HaiBunda

PARENTING

Mengenal Hero Child Syndrome saat Anak Merasa Harus Selalu Kuat

Asri Ediyati   |   HaiBunda

Selasa, 23 Jun 2026 20:20 WIB
Hero child syndrome/ Foto: Getty Images/staticnak1983

Bunda pernah dengar hero child syndrome? Hero child syndrome adalah ketika anak tumbuh dalam kondisi psikologis yang membuat mereka merasa harus selalu kuat, berprestasi.

Namun, sebelum lebih jauh membahasnya, perlu dipahami bahwa sejatinya setiap anggota memiliki masing-masing peran dalam sebuah keluarga, termasuk anak-anak.

Pada keluarga yang sehat, peran-peran itu bisa fleksibel dan kemungkinan didasarkan pada perbedaan kepribadian, minat, atau perilaku. Namun, dalam keluarga yang 'tidak sehat' atau dalam ranah psikologi disebut disfungsional, peran-peran ini memiliki tujuan yang berbeda.


Dalam keluarga disfungsional, peran-peran anggota keluarganya untuk membantu memulihkan keseimbangan dalam unit keluarga yang sedang kacau. Salah satu peran ini, yaitu hero child atau anak pahlawan.

Apakah hero child syndrome akan merugikan anak? Simak selengkapnya dalam artikel kali ini.

Hero child dalam keluarga

Dilansir Psychology Today, hero child adalah anggota keluarga yang berprestasi tinggi yang menggunakan pencapaian dan idealnya kesuksesannya untuk menjaga keutuhan keluarga.

Hero child termotivasi oleh penghargaan eksternal, biasanya pujian dari orang tua atau orang lain, dan mencapai apa pun yang mereka anggap sebagai kesuksesan.

"Anda mungkin berpikir, 'Lalu, apa yang salah dengan kesuksesan? Itu tidak terdengar begitu buruk….' Memang benar, peran anak pahlawan mungkin kurang terkait dengan gejala depresi di kemudian hari dibandingkan beberapa peran keluarga disfungsional," ungkap Lauren Dennelly Ph.D., LCSW, penulis The Mental Health of Girls and Women.

Namun, menurut Dennelly, peran pahlawan memiliki jebakan dan perjuangannya sendiri yang seringkali berlanjut hingga dewasa dan membentuk kepribadian dengan cara yang dapat bersifat maladaptif.

Dampak Hero Child Syndrome pada Anak

Dikutip dari Prospect Therapy, hero child atau anak pahlawan ini secara keliru diberi wewenang untuk mengurus segala sesuatu dan semua orang. Mereka biasanya muncul sebagai anak yang berprestasi tinggi dalam keluarga, berusaha mendapatkan persetujuan dan kekaguman dari orang tua.

Peran tersebut sering terbentuk dalam keluarga dengan harapan tinggi, atau di mana setidaknya satu orang tua tidak tersedia secara emosional, mendorong anak untuk mencari validasi melalui kesuksesan.

Hero child mungkin merasa bertanggung jawab untuk menjaga stabilitas keluarga, seringkali mengambil tanggung jawab yang signifikan di usia muda, yang dapat menumbuhkan rasa kompetensi dan kemampuan yang kuat. Namun, peran ini dapat menyebabkan tekanan dan perfeksionisme.

Hero child ketika dewasa

Sebagai orang dewasa, anak-anak yang alami hero child syndrome cenderung berprestasi tinggi secara berlebihan, seringkali mengacaukan harga diri mereka sendiri dengan apa yang telah mereka capai. Mereka bisa tidak menerima apa pun selain kesempurnaan dari diri mereka sendiri (dan terkadang orang lain), dan cenderung lebih cemas. 

Para atasan di tempat kerja biasanya menyukai mereka karena menyelesaikan pekerjaan dengan baik, teman-teman menghargai mereka karena selalu punya jawaban atau rencana. Tetapi di balik penampilan yang tampaknya mengagumkan ini, mungkin tersembunyi tubuh dan pikiran yang dilanda kepanikan, kebencian terhadap diri sendiri, dan kelelahan karena merasa tidak pernah cukup baik bagi diri mereka sendiri atau orang lain.

Dalam hubungan romantis kelak, hero child mungkin berjuang dengan kerentanan, takut bahwa nilai diri mereka terkait dengan pencapaian mereka. Misalnya, mereka mungkin memprioritaskan kebutuhan pasangan mereka daripada kebutuhan mereka sendiri, yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam hubungan.

Dalam pertemanan, mereka mungkin menjadi orang yang diandalkan untuk memberikan dukungan, seringkali mengabaikan kebutuhan emosional mereka sendiri. Secara profesional, mereka mungkin unggul dalam karier mereka tetapi mengalami kelelahan karena pengejaran kesuksesan yang tanpa henti dengan mengorbankan kebutuhan pribadi mereka.

Anak-anak yang memikul peran sebagai hero child sering tumbuh menjadi sosok yang berprestasi, namun rentan menerima kegagalan. Sebagai orang tua, Bunda dan Ayah mulai bisa mengarahkan anak agar tumbuh semestinya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

7 Kalimat yang Bikin Anak Minder Seumur Hidup

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

5 Potret Amaira Anak Farah Quinn Selalu Curi Perhatian, Terbaru Ikut Kompetisi Golf

Parenting Nadhifa Fitrina

Cara Mengenali Orang yang Diam-diam Mengagumi Kamu Tapi Takut Mengungkapkan

Mom's Life Nadhifa Fitrina

Ahli Meteorologi Dipecat Setelah Ambil Cuti saat Istri Melahirkan dan Bantu Urus Bayi

Kehamilan Indah Ramadhani

5 Warna Cat Pembawa Sial Menurut Pakar, Sebaiknya Dihindari untuk Kamar Tidur

Mom's Life Arina Yulistara

Mengenal Hero Child Syndrome saat Anak Merasa Harus Selalu Kuat

Parenting Asri Ediyati

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Cara Mengenali Orang yang Diam-diam Mengagumi Kamu Tapi Takut Mengungkapkan

5 Potret Amaira Anak Farah Quinn Selalu Curi Perhatian, Terbaru Ikut Kompetisi Golf

5 Warna Cat Pembawa Sial Menurut Pakar, Sebaiknya Dihindari untuk Kamar Tidur

Mengenal Hero Child Syndrome saat Anak Merasa Harus Selalu Kuat

Ahli Meteorologi Dipecat Setelah Ambil Cuti saat Istri Melahirkan dan Bantu Urus Bayi

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK