Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

7 Ucapan Orang Tua yang Niatnya Baik tapi Bisa Melukai Mental Anak

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Sabtu, 13 Jun 2026 19:40 WIB

7 Ucapan Orang Tua yang Niatnya Baik tapi Bisa Melukai Mental Anak
Ilustrasi Ucapan Orang Tua yang Niatnya Baik tapi Bisa Melukai Mental Anak/Foto: Getty Images/iStockphoto/Rawpixel
Daftar Isi
Jakarta -

Setiap orang tua pasti ingin anaknya tumbuh jadi pribadi yang percaya diri dan selalu bahagia. Namun dalam keseharian, cara bicara orang tua bisa punya dampak yang tidak disangka pada perasaan anak.

Tanpa kita ketahui, ada kalimat yang sering kita ucapkan justru bisa membekas di hati anak. Apalagi di masa tumbuh kembang, anak masih sangat peka dengan kata-kata dari orang terdekatnya.

Niatnya memang baik, seperti ingin menasihati atau memberi dorongan supaya anak lebih semangat. Jika penyampaiannya kurang tepat, anak malah merasa tertekan atau jadi ragu sama dirinya sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Maka dari itu, penting sekali untuk lebih hati-hati dalam memilih kata saat berbicara dengan anak. Yuk, kita simak beberapa ucapan orang tua yang niatnya baik tapi bisa melukai mental anak.

Ucapan orang tua yang niatnya baik tapi bisa melukai mental anak

Menilik dari laman The Times of India, berikut ini beberapa ucapan orang tua yang niatnya baik, tetapi tanpa disadari bisa melukai mental anak. Berikut selengkapnya:

1. "Kamu pintar sekali!"

Meski memuji anak dengan kalimat seperti "kamu pintar sekali" terdengar positif, hal ini bisa membuat anak mengaitkan harga dirinya hanya dengan kepintaran. Lambat laun, anak menjadi takut salah atau enggan mencoba hal baru.

Kalau anak terus-menerus disebut pintar, mereka merasa harus selalu terlihat sempurna. Hal ini juga membuat mereka jadi takut salah dan menghindari tantangan yang sebenarnya bagus untuk perkembangan mereka.

Para ahli menyarankan agar orang tua lebih fokus pada usaha anak daripada hasil akhirnya, Bunda.

2. "Mengapa kamu tidak bisa lebih seperti kakak/adikmu?"

Membandingkan anak-anak, bahkan secara halus sekalipun, dapat merusak harga diri mereka. Hal itu membuat anak merasa tidak mampu dan memicu persaingan antar saudara kandungnya.

Saat anak terus dibandingkan, mereka bisa merasa tidak cukup baik dan kehilangan rasa percaya diri. Bunda perlu tahu, setiap anak sebenarnya punya kelebihan dan karakter yang berbeda-beda.

Oleh karena itu, lebih baik fokus pada perkembangan masing-masing anak agar mereka merasa dihargai apa adanya. Misalnya dengan mengatakan, "Bunda bangga dengan cara kamu mengatasi situasi itu" atau "Kamu benar-benar telah meningkat dalam hal ini".

3. "Ini bukan masalah besar, berhentilah menangis"

Ketika anak menangis karena hal yang terlihat kecil, orang tua biasanya langsung ingin menenangkan dengan cara cepat. Padahal bagi anak, perasaan itu tetap terasa besar, Bunda.

Jika emosi mereka diabaikan, anak pun belajar menahan perasaan tanpa mengetahui bagaimana cara mengaturnya. Lama-kelamaan, mereka jadi sulit mengenali apa yang sebenarnya mereka rasakan.

Lebih baik, Bunda memberi ruang supaya anak merasa didengar dan dipahami terlebih dulu. Kabar baiknya, anak belajar bahwa semua perasaan itu wajar dan boleh disampaikan.

4. "Kamu bisa berbuat lebih baik lain kali"

Meskipun ungkapan ini terdengar seperti menyemangati, kadang anak justru menangkapnya sebagai tanda bahwa usahanya belum cukup. Mereka merasa apa yang sudah dilakukan belum dihargai sepenuhnya.

Padahal, anak yang sudah berusaha tetap butuh pengakuan atas proses yang dijalani, bukan hanya hasil akhirnya. Jika terlalu sering diarahkan untuk "lebih baik lagi", anak bisa merasa selalu kurang.

Sebagai gantinya, orang tua dapat mengatakan, "Bunda bisa melihat seberapa besar usaha yang telah kamu lakukan" atau "Apa yang kamu pelajari dari ini?".

5. "Biar Bunda yang melakukannya untukmu"

Selanjutnya, orang tua cukup sering mengatakan ini atas dasar cinta, ingin menyelamatkan anak mereka dari frustrasi. Namun, campur tangan terus-menerus justru menghilangkan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar kemandirian.

Dalam hal ini, Bunda bisa membimbing mereka dengan mengatakan, "Bunda akan membantumu mencari solusinya" atau "Kamu bisa mencobanya, dan Bunda akan ada di sini jika kamu membutuhkan".

6. "Karena Bunda yang bilang begitu"

Meskipun sering dipakai saat ingin menegaskan aturan, kalimat ini justru membuat anak berhenti bertanya dan tidak mengerti alasan di balik keputusan tersebut.

Jika dibiarkan terus, anak jadi terbiasa menerima aturan tanpa tahu makna atau tujuannya. Hal ini juga bisa membuat mereka kurang terbiasa untuk berpikir kritis, Bunda.

Akan lebih baik jika orang tua memberi penjelasan tentang alasan di balik aturan. Misalnya, "Kita lakukan ini supaya lebih aman" atau "Ini supaya semua di rumah tetap nyaman".

7. "Jangan takut atau tidak ada yang perlu ditakutkan"

Orang tua biasa mengatakan kalimat ini untuk menenangkan anak yang sedang merasa takut. Meskipun niatnya baik, anak bisa saja merasa bahwa rasa takut yang ia alami itu tidak wajar.

Hal seperti ini tentu membuat anak merasa malu dengan perasaannya sendiri. Anak jadi berpikir bahwa ia tidak seharusnya takut, padahal setiap orang bisa merasakan hal tersebut.

Sebaiknya, orang tua perlu mengakui perasaan anak terlebih dahulu. Misalnya dengan mengatakan, "Bunda mengerti kamu merasa takut, tapi Bunda ada di sini menemanimu".

Itulah penjelasan terkait ucapan orang tua yang niatnya baik, tetapi tanpa disadari bisa berdampak pada kondisi emosional dan mental anak. Semoga bisa membantu, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda