HaiBunda

PARENTING

5 Sikap Orang Tua yang Diam-Diam Rusak Mental Anak Menurut Psikolog

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Sabtu, 16 May 2026 20:50 WIB
Ilustrasi Sikap Orang Tua yang Diam-Diam Rusak Mental Anak Menurut Psikolog/Foto: Getty Images/iStockphoto/imtmphoto
Jakarta -

Orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun, ada beberapa kebiasaan dalam pengasuhan yang ternyata meninggalkan pengaruh pada kondisi emosional anak.

Di tengah kesibukan sehari-hari, Bunda sering dihadapkan pada berbagai tantangan dalam mendidik anak. Mulai dari membagi waktu hingga memahami kebutuhan emosional Si Kecil yang terus berubah.

Psikolog klinis asal Iran, Dr. Shahrzad Jalali, mengatakan bahwa pembentukan mental dan kepribadian anak bukan hanya dipengaruhi oleh satu kesalahan saja dalam pengasuhan.


"Yang paling membentuk kepribadian anak saat dewasa bukanlah satu kesalahan pengasuhan, melainkan pola emosional yang berulang. 'Siapa saya harus menjadi agar tetap dicintai di sini?'" kata Jalali, dikutip dari laman New York Post.

Meski tantangan menjadi orang tua saat ini tidak selalu mudah, bukan berarti semuanya terlambat untuk diperbaiki ya, Bunda. Dalam hal ini, Jalali membagikan sikap orang tua yang diam-diam dapat merusak kondisi mental anak.

Sikap orang tua yang diam-diam merusak mental anak

Ternyata, ada beberapa sikap orang tua yang dapat memengaruhi mental anak secara perlahan. Untuk melihat penjelasannya lebih lanjut, berikut ini ulasan selengkapnya yang dilansir dari laman New York Post.

1. Membuat anak merasa cinta harus didapat dengan memenuhi harapan

Menurut Jalali, sikap orang tua yang membuat anak merasa harus memenuhi harapan agar dicintai bisa memengaruhi kondisi mentalnya. Ia menjelaskan bahwa anak yang merasakan kasih sayang tulus dari orang tua tumbuh dengan kondisi emosional yang baik.

"Ketika seorang anak mengalami cinta sebagai sesuatu yang stabil dan bukan sesuatu yang harus diperoleh, hal itu menjadi dasar bagi kejujuran emosional, batasan yang sehat, ketahanan, dan kemampuan untuk gagal tanpa runtuh secara psikologis," katanya.

Menurut Jalali, orang tua perlu menunjukkan kedekatan dan kasih sayang kepada anak meski anak melakukan kesalahan atau membuat kecewa. Dengan begitu, mereka akan merasa dirinya tetap dicintai dalam kondisi apa pun.

"Pesan yang ingin disampaikan adalah, 'Kamu bisa mengecewakanku, membuatku frustrasi, atau melakukan kesalahan, dan aku akan tetap terhubung denganmu,'" ujarnya.

2. Mengabaikan perasaan anak

Salah satu sikap orang tua yang dapat memengaruhi mental anak adalah kurang memberikan validasi terhadap perasaannya. Anak yang merasa emosinya diabaikan bisa kesulitan mengekspresikan apa yang dirasakannya.

"Validasi sangat penting karena mengajarkan anak, 'Dunia batin saya masuk akal dan dapat ditangani,'" kata Jalali.

Ia menjelaskan bahwa validasi bukan berarti orang tua harus selalu membenarkan semua perasaan anak atau menuruti semua keinginannya. Namun, anak tetap perlu merasa didengar tanpa dibuat malu dengan emosinya sendiri.

"Artinya membantu anak menyebutkan apa yang terjadi di dalam dirinya tanpa rasa malu. Ketika perasaan tidak divalidasi, anak-anak sering kali terpisah dari diri mereka sendiri. Mereka berhenti bertanya, 'Apa yang saya rasakan?' dan mulai bertanya, 'Apa yang boleh saya rasakan?'" ungkap psikolog Jalali.

Menurutnya, anak yang terbiasa menahan atau menolak emosinya dapat membawa dampak tersebut hingga dewasa, Bunda. Mereka bisa tumbuh dengan rasa ragu terhadap dirinya sendiri.

3. Membebani anak dengan masalah orang tua

Selanjutnya, mengajarkan empati kepada anak memang bagus untuk perkembangan emosionalnya. Namun, hal itu tidak seharusnya membuat anak memikul peran seperti orang dewasa.

"Seorang anak seharusnya belajar mengenali perasaan orang lain, bukan menjadi bertanggung jawab untuk menstabilkan kehidupan emosional orang dewasa di sekitarnya," ujar Jalali.

Bicara soal ini, ia menjelaskan ada kondisi ketika anak terlalu dibebani untuk menjaga perasaan orang tuanya. Lambat laun, anak jadi lebih fokus memikirkan keadaan orang lain dibandingkan kebutuhan dirinya sendiri.

"Mereka adalah orang dewasa yang bisa membaca pikiran semua orang di ruangan itu tetapi tidak bisa mengenali diri mereka sendiri," jelasnya.

Akibatnya, anak bisa mudah merasa lelah secara emosional, sulit menetapkan batas dalam hubungan, dan sering merasa bersalah ketika tidak bisa memenuhi keinginan orang lain.

4. Terlalu sering menyelesaikan masalah anak

Banyak orang tua sebenarnya memiliki niat baik ketika membantu menyelesaikan masalah anak. Namun, jika dilakukan terlalu sering, anak menjadi kurang belajar dalam menghadapi tantangannya, Bunda.

"Ketika orang tua terlalu banyak menyelesaikan segala hal, anak-anak mungkin memasuki masa dewasa dengan meragukan kemampuan mereka, menghindari tantangan, atau kewalahan oleh frustrasi biasa," kata Jalali.

Ia menyampaikan ada beberapa masalah yang sebenarnya bisa dipelajari anak sesuai usianya, seperti membantu pekerjaan rumah, menyelesaikan konflik dengan teman, hingga menyiapkan tas sekolah sendiri.

"Daripada langsung menyelamatkan atau menuntut kemandirian terlalu dini, orang tua dapat berkata, 'Mari kita pikirkan bersama. Menurutmu apa saja pilihanmu?' Tanggapan seperti itu mengkomunikasikan keyakinan dan rasa aman," ungkapnya.

Jalali menjelaskan bahwa orang dewasa yang sejak kecil sering dibantu oleh orang tuanya bisa tumbuh dengan rasa kurang percaya pada kemampuan dirinya sendiri, Bunda.

5. Membiasakan anak untuk menahan perasaan sulit

Menurut Jalali, kalimat motivasi seperti "berpikir positif saja" atau "kamu luar biasa" belum tentu membantu anak menghadapi masalahnya. Jika digunakan tanpa mengenal perasaan anak, ini justru bisa bikin mereka kesulitan menerima emosinya sendiri.

"Anak tersebut mungkin akan belajar bahwa emosi yang sulit dianggap sebagai kegagalan, bukan pengalaman yang harus diatasi," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa anak yang tidak dibiasakan memiliki cara berpikir yang baik terhadap dirinya sendiri bisa tumbuh menjadi pribadi yang mudah menyalahkan diri.

Lebih dari itu, mereka cenderung mudah berpikir negatif dan kesulitan menenangkan diri saat sedang menghadapi tekanan.

Itulah penjelasan mengenai sikap orang tua yang diam-diam dapat memengaruhi mental anak menurut psikolog.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

Tanpa Disadari, Anak yang Kurang Menarik Bisa Kurang Diperhatikan

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

5 Sikap Orang Tua yang Diam-Diam Rusak Mental Anak Menurut Psikolog

Parenting Nadhifa Fitrina

Vasektomi Bisa Ditanggung BPJS Kesehatan, Ketahui Prosedur dan Syaratnya

Kehamilan Indah Ramadhani

Ciri Kepribadian Orang yang Suka Rewatch Drama atau Film, Kamu Salah Satunya?

Mom's Life Nadhifa Fitrina

Patokan Kenaikan Berat Badan Bayi yang Normal sesuai Usianya

Parenting Kinan

Resep Teh Viral ala Teazzi, Bikinnya Gampang!

Mom's Life Angella Delvie & Muhammad Prima Fadhillah

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Intip Momen Baby Arash Anak Aaliyah Massaid Diajak Liburan ke Jepang

Vasektomi Bisa Ditanggung BPJS Kesehatan, Ketahui Prosedur dan Syaratnya

5 Sikap Orang Tua yang Diam-Diam Rusak Mental Anak Menurut Psikolog

Ciri Kepribadian Orang yang Suka Rewatch Drama atau Film, Kamu Salah Satunya?

Resep Teh Viral ala Teazzi, Bikinnya Gampang!

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK