HaiBunda

PARENTING

7 Kalimat Orang Tua Zaman Dulu yang Ternyata Buruk untuk Perkembangan Anak

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Sabtu, 20 Jun 2026 20:40 WIB
Ilustrasi Kalimat Orang Tua Zaman Dulu yang Ternyata Buruk untuk Perkembangan Anak/Foto: Getty Images/golfcphoto
Jakarta -

Perubahan cara orang tua dalam mendidik anak kerap menjadi bahan obrolan yang menarik untuk diikuti, terlebih bagi Bunda yang mengikuti perkembangan parenting masa kini.

Setiap generasi memang memiliki pola asuh yang berbeda sesuai zamannya. Namun, perbedaan itu tak jarang memunculkan kebiasaan lama yang masih terbawa sampai sekarang.

Seorang psikolog berlisensi dari Thriveworks, Dr. Crystal Saidi, Psy.D., menjelaskan bahwa pola pengasuhan seharusnya ikut berkembang. Menurutnya, bahasa yang digunakan orang tua punya pengaruh terhadap perasaan anak.


"Pola pengasuhan harus berkembang seiring dengan budaya, norma masyarakat, dan perkembangan psikologis," ujar Saidi, menilik dari laman Parade.

"Saat ini, kita lebih memahami dari sebelumnya bahwa bahasa membentuk bagaimana anak-anak merasakan rasa aman dan keterhubungan. Kita harus beradaptasi dan lebih memperhatikan kata-kata yang kita gunakan dengan anak-anak," katanya.

Saidi juga menuturkan bahwa setiap generasi tumbuh dengan kebiasaan yang berbeda, termasuk Baby Boomer yang lahir setelah Perang Dunia II. Cara mereka dibesarkan lebih fokus pada ketahanan dan kerja keras.

Karena perbedaan itu, ungkapan lama dalam pengasuhan masih digunakan sampai sekarang, meski sudah dianggap kurang tepat. Melihat hal ini, Saidi memaparkan kalimat orang tua zaman dahulu yang ternyata berdampak kurang baik bagi perkembangan anak.

Kalimat orang tua zaman dulu yang ternyata buruk untuk perkembangan anak

Psikolog Saidi membagikan sejumlah ungkapan orang tua zaman dahulu yang ternyata dapat berdampak kurang baik bagi perkembangan anak. Berikut penjelasannya yang dikutip dari Parade.

1. "Karena Bunda bilang begitu"

Salah satu ungkapan yang digunakan orang tua zaman dahulu adalah kalimat untuk menutup pertanyaan anak tanpa memberi alasan yang jelas. Ungkapan seperti ini sudah terbiasa diucapkan dari generasi ke generasi.

Saidi menjelaskan bahwa ungkapan tersebut dipakai agar orang tua lebih mudah mengarahkan anak di rumah. Tujuannya supaya aturan bisa berjalan dengan baik.

"Ungkapan ini digunakan untuk menegakkan otoritas, terutama di rumah tangga di mana kepatuhan terkait dengan ketertiban," jelasnya.

Namun, cara seperti ini kini dianggap kurang sesuai dengan pendekatan pengasuhan saat ini. Anak-anak lebih membutuhkan penjelasan agar mereka tahu alasan di balik aturan yang diberikan.

"Namun, saat ini ungkapan itu bisa terasa meremehkan. Generasi muda menghargai penjelasan karena itu membangun kepercayaan, bukan pembangkangan," katanya.

2. "Kamu baik-baik saja"

Saidi menjelaskan bahwa orang tua zaman dahulu menggunakan ungkapan tersebut agar lebih kuat dan tidak bereaksi berlebihan terhadap suatu keadaan.

"Orang tua zaman dahulu sering menggunakan hal ini untuk mendorong ketahanan dan mencegah anak-anak bereaksi berlebihan," kata Saidi.

Namun, kebiasaan seperti ini bisa saja membuat anak merasa tidak divalidasi, Bunda. Bahkan, anak bisa jadi meragukan apa yang mereka rasakan sendiri.

"Meskipun niatnya baik, hal itu secara tidak sengaja dapat mengabaikan ketidaknyamanan emosional atau fisik dan membuat anak-anak meragukan sinyal internal mereka sendiri," ujar Saidi.

3. "Orang lain memiliki nasib yang lebih buruk"

Maksud sebenarnya dari ungkapan ini sering kali tidak tersampaikan dengan baik dalam percakapan sehari-hari. Saidi mengatakan bahwa kalimat ini digunakan untuk membantu anak melihat keadaan dari sudut pandang lain.

"Ungkapan ini digunakan untuk mendorong rasa syukur dan perspektif, terutama di era ekonomi yang tidak stabil," ungkapnya.

Namun, ia menjelaskan bahwa ungkapan ini dapat membuat perasaan anak tidak diakui. Anak merasa seolah-olah rasa sakitnya boleh dirasakan kalau ada orang lain yang mengalami hal lebih berat.

"Namun, secara emosional, ungkapan ini meremehkan rasa sakit yang sebenarnya, dengan menyiratkan bahwa rasa sakit hanya valid jika itu adalah jenis rasa sakit terburuk yang mungkin terjadi," jelas Saidi.

4. "Berhentilah menangis"

Menangis adalah reaksi alami manusia saat merasakan sedih, kecewa, atau lelah, Bunda. Namun, banyak orang tua dahulu yang meminta anak untuk segera berhenti menangis dalam berbagai situasi.

Hal ini kemudian menjadi kebiasaan yang terbawa dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sehingga, ungkapan tersebut masih kerap terdengar sampai sekarang.

Saidi menuturkan bahwa saat seseorang mampu mengendalikan dan menahan emosinya sendiri itu dianggap sebagai bentuk kedewasaan.

"Pada generasi sebelumnya, pengendalian dan pengekangan emosi dipandang sebagai kedewasaan," kata Saidi.

"Anak-anak didorong untuk 'menjadi lebih tegar', dan menangis dianggap sebagai kelemahan. Saat ini, ungkapan ini dapat terasa memalukan bagi anak-anak dan mengajarkan mereka bahwa emosi mereka tidak dapat diterima," ujarnya.

5. "Jangan terlalu sensitif"

Selanjutnya, Saidi mengatakan bahwa orang tua zaman dahulu menggunakan kalimat ini untuk membentuk ketangguhan emosi pada anak. Ungkapan ini ada karena pengalaman hidup di masa pascaperang.

Banyak dari mereka yang kemudian menerapkannya kembali pada anak-anak sendiri. Terlebih dengan masa konflik seperti perang Vietnam yang masih membekas, sehingga cara pandang itu turut terbawa dalam pengasuhan.

6. "Begitulah kehidupan"

Dalam keseharian, ungkapan ini seolah menegaskan bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai dengan harapan. Maka dari itu, anak hanya diminta untuk menerima dan bertahan dengan keadaan yang terjadi.

Namun, Saidi menegaskan bahwa meski sikap untuk bertahan itu penting, penggunaan ungkapan ini bisa berdampak kurang baik. Anak kurang terbiasa mengatur emosi dan mencari solusi dari masalah yang dihadapi.

"Meskipun ketahanan itu berharga, pola pikir ini dapat menghambat pemrosesan emosi dan pemecahan masalah jika terlalu sering digunakan," tuturnya.

7. "Jangan sampai Bunda bikin kamu menangis"

Ada ungkapan lama yang mungkin masih sesekali terdengar saat orang tua sedang emosi kepada anak. Salah satunya adalah "Jangan sampai Bunda bikin kamu menangis," atau "Nanti Bunda bikin kamu nangis,".

Psikolog Saidi menjelaskan bahwa ungkapan tersebut berasal dari model disiplin yang berakar pada rasa takut dan kepatuhan, Bunda.

"Ungkapan ini berasal dari model disiplin yang berakar pada rasa takut dan kepatuhan," katanya.

Ia menambahkan bahwa kalimat seperti ini dapat meninggalkan kesan kurang baik pada anak hingga dewasa. Mereka dapat tumbuh dengan ingatan bahwa mengekspresikan emosi bukanlah hal yang baik.

"Ungkapan ini dapat terus melekat pada anak-anak dewasa sebagai pengingat bahwa mengekspresikan emosi dulunya terasa tidak aman," ujar Saidi.

Itulah beberapa kalimat orang tua zaman dahulu yang ternyata dapat berdampak kurang baik bagi perkembangan anak.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

5 Hal yang Diingat Anak Seumur Hidup dari Orang Tua

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Momen Ultah Arash Anak Aaliyah Massaid Dirayakan Bareng Keluarga, Tak Ada Pesta Mewah

Parenting Nadhifa Fitrina

Pantai Italia Larang Pengunjung Usia 10-65 Tahun Pakai Payung, Alasan di Baliknya Curi Perhatian

Mom's Life Amira Salsabila

7 Kalimat Orang Tua Zaman Dulu yang Ternyata Buruk untuk Perkembangan Anak

Parenting Nadhifa Fitrina

Photoshoot Romantis Shenina Cinnamon & Angga Yunanda di Kehamilan Anak Pertama

Kehamilan Annisa Karnesyia

Ikuti jejak Ayah! Diva Anak Shandy Sjariff Jajaki Modeling, Wajah dan Tinggi Curi Perhatian

Parenting Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Momen Ultah Arash Anak Aaliyah Massaid Dirayakan Bareng Keluarga, Tak Ada Pesta Mewah

Pantai Italia Larang Pengunjung Usia 10-65 Tahun Pakai Payung, Alasan di Baliknya Curi Perhatian

Photoshoot Romantis Shenina Cinnamon & Angga Yunanda di Kehamilan Anak Pertama

7 Kalimat Orang Tua Zaman Dulu yang Ternyata Buruk untuk Perkembangan Anak

Makin Dekat dengan Idol Favorit, Allo Bank dan Weverse Hadirkan Cara Baru Top-Up Jelly dengan Rupiah

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK