PARENTING
Kesehatan Mental Perlu Dijaga Sejak Bayi, Ini Sorotan Baru Dokter Anak
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Rabu, 29 Apr 2026 15:20 WIBMendampingi tumbuh kembang Si Kecil memang bukan cuma soal fisik saja, tapi juga menyangkut sisi mental dan emosional mereka. Hal ini pun kini semakin jadi perhatian para ahli, Bunda.
Belakangan ini, asosiasi profesional pediatris ternama seperti American Academy of Pediatrics (AAP) mengulas kembali tentang pentingnya dukungan untuk anak. Mereka melihat ada tantangan baru dalam perkembangan mental dan emosional pada anak.
Salah satu penulis laporan, Evelyn Berger-Jenkins, mengatakan bahwa perkembangan mental dan emosional tidak seharusnya hanya jadi perhatian saat muncul masalah saja. Menurutnya, hal ini penting untuk perawatan anak sejak usia bayi hingga remaja.
"Perkembangan mental dan emosional bukanlah sesuatu yang hanya perlu ditangani ketika muncul kekhawatiran atau ketika terjadi krisis," kata Evelyn, dikutip dari Parents.
"Ini adalah bagian inti dari perawatan anak-anak sejak bayi hingga remaja," lanjutnya.
Dari sini, Bunda pun bisa melihat bahwa kesehatan mental memang perlu dijaga sejak bayi. Berkaitan dengan ini, dokter dan terapis anak turut membahas terkait hal ini bagi orang tua.
Sorotan baru dokter anak dalam menjaga kesehatan mental Si Kecil
Dikutip dari laman Parents, laporan terbaru ini menyoroti peran dokter anak yang kini semakin luas dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Di sisi lain, laporan ini juga melihat berbagai tantangan yang dihadapi anak-anak saat ini.
Mulai dari tekanan di lingkungan hingga perubahan yang ikut memengaruhi kondisi emosional mereka. Tak hanya itu saja, dokter anak juga menghadapi beberapa hambatan dalam memberikan dukungan kepada anak.
Karena itu, para dokter kini mulai memprioritaskan kesehatan mental dan emosional anak. Manajer kesehatan perilaku di Rumah Sakit Universitas Staten Island Northwell, Marie E. Briody, menjelaskan bahwa pendekatan ini melihat anak mulai dari kondisi fisik, emosi, hingga lingkungan sosialnya.
"Laporan ini mengusulkan model perawatan biopsikososial dengan mengintegrasikan komponen fisik, emosional, dan sosial dari fungsi seorang anak," kata Briody.
"Model ini, sebagaimana akan digunakan di praktik dokter anak, juga dapat mengatasi beberapa masalah akses, serta hambatan sosial, budaya, dan stigma yang telah dicatat," lanjutnya.
Anak-anak kini menghadapi tantangan mental yang semakin besar
Laporan terbaru dari AAP mengamati kondisi yang sedang banyak dialami anak-anak saat ini. Banyak orang tua mulai merasakan adanya peningkatan tantangan pada sisi mental dan emosional, terutama sejak masa pandemi.
Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa kondisi ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Namun, situasinya menjadi semakin serius dalam beberapa tahun terakhir.
Seorang dokter anak dari Tufts Medical Center, Sahar Rahim, juga melihat adanya peningkatan yang signifikan. Ia menyebut kondisi ini sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Terjadi peningkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada jumlah anak yang mengalami masalah kesehatan mental dan emosional selama beberapa tahun terakhir," ujar dr. Rahim.
"Pandemi telah berakhir, tetapi krisis kesehatan mental belum," sambungnya.
Lebih lanjut, Marie E. Briody turut memberikan pandangannya terkait hal ini. Menurutnya, ada banyak faktor yang saling berkaitan di balik kondisi ini. Mulai dari pengaruh media sosial hingga tekanan dalam keseharian.
"Ada banyak alasan untuk krisis ini, dan itu disebabkan oleh beberapa faktor sekaligus. Beberapa faktor tersebut meliputi, media sosial, tekanan sosial dan akademis, gaya hidup yang sangat sibuk, dan trauma atau kesulitan terkait pasca COVID," katanya.
"Dengan akses informasi di mana-mana, anak-anak semakin terpapar pada sejumlah besar informasi, beberapa di antaranya sangat menyedihkan dan juga tidak sesuai dengan perkembangan mereka," sambungnya.
Akses layanan kesehatan kini jadi tantangan bagi banyak keluarga
Kondisi ini ternyata tidak hanya dialami oleh anak-anak saja. Banyak keluarga juga ikut merasakan dampaknya, apalagi saat mencoba mendapatkan layanan kesehatan.
Salah satu penyebabnya adalah akses yang masih sulit bagi sebagian orang. Tidak semua keluarga bisa dengan mudah mendapatkan dukungan kesehatan mental yang sesuai untuk anak mereka.
Kalau melihat dari laporan tersebut, ada beberapa hambatan yang cukup sering terjadi. Mulai dari pelatihan tenaga medis yang belum merata hingga waktu konsultasi yang terbatas saat bertemu dokter anak.
Psikiater anak dan remaja dari Stony Brook Medicine, Gabrielle Carlson, menjelaskan bahwa ada faktor lain yang turut memengaruhi. Salah satunya adalah sistem layanan kesehatan seperti asuransi yang membuat akses perawatan jadi lebih sulit dijangkau.
"Pertama, tidak semua asuransi menanggung kesehatan mental," kata Carlson.
"Biasanya, mereka memberikan pembayaran yang sangat rendah atau memiliki banyak aturan, sehingga sering kali tidak menguntungkan bagi penyedia layanan untuk menerima asuransi tertentu," jelasnya.
Di sisi lain, keterbatasan tenaga profesional juga masih menjadi tantangan, Bunda. Tidak semua tenaga ahli punya keahlian khusus untuk menangani anak. Hal ini diungkapkan langsung oleh psikolog di Pediatrix Medical Group, Kiersten Sippio, PsyD.
"Salah satu tantangan terbesar adalah kekurangan tenaga profesional yang secara khusus terlatih untuk bekerja dengan anak-anak dan keluarga," kata Sippio.
Akibatnya, banyak keluarga harus menunggu lama untuk mendapatkan layanan yang dibutuhkan. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang baru bisa memulai terapi setelah berbulan-bulan menunggu giliran.
Itulah penjelasan tentang pentingnya menjaga kesehatan mental sejak bayi, berdasarkan sorotan terbaru dari dokter anak.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
Psikolog Sebut 4 Jenis Mainan yang Sebaiknya Tidak Lagi Diberikan pada Anak
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
2 Kebiasaan Ayah yang Bisa Membuat Anak Lebih Jarang Sakit Saat Dewasa Menurut Studi
Pentingnya Mengatasi Inner Child agar Tak Pengaruhi Pola Asuh Bunda pada Si Kecil
13 Cara Memahami Psikologis Anak, Beri Perhatian hingga Berempati
Anak Balita Suka Meniru Perilaku Tokoh Kartun Idolanya, Boleh Asalkan...
TERPOPULER
Chelsea Islan dan Suami Gelar Gender Reveal, Spill Jenis Kelamin Anak Pertama!
Duka KRL Bekasi: 16 Perempuan Berpulang, Puluhan Masih Berjuang
5 Tipe Kepribadian Orang yang Mudah Jatuh Cinta, Benarkah Cepat Move On?
Penganiayaan Anak di Daycare Aceh Terungkap, Satu Pengasuh Sudah Diamankan
Kesehatan Mental Perlu Dijaga Sejak Bayi, Ini Sorotan Baru Dokter Anak
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Toner Pad, Bantu Melembapkan Kulit Wajah
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Laptop Sleeve Tahan Air dan Affordable
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
20 Tas Sekolah Terbaik Lengkap Anak TK, SD, SMP, dan SMA untuk Perempuan & Laki-laki
Natasha ArdiahREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Litter Box Kucing Terbaik Lengkap dari Murah, Tertutup hingga Otomatis
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Wajan Stainless Steel Terbaik Anti Lengket dan Awet
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
5 Resep Pesmol Ikan Nila, Kembung, hingga Tenggiri untuk Menu Makanan Keluarga
MPASI Bayi 6 Bulan: Ketahui Porsi, Jadwal & Menu Makanannya
Chelsea Islan dan Suami Gelar Gender Reveal, Spill Jenis Kelamin Anak Pertama!
Duka KRL Bekasi: 16 Perempuan Berpulang, Puluhan Masih Berjuang
5 Tipe Kepribadian Orang yang Mudah Jatuh Cinta, Benarkah Cepat Move On?
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Na Daehoon Geram Usai Safrie Ramadhan Pacar Jule Jadikan Anak Bahan Lelucon
-
Beautynesia
From This Island Hadirkan Serum Vitamin C dari Kunyit Pulau Jawa
-
Female Daily
Hair Thinning Nggak Harus Panik, Ini Routine yang Bisa Kamu Coba di Rumah!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Inspirasi Kebaya Bridesmaid Dari Pernikahan El-Syifa, Dipakai Mikha Tambayong
-
Mommies Daily
Rumah Ramah Anak: 8 Cara Aman Dukung Eksplorasi & Stimulasi Anak 5 Tahun