HaiBunda

PARENTING

Viral Banner Promo Film Picu Kontroversial, IDAI Jelaskan Dampak Negatif untuk Anak & Remaja

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Selasa, 07 Apr 2026 13:20 WIB
Viral Banner Promo Film Picu Kontroversial, IDAI Jelaskan Dampak Negatif untuk Anak & Remaja/Foto: Getty Images/iStockphoto/Userba011d64_201
Jakarta -

Media sosial kembali diramaikan dengan sebuah banner promo film berjudul Aku Harus Mati yang terpajang di sejumlah ruang publik. Banner tersebut memicu perdebatan luas di tengah masyarakat, Bunda.

Banyak yang menilai tampilannya terlalu sensitif, apalagi kini bisa dilihat oleh berbagai kalangan usia, termasuk anak-anak dan remaja. Alih-alih dianggap sebagai promosi yang kreatif, iklan film ini justru menuai kekhawatiran.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) baru-baru ini turut menyampaikan keprihatinannya terkait pemasangan banner tersebut.


Mereka menilai visual dan narasi yang ditampilkan bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Apalagi bagi mereka yang sedang mengalami tekanan mental, Bunda.

"Kami menilai bahwa ruang publik merupakan area yang diakses oleh berbagai kelompok usia dan latar belakang, termasuk anak-anak, remaja, serta individu yang sedang mengalami tekanan mental," tulis dalam keterangan, dikutip dari akun Instagram @pdskji_indonesia dan IDAI.

Dampak banner promo fim bernuansa sensitif terhadap anak dan remaja

Banner promo film yang dipasang di jalan memang mudah terlihat oleh banyak orang, termasuk anak-anak. Karena itu, pesan yang ditampilkan bisa langsung terbaca tanpa adanya batasan usia.

Tanpa disertai dengan penjelasan yang tepat, pesan tersebut bisa menimbulkan rasa cemas atau tidak nyaman bagi anak atau remaja.

"Paparan berulang terhadap pesan yang mengandung nuansa kematian, keputusasaan, atau penderitaan emosional tanpa konteks edukatif yang memadai dapat berkontribusi pada meningkatnya distress, kecemasan, bahkan berpotensi menjadi trigger bagi individu dengan riwayat depresi," ungkap dalam keterangan.

Dalam hal ini, PDSKJI menegaskan bahwa mereka tidak melarang kebebasan dalam berekspresi. Namun, tetap ada tanggung jawab yang perlu diperhatikan saat menyampaikan pesan ke publik.

"PDSKJI tidak membatasi kebebasan berekspresi dalam karya seni. Namun, penyampaian pesan di ruang publik perlu disertai tanggung jawab sosial. Tema sensitif seperti kematian perlu disampaikan dengan kehati-hatian dan mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat," ujarnya.

Imbauan terkait banner film di ruang publik

Melihat kondisi tersebut, PDSKJI menyampaikan beberapa imbauan penting, Bunda. Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan bersama. Berikut penjelasan selengkapnya:

1. Perhatikan kembali materi promosi

PDSKJI mengimbau kepada pihak yang terkait untuk lebih bijak dalam memilih materi visual dan narasi. Terutama untuk konten yang ditampilkan di ruang publik supaya tidak memicu tekanan psikologis bagi yang melihat.

2. Sertakan konteks yang jelas

Penggunaan peringatan atau penjelasan tambahan dianggap penting, terutama jika konten menyangkut isu yang sensitif. Dengan begitu, pesan yang disampaikan tidak menimbulkan salah paham atau rasa tidak nyaman bagi banyak orang.

3. Libatkan ahli kesehatan mental

Selanjutnya, PDSKJI juga menekankan pentingnya bekerja sama dengan profesional kesehatan mental. Hal ini agar setiap pesan yang disampaikan tidak menimbulkan dampak negatif.

4. Utamakan perlindungan kelompok yang rentan

Perhatian khusus perlu diberikan pada kelompok yang lebih rentan, seperti anak atau remaja dengan gangguan mental, Bunda. Mereka lebih mudah terpengaruh oleh pesan yang bersifat sensitif.

5. Ciptakan lingkungan yang lebih aman bersama

PDSKJI mengajak semua pihak, mulai dari industri kreatif hingga masyarakat, untuk berperan aktif. Tujuannya agar ruang publik bisa menjadi tempat yang lebih aman secara psikologis.

Lebih lanjut, PDSKJI menyampaikan bahwa kesehatan mental merupakan tanggung jawab bersama. Mereka juga mengingatkan bahwa setiap pesan yang ditampilkan dapat berpengaruh pada kondisi emosional masyarakat.

"Kesehatan mental adalah tanggung jawab bersama, dan setiap pesan yang ditampilkan dapat memengaruhi kondisi emosional masyarakat. Ekspresi seni tetap penting, namun perlu berjalan seiring dengan empati dan kesadaran akan dampaknya," jelasnya dalam keterangan.

Itulah informasi terkait viralnya banner promo film yang menuai kontroversi, serta penjelasan mengenai dampaknya bagi anak dan remaja.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

Anak Merasa YouTube Sebagai Teman Dekatnya? Ini Penjelasan Psikolog

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Bikin Haru, 5 Potret Arka Anak Tantri 'Kotak' Ikut Nyanyi di Single Terbaru Sang Bunda

Parenting Nadhifa Fitrina

Pakar Ungkap Alasan Banyak Wanita Sering Lupa Rasa Sakit saat Melahirkan

Kehamilan Annisa Karnesyia

3 Keterikatan Emosional Anak yang Bisa Diam-Diam Merusak Hidup Saat Dewasa

Parenting Nadhifa Fitrina

Ciri Perempuan dengan Aura Positif, Bukan Sekadar Murah Senyum

Mom's Life Nadhifa Fitrina

Cara Membuat Sate Kambing yang Empuk, Tidak Bau, dan Anti Alot

Mom's Life Natasha Ardiah

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Bikin Haru, 5 Potret Arka Anak Tantri 'Kotak' Ikut Nyanyi di Single Terbaru Sang Bunda

Pakar Ungkap Alasan Banyak Wanita Sering Lupa Rasa Sakit saat Melahirkan

3 Keterikatan Emosional Anak yang Bisa Diam-Diam Merusak Hidup Saat Dewasa

Ciri Perempuan dengan Aura Positif, Bukan Sekadar Murah Senyum

Awas Si Kecil Kecanduan Scroll Sosial Media, Ini Dampaknya

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK