PARENTING
Mengenal Velcro Kid, Ketika Anak Nempel Terus Menerus Sama Orang Tua
Kinan | HaiBunda
Senin, 22 Jun 2026 16:30 WIBPernahkah Bunda merasa Si Kecil selalu ingin berada di dekat Bunda, bahkan sulit ditinggal sebentar untuk melakukan aktivitas lain? Jika ya, ini disebut dengan 'velcro kid'.
Istilah velcro kid muncul untuk anak yang sangat melekat pada orang tua atau pengasuh utamanya. Awalnya mungkin terlihat lucu dan menggemaskan, tetapi seiring waktu situasi ini rentan membuat orang tua kelelahan.
Sebenarnya perilaku ini merupakan salah satu bagian normal dari perkembangan anak, terutama pada masa bayi dan balita. Namun, anak tetap perlu dibiasakan untuk belajar lebih mandiri sesuai usianya.
Apa itu velcro kid?
Menurut psikolog anak, Danika Perry, PsyD, velcro kid adalah situasi di mana anak mengalami kesulitan untuk berpisah dari orang tua atau pengasuhnya. Pada anak usia bayi, balita, dan prasekolah, Perry menyebut bahwa perilaku melekat ini sebenarnya wajar.
Hal yang sama juga dikatakan psikolog klinis, Vanessa Kennedy, PhD. "Bayi biasanya lebih membutuhkan perhatian dan kedekatan orang tua secara terus-menerus karena mereka mencari rasa aman dan kenyamanan," ujarnya dikutip dari Parents.
Perilaku terlalu melekat ini juga dapat terjadi karena bayi belum mengembangkan kemampuan yang disebut object permanence (pemahaman bahwa suatu objek tetap ada meskipun tidak terlihat). Artinya, mereka belum mampu memahami bahwa ketika Bunda menjauh dari mereka, sebenarnya Bunda tetap masih ada.
"Kemampuan ini biasanya berkembang sekitar usia 9 bulan," imbuh Kennedy.
Tanda-tanda velcro kid
Dikutip dari Huffington Post, ada beberapa tanda velcro kid yang bisa menjadi perhatian orang tua. Salah satunya saat masih bayi, anak tidak ingin diletakkan dan selalu ingin digendong.
Bahkan secara spesifik, bayi hanya mau tidur di pelukan Bunda saja. Ia tidak mau digendong dengan orang lain.
Begitu juga jika Bunda meletakkannya di area bermain, kemungkinan besar ia akan menangis sampai Bunda menggendongnya kembali.
Seiring bertambahnya usia dan mulai aktif bergerak, Bunda mungkin juga akan merasa sangat kesulitan untuk meninggalkan anak meski sebentar saja.
Anak ingin selalu duduk di pangkuan Bunda, tidur di dekat Bunda, bahkan ada juga yang hanya bisa tenang jika ia menyentuh bagian tubuh Bunda. Misalnya tangan atau kaki.
Penyebab perilaku velcro kid
Setelah melewati masa bayi, alasan mengapa beberapa anak menjadi sangat melekat pada orang tua terkadang tak jelas. Sebagian anak tetap menempel pada orang tua, sementara yang lain dapat berkembang menjadi lebih mandiri.
"Tidak ada hubungan langsung antara ikatan saat usia bayi dengan perilaku mereka saat tumbuh besar," ujar Perry.
Perilaku keterikatan berkembang seiring dengan temperamen anak, lingkungan, dan hubungan antara orang tua dan anak.
Bayi yang tampak nyaman bereksplorasi sendiri atau tidak mengalami kesulitan saat berpisah dengan orang tua, bisa saja nantinya jadi lebih melekat di kemudian hari akibat perubahan perkembangan atau tekanan hidup seperti saat mulai sekolah.
Sebaliknya, anak yang sangat melekat saat bayi juga bisa tumbuh menjadi anak yang mandiri. Dengan kata lain, kedua pola perilaku ini dapat berubah-ubah seiring waktu.
Benarkah velcro kid dapat memengaruhi psikis orang tua?
Fase melekat ini sebenarnya dapat membawa kebahagiaan dan kepuasan bagi orang tua karena merasa dibutuhkan. Namun setiap orang memiliki batasannya masing-masing, termasuk untuk menjalani aktivitas sehari-hari lainnya.
Efek velcro kid yang selalu 'menempel' ini dapat menimbulkan dampak negatif pada kesehatan mental orang tua, termasuk kelelahan emosional dan stres.
Seiring waktu, kurangnya ruang pribadi secara terus-menerus dapat berkontribusi terhadap kelelahan berat (burnout), kecemasan, atau perasaan bersalah.
Salah satu cara menghadapi perubahan perasaan yang kompleks ini adalah dengan mengingat bahwa fase anak yang sangat melekat seperti ini hanyalah sementara. Hal lain yang dapat dilakukan orang tua untuk mengatasi kelelahan emosional akibat velcro kid di antaranya:
1. Mencari dukungan sekitar
Bunda bisa mencari bantuan dan dukungan dari lingkungan sekitar, termasuk dari sesama orang tua lain. Ini penting untuk mendapatkan validasi dan dukungan emosional.
2. Luangkan waktu untuk diri sendiri
Meski hanya 5 menit, beristirahat dari situasi yang terlalu menstimulasi akibat velcro kid dapat memberi efek positif.
3. Berbagi peran saat masa transisi
Beri kesempatan pada suami untuk ikut terlibat dalam pengasuhan anak. Ini bisa menjadi kesempatan bagi Bunda untuk istirahat, sambil berbagi tugas.
Cara mengatasi perilaku anak yang terlalu melekat
Perlu dipahami bahwa anak perlu mengembangkan kemandirian dan belajar memahami batasan yang sehat. Beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak yang kesulitan berpisah antara lain:
1. Dorong kemandirian anak
Bahkan untuk momen-momen kecil ketika anak berhasil melakukan sesuatu sendiri, penting untuk mengakuinya dan memberikan apresiasi.
2. Tetapkan rutinitas yang dapat diprediksi
Perry menjelaskan bahwa konsistensi dalam aktivitas sehari-hari, termasuk mengantar anak di pagi hari, waktu makan, dan waktu tidur, membantu mereka merasa aman dan mengurangi kecemasan.
3. Tunjukkan contoh perpisahan yang tenang
Orang tua perlu memperkenalkan anak dengan momen perpisahan singkat yang tenang dan menyenangkan. Yakinkan anak bahwa berpisah sementara adalah hal yang aman.
4. Lakukan secara bertahap
Cobalah memulai dengan perpisahan singkat, lalu secara bertahap perpanjang durasinya. Hal ini juga dapat membantu anak membangun rasa percaya diri.
5. Tepati janji pada anak
Jika Bunda mengatakan pada anak berapa lama akan pergi, pastikan untuk berupaya menepati ucapan tersebut. Selain membantu membangun rasa percaya, ketepatan ini juga bisa mengurangi kecemasan akibat perpisahan pada anak.
6. Tunjukkan batasan yang sehat
Biarkan anak mengetahui bahwa Bunda juga berhak memiliki ruang pribadi, serta kebutuhan setiap orang sama pentingnya. Hal ini menjadi contoh ekspresi emosi yang sehat, sekaligus mengajarkan anak untuk menghormati batasan orang lain.
7. Validasi emosi anak
Bunda dan Ayah perlu mengakui perasaan anak tanpa terlalu mengutamakan ketakutannya. Sebagai contoh, Bunda dapat mengatakan sesuatu seperti, 'Bunda tahu kamu cemas saat melihat Bunda pergi, tetapi Bunda akan kembali lagi nanti'.
Tanda-tanda perilaku melekat anak perlu diwaspadai
Sebagian besar anak akan melewati fase velcro kid ini dengan sendirinya, Bunda. Di usia prasekolah dan usia TK, anak-anak mungkin masih menunjukkan perilaku lebih melekat dalam situasi tertentu yang baru atau terasa menantang.
Namun hal yang perlu diingat, jika anak yang berusia lebih dari 7 atau 8 tahun masih terus-menerus mengalami kesulitan untuk berpisah, itu bisa menjadi tanda adanya masalah yang lebih serius.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi:
- Tiba-tiba menjadi sangat melekat, terutama setelah suatu peristiwa tertentu (ini dapat menjadi tanda adanya masalah seperti perundungan atau bullying).
- Kesedihan yang berat atau berkepanjangan saat berpisah dari orang tua.
- Muncul keluhan fisik seperti sakit perut, sakit kepala, atau mual yang berkaitan dengan perpisahan dengan orang tua.
- Perilaku menghindar, termasuk menghindari sekolah, waktu bersama teman, dan aktivitas yang sebelumnya disukai anak.
- Emosi yang sangat intens, termasuk berupa kekhawatiran berlebihan terhadap keselamatan orang tua atau dirinya sendiri saat berpisah.
- Semakin agresif, sangat menentang, atau bahkan menyakiti diri sendiri.
Itulah penjelasan tentang apa itu velcro kid. Meski situasi ini wajar terjadi pada usia bayi dan balita, berikan perhatian lebih jika tetap muncul walaupun anak sudah memasuki usia sekolah lebih lanjut.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
7 Kalimat yang Bikin Anak Minder Seumur Hidup
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
5 Ciri Growth Spurt yang Terjadi Pada Bayi dan Cara Mudah Mengatasinya
5 Tahap Perkembangan Anak Sesuai Usia, Kenali Strategi Pengasuhannya
Perkembangan Bayi 4 Bulan, Lebih Ekspresif dan Suka Bermain
Beda Pertumbuhan Anak Perempuan x Anak Lelaki
TERPOPULER
Cara Mengenali Orang Elegan dan Punya Kecerdasan Tinggi dari Ucapan Sehari-hari
Fimosis pada Anak Laki-Laki: Ketahui Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya
Viral Kisah Bayi 3 Bulan di China Masuk ICU Usai Minum Susu Dicampur Jus Sayuran
Lebih Sering Berantem saat Punya Anak, Normalkah?
3 Cara Membuat Pepes Ayam Kemangi yang Gurih dan Harum, Dijamin Bikin Lahap Makan
REKOMENDASI PRODUK
7 Lap Microfiber Terbaik untuk Membersihkan Rumah, Motor, dan Mobil
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Panci Set yang Bagus dan Berkualitas Anti Lengket
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Buku Tulis Sekolah Anak yang Bagus dan Tidak Mudah Rusak
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Powerbank CCC dan Fast Charging, Cocok buat Pertolongan saat Mati Lampu
asaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Serum untuk Rambut Rontok, Bantu Perkuat Akar
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Potret Ashanty & Anang Wisuda Bareng Azriel, Raih Gelar S2 hingga S3
Cerita Bunda Trauma usai Keguguran, Tak Dapat Bantuan Medis & Diminta Simpan Janin di Kulkas
Fimosis pada Anak Laki-Laki: Ketahui Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya
Cara Mengenali Orang Elegan dan Punya Kecerdasan Tinggi dari Ucapan Sehari-hari
Lebih Sering Berantem saat Punya Anak, Normalkah?
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Lirik Lagu Lemon Tang - Hearts2Hearts
-
Beautynesia
4 Cara Stop Menjadi Orang yang Nggak Enakan saat Kamu Menetapkan Batasan
-
Female Daily
Sudah Coba Plogging? AMOREPACIFIC Indonesia Ajak Berolahraga Seru yang Sekaligus Bikin Lingkungan Makin Bersih
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Eks Wali Kota Jadi Viral karena Gaya Seksi Saat Piala Dunia: Beginilah Meksiko
-
Mommies Daily
Biar Nggak Terlihat Tua, Hindari 7 Warna Rambut Ini untuk Usia 40an!