PARENTING
Mengenal Underparenting, Pola Asuh Minim Keterlibatan pada Anak
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Jumat, 22 May 2026 18:50 WIBDalam menjalani peran sebagai orang tua, rasa khawatir terhadap anak memang kerap terjadi begitu saja. Mulai dari soal makanan, sekolah, sampai apakah Si Kecil benar-benar menikmati masa kecilnya dengan bahagia.
Saat anak terlihat bosan di rumah, banyak orang tua langsung merasa harus mencari kegiatan baru untuk mereka. Tanpa sadar, kita jadi ingin terus mengatur hampir semua hal dalam keseharian mereka.
Namun belakangan, ada pengasuhan yang mulai banyak dibicarakan, yaitu underparenting. Gaya pengasuhan ini membuat banyak orang mulai mempertanyakan, apakah anak memang harus selalu diarahkan dalam setiap hal?
Sebagian orang menilai, sesekali memberi ruang pada anak justru bisa membantu mereka belajar banyak hal sendiri. Sebenarnya, seperti apa sih underparenting itu, Bunda?
Mengenal underparenting
Dikutip dari laman Parents, underparenting dijelaskan sebagai pengasuhan dengan keterlibatan orang tua yang lebih minim, di mana anak diberi lebih banyak ruang untuk mencoba, mengeksplorasi, hingga belajar dari kesalahan mereka sendiri.
Meski begitu, orang tua harus tetap hadir untuk memberikan dukungan secara emosional dan arahan bila memang dibutuhkan.
Seorang psikolog klinis sekaligus asisten profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Duke, Breanna Dede, menjelaskan bahwa konsep ini sejalan dengan pola pengasuhan yang responsif.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini tidak hanya soal menetapkan aturan saja, tetapi juga memberi ruang untuk melihat apa yang sebenarnya dibutuhkan anak.
"Berbeda dengan hanya menetapkan semua aturan, aktivitas, dan harapan ini, pendekatannya lebih ke arah menunggu dan melihat atau bersantai, membiarkan anak menunjukkan kepada orang tua apa yang mereka butuhkan," jelasnya.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh psikolog klinis dari University of Southern California, Darby Saxbe. Ia menyampaikan bahwa underparenting bukan berarti membiarkan anak sepenuhnya tanpa arahan dari orang tua.
Menurutnya, konsep ini lebih pada kemampuan orang tua untuk mengetahui kapan harus turun tangan dan kapan sebaiknya memberi anak ruang untuk belajar sendiri.
Penerapan underparenting dalam keseharian anak
Menurut Saxbe, underparenting dalam keseharian bisa terlihat dari kegiatan bersama anak. Seperti mengajak mereka berbelanja, melibatkan dalam pekerjaan rumah, atau memberi anak kesempatan untuk bermain.
Namun, bukan berarti orang tua harus selalu mengisi setiap waktu anak dengan kegiatan. Justru, ada ruang untuk membiarkan anak menikmati waktu tenangnya tanpa harus selalu diarahkan.
Saxbe juga menyebut konsep ini mirip dengan slow parenting, yaitu pola asuh yang lebih fleksibel. Orang tua tetap bisa menyesuaikan keadaan tanpa harus selalu mengikuti jadwal yang padat.
Sementara itu, psikolog Dede mengatakan bahwa underparenting juga memberi ruang bagi anak untuk belajar dari keseharian mereka. Salah satunya ketika anak menghadapi konsekuensi dari pilihan yang mereka ambil.
Dede mencontohkan ketika anak menolak memakai jaket di cuaca yang dingin, orang tua bisa membiarkan mereka merasakan akibat dari keputusan tersebut.
"Orang tua bisa menetapkan konsekuensi seperti mengambil gadget, atau ada konsekuensi seperti, 'Oke, jangan pakai jaket hujan, kamu keluar nanti akan basah kuyup,'" ujarnya.
Apakah underparenting bermanfaat bagi tumbuh kembang anak?
Dikutip dari laman Parents, pola asuh ini disebut-sebut dapat mendukung kesejahteraan emosional anak dalam beberapa hal, seperti:
1. Membantu anak belajar memecahkan masalah
Underparenting dapat membantu anak lebih terlatih dalam menghadapi masalah sehari-hari, Bunda. Saat mereka dibiarkan belajar dari kesalahan, anak jadi lebih paham tentang hubungan antara tindakan dan konsekuensinya.
2. Mengasah kreativitas dan kesadaran diri anak
Waktu bermain tanpa banyak aturan dan tidak selalu diisi kegiatan bisa memberi ruang bagi anak untuk melakukan banyak hal. Sebab itu, anak juga lebih bebas mengenal diri dan mengembangkan kreativitasnya sendiri.
3. Menumbuhkan kemandirian dan rasa percaya diri
Dengan diberi kesempatan untuk mencoba sendiri, anak pun belajar bahwa mereka mampu menyelesaikan hal-hal tanpa selalu dibantu oleh Bunda. Lambat laun, hal ini bisa membangun rasa percaya diri mereka.
Tips menerapkan underparenting dalam keseharian
Menurut psikolog Dede, menerapkan pola asuh ini sebaiknya dilakukan secara bertahap. Orang tua bisa mulai dengan melihat bagian mana yang selama ini terlalu banyak diatur atau terlalu sering ikut campur.
"Saya akan mendorong orang tua untuk melakukannya secara bertahap. Orang tua tidak akan bisa melakukan transisi dalam semalam," jelasnya.
Dalam hal ini, ia membagikan cara yang dapat membantu orang tua untuk mulai menerapkan underparenting, seperti:
1. Memberi kelonggaran pada diri sendiri
Dede menyampaikan bahwa orang tua mungkin akan merasa sulit saat ingin mengurangi keterlibatan dalam beberapa momen penting anak. Karena itu, Bunda dan Ayah dianjurkan untuk tidak keras pada diri sendiri ketika ada hal yang tidak berjalan sempurna.
2. Fokus pada satu hal terlebih dahulu
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah memilih satu hal yang ingin diperbaiki, misalnya mengurangi kegiatan yang bikin anak terlalu lelah atau tertekan.
3. Mendukung dan mengapresiasi perkembangan anak
Selanjutnya, orang tua tetap perlu hadir dengan cara merayakan hal yang berhasil dilakukan anak sendiri, seperti memakai sepatu atau mengambil camilan.
Enggak cuma itu, orang tua juga bisa memberikan dukungan saat anak sedang mengalami kesulitan.
4. Menjelaskan perubahan kepada anak
Sebagai orang tua, kita harus berbicara dengan anak mengenai perubahan pengasuhan yang dilakukan. Bukan tanpa alasan, hal ini agar mereka bisa paham tujuan di balik perubahan tersebut, sehingga mereka pun bisa tumbuh mandiri dan percaya diri.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
7 Tanda Anak Tumbuh Bahagia Berkat Pola Asuh Orang Tua yang Hebat
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
5 Tips Memahami Perkembangan Emosional Anak
7 Pertanyaan Sederhana yang Membuat Bunda Lebih Dekat dengan Si Kecil
Anak Tak Mau Ditinggalkan dan Cemas Berpisah, Harus Bagaimana?
Tips Agar Anak Tak Jadi Pelampiasan Emosi Bunda
TERPOPULER
Deretan Bunda Seleb Bareng Anaknya yang Jadi Dokter
Keluarga dengan 1 Penghasilan Makin Sulit Bertahan, Ini Alasannya Menurut Pakar
5 Warna Ini Sering Dipakai Orang Pemikir Tingkat Tinggi Menurut Psikologi
Cara Membuat Cheesecake Lembut dan Creamy, Resep Mudah untuk Pemula
Refleks Moro pada Bayi: Kenali Penyebab, Tanda & Cara Mengatasinya
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Portable Solar Generator untuk Cadangan Listrik di Rumah
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Stiker Label Nama Buku Tulis & Pelajaran yang Aesthetic hingga Lucu
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Teko Pemanas Air Listrik Terbaik dengan Watt Kecil
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Rekomendasi Merek Sabun Mandi untuk Ibu Hamil yang Aman
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Hair Mask untuk Rambut Kering dan Rusak
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
5 Potret Alyssa Daguise Ajak Baby Soleil Pertama Kali Berenang di Usia 3 Bulan
Keluarga dengan 1 Penghasilan Makin Sulit Bertahan, Ini Alasannya Menurut Pakar
Deretan Bunda Seleb Bareng Anaknya yang Jadi Dokter
Cara Membuat Cheesecake Lembut dan Creamy, Resep Mudah untuk Pemula
Refleks Moro pada Bayi: Kenali Penyebab, Tanda & Cara Mengatasinya
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Kabel Charger Numpuk di Tas? Ini Cara Pilih Cable Organizer yang Pas
-
Beautynesia
3 Kebiasaan ala Orang Korea untuk Terbebas dari Perut Buncit, Mudah Ditiru!
-
Female Daily
Cari Lip Product Halal? Ini 5 Rekomendasi Produk dari Wardah yang Wajib Ada di Pouch Makeup!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Hasil Hubungan Gelap, Nasib Hak Waris Anak Kim Min Hee Tuai Perdebatan
-
Mommies Daily
Dari Agent Kim Reactivated, Ini 10 Pelajaran Parenting yang Bisa Dipetik Orang Tua