PARENTING
Kasus Virus Parainfluenza Naik di China, Ini Gejala yang Banyak Dialami Anak
Natasha Ardiah | HaiBunda
Rabu, 22 Apr 2026 22:00 WIBKenaikan virus parainfluenza di China belakangan ini mulai menarik perhatian banyak orang. Kondisi ini membuat Bunda untuk perlu lebih waspada terhadap gejala yang sering muncul pada Si Kecil.
Meskipun terdengar mirip seperti flu biasa, virus parainfluenza bisa menimbulkan gangguan pernapasan yang tidak bisa dianggap sepele. Apalagi, anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami dampaknya.
Sebenarnya, apa virus parainfluenza itu? Dan seperti apa tanda-tanda yang sering dialami Si Kecil saat terpapar virus parainfluenza ini? Mari simak penjelasan lengkapnya di sini agar Bunda bisa mengenali gejalanya sejak dini.
Lonjakan kasus virus parainfluenza di China
Kasus virus Parainfluenza dilaporkan meningkat di China dalam beberapa pekan terakhir. Data ini dikutip dari laman The Straits Times. Peningkatan ini terlihat dari angka positivity rate yang terus naik. Pada awal April, angkanya mencapai 6,9 persen dari kasus yang mirip flu influenza.
Sebelumnya, angka tersebut masih berada di sekitar 4,7 persen pada pertengahan Maret. Hal ini menunjukkan kenaikan virus parainfluenza yang cukup signifikan.
Menariknya, peningkatan ini terjadi saat kasus influenza justru mulai menurun. Namun, virus lain seperti rhinovirus dan RSV masih tetap beredar.
Anak usia di bawah lima tahun disebut sebagai kelompok yang paling terdampak. Mereka memiliki tingkat infeksi virus parainfluenza yang lebih tinggi dibanding kelompok usia lainnya.
Apa itu virus parainfluenza dan bagaimana cara penularannya?
Melansir dari laman CDC, virus parainfluenza adalah sekelompok virus yang menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan. Virus ini dapat menyerang siapa saja, tetapi lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil.
Selain itu, virus parainfluenza juga lebih mudah menyerang manusia dengan sistem imun yang lemah. Kondisi ini membuat tubuh lebih sulit melawan infeksi yang masuk.
Menurut situs Nationwide Children's, penularan virus parainfluenza terjadi melalui droplet dari hidung atau mulut orang yang terinfeksi. Anak bisa tertular saat menghirup percikan tersebut atau menyentuh wajah dengan tangan yang terkontaminasi.
Sebagian besar infeksi virus parainfluenza menyerang saluran napas bagian atas, seperti hidung dan tenggorokan. Akibatnya, anak bisa mengalami hidung tersumbat, sakit tenggorokan, atau infeksi telinga.
Namun, beberapa jenis virus parainfluenza juga dapat menyerang saluran napas bawah. Kondisi ini dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius seperti pneumonia, bronkiolitis, dan sebagainya.
Penyebaran virus parainfluenza cenderung cepat di lingkungan yang ramai atau padat. Contohnya di rumah, sekolah, atau tempat bermain anak.
Mengapa virus parainfluenza lebih rentan menyerang anak-anak?
Anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang sempurna. Hal ini membuat mereka lebih mudah terinfeksi virus parainfluenza dibanding orang dewasa.
Selain itu, anak sering berinteraksi dekat dengan lingkungan sekitarnya. Kondisi ini membuat penularan virus parainfluenza menjadi lebih cepat terjadi.
Anak usia antara 3 bulan hingga 5 tahun diketahui paling rentan mengalami croup. Kondisi ini menjadi salah satu dampak khas dari infeksi virus parainfluenza pada saluran pernapasan atas.
Sementara itu, anak di bawah usia 2 tahun lebih berisiko mengalami infeksi saluran pernapasan bawah. Misalnya seperti pneumonia atau bronkiolitis akibat virus parainfluenza.
Meski begitu, infeksi ulang tetap bisa terjadi pada anak. Namun, paparan berikutnya terhadap virus parainfluenza biasanya menimbulkan gejala yang lebih ringan dibanding infeksi pertama.
Gejala umum virus parainfluenza pada anak yang perlu diwaspadai
Gejala virus parainfluenza pada anak bisa berbeda-beda, tergantung kondisi tubuh dan tingkat keparahan infeksinya. Karena itu, Bunda perlu mengenali berbagai tanda yang mungkin muncul sejak awal.
Secara umum, virus parainfluenza menyerang saluran pernapasan dan menimbulkan gejala yang mirip dengan flu hingga gangguan napas. Berikut beberapa gejala yang sering dialami anak:
- Pilek
- Mata merah atau bengkak
- Batuk
- Napas terdengar berisik dan kasar
- Suara serak saat berbicara atau menangis
- Terdengar bunyi berderak di dada atau punggung saat bernapas
- Napas terasa sesak, terutama pada anak dengan asma
- Pernapasan berisik (stridor), sering terjadi pada bronkiolitis
- Demam
- Anak menjadi lebih mudah rewel atau lekas marah
- Nafsu makan menurun
- Muntah
- Diare
Perlu diingat, gejala virus parainfluenza ini bisa menyerupai penyakit lain yang mirip. Oleh karena itu, pemeriksaan dokter sangat penting untuk memastikan diagnosis yang tepat bagi Si Kecil.
Bagaimana cara mengobati virus parainfluenza pada anak?
Pengobatan virus parainfluenza pada anak akan disesuaikan dengan gejala, usia, serta kondisi kesehatannya secara keseluruhan. Tingkat keparahan infeksi juga menjadi pertimbangan penting dalam menentukan penanganan yang tepat.
Perlu diketahui, virus parainfluenza tidak dapat diobati dengan antibiotik karena bukan disebabkan oleh bakteri. Tujuan utama perawatan adalah membantu meredakan gejala hingga infeksi mereda dengan sendirinya.
Pada kasus seperti croup, gejalanya bisa terlihat cukup mengkhawatirkan bagi orang tua. Namun, perawatan suportif di rumah dapat membantu anak bernapas lebih nyaman.
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu mengatasi gejala virus parainfluenza pada anak:
- Membawa anak ke udara malam yang sejuk untuk membantu meredakan napas
- Mengajak anak menghirup uap dari air hangat agar pernapasan lebih lega
- Memastikan anak minum banyak cairan agar tubuh tetap terhidrasi
- Memberikan obat penurun demam seperti asetaminofen atau ibuprofen sesuai anjuran dokter
- Menjaga anak tetap tenang agar usaha bernapas tidak semakin berat
- Berkonsultasi dengan dokter terkait penggunaan obat, termasuk risiko dan efek sampingnya
Bunda juga perlu berhati-hati dalam pemberian obat. Jangan memberikan ibuprofen pada bayi di bawah 6 bulan tanpa anjuran dokter, serta hindari penggunaan aspirin pada anak karena berisiko menyebabkan sindrom Reye yang serius.
Cara mencegah penularan virus parainfluenza di lingkungan keluarga
Pencegahan virus parainfluenza bisa dimulai dari kebiasaan sederhana. Salah satunya rutin mencuci tangan dengan sabun.
Selain itu, penggunaan masker juga dianjurkan saat sakit. Hal ini membantu mengurangi penyebaran virus.
Menjaga kebersihan lingkungan rumah juga penting. Permukaan yang sering disentuh pun perlu rutin dibersihkan agar menghindari tumbuhnya virus.
Hindari kontak secara dekat dengan orang yang sedang sakit. Terutama jika anak masih kecil dan rentan.
Langkah sederhana ini efektif menekan penyebaran virus parainfluenza. Dengan begitu, risiko penularan dalam lingkungan keluarga bisa diminimalkan.
Bunda, itulah penjelasan tentang meningkatnya kasus virus parainfluenza yang kini banyak menyerang anak dengan gejala yang perlu diwaspadai sejak awal. Semoga dengan informasi ini, Bunda bisa lebih sigap melindungi Si Kecil dari risiko virus parainfluenza dan menjaga kesehatannya tetap optimal.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
White Noise Aman untuk Bayi?
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Jangan Anggap Sepele! Ini 6 Tanda Bahaya ISPA pada Anak Menurut Dokter
Waspada Flu Tomat pada Anak Merebak: Pengertian, Penyebab, dan Gejala
Tak Usah Bingung Bunda, Ini Bedanya Gejala COVID-19, Flu, dan DBD pada Anak
Penyebab dan Dampak Stunting pada Anak, Bunda Perlu Tahu
TERPOPULER
Kasus Virus Parainfluenza Naik di China, Ini Gejala yang Banyak Dialami Anak
5 Gaya OOTD Alea Anak Anissa Aziza & Raditya Dika, Outfitnya Selalu Kece
Kisah Bunda Terkena Kanker Usus Besar Stadium 4, Gejala Muncul saat Hamil 8 Bulan
Career Lily Pad, Tren Berpindah Tempat Kerja yang Populer di Kalangan Gen Z
Intip Potret Tebaru Acha Septriasa yang Jalani Hidup Sehat di Australia
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Sunscreen untuk Kulit Kering, Bantu Melembapkan Sepanjang Hari
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
11 Rekomendasi Pompa ASI Handsfree Bagus, Berkualitas, & Anti Ribet Beserta Harganya
Dwi Indah NurcahyaniREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Lanyard ID Card Brand Lokal yang Bagus & Awet, Pilih yang Terbaik!
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Pengharum Ruangan Tahan Lama, Usir Bau Tak Sedap di Rumah
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Baju Daerah & Kebaya Anak untuk Perayaan Pawai Hari Kartini
Nadhifa FitrinaTERBARU DARI HAIBUNDA
Kasus Virus Parainfluenza Naik di China, Ini Gejala yang Banyak Dialami Anak
5 Gaya OOTD Alea Anak Anissa Aziza & Raditya Dika, Outfitnya Selalu Kece
Career Lily Pad, Tren Berpindah Tempat Kerja yang Populer di Kalangan Gen Z
Alergi pada Anak yang Tidak Tertangani Bisa Menyebabkan Masalah Gigi
Kisah Bunda Terkena Kanker Usus Besar Stadium 4, Gejala Muncul saat Hamil 8 Bulan
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Somasi ke Akun Hoaks Jadi Alarm Keras, Rossa: Artis Bukan Barang!
-
Beautynesia
6 Manfaat Rutin Jalan Kaki Jam 6 Pagi Setiap Hari
-
Female Daily
2 Treatment Ini Bisa Gantiin Gym dan Bikin Tidurmu Lebih Nyenyak?
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Transformasi Gaya Anne Hathaway, dari 'Putri Culun' Kini Wanita Tercantik Dunia
-
Mommies Daily
8 Film Motherhood tentang Perjuangan Ibu Baru yang Bikin Kita Merasa “Nggak Sendirian”