PARENTING
Waspadai, Hukuman Masa Kecil Ini Bisa Membekas hingga Dewasa Menurut Pakar
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Rabu, 01 Jul 2026 09:30 WIBMendidik anak memang bukan hal yang mudah bagi setiap orang tua. Dalam situasi tertentu, hukuman dipilih sebagai salah satu cara untuk mengajarkan disiplin pada anak dan memperbaiki perilakunya.
Dahulu, hukuman fisik cukup sering diterapkan dalam pola asuh di banyak keluarga. Padahal, pengalaman itu bisa terus diingat anak bahkan saat mereka sudah dewasa.
Meski terlihat sebagai cara mendisiplinkan anak, hukuman fisik seperti memukul atau menampar hingga kini masih ditemukan dalam beberapa keluarga. Bentuk disiplin ini melibatkan tindakan kekerasan fisik.
Dilansir dari laman Yahoo Health, banyak orang yang membagikan pengalaman mereka pernah dipukul oleh orang tua, kakek, dan nenek menggunakan berbagai benda rumah tangga. Mulai dari sendok kayu, ikat pinggang, sisir rambut, hingga benda lainnya.
Melihat data dari World Health Organization (WHO) dan UNICEF, bahwa sekitar 1,2 miliar anak usia 0 hingga 18 tahun mengalami hukuman fisik di rumah setiap tahunnya. Di beberapa negara yang dipantau, sebagian anak bahkan mengalami hukuman fisik berat dalam satu bulan terakhir.
Hukuman fisik di masa kecil bisa terbawa hingga dewasa
Seorang pekerja sosial klinis berlisensi dan terapis bersertifikasi di New York, Vanessa Williams, pengalaman mendapatkan hukuman fisik saat kecil dapat berpengaruh pada kehidupan seseorang ketika dewasa.
"Orang dewasa yang pernah mengalami hukuman fisik saat masih kecil mungkin mengembangkan kepekaan yang tinggi terhadap kritik atau konflik, bersamaan dengan konsep diri berbasis rasa malu yang memengaruhi rasa harga diri mereka," kata Williams.
Sejalan dengan hal tersebut, terapis pernikahan dan keluarga berlisensi di California, Chloe Bean, menjelaskan bahwa pengalaman menerima hukuman fisik saat kecil dapat membuat seseorang terbiasa menyimpan amarahnya sendiri.
"Banyak orang dewasa yang dibesarkan dengan hukuman fisik belajar memendam amarah mereka karena mengekspresikannya justru akan mendatangkan hukuman yang lebih berat," katanya.
Bean mengatakan bahwa kemarahan tersebut dapat terjadi dengan cara yang berbeda seperti:
- Dari dalam diri: Kebiasaan menyalahkan diri sendiri, rasa malu yang berlebihan, depresi, kecanduan, perilaku menyakiti diri, hingga mengabaikan kebutuhan pribadi.
- Dari perilaku sehari-hari: Mudah tersinggung, cepat marah, mengalami ledakan emosi, membentak pasangan atau teman kerja, bahkan marah saat berada di jalan.
Tak hanya emosi, hukuman fisik bisa berdampak pada tubuh
Dalam kesempatan yang sama, Bean menjelaskan bahwa pengalaman hukuman fisik saat kecil juga dapat berpengaruh pada kondisi tubuh ketika anak beranjak dewasa. Beberapa gejala yang dapat muncul seperti:
- Ketegangan otot yang berlangsung dalam waktu lama
- Kebiasaan menggeretakkan gigi
- Migrain
- Masalah pencernaan
- Kambuhnya gejala autoimun saat mengalami stres atau menekan emosi
Vanessa Williams pun sependapat bahwa dampak tersebut dapat terlihat melalui kondisi fisik seseorang. Menurutnya, banyak orang dewasa mengalami ketegangan pada tubuh dan sulit untuk rileks meski berada di situasi yang sebenarnya tidak ada masalah.
"Banyak orang dewasa mengalami ketegangan otot kronis, terutama di bahu, rahang, atau perut, bersamaan dengan peningkatan respons terkejut dan kesulitan untuk rileks, bahkan di lingkungan yang aman," katanya.
Pakar cara memulihkan efek hukuman fisik pada anak
Menurut Chloe Bean, anak yang menerima hukuman fisik sejak kecil banyak yang tidak belajar tentang cara mengekspresikan emosi dengan aman atau mengatur perasaannya dengan baik.
Maka dari itu, tak sedikit dari mereka yang akhirnya mengabaikan kebutuhan diri sendiri hingga menghindari kedekatan dengan orang lain, Bunda.
"Mereka mengembangkan strategi penanggulangan jangka pendek seperti penekanan, mengabaikan kebutuhan mereka sendiri, mematikan emosi, menjauhkan diri dari tubuh mereka, atau menghindari kedekatan," kata Bean.
Jika orang tua pernah memberikan hukuman fisik pada anak, jangan khawatir, ya. Sebelum terlambat, Bean membagikan beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua seperti:
- Mengajarkan anak mengelola emosi tanpa rasa takut atau menekan perasaannya.
- Membangun hubungan yang hangat, aman, dan penuh dukungan.
- Mengajak anak melakukan kegiatan yang membantu tubuh menjadi lebih rileks.
- Mengurangi kebiasaan mengkritik dan menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.
- Mencari bantuan profesional atau terapi apabila diperlukan untuk membantu proses pemulihan trauma.
Seiring waktu, perubahan positif ini dapat terlihat dalam keseharian. Anak akan lebih berani mengungkapkan perasaannya, tenang dalam mengatur emosi, serta mampu berkomunikasi dengan lebih baik.
Itulah penjelasan mengenai pentingnya mewaspadai hukuman masa kecil yang bisa membekas hingga dewasa. Semoga dapat bermanfaat, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
Anak Bosan Saat Libur? Coba 7 Mainan Tanpa Gadget Ini!
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Pentingnya Mengatasi Inner Child agar Tak Pengaruhi Pola Asuh Bunda pada Si Kecil
Kini Jadi Psikolog, Caca Tengker Tak Ingin Andalkan Teori dalam Mengasuh Anak
Kiat Maya Septha agar Tak Jadi Orang Tua yang Insecure: Harus Jaga Hati
Kunci Sukses Pola Asuh Ideal, Ini Saran Ahli
TERPOPULER
Georgina Berhak Terima Villa hingga Uang Rp2 Miliar Jika Bercerai dengan Cristiano Ronaldo
5 Rekomendasi Kuliner Glodok Petak 9 yang Enak & Legendaris
Plasenta Terlalu Kecil Bisa Jadi Tanda Risiko Kehamilan, Ini Cara Baru Mengukurnya dalam 30 Detik
Stop Bilang "Kabari Aku Kalau Butuh Sesuatu" pada Teman yang Ada Masalah, Ini Alasannya
Cara Membuat Abon Daging Sapi, Gurih dan Bisa Jadi Stok Lauk Keluarga
REKOMENDASI PRODUK
7 Minyak Kemiri untuk Bayi yang Bagus dan Aman, Ada Pilihan Bunda?
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Merek Panci Anti Lengket Keramik Bebas PFOA dan PTFE
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Glossy Balm, Bikin Bibir Plumpy dan Tampak Sehat
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Panci 3 Susun Stainless Steel yang Bagus dan Berkualitas
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Rekomendasi Reed Diffuser Lokal yang Wanginya Enak & Tahan Lama
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
9 Ciri Orang Pura-Pura Pintar dari Cara Bicara saat Ngobrol Sehari-hari
5 Rekomendasi Kuliner Glodok Petak 9 yang Enak & Legendaris
Plasenta Terlalu Kecil Bisa Jadi Tanda Risiko Kehamilan, Ini Cara Baru Mengukurnya dalam 30 Detik
Georgina Berhak Terima Villa hingga Uang Rp2 Miliar Jika Bercerai dengan Cristiano Ronaldo
Orang Tua Sering Sibuk Main HP saat Anak Bicara, Ternyata Bisa Berdampak pada Emosinya
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Mau Cari Cuan dari Cetak Custom? 3D Printer Ini Bisa Jadi Modal Usaha Sampingan
-
Beautynesia
6 Drakor Bertema Kriminal untuk Temani Akhir Pekan, Bisa Nonton di Netflix
-
Female Daily
Two Way Cake vs Compact Powder, Ternyata ini Perbedaannya!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Neutrogena Tanggapi Tudingan Putus Kontrak Hayden Panettiere karena Depresi
-
Mommies Daily
10 Tempat Healing Dekat Jakarta untuk Long Weekend, Ramah Anak dan Cocok untuk Quality Time