2. Tidak menimbulkan rasa sakit

Benjolan milia tidak gatal dan tidak membuat bayi merasa tidak nyaman, Bunda. Meskipun terlihat, Si Kecil tetap bisa bergerak, menyusu, dan tidur dengan tenang tanpa terganggu oleh kondisi ini.

3. Muncul di area yang berbeda

Selain di wajah, milia bisa muncul di kelopak mata, mulut, bagian atas tubuh, anggota tubuh, atau bahkan alat kelamin bayi. Beberapa milia yang muncul di mulut dikenal sebagai mutiara Epstein dan biasanya tidak berbahaya.

4. Bisa muncul tunggal atau bersamaan

Selanjutnya, milia bisa muncul satu per satu atau beberapa benjolan muncul bersamaan di satu area kulit. Kumpulan benjolan ini dapat membentuk bercak datar dan menonjol atau biasa disebut dengan milia en plaque.

5. Ukuran sangat kecil

Setiap benjolan milia biasanya hanya berukuran 1-2 milimeter. Karena ukurannya sangat kecil, Bunda perlu memperhatikan dengan teliti untuk melihat benjolan ini di kulit bayi.

Penyebab milia pada bayi

Kulit bayi punya cara alami untuk memperbarui diri dengan mengganti sel-sel lama dengan yang baru. Sel kulit mati biasanya terlepas sendiri, tapi jika tersangkut di pori-pori, nantinya bisa terbentuk kista kecil.

Mengutip dari American Academy of Ophthalmology, bayi sering mengalami milia karena kulit mereka masih belajar mengelupas dengan sempurna. Biasanya, kondisi ini akan membaik dan hilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu.

Berkaitan dengan ini, ada beberapa penyebab milia pada bayi. Berikut selengkapnya:

1. Kerusakan kulit

Milia bisa muncul setelah kulit bayi mengalami kerusakan akibat cedera ringan atau paparan sinar matahari. Bunda bisa melihat benjolan kecil muncul di area yang sebelumnya terkena iritasi atau lecet.

2. Penggunaan krim atau salep steroid

Penggunaan krim atau salep steroid dalam jangka panjang juga bisa memicu milia pada kulit yang dioleskan, lho. Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan produk perawatan bayi yang mengandung steroid.

3. Faktor genetik

Beberapa bayi bisa mengalami milia karena kondisi genetik tertentu. Faktor ini membuat kulit mereka lebih mudah membentuk kista kecil meski tidak ada cedera atau iritasi.

4. Respons autoimun

Pada beberapa kasus, milia dapat muncul sebagai respons autoimun, Bunda. Sistem kekebalan tubuh bayi bereaksi sehingga sel kulit mati terperangkap di bawah permukaan kulit.

5. Penumpukan keratin

Dilansir dari Little Things, milia bisa terjadi karena keratin, yakni protein utama di lapisan luar kulit yang terperangkap di bawah kulit. Penumpukan ini membentuk kista kecil yang biasanya muncul di wajah bayi.

Hingga kini, dokter belum sepenuhnya yakin apa penyebab utama munculnya milia pada bayi. Namun, beberapa ahli mengatakan bahwa milia bisa terkait dengan hormon Bunda selama kehamilan.

Selain itu, ada juga yang menduga hal ini terjadi karena kelenjar kulit bayi belum berkembang dengan sempurna.

5 cara menghilangkan milia pada bayi

Milia pada bayi biasanya akan memudar dengan sendirinya dalam waktu dua sampai empat minggu tanpa perlu pengobatan khusus. Bunda tidak perlu khawatir karena milia jarang menimbulkan masalah atau rasa sakit pada bayi.

Meski begitu, ada beberapa perawatan yang bisa Bunda lakukan untuk membantu meredakannya. Simak selengkapnya:

1. Membersihkan wajah bayi

Bunda bisa mulai dengan membersihkan wajah bayi setiap harinya menggunakan air hangat dan sabun atau pembersih bayi yang lembut. Setelah itu, tepuk-tepuk kulit Si Kecil hingga kering dengan handuk lembut.

2. Kompres dengan kain hangat

Selanjutnya, Bunda bisa celupkan kain lembut ke air hangat, peras sampai tidak terlalu basah, lalu pastikan suhunya aman sebelum ditempelkan ke kulit bayi.

3. Jangan dicubit atau digosok

Hindari mencubit, menggosok, atau memecahkan milia sendiri, ya Bunda. Hal ini karena bisa menimbulkan iritasi atau infeksi. Bersabarlah dan fokus menjaga kulit Si Kecil tetap bersih seperti langkah sebelumnya.

4. Hindari penggunaan minyak atau lotion

Jangan langsung mengikuti saran orang lain yang menyebut minyak atau lotion bisa menghilangkan milia. Sebaiknya, Bunda konsultasikan kepada dokter sebelum menggunakan produk apapun di kulit bayi.

5. Menggunakan lulur alami

Bunda bisa membuat lulur alami lalu usapkan perlahan di area milia dan perhatikan perubahan secara bertahap. Tapi, konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum mencobanya, ya.

Kapan bintik putih di wajah bayi hilang?

Pada bayi, bintik putih akibat milia biasanya akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu setelah lahir. Kondisi ini normal dan jarang menimbulkan masalah bagi Si Kecil.

Sedangkan pada orang dewasa, milia bisa bertahan lebih lama, mulai dari beberapa minggu hingga beberapa bulan sebelum hilang sendiri. Jika Bunda ingin mempercepat prosesnya, sebaiknya diskusikan dengan dokter spesialis kulit.

Apakah ASI menyebabkan milia?

Melansir dari National Health Service (NHS), milia tidak ada hubungannya dengan tetesan ASI seperti anggapan yang banyak beredar ya, Bunda. Kondisi ini cukup umum terjadi, yakni sekitar 50 persen bayi baru lahir mengalaminya, dan biasanya akan hilang dengan sendirinya.

Apakah milia bayi menular?

Perlu diketahui bahwa milia pada bayi tidak menular dan biasanya tidak menimbulkan ketidaknyamanan. Bayi tetap nyaman meski bintik putih ini muncul di wajahnya.

Namun, jika milia mulai menyebar atau kulit bayi tampak merah, nyeri, atau meradang, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Kondisi ini perlu diperiksa untuk memastikan tidak ada infeksi atau masalah lain.

"Jika Anda khawatir milia yang tidak kunjung hilang setelah tiga bulan, maka Anda bisa membawanya ke dokter untuk mendapat pemeriksaan atau perawatan lainnya," ujar Dokter Spesialis Anestesiologi dan Perawatan Intensif asal Belarusia, Anna Klepchukova, MD, dikutip dari Flo Health.

Itulah ulasan lengkap mengenai masalah milia pada bayi, seperti penyebab dan cara menghilangkannya. Semoga informasi ini membantu Bunda, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Dian Sastro hingga Anji, 5 Artis Indonesia dengan Anak Penyandang Autisme

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Potret Dinda Hauw Pulang ke Kampung Halaman Rey Mbayang, Jalani Hidup Sederhana di Rumah Kebun

Mom's Life Nadhifa Fitrina

4 Ciri Kepribadian Orang yang Lahir di Bulan April, Suka Ketenangan tapi Penuh Ide

Mom's Life Amira Salsabila

Selebgram Meyden Gelar Gender Reveal Kehamilan Pertama yang Sederhana, Bakal Dikaruniai Anak Perempuan

Kehamilan Annisa Karnesyia

9 Kebiasaan Orang yang Memiliki Sifat Pemarah Menurut Studi Psikologi

Mom's Life Natasha Ardiah

Enam Minggu Sebelum Harry Lahir, Putri Diana Sebut Ini Masa Paling Dekat dengan Raja Charles

Kehamilan Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

20 Contoh Teks Laporan Hasil Observasi Lengkap dengan Strukturnya

4 Ciri Kepribadian Orang yang Lahir di Bulan April, Suka Ketenangan tapi Penuh Ide

Selebgram Meyden Gelar Gender Reveal Kehamilan Pertama yang Sederhana, Bakal Dikaruniai Anak Perempuan

11 Ciri-ciri Merkurius, Planet Terkecil di Tata Surya Terdekat dengan Matahari untuk Diajarkan ke Anak

Potret Dinda Hauw Pulang ke Kampung Halaman Rey Mbayang, Jalani Hidup Sederhana di Rumah Kebun

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK