HaiBunda

PARENTING

Psikolog Harvard Ungkap Penyebab Banyak Anak Sekarang Mudah Cemas dan Tertekan

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Rabu, 22 Apr 2026 09:30 WIB
Ilustrasi Psikolog Harvard Ungkap Penyebab Banyak Anak Sekarang Mudah Cemas dan Tertekan/Foto: Getty Images/iStockphoto/twinsterphoto
Jakarta -

Belakangan ini, banyak orang tua mulai menyadari adanya perubahan pada anak-anak. Mereka terlihat lebih mudah cemas, sensitif, bahkan cepat merasa tertekan dalam kesehariannya.

Situasi ini membuat sebagian orang tua ingin tahu, apakah kehidupan anak zaman sekarang memang terasa lebih berat? Tidak sedikit pula yang merasa bahwa tantangan yang dihadapi anak saat ini berbeda dari sebelumnya.

Seorang psikolog anak yang pernah mengajar di Harvard Medical School, Ross W. Greene, PhD, mengungkapkan pandangannya terkait hal ini. Berdasarkan pengalamannya menangani lebih dari 1.000 anak, Ross melihat bahwa perilaku anak sebenarnya merupakan bentuk komunikasi.


Menurutnya, anak-anak menunjukkan apa yang mereka rasakan lewat sikap dan tindakan dalam keseharian. Hal ini mirip seperti bayi yang menangis saat lapar, lelah, atau merasa tidak nyaman.

Dengan kata lain, apa yang terlihat sebagai masalah perilaku bisa menjadi tanda bahwa anak sedang mengalami kesulitan, Bunda. Bicara soal ini, Ross mengungkapkan alasan anak kini lebih mudah merasa cemas dan tertekan.

Psikolog Harvard ungkap penyebab anak mudah cemas dan tertekan

Menilik dari laman CNBC Make It, seperti yang dituliskan dalam buku terbarunya The Kids Who Aren't Okay, berbagai perubahan sosial kini membuat masa kanak-kanak terasa jauh lebih menantang, Bunda.

Meski tidak semuanya disebutkan, ada beberapa penyebab yang cukup menonjol untuk diperhatikan:

1. Kekhawatiran soal keamanan di sekolah

Menurut psikolog Ross, banyak kejadian kekerasan di lingkungan sekolah yang membuat rasa aman anak menjadi terganggu dalam beberapa waktu terakhir. Situasi ini juga turut menimbulkan rasa cemas yang terus terasa bagi siswa, guru, dan orang tua.

2. Tekanan akademik yang tinggi

Anak-anak sering dihadapkan pada tuntutan belajar dengan standar yang sama, tanpa mempertimbangkan kemampuan masing-masing, Bunda. Hal ini bisa membuat sebagian anak merasa terbebani, karena tidak semua berkembang dengan cara yang sama.

3. Penggunaan gadget dan media sosial

Seperti kita ketahui, penggunaan gadget dan media sosial yang semakin luas membuat anak lebih cepat terpapar berbagai informasi. Jika tidak dibatasi, hal ini bisa mengganggu fokus belajar dan berdampak pada kondisi emosional mereka.

4. Terbatasnya layanan kesehatan mental

Di beberapa wilayah, akses untuk mendapat layanan kesehatan mental masih sangat terbatas. Ross menyampaikan bahwa hal ini membuat anak yang membutuhkan bantuan harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan penanganan.

"Di banyak wilayah di Amerika Serikat, anak-anak tidak dapat mengakses layanan tersebut. Daftar tunggu yang panjang adalah hal biasa, dan anak-anak yang mengalami krisis mungkin tetap terjebak di ruang gawat darurat selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan," ungkapnya.

5. Pengaruh suasana sosial dan politik

Berikutnya, situasi sosial dan politik yang belakangan ini sedang memanas juga bisa ikut dirasakan oleh anak-anak. Tanpa kita ketahui, hal ini bisa menambah rasa cemas dan ketidaknyamanan dalam keseharian mereka, Bunda.

Orang tua harus memikirkan kembali kesehatan mental anak

Seorang psikiater asal Amerika Serikat, Thomas Szasz, pernah menyampaikan pandangannya bahwa masalah mental lebih tepat dipahami sebagai kesulitan dalam menjalani hidup.

Ia juga menyampaikan bahwa penilaian kondisi anak memang bisa menggambarkan kesulitan yang dialami, tetapi sering kali tidak menjelaskan penyebabnya, Bunda.

Dalam hal ini, ada berbagai faktor yang memengaruhi kondisi anak saat ini, yang sering kali berada di luar kendali langsung dari orang tua maupun guru, seperti:

  • Konflik dengan teman sebaya, perundungan, atau rasa terasing dari lingkungan sosial.
  • Kesulitan belajar atau masalah akademis yang belum terselesaikan.
  • Perbedaan pendapat dalam keluarga terkait penggunaan gadget, waktu tidur, kebersihan, pola makan, atau hal lain dalam kebiasaan sehari-hari.

Lantas, seperti apakah cara pemecahan masalah yang bisa dilakukan oleh orang tua?

Cara efektif membantu anak menghadapi masalah dalam keseharian

Menghadapi anak-anak zaman sekarang membutuhkan cara yang berbeda dari yang biasa diterapkan oleh banyak orang tua dahulu. Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:

1. Libatkan anak dalam mencari solusi

Memberikan solusi tanpa melibatkan anak memang terlihat lebih cepat, Bunda. Namun, cara ini biasanya kurang efektif karena anak merasa tidak dilibatkan dalam prosesnya.

Menurut Ross, anak-anak sering merasa orang tua tidak ingin mendengarkan mereka. Ia juga menilai bahwa solusi yang 'sepihak' seperti ini bisa berdampak buruk.

"Yang perlu diperhatikan, anak-anak sering mengatakan bahwa orang dewasa tidak mendengarkan mereka, sementara orang dewasa mengatakan bahwa anak-anak tidak mau berbicara dengan mereka. Semua solusi sepihak itu berdampak buruk," kata Ross.

2. Lebih siap sebelum masalah terjadi

Masalah pada anak sebenarnya sering bisa diprediksi sejak awal, Bunda. Karena itu, akan lebih baik jika orang tua bersikap lebih siap sebelum masalah terjadi kembali.

3. Fokus pada akar masalah

Daripada hanya melihat perilaku anak saja, akan lebih baik jika Bunda fokus pada penyebab di baliknya. Karena biasanya, ada alasan tertentu yang membuat anak bersikap seperti itu.

Anak biasanya akan lebih mudah terbuka saat diajak membicarakan masalah yang mereka rasakan. Dibandingkan hanya membahas perilakunya saja.

4. Tidak hanya mengandalkan hukuman atau hadiah

Memberi hukuman atau hadiah memang sering dilakukan oleh banyak orang tua. Namun, cara ini bukanlah solusi jangka panjang. Pendekatan ini lebih ke arah motivasi sesaat, bukan penyelesaian masalah.

Nah, yang dibutuhkan anak sebenarnya adalah didengarkan, bukan hanya diberi aturan atau konsekuensi. Dengan begitu, mereka pun akan lebih merasa terbantu dalam menghadapi masalahnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

Siswa Termuda di Kelas Lebih Rentan ADHD? Ini Kata Peneliti

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Anne Hathaway Bagikan Cerita Langka tentang Suaminya, Ternyata...

Mom's Life Natasha Ardiah

Bingung Pilih Metode ILA atau Epidural? Simak Perbedaan dan Keunggulannya Bun

Kehamilan Amrikh Palupi

Viral Rincian Biaya TK Rp43 Juta, Orang Tua Bandingkan dengan Kuliah S2

Parenting Nadhifa Fitrina

PK Yudha Arfandi atas Kasus Meninggalnya Dante Ditolak, Tamara Tyasmara Bersyukur

Mom's Life Nadhifa Fitrina

7 Nama Bayi Cerdas ala Kartini

Nama Bayi Angella Delvie & Muhammad Prima Fadhillah

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

40 Contoh Kalimat Sapaan dalam Kehidupan Sehari-hari Beserta Pengertian dan Jenisnya

Bingung Pilih Metode ILA atau Epidural? Simak Perbedaan dan Keunggulannya Bun

Anne Hathaway Bagikan Cerita Langka tentang Suaminya, Ternyata...

Viral Rincian Biaya TK Rp43 Juta, Orang Tua Bandingkan dengan Kuliah S2

PK Yudha Arfandi atas Kasus Meninggalnya Dante Ditolak, Tamara Tyasmara Bersyukur

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK