parenting
15 Dongeng Romantis Sebelum Tidur yang Mengajarkan Anak Kasih Sayang dan Empati
HaiBunda
Rabu, 17 Jun 2026 19:30 WIB
Daftar Isi
-
15 Dongeng romantis sebelum tidur yang mengajarkan anak tentang kasih sayang dan empati
- 1. Mencari Janggut Harimau
- 2. Burung Hantu Menikahi Permaisuri
- 3. Adik Mendapatkan Hadiah Sangat Banyak
- 4. Singa dan Tikus
- 5. Walet dan Biji Rami
- 6. Siapa yang Akan Pasang Belnya?
- 7. Anak Itik Buruk Rupa
- 8. Kesetiaan Seorang Istri
- 9. Asal Mula Rasi Bintang Eridanus
- 10. Kisah Lima Butir Telur
- 11. Pilli Kus-kus Pemalu
- 12. Ketika Hujan Tercurah Deras
- 13. Ayam dan Ikan Tongkol
- 14. Beruang Kecil Mau Berbagi
- 15. Putri Ular dari Simalungun
Dongeng sebelum tidur telah lama menjadi bagian penting dalam kehidupan anak-anak dan juga berfungsi sebagai sarana untuk membangun imajinasi serta nilai-nilai kehidupan. Dalam suasana malam yang tenang, cerita yang disampaikan dengan lembut mampu menghadirkan rasa aman sekaligus kedekatan emosional antara Si Kecil dan Bunda.
Dari kebiasaan sederhana ini, pemahaman tentang dunia mulai tumbuh secara perlahan. Seiring berjalannya waktu, dongeng tidak hanya berfungsi sebagai pengantar tidur, tetapi juga menjadi jembatan untuk mengenalkan berbagai nilai moral yang penting.
Di dalamnya tersimpan pesan-pesan halus yang membantu anak memahami hubungan antar manusia dengan cara yang lebih hangat dan mudah diterima. Melalui alur cerita yang menyentuh, anak diajak untuk mengenali perasaan diri sendiri sekaligus orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu nilai yang paling sering muncul dalam dongeng adalah kasih sayang, yang menjadi dasar dari banyak hubungan dalam kehidupan. Rasa ini tidak hanya digambarkan sebagai perasaan lembut, tetapi juga sebagai tindakan yang penuh perhatian dan kepedulian.
Ketika anak mulai memahami kasih sayang melalui cerita, mereka perlahan belajar bahwa kebaikan dapat diwujudkan dalam hal-hal sederhana yang bermakna. Selain kasih sayang, empati juga menjadi bagian penting yang secara alami tumbuh melalui dongeng sebelum tidur.
Dalam proses tersebut, anak diajak untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda sehingga mereka mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Saat dibacakan dongeng, Si Kecil juga dapat membentuk kepekaan emosional yang akan berguna dalam interaksi sosial mereka di masa depan, Bunda.
15 Dongeng romantis sebelum tidur yang mengajarkan anak tentang kasih sayang dan empati
Dikutip dari Dongeng Dunia dan Aktivitas Anak Cerdas oleh Tim Sunrise Picture, Bunda dapat membacakan kisah dongeng romantis sebelum tidur untuk mengajarkan Si Kecil tentang kasih sayang dan empati. Simak selengkapnya.
1. Mencari Janggut Harimau
Ada seorang petapa tua bijaksana yang banyak dimintai nasihat. Suatu hari, datang seorang wanita yang ingin mengubah sifat suaminya yang pendiam dan tidak peduli. Petapa tua lalu menyuruh wanita itu mencari janggut harimau.
Meski sangat ketakutan, wanita itu mencoba mendekati seekor harimau buas di hutan. Dengan tekad kuat dan penuh kesabaran, ia terus berusaha menjinakkan harimau agar bisa mendapatkan janggutnya. Setiap hari ia memberinya makanan dan kasih sayang. Setelah berbulan-bulan, akhirnya harimau itu menjadi dekat dan jinak padanya. Wanita itu bahkan bisa mengelus-elus kepala harimau dan mencabut janggut di wajahnya.
Wanita itu kemudian memberikan janggut harimau itu kepada sang Petapa. Namun, sang Petapa malah memasukkan janggut harimau itu ke dalam tungku api. "Kau sudah tak memerlukannya lagi," ucap sang Petapa. "Kalau harimau yang buas saja sudah kau jinakkan, tentu akan lebih mudah bagimu untuk meluluhkan hati suamimu. Sekarang. layani dan perlakukan suamimu dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, sebagaimana kau memperlakukan harimau itu."
Wanita itu lalu menuruti apa yang dikatakan pertapa. Kini, suaminya pun menjadi sayang dan penuh perhatian padanya.
Pesan moral: Kesabaran dan kasih sayang salah satu kunci keharmonisan hidup.Â
2. Burung Hantu Menikahi Permaisuri
Ada seekor burung hantu cerdik yang tinggal bersama seekor gajah di sebuah hutan. Suatu hari, sang Gajah tersesat di tengah hutan yang banyak dihuni raksasa. Gajah itu pun ditangkap dan diserahkan kepada Raja Raksasa. "Kebetulan sekali. Tadi malam aku bermimpi makan gajah dan kini mimpiku akan jadi kenyataan," kata Raja Raksasa senang.
Wah, tentu saja sang Gajah ketakutan mendengar ucapan Raja Raksasa. Namun, tiba-tiba Burung Hantu yang cerdik datang hendak menolongnya. "Sebentar Raja Raksasa," cegah si Burung Hantu. "Semalam aku juga bermimpi menikah dengan permaisuri Raja Raksasa. Sekarang mimpiku juga akan jadi kenyataan."
Tentu saja Raja Raksasa tidak ingin kehilangan istrinya. Akhirnya Raja Raksasa memutuskan, "Mimpi hanyalah bunga tidur. Tak harus diikuti. Aku tak akan memakan gajah dan kau pun tidak akan menikah dengan permaisuriku. Bagaimana?"
Burung Hantu pun menyetujui usul Raja Raksasa. Akhirnya sang Gajah pun bisa bebas dan kembali hidup di hutan bersama si Burung Hantu. "Kau memang cerdik, Burung Hantu. Terima kasih ya," ucap Gajah dengan gembira.
Pesan moral:Â Kecerdikan akan membantu keluar dari kesulitan.
Dikutip dari buku Dongeng 365 Hari oleh Emmy Soekresno, Bunda dapat membacakan kisah dongeng romantis sebelum tidur untuk mengajarkan Si Kecil tentang kasih sayang dan empati. Simak selengkapnya.
3. Adik Mendapatkan Hadiah Sangat Banyak
Seorang abang merajuk pada ayahnya karena melihat adiknya yang baru lahir mendapatkan banyak hadiah sedangkan dirinya tidak. Adiknya mendapat hadiah dari tetangga, kerabat, dan handai tolan.
Lalu, abang bertanya pada ayahnya. Mengapa dirinya tidak mendapatkan hadiah? Ayahnya yang mendengar pertanyaan abang hanya tersenyum kemudian berkata bahwa abang telah menerima hadiahnya saat masih kecil seperti adiknya. Namun, abang tidak ingin kalah dengan adiknya. Ia telah belajar membaca, menghafal banyak surah Al-Qur'an dan bersikap mandiri, tetapi tidak diberi hadiah.
Ayah kemudian berkata bahwa hadiah itu merupakan ekspresi kasih sayang orang-orang terhadap adik barunya yang baru lahir. Abang pun boleh memberikan hadiah kepada adiknya sebagai bentuk kasih sayang. Lalu, ayah berjanji akan memberikan hadiah kepada abang dan adiknya. Abang pun mulai paham makna hadiah dan berniat mencari kado untuk adik barunya.
Pesan moral:Â Membiasakan untuk memberi hadiah. Sebab itu menimbulkan kasih sayang dan menghapus permusuhan.
4. Singa dan Tikus
Suatu hari singa sedang asyik tidur. Ia merasa sangat mengantuk setelah menyantap seekor kijang besar sendirian. Sedang asyik-asyiknya tidur, seekor tikus kecil bermain-main di kandangnya. Karena merasa terganggu, singa terbangun dan dengan sigap ia menangkap tikus yang telah mengganggu tidurnya.
Singa marah karena tidurnya terganggu, ia siap-siap hendak memakan tikus. Tikus kecil itu memohon agar jangan sampai dimakan. Ia berjanji akan membalas kebaikan singa jika melepaskannya. Singa merasa geli mendengar apa yang dikatakan tikus. Ia berpikir, mana mungkin tikus kecil itu bisa menolongnya. Singa merasa tidak akan butuh pertolongan apa pun dari tikus.
Tapi, karena masih kenyang dan mengantuk, akhirnya singa melepaskan tikus.
Beberapa hari berselang, ternyata singa terkena jebakan pemburu. Ia terkena jaring yang dipasang oleh pemburu. Singa meraung meminta Pertolongan. Saat itu, tikus sedang lewat. Ia mendengar teriakan singa. Tikus Pun segera mendekati arah suara. Ketika dilihatnya singa sedang terperangkap, ia segera menggerogoti jaring hingga akhirnya singa bisa lolos. Singa berterima kasih pada tikus yang telah membantunya lepas dari perangkap pemburu.
Pesan moral: Saat menolong teman yang terpenting adalah niatnya bukan seberapa besarnya pertolongan kita.
5. Walet dan Biji Rami
Seekor walet terbang buru-buru agar segera sampai pada kelompoknya yang lain. Ia ingin mengabarkan bahwa saat ini petani sedang menanam biji rami. Oleh karena itu, mereka harus segera memakan biji rami tersebut sebelum biji tersebut membahayakan mereka nantinya. Teman-teman walet tidak mengindahkan peringatan tersebut. Mereka berpikir masih ada hari esok untuk menghabiskan biji tersebut. Sementara, sebagian yang lain tak acuh dan tak percaya akan peringatan dari si walet.
Hari terus berganti, biji rami itu semakin tumbuh besar. Walet makin khawatir dengan keadaan tersebut. Ia mengajak keluarganya untuk pindah dari daerah itu untuk menyelamatkan diri. Kini, biji rami sudah mulai berbuah. Petani mulai mengambil buah rami, ia mulai membuat jaring. Setelah jaring selesai, ia segera memasang jaring itu untuk menangkap burung yang banyak di sekitar rumahnya.
Esok paginya, banyak sekali burung yang terjebak di jaring yang dibuat oleh petani. Burung-burung itu pun menyesal telah mengabaikan peringatan yang diberikan oleh walet. Kini, mereka terancam kehilangan kebebasan karena akan dijual petani.
Pesan moral:Â Kalau kalian membiarkan benih kejahatan, benih tersebut akan tumbuh untuk menghancurkan.
6. Siapa yang Akan Pasang Belnya?
Sudah menjadi hukum alam bahwa tikus adalah musuh alami bagi kucing. Mereka sering menjadi santapan kucing. Mereka ingin keadaan ini berubah. Maka, mereka berpikir bagaimana menemukan cara untuk mengetahui kedatangan kucing. Hal ini agar mereka setidaknya punya kesempatan untuk kabur.
Mereka pun melaksanakan musyawarah besar warga tikus. Lama bermusyawarah telah berlangsung, tapi belum ada satu pun rencana yang dianggap cukup baik. Tiba-tiba, seekor tikus muda berdiri menyampaikan idenya. Ia menawarkan agar menggantungkan lonceng ke leher kucing sehingga jika kucing datang mereka akan tahu karena mendengar bunyi lonceng tersebut.
Semua tikus sepakat dengan rencana tersebut. Mereka menganggap ide itu cukup sederhana. Maka, riuhlah mereka karena sukacita menemukan cara menanggulangi kucing. Namun, di sela kegembiraan tersebut seekor tikus menyela, "Rencana itu mungkin cukup bagus, tapi siapa di antara kita yang mau memasangkan lonceng tersebut pada kucing?" Mendengar pertanyaan ini, para tikus saling berpandangan bingung. Benar, memangnya siapa di antara mereka yang mau jadi sukarelawan untuk memasangkan lonceng pada kucing?
Pesan moral:Â Memang penting untuk mengatakan bahwa sesuatu harus dilakukan, tapi yang lebih penting lagi adalah memikirkan siapa yang akan melakukannya.
Mengutip dari buku 60 Dongeng Dunia Pengantar Tidur. Kasih Sayang dan Kejujuran oleh Gilang Permadi, Bunda dapat membacakan kisah dongeng romantis sebelum tidur untuk mengajarkan Si Kecil tentang kasih sayang dan empati. Simak selengkapnya.
7. Anak Itik Buruk Rupa
Itik betina yang sedang mengerami sarangnya tidak mengetahui salah satu telurnya berbeda.
"Ciap! Ciap!" anak-anak itik yang lucu keluar dari cangkang telur. Terkecuali sebutir telur yang ukurannya paling besar. Telur itu menetas setelah anak-anak itik tumbuh agak besar dan lincah..
Induk itik terkejut! Anak bungsunya sangat berbeda dengan anak-anak lainnya. Bulu-bulunya kusut dan jelek. Warnanya juga kelabu, tidak putih bersih seperti bulu anak-anak itik lainnya. Mereka memanggilnya, Itik Buruk Rupa.
Induk itik tidak suka dengan si itik buruk rupa. Itik buruk rupa sangat sedih karena bentuknya berbeda dengan saudara-saudaranya. Dan semua binatang yang tinggal di sekitar danau itu pun mengucilkannya. Diam-diam, ia pergi meninggalkan induk itik dan saudara-saudaranya.
Si itik buruk rupa bertemu seekor anjing milik seorang pemburu itik. Anjing itu tidak mau memakannya, dan memilih pergi meninggalkannya.
"Anjing itu pun tidak mau memakanku hanya karena tubuhku sangat jelek," ratap itik si buruk rupa sambil terus berjalan.
Tiba di sebuah ladang, ia bertemu dengan seekor kucing dan seekor ayam jantan milik petani.
"Kamu ini hewan sejenis apa? Mengapa rupamu sangat jelek?" tanya si kucing mengejek.
"Ya, betul!" ujar ayam jantan. Itik buruk rupa bertambah sedih. la terus bersembunyi di sebuah danau yang sepi selama musim dingin.
Ketika musim panas tiba, Matahari bersinar hangat. Sekelompok angsa yang tampan dan cantik singgah dan berenang di danau kecil tempat si itik buruk rupa bersembunyi.
Kelompok angsa itu sangat ramah dan bersahabat.
"Bulu kalian indah sekali. Aku sangat kagum dan iri pada kalian," kata si itik buruk rupa jujur. Angsa-angsa itu tertawa geli mendengar pujian si itik buruk rupa.
"Kau lebih cantik dari kami. Lihatlah bayanganmu di air danau itu!"
Si itik buruk rupa sangat terkejut! la tidak percaya kalau ia memiliki bulu-bulu yang sangat indah dan cantik. Oh, rupanya ia seekor angsa dan bukan seekor itik. la sangat bahagia karena sekarang ia memiliki keluarga yang sama dengannya.
Pesan moral: Tidak boleh menilai atau merendahkan seseorang hanya dari penampilan luarnya. Sering kali, sesuatu yang tampak berbeda belum tentu buruk, bisa jadi itu justru tanda bahwa ia istimewa dan memiliki jati diri yang berbeda.
8. Kesetiaan Seorang Istri
Prabu Asvapati adalah raja Kerajaan Madraka yang terkenal arif dan bijaksana. la dikarunia putri tunggal yang sangat cantik bernama Savitri. Sudah banyak pangeran dan bangsawan yang melamarnya, namun semua ditolaknya.
"Savitri, kau harus pergi dari istana untuk mencari jodohmu," titah Prabu Asvapati sedih.
Savitri mengembara mencari calon suaminya ditemani oleh beberapa pengawal.
Mereka tiba di perbatasan kerajaan Salva. Savitri bertemu Satyavan, pemuda tampan yang baik dan sopan. Savitri dan Satyvan saling jatuh cinta.
Satyvan sebenarnya adalah putra mahkota raja Dyumatsena, Kerajaan Salva. Mereka dibuang ke hutan karena tahta Prabu Dyumatsena dirampas musuh. Prabu Dyumatsena menjadi cacat, ia diasingkan dan menjadi seorang resi pertapa di hutan perbatasan Kerajaan Madraka dan Salva.
Resi Dyumatsena merestui hubungan putranya dengan Savitri. Savitri lalu mengenalkan Satyavan kepada ayahanda di istana Madraka.
Pada awalnya Prabu Asvapati menyetujui pilihan putrinya itu. Namun, Dewa Batara Narada tidak setuju. la turun dari kahyangan mendatangi Prabu Asvapati.
"Asvapati, umur Satyavan sisa satu tahun." Prabu Asvapati segera menyuruh Savitri untuk mencari calon suami lainnya, namun Savitri menolak usul itu. Akhirnya ia tetap menikahkan Savitri dengan Satyavan.
Savitri dan Satyavan memilih tinggal bersama Resi Dyumatsena di hutan. Mereka hidup bahagia, namun Savitri selalu gelisah dan cemas mengingat ucapan Dewa Batara Narada. Selama setahun, Savitri rajin berpuasa dan memuja Dewa kematian, yaitu Batara Yama.
Setahun berlalu, Batara Yama datang mengambil nyawa Setyavan. Dan menaruhnya di jala sutra yang selalu dibawanya.
Savitri terus mengikuti kemana pun Batara Yama melangkah. la tidak peduli dengan tubuh dan kakinya yang penuh luka tergores duri dan ranting semak belukar.
Batara Yama tersentuh melihat kesetiaan Savitri.
"Berhentilah mengikutiku, Savitri. Aku akan meluluskan satu permintaanmu, asal jangan kau minta Setyavan dihidupkan lagi." Savitri kemudian meminta penglihatan mertuanya dipulihkan.
"Baiklah, aku akan menyembuhkan kedua mata Resi Dyumatsena," kata Batara Yama.
Batara Yama juga mengembalikan Kerajaan Salva dengan harapan Savitri tidak mengikutinya lagi, namun Savitri tetap mengikuti Batara Yama. la terus menangis dan meratapi nyawa Setyavan. Batara Yama tersentuh lalu memberi satu permintaan lagi kepada Savitri.
"Wahai, Batara Yama. Izinkan aku hidup setahun lagi dengan suamiku. Aku merasa belum cukup berbakti kepada suamiku," pinta Savitri. Dewa Batara Yama langsung mengabulkan permintaan Savitri. Savitri pun bersujud mengucapkan terimakasih kepada Batara Yama.
Tanpa disadari Batara Yama, ia terjebak dengan permintaan Savitri. Waktu setahun bagi para Dewa sama artinya dengan waktu 100 tahun bagi manusia.
Akhirnya, Savitri dan Setyavan hidup berbahagia selamanya dan dikaruniai banyak keturunan. Saat Resi Dyumatsena wafat, Setyavan menjadi raja di Kerajaan Salva.
Pesan moral:Â Kesetiaan, keteguhan hati, dan cinta yang tulus dapat membawa kekuatan yang luar biasa.
9. Asal Mula Rasi Bintang Eridanus
Dewa Appolo adalah Dewa Perang yang gagah perkasa. Dewa Zeus, pemimpin para Dewa, memberi Dewa Appolo kereta perang dari emas yang ditarik dua ekor kuda putih jantan yang kekar dan kuat. Kedua roda keretanya mengeluarkan percikan api. Tak ada seorang Dewa pun mampu mengendalikan kedua ekor kuda penarik kereta itu.
Dewa Appolo menikah dengan seorang gadis yang tinggal di Bumi. Mereka dikarunia anak lelaki tampan yang diberi nama Eridanus. Sayang sekali, istrinya meninggal ketika Eridanus masih bayi.
Dewa Appolo mendidik Eridanus dengan kasih sayang yang sangat melimpah. Semua keinginan Eridanus selalu dituruti Dewa Appolo. Eridanus tumbuh menjadi pemuda yang cengeng, sombong, dan manja.
Eridanus sesumbar kepada teman-temannya bahwa dirinya tak kalah hebat dari ayahnya.
"Buktikan kalau kau bisa berkeliling dunia dengan kereta perang Ayahmu!" ejek salah seorang teman Eridanus.
Eridanus membujuk Ayahnya agar mau meminjamkan kereta perangnya.
"Aku khawatir kau nanti celaka karena tak bisa mengendalikan dua ekor kuda itu," kata Dewa Appolo cemas.
"Ayah, aku berjanji meminjamnya hanya sekali. Aku akan diejek orang-orang dan dicap sebagai anak Dewa Appolo yang suka berbohong."
Akhirnya, dengan berat hati Dewa Appolo meminjamkan kereta perang miliknya. Dengan sombong, Eridanus memamerkan kereta perang itu di hadapan teman-temannya.
Tiba-tiba, kedua ekor kuda putih itu mengamuk dan berlari cepat. Kuda-kuda itu terus berlari dan tidak bisa dihentikan. Roda kereta perang itu membakar apa saja yang ia lewati. Banyak orang yang mati di Bumi.
Dewa Zeus menjadi sangat marah. la mengirim petirnya untuk menghentikan kereta perang itu.
Blaaaar...!!! Kereta perang Dewa Appolo hancur berkeping-keping. Eridanus dan kedua ekor kuda itu juga mati.
Dewa Appolo sangat berduka. la menangis sepanjang waktu meratapi kepergian putra kesayangannya. Butiran-butiran air mata Dewa Appolo itu berubah menjadi bintang-bintang. Kumpulan bintang itu yang kini dikenal rakyat Yunani sebagai Rasi Bintang Eridanus.
Pesan moral:Â Kesombongan, kurangnya pengalaman, dan keinginan untuk pamer tanpa kemampuan yang cukup dapat membawa akibat yang sangat buruk.
Mengutip dari buku Kumpulan Terbaik Dongeng dan Mantra oleh Pembangun Karakter Mulia, Bunda dapat membacakan kisah dongeng romantis sebelum tidur untuk mengajarkan Si Kecil tentang kasih sayang dan empati. Simak selengkapnya.
10. Kisah Lima Butir Telur
Ibu Ayam sedang bahagia. Sebentar lagi ia akan memiliki lima ekor anak. Setiap hari, Ibu Ayam menjaga kehangatan telur-telurnya sambil bercerita tentang berbagai macam kisah petualangan. Ibu Ayam berharap, suatu hari nanti anak-anaknya akan menjadi ayam yang pemberani dan hebat.
Suatu hari, saat Ibu Ayam sedang pergi, lima butir telur itu bergerak-gerak. Mereka berbicara satu sama lain.
"Aku sudah tidak sabar tumbuh besar," kata salah satu telur.
"Iya benar. Aku sangat ingin keluar dari cangkang ini," sahut telur yang lain.
"Aku ingin bertemu musang yang diceritakan Ibu, lalu mematuknya! la sudah membuat semua ayam ketakutan!" sahut telur yang lainnya lagi.
"Hei, itu berbahaya!" telur yang paling kecil berkata.
"Kenapa? Kamu takut?" tanya telur yang pertama berbicara.
"Jangan takut saudaraku, kita kan berlima. Jika bersatu kita pasti bisa mengalahkan Musang yang jahat. Bukankah setiap hari Ibu berpesan seperti itu?" Salah satu telur menenangkan saudaranya.
"Tapi.. Tapi.." Belum sempat telur yang ketakutan melanjutkan, Ibu mereka tiba-tiba datang. Kelima telur itu pun kembali tenang. Ibu Ayam tersenyum memandangi telur-telurnya.
"Anak-anakku, kalian di dalam sudah besar. Besok pagi kalian akan menetas dan menikmati indahnya dunia. Jadilah anak-anak ibu yang pemberani dan hebat, ya. Ibu harus pergi sementara waktu. Jaga diri kalian baik-baik," kata Ibu Ayam lalu mengelus cangkang telur satu persatu.
Mau ke mana Ibu Ayam, ya? Entahlah, yang pasti kata-kata sang ibu membuat salah satu telurnya semakin ketakutan.
Keesokan harinya, telur pertama mulai menetas disusul oleh tiga telur yang lainnya.
"Wah, senangnya! Akhirnya aku bisa melihat dunia! Benar kata ibu, dunia memang benar-benar indah!" serunya.
"Ciap ciap ciap!" begitu seru tiga anak ayam yang lainnya dalam bahasa ayam, yang artinya setuju.
"Hei, lihat. Masih ada satu saudara kita yang belum menetas. Ayo kita bantu dia," kata salah satu anak ayam.
"Bagaimana caranya?" tanya anak ayam yang lain.
"Kita patuk saja cangkangnya," jawab anak ayam yang paling besar.
"Jangan!" seru suara dari dalam cangkang.
"Kenapa?" tanya saudaranya penasaran.
"Aku masih belum siap. Aku ingin menunggu ibu," kata si telur.
"Tapi, udara di dalam cangkang sudah habis, saudaraku. Kau butuh udara untuk bernapas," kata saudaranya yang lain.
"Tapi, aku sangat takut. Dunia begitu menyeramkan. Ada musang, ada malam, dan kita harus mencari cacing di hutan. Aku lebih senang di dalam sini, hangat dan aman," jawab si telur terakhir.
"Lalu bagaimana caranya kamu bernapas? Tanpa udara kamu bisa mati," kata saudaranya.
"Tapi, aku takut. Aku menunggu ibu saja," si telur terakhir tetap pada pendiriannya.
Saudara-saudaranya saling berpandangan. Mereka bingung bagaimana membujuk si ayam bungsu agar mau keluar dari cangkangnya. Jika tidak segera keluar, si bungsu bisa mati dan ibu mereka akan sedih.
Tiba-tiba...
"Tolong, Aku digigit Musang!" seru salah satu anak ayam.
"Oh tidak! Ayo kita lawan!" seru anak ayam yang lain.
Bunyi ciap-ciap dan gerabak-gerubuk memenuhi kandang ayam. Si telur terakhir semakin ketakutan. Dia makin tidak berani keluar dari cangkangnya. Di dalam cangkang, dia membayangkan wajah musang yang mengerikan dengan gigi-gigi tajamnya. Dia pun kasihan pada saudara-saudaranya yang sudah terlanjur menetas yang kini harus berkelahi melawan musang.
"Oh, tidak! Kami kekurangan tenaga! Kami tidak bisa melawan musang hanya berempat saja!
Kami butuh satu teman lagi untuk mematuk matanya!" salah satu anak ayam berseru.
Bunyi gerabak-gerubuk masih riuh. Telur terakhir mulai goyah. Dia sedang dibutuhkan oleh saudara-saudaranya. Mana mungkin dia bersembunyi dan mencari perlindungan sendiri?
"Tolong! Tolong kamil Patuk matanya dan musang pasti akan kita kalahkan!" seru salah satu anak ayam lagi.
"Siapa yang bisa mematuk matanya? Aku sedang mematuki kakinya!" seru anak ayam yang lain.
"Aku juga sedang sibuk mematuki ekornya!" anak ayam yang lain menimpali.
Tiba-tiba, bunyi krak krak mulai terdengar. Telur terakhir akhirnya menetas. Anak ayam terakhir keluar dari cangkangnya. Wajahnya marah. Dia sudah siap mematuk mata musang yang sudah menyakiti saudara-saudaranya.
Tetapi "Lho? Mana musangnya?" tanya anak ayam terakhir.
"Tidak ada musang, saudaraku," kata anak ayam yang paling besar.
Keempat anak ayam lalu berlari menghampiri saudaranya yang baru menetas.
"Selamat datang di dunia. Bagaimana rasanya? Udaranya segar, bukan?"
"I iya..... lalu... lalu kalian tadi.." Anak ayam terakhir masih kebingungan.
Saudara-saudaranya tertawa. Mereka merangkul saudaranya yang baru menetas itu.
"Ternyata kamu bukan anak ayam yang penakut, kan? Kamu berani menetas untuk menolong kami melawan musang," kata salah satu anak ayam
Anak ayam yang baru menetas itu tersipu malu. Dia memeluk saudara-saudaranya dan mengucapkan terima kasih. Sekarang dia tahu, ternyata dia juga sama beraninya dengan saudara-saudaranya yang lain dan berjanji tidak akan jadi ayam penakut lagi.
Pesan moral:Â Jadilah anak yang pemberani. Hadapi apa pun yang ada di depanmu dengan gagah, niscaya rasa takut akan berangsur-angsur pergi menjauh.
Dikutip dari buku 5 Menit Mendongeng Tentang Binatang oleh Vanda Yulianti, Bunda dapat membacakan kisah dongeng romantis sebelum tidur untuk mengajarkan Si Kecil tentang kasih sayang dan empati. Simak selengkapnya.
11. Pilli Kus-kus Pemalu
Hari menjelang sore, di mana semua hewan di Hutan Gemintang mulai masuk ke sarangnya masing-masing. Sore seperti saat ini adalah waktu bagi para hewan malam muncul untuk melakukan kegiatannya masing-masing.
"Hoaaaam..., nikmatnya tidur siangku hari ini!" geliat Kuko kelelawar.
"Duuh, aku sulit tidur! Ci... cit..., anak-anak burung Kucica terasa mengganggu!" keluh Kelo, sahabat Kuko.
"Ayo, senam dulu biar segar!" ajak Lowo penuh semangat.
"Ho... ho..., halo semua! Selamat petang," sapa Pak Oli kuskus yang ramah.
"Haaai, Kuko, Kelo, Lowo. Terbang ke mana malam ini? Bu Wuli tidak kalah ramah menyapa para kelelawar itu.
"Kami akan menuju ke pematang sawah di utara, Pak Oli, Bu Wuli," jawab para kelelawar kompak.
"Kalian sendiri akan berjalan-jalan ke mana? Ini kan hari Minggu, sekolah libur! Pasti Pili sudah bersiap untuk tamasya, ya?" ucap Lowo dengan riang.
Mendadak, wajah Pak Oli dan Bu Wuli menjadi muram. "Duuh, dari siang kami bingung mengajak Pili untuk keluar. Dia begitu pemalu dan tidak mau berteman," ucap Bu Wuli lirih.
"lya, bagaimana ya, agar Pili tidak pemalu seperti sekarang? Sebentar lagi dia tumbuh menjadi kuskus jantan dewasa, harus punya keberanian untuk melindungi keluarga," Pak Oli menghela napas.
Kuko, Kelo, dan Lowo menyimak cerita keluarga kuskus itu. Mereka Juga tahu, Pili begitu pemalu dan penakut. "Aha...! Bagaimana kalau kita minta saran dari Pak Hanhan burung hantu yang bisak?" Kuko memberikan ide.
Pak Oli dan Bu Wuli mengangguk setuju. Tidak lama tampak kelima hewan itu beriringan menuju tempat tinggal Pak Hanhan.
"Halo..., halo...! Ada apakah gerangan Pak Oli, Bu Wuli, Kuko, Kelo, dan Lowo berkunjung ke sarangku?" sapa Pak Hanhan ramah.
Dengan singkat, Pak Oli menceritakan tentang sifat Pili yang begitu pemalu. Pak Hanhan mengangguk-angguk mendengarkan. Kemudian sambil tersenyum bijak, Pak Hanhan menjelaskan dengan perlahan. Kali ini, giliran Pak Oli dan Bu Wuli yang mengangguk-angguk tanda setuju.
"Terima kasih, Pak Hanhan, kami akan menjalankan saranmu," ucap Bu Wuli sambil berpamitan untuk kembali pulang.
Esoknya, diam-diam Bu Wuli memerhatikan apa yang menjadi hobi dan kegemaran Pili. Ooo, rupanya Pili senang menggambar! Banyak sekali karya Pili tersebar di atas meja belajar yang ada di kamarnya. Hasil gambar Pili bagus sekali.
"Pili, Ibu boleh masuk ke kamarmu?" Bu Wuli mengetuk perlahan pintu kamar Pili.
"Tentu... Ibu," jawab Pili.
Bu Pili membawakan makanan kesukaan Pili, meletakkan di meja belajar, lalu melihat gambar karya Pili.
"Wah, bagusnya gambarmu, Nak," puši Bu Wuli.
Pili merebut kertas gambarnya perlahan. Ucapnya, "Ah, belum bagus, Bu. Aku malu....."
"Kapan-kapan ajari Ibu menggambar, ya? Boleh?" tanya Bu Wuli penuh harap.
Mata Pili tampak berbinar mendengar permintaan ibunya.
"Wah, benarkah Ibu mau belajar menggambar?" Pili balik bertanya.
Tak lama, dari dalam kamar terdengar tawa riang antara Bu Wuli dan Pili sambil asik belajar menggambar.
Pak Oli mendengar dari balik pintu, dan tersenyum senang. Rencana kedua akan dijalankan.
Hari berikutnya, Kuko, Kelo, dan Lowo berkunjung ke rumah Pak Oli. Mereka membawa poster lomba menggambar berkelompok yang diadakan oleh kerajaan Raja Hutan.
Pemenangnya akan mendapatkan tiket wisata berkunjung ke Hutan Impian hutan yang indah dan memiliki banyak permainan seru. Ketiga kelelawar itu bermaksud mengajak Pili untuk membuat kelompok gambar bersama hewan lainnya.
"Kenapa aku?" tanya Pili lirih, berdiri di belakang punggung Pak Oli.
"Ya, karena kami mendengar dari Bu Wuli, bahwa gambarmu sangat bagus dan kamu pandai mengajar menggambar," jawab Lowo riang.
"Wah... Pili, ini kesempatan yang bagus untuk kamu dan teman-teman lain. Kamu bisa mengajarkan cara menggambar. Lalu, kalian bisa bersama-sama membuat karya gambar yang bagus!" Pak Oli memberi semangat.
Perlahan Pili mengangkat wajahnya. Menatap malu-malu pada semua.
"Mau ya, Pili? Kamu pasti bisa!" Bu Wuli tidak mau kalah untuk memberikan semangat.
"Ya, Pili!!! Kalau kita menang, kita bisa bermain bersama di Hutan Impian. Wuih, pasti menyenangkan!" ajak Kuko.
"Lalu..., jika tidak menang?" Pili kembali ragu.
"Ya, tidak apa-apa. Yang penting kita sudah mencoba dan berusaha, kan?" Kelo mencoba menenangkan.
"Betuuul...! Yang paling asik dari kegiatan ini adalah bertemu teman-teman baru yang menyenangkan!" Bu Wuli bertepuk senang.
Pili memandang pada Pak Oli dan Bu Wuli berulang kali. Matanya seolah meminta keyakinan dari ayah dan ibunya. Pak Oli dan Bu Wuli pun mengangguk setuju pada Pili.
Pili tersenyum.
Sudah berhari-hari Pili dan teman-temannya sibuk berlatih menggambar. Pili yang di awal tampak masih ragu, perlahan mulai berani mengajarkan menggambar pada hewan-hewan lain. Semua tampak bersemangat dan gembira. Tawa Pili sesekali terdengar, begitu menyenangkan. Pak Oli dan Bu Wuli merasa senang melihat perubahan sikap Pili.
"Ayo..., anak-anak jangan lupa istirahat. Ini makanan dan minuman segar untuk kalian, ya. Bu Wuli sibuk menyiapkan makanan untuk mereka.
Kelompok menggambar yang dipimpin Pili memenangkan hadiah! Dan, kelompok itu pun bersiap menuju ke Hutan Impian yang mereka impikan. Pili tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Senyumnya terus mengembang.
"Terima kasih Ibu dan Ayah. Tanpa dukungan semangat dari Ibu dan Ayah, aku tidak mungkin bisa seperti saat ini," Pili memeluk orangtuanya.
"Ini semua bukan karena kami tapi karena kamu berani menerima tantangan. Hebat kamu, anakku," Pak Oli memeluk Pili erat.
"Kita sudah sampai di Hutan Impian. Kalian hati-hati, ya! Raihlah mimpimu setinggi-tingginya!" pesan Bu Wuli.
Dari kejauhan, Pak Hanhan tersenyum dan melambaikan tangan pada Pili.
"Keberanian adalah kekuatan yang akan mengiringi impian, gumam Pak Hanhan, lalu kembali terbang rendah ke sarangnya yang hangat.
"Tapi...," Dudo ingin membela diri.
"Tapi apa, Dudo? Yang kamu lakukan itu tidak baik dan tidak sopan. Jika kamu ingin merasakan kenyamanan maka buatlah orang di sekelilingmu merasa nyaman," pesan Gogo gagak.
Dudo terdiam dan merenungkan sikapnya. Terbayang semua sikapnya yang lancang jika berada di rumah temannya, tanpa memikirkan perasaan si teman. Sekarang Dudo paham, bahwa sangat tidak menyenangkan jika ada yang menggunakan miliknya tanpa izin sebelumnya.
Dudo mengangguk-anggukkan kepalanya, dan sadar untuk mengubah semua sikapnya yang tidak sopan.
"Gogo! Ayo masuk, akan ku masak makanan kesukaanmu!" ajak Dudo penuh semangat, "Dan aku berjanji akan mengubah sikapku yang tidak baik, Gogo!"
"Bervansilah pada dirimu sendiri, Dudo!" cetus Gogo seraya terbang menuju ke dalam rumah Dudo.
Di dalam rumah, Dudo menyambut semua tamunya dan meminta maaf atas semua sikapnya selama ini. Semua tertawa senang dan mengeluarkan makanan yang rupanya diam-diam mereka siapkan untuk dinikmati bersama di rumah Dudo.
Semua senang, Dudo pun merasa tenang karena berada di tengah teman-teman yang luar biasa menyenangkan.
Sejak itu, Dudo dikenal dengan panggilan Dudo si Sopan.
Pesan moral:Â Keberanian, dukungan, rasa percaya diri, serta sikap sopan dan menghargai orang lain adalah kunci untuk meraih kebahagiaan dan hubungan yang baik dengan sesama.
12. Ketika Hujan Tercurah Deras
Musim penghujan telah tiba. Setiap hari tak henti-henti air bah turun dari langit. Para penghuni Hutan Gemintang memilih berdiam diri di dalam rumah. Mereka sudah mempersiapkan persediaan makanan jauh-jauh hari sebelum musim hujan datang.
Di dalam rumah, ada yang mengisi waktu dengan tidur berselimut, merajut baju hangat, membuat kue, melukis, bermain kartu, membaca buku, dan banyak lagi kegiatan mengisi waktu. Semua tampak tenang di rumah masing-masing.
Betulkah semua hewan sedang nyaman di rumahnya masing-masing?
Ternyata, di tepi sungai yang meluap karena hujan, beberapa keluarga berang-berang tampak kedinginan mencari tempat berlindung. Rumah mereka yang dibangun di atas sungai hanyut karena begitu derasnya luapan air sungai mengalir.
Anak-anak dan bayi-bayi berang-berang tampak ketakutan, kedinginan, dan kelaparan. Para Ayah berang-berang berusaha mencari Jalan menuju ke dalam Hutan Gemintang.
"Pak Beri, kita ikuti barisan pohon cemara ini! Hanya ini yang bisa menjadi petunjuk masuk ke arah Hutan Gemintang!" teriak Pak Bori berang-berang memberi saran.
Pak Beri setuju, lalu para berang-berang jantan itu memimpin keluarga mereka untuk terus berjalan masuk ke hutan. Kilat dan gemuruh petir semakin membuat anak-anak dan bayi berang-berang ketakutan. Mereka mulai menangis terisak.
"Ayo..., jangan menyerah, jangan takut! Kita akan selamat!" Ibu Beri memberi semangat pada mereka.
Sepasang mata mengawasi rombongan itu dari dalam lubang di sebuah pohon cemara. Rupanya Kiku tupai sedang bertugas mengawasi keadaan sekeliling hutan.
"Aku harus segera memberi kabar pada warga Hutan Gemintang!" ucap Kiku cepat. Tak lama, tampak Kiku melesat melompat dengan lincah di antara dahan pohon menembus derasnya hujan yang tak kunjung reda.
Rombongan berang-berang beristirahat di bawah sebuah batu besar yang membentuk cekung menyerupai gua-hingga mereka bisa masuk ke dalamnya.
"Berapa lama lagi kita sampai di Hutan Gemintang, Ayah?" tanya Bora, anak tertua Pak Beri.
"Tidak lama lagi, Nak!" jawab Pak Beri pelan.
"Mora demam, Ayah," ucap Ibu Beri dengan cemas sambil memeluk Mora-bayinya. Pak Beri mulai cemas.
"Bagaimana ini...." bisik Pak Beri.
Pak Bori menenangkan Pak Beri, "Tenang..., kita pasti akan selamat sampai ke tujuan. Tunggu sejenak hingga badai berhenti. Setelah itu kita lanjutkan perjalanan."
Tiba-tiba petir terdengar kuat menggelegar. Semua terkejut. Seberkas sinar menyinari mulut gua batu itu, anak-anak bertambah takut. Pak Beri dan Pak Bori menghadang sinar itu.
"Heeei, apa itu? Siapa kalian?" teriak Pak Bori keras.
Tampak beberapa sosok masuk ke dalam gua.
"Tenang, Pak Bori. Kami akan menolong kalian!" ucap sebuah suara yang akrab di telinga keluarga berang-berang.
"Pak Hanhan?" tanya Pak Beri.
Tampaklah Pak Hanhan dan rombongan burung hantu membawa senter besar. Beserta rombongan singa mereka masuk untuk menolong keluarga berang-berang. Mereka sudah membawa tandu untuk para Ibu, anak-anak, dan bayi.
Suasana di rumah besar milik Pak Aum Singa tampak ramai dan hangat. Keluarga berang-berang sudah tenang mengungsi dengan aman di rumah itu.
"Terima kasih, Pak Hanhan, Pak Aum, dan semua warga Hutan Gemintang. Tanpa bantuan kalian, entah apa yang terjadi pada kami," ucap Pak Bori terharu.
"Ini semua berkat kesigapan Kiku tupai, tanpa berita dari Kiku, kami pun tidak tahu keadaan kalian, Pak Hanhan tersenyum.
Kiku hanya tersipu malu. Pak Aum mempersilakan semua untuk menyantap sup dan susu hangat untuk memulihkan tubuh.
"Kita semua bersaudara, harus selalu siap menolong. Ayo, nikmati sup buatan Ibu Aum! ajak Pak Aum.
"Ya, tinggallah sementara waktu di sini sampai cuaca kembali baik," ucap Bu Aum ramah.
Setelah beberapa hari, cuaca kembali cerah. Matahari mulai bersinar. Keluarga berang-berang berpamitan untuk kembali ke sungai, dan membangun rumah baru mereka.
"Sampai sumpa lagi, sahabat baik kami! Mampirlah ke rumah kami jika sedang berada di tepi sungai! Kiku, kami tunggu kehadiranmu! Pak Beri dan Pak Bori melambaikan tangan.
"Indahnya persahabatan, bisik Ibu Bori.
Pesan moral:Â Kepedulian, kerja sama, dan persahabatan adalah kunci untuk menghadapi kesulitan dan menciptakan kehidupan yang harmonis.
Mengutip dari buku 101 Dongeng Sebelum Tidur oleh Redy Kuswanto, Bunda dapat membacakan kisah dongeng untuk mengajarkan kasih sayang dan empati pada Si Kecil. Simak selengkapnya.
13. Ayam dan Ikan Tongkol
Raja aja bangsa ayam bernama Kukuru dan raja bangsa ikan tongkol bernama Halili bersahabat karib dan sering bermain bersama. Kukuru suka mengajak Halili ke daratan. Begitu pula dengan Halili, ia sering mengajak Kukuru bermain ke laut.
Suatu hari, Kukuru mengajak Halili ikut pesta dansa di kampung nelayan. "Yuk, ikutan pesta dansa. Di sana banyak makanan lezat dan pertunjukan tari," ajak Kukuru.
Halili pun tertarik dengan ajakan sahabatnya. "Baiklah, aku akan ikut. Pasti menyenangkan ikut pesta dansa," sahut Halili.
Keesokan harinya, ketika senja menjelang, mereka sudah tiba di tepi pantai. Semua ikan tongkol dan ayam pergi bersama menuju pesta. Halili berpesan kepada Kukuru agar memberi tahu jika waktu fajar telah tiba. Jika tidak, bangsa manusia akan menyantap mereka.
Pesta pun berlangsung dengan meriah. Mereka menikmati suasana pesta. Karena kekenyangan, mereka pun tertidur lelap hingga melewati waktu fajar. Semua ikan tongkol ditangkapi oleh nelayan di pagi hari.
Halili merasa kesal karena Kukuru yang tidak menepati janji. Ia mengutuk bangsa ayam menjadi buta di malam hari. Ia juga bersumpah akan memakan semua ayam yang datang ke laut.
Persahabatan pun menjadi permusuhan. Mungkin itulah sebabnya mengapa nelayan sangat mudah memancing tongkol dengan umpan bulu ayam.
Pesan moral:Â Tepatilah janji karena ingkar janji akan merusak persahabatan.Â
14. Beruang Kecil Mau Berbagi
Beruang Kecil bersuka ria. Hari ini, Bibi Beruang mengundangnya untuk memanen apel. Sebagai ucapan terima kasih, Bibi Beruang memberinya sekeranjang apel ranum.
"Terima kasih, Bibi," ucap Beruang Kecil.
"Sama-sama. Terima kasih sudah membantu," sahut Bibi Beruang.
Beruang Kecil melangkah pulang dengan hati girang. Ia membayangkan apel panggang oles madu yang lezat. "Du bi du bi dam," Beruang Kecil terus bersenandung.
Tiba-tiba, "Hiks...hiks...," ada suara tangisan dari balik semak-semak. Ternyata, itu tangisan Ibu Rusa!
"Ibu Rusa, kenapa menangis?" tanya Beruang Kecil.
"Kakiku luka, terjerat perangkap para pemburu. Sekarang, aku tak bisa mencari makan untuk anak-anakku," sahut Ibu Rusa.
Dari balik semak-semak, muncul tiga anak rusa dengan wajah kelaparan.
"Jadi, Ibu Rusa menangis karena kesakitan?" tanya Beruang Kecil lagi. Ibu Rusa menggeleng.
"Bukan. Aku menangis karena anak-anakku kelaparan. Aku tak mungkin menyuruh mereka mencari makanan sendiri. Mereka masih terlalu kecil," tangis Ibu Rusa semakin keras.
Beruang Kecil memandang wajah ketiga anak rusa itu, lalu melirik ke keranjang apelnya.
"Berikan...tidak...berikan...tidak....," hatinya bimbang. Ia kasihan pada keluarga rusa itu, tapi ia juga ingin makan apel panggang oles madu!
Namun, Beruang Kecil akhirnya berpikir, keluarga rusa itu lebih membutuhkan apel-apel ini. "Aku pun masih punya makanan lain di rumah," ucapnya dalam hati.
"Ini, Bu. Apel-apel ini untuk anak-anak rusa saja," Beruang Kecil menyodorkan keranjang apelnya.
"Terima kasih, Beruang Kecil. Apel-apel ini sangat berarti bagi kami.
Kami sungguh berterima kasih atas kebaikanmu," Ibu Rusa tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.
Beruang Kecil senang, meski ini artinya ia tak bisa makan apel panggang oles madu. Baginya, membantu makhluk lain yang sedang kesusahan, jauh lebih menyenangkan.
Pesan moral: Menolong orang yang lebih memerlukan adalah sesuatu yang baik. Ikhlas membantu bagi yang lebih membutuhkan adalah perbuatan yang disukai oleh orang.Â
15. Putri Ular dari Simalungun
Dahulu, di kawasan Simalungun, berdiri sebuah kerajaan yang makmur. Rajanya terkenal arif dan bijaksana. Sang Raja memiliki seorang putri yang amat cantik.
Kecantikan sang Putri didengar pula oleh seorang Raja Muda. Si Raja Muda yang tampan itu pun melamar sang Putri. Ternyata pinangan itu diterima atas persetujuan Raja dan Permaisuri.
"Jagalah diri selalu. Jangan sampai pernikahanmu gagal," pesan sang Raja.
Setiap pagi sang Putri pergi mandi ditemani dayang-dayang. Ia berendam di sebuah kolam di belakang istana. Usai berendam, sang Putri duduk di atas batu. Ia membayangkan betapa bahagianya saat pernikahan nanti.
Tiba-tiba angin bertiup kencang. Sepotong ranting kering jatuh tepat mengenai ujung hidung sang Putri. Betapa terkejutnya sang Putri saat melihat wajahnya di cermin. Hidungnya yang mancung kini menjadi pesek. Wajahnya tidak cantik seperti semula.
Ia sangat sedih. Raja Muda itu akan mencari calon istri yang lebih cantik. Begitu pikiran yang memenuhi kepalanya.
Sang Putri sungguh tertekan. Hatinya pun semakin bingung. Ia tidak ingin membuat malu dan kecewa kedua orang tuanya. Namun, dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Sang Putri lalu berdoa, "Ya Tuhan! Hukumlah hamba-Mu yang telah membuat malu kedua orang tuaku!"
Baru saja doa itu terucap, tiba-tiba petir menyambar-nyambar. Kemudian, tubuh sang Putri ditumbuhi sisik.
Ketika sisik mencapai dada, sang Putri memerintahkan dayang untuk memberi tahu ayah dan ibunya di istana. Permaisuri dan Raja tidak melihat sang Putri lagi. Yang tampak hanya seekor ular raksasa. Tak lama kemudian, ular itu masuk ke semak belukar.
Pesan moral: Bersyukurlah dan cintailah diri kita sendiri apa adanya.
Itulah dongeng romantis sebelum tidur untuk mengajarkan anak tentang kasih sayang dan empati. Semoga bermanfaat untuk pengantar tidur Si Kecil, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
60 Dongeng Sebelum Tidur Penuh Makna dan Mendidik
Parenting
31 Cerita Dongeng Pendek yang Memiliki Pesan Moral, Cocok Dibaca Sebelum Tidur
Parenting
7 Dongeng Sebelum Tidur Penuh Makna, Cerita Kancil dan Buaya Salah Satunya
Parenting
Fabel Sebelum Tidur: Bacakan Si Kecil Dongeng Balas Budi Seekor Semut
Parenting
7 Dongeng Sebelum Tidur Seru, Kaya Pesan Moral & Latih Imajinasi Anak
9 Foto
Parenting
9 Potret Keseruan Anak-anak Lombok saat Mendengarkan Dongeng
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Cerita Semut dan Merpati Beserta 5 Dongeng Lain yang Penuh Pesan Moral
7 Cerita Dongeng Anak Kecil Sebelum Tidur yang Mengajarkan Sikap Baik
7 Dongeng Kerajaan Romantis yang Mengajarkan Kasih Sayang