PARENTING
7 Cara Sederhana Orang Tua Membentuk Kecerdasan Emosional Anak
Kinan | HaiBunda
Rabu, 01 Jul 2026 18:50 WIBSupaya anak bisa memiliki kecerdasan emosional yang baik, ada beberapa cara sederhana yang bisa dibentuk orang tua sejak dini. Apa saja?
Pada dasarnya, regulasi emosi merupakan salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki anak agar mampu menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.
Diyakini bahwa saat anak mampu mengenali, memahami, dan mengelola emosinya dengan baik, maka mereka berpotensi lebih mudah beradaptasi dan menyelesaikan masalah tanpa meluapkan emosi secara berlebihan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa peran orang tua sangat besar dalam membantu anak mengembangkan kecerdasan emosional lho, Bunda.
Salah satunya seperti disebutkan dalam The American Psychological Association (APA) Family Journal, bahwa sikap responsif orang tua, pendampingan dan contoh positif berkaitan dengan tingkat kecerdasan emosional anak yang lebih tinggi.
Apa itu regulasi diri?
Dikutip dari Child Mind Institute, regulasi diri atau (self-regulation) adalah kemampuan untuk mengelola emosi dan perilaku sesuai dengan tuntutan situasi yang dihadapi.
Kemampuan ini mencakup kemampuan menahan reaksi emosional yang sangat kuat terhadap hal-hal yang mengganggu, menenangkan diri saat merasa kesal, menyesuaikan diri terhadap perubahan harapan, serta menghadapi rasa frustrasi tanpa meluapkannya secara berlebihan.
Bagaimana jika anak tidak mampu meregulasi emosinya?
Menurut psikolog klinis, Matthew Rouse, PhD, masalah regulasi diri dapat muncul dengan cara yang berbeda pada setiap anak.
"Beberapa anak bereaksi secara spontan, misalnya dengan menunjukkan reaksi yang sangat besar dan kuat tanpa tanda-tanda atau proses yang bertahap sebelumnya," ujarnya.
Sementara pada anak lainnya, tekanan emosional tampak menumpuk sedikit demi sedikit dan mereka hanya mampu menahannya sampai batas tertentu.
Pada akhirnya, kondisi tersebut memicu 'ledakan' perilaku. Mereka mulai mengarah ke situasi yang kurang baik, tetapi tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.
Kunci bagi kedua tipe anak tersebut adalah membantu mereka belajar mengelola reaksi emosional yang kuat dan menemukan cara yang lebih efektif. Diharapkan nantinya anak mampu mengekspresikan emosinya tanpa meluapkan secara berlebihan.
Mengapa beberapa anak kesulitan mengatur emosi?
Rouse menjelaskan bahwa masalah dalam mengendalikan emosi merupakan perpaduan antara temperamen bawaan dan perilaku yang dipelajari.
"Kemampuan bawaan seorang anak dalam mengatur diri dipengaruhi oleh temperamen dan kepribadiannya," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa beberapa anak di usia bayi memang kesulitan menenangkan dirinya sendiri dan menjadi sangat rewel saat dimandikan atau dipakaikan baju. Mereka lebih berpotensi mengalami kesulitan dalam mengatur emosi nantinya saat tumbuh lebih besar.
Namun, lingkungan juga berperan penting. Ketika orang tua selalu mengalah terhadap tantrum atau berusaha berlebihan untuk menenangkan anak setiap kali mereka marah dan bertingkah, anak juga akan kesulitan mengembangkan disiplin diri.
"Dalam situasi seperti itu, pada dasarnya anak bergantung kepada orang tua sebagai pengatur emosi dari luar dirinya," kata Rouse.
Jika pola tersebut terus terjadi berulang kali dan anak terbiasa 'menyerahkan' regulasi dirinya kepada orang lain, maka hal itu dapat berkembang menjadi sebuah kebiasaan yang kurang baik.
Cara orang tua membentuk kecerdasan emosional anak
Penelitian dari jurnal Personality and Individual Differences menunjukkan bahwa kecerdasan emosional atau EQ (Emotional Quotient) sangat penting.
Hal ini merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi diri sendiri, serta mengenali dan memengaruhi emosi orang lain. Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kemampuan kognitif, lingkungan sosial, dan nilai keluarga.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk membentuk kecerdasan emosional anak sejak dini, berikut penjelasannya seperti dilansir berbagai sumber:
1. Memberi contoh yang baik
Orang tua tidak dapat mengharapkan anak mampu mengendalikan emosi, jika dirinya sendiri belum mampu melakukan hal yang sama. Jadi, Bunda perlu bercermin terlebih dahulu apakah sudah menjadi sosok dewasa yang ingin dicontoh oleh anak.
Semakin baik orang tua menjaga kesehatan mental, emosional, dan fisiknya, semakin baik pula kemampuan anak untuk menjaga kesejahteraan dirinya kelak. Dengan kata lain, agar anak memiliki kecerdasan emosional yang baik, orang tua juga perlu memiliki kecerdasan emosional yang baik.
2. Berpikir sebelum bereaksi
Dikutip dari Times of India, orang tua yang memiliki kecerdasan emosional memahami bahwa reaksi pertama tidak selalu menjadi reaksi terbaik.
Sebelum memberi respons dengan 'meledak-ledak', mereka akan berhenti sejenak, menarik napas, lalu memikirkan respons yang tepat saat itu juga. Cara ini juga menunjukkan bahwa bahkan dalam situasi tegang, pengendalian diri tetap perlu dilakukan.
3. Memberi ruang bagi anak
Orang tua yang memiliki kecerdasan emosional tidak menganggap emosi sebagai masalah yang harus dihilangkan. Mereka memberi ruang bagi anak untuk merasa sedih, marah, kecewa, dan juga khawatir.
Namun di saat yang sama, mereka juga tidak membiarkan setiap emosi mengendalikan seluruh suasana rumah.
Perbedaan ini penting karena anak membutuhkan validasi sekaligus batasan. Ketika semua emosi diabaikan, anak mungkin merasa ditinggalkan secara emosional.
4. Kenali anak pada macam-macam emosi
Perasaan dapat diungkapkan hanya dengan satu kata. Sebutkan apa yang sedang dirasakan dan kenalkan anak pada berbagai macam emosi.
Orang tua perlu mendorong anak-anaknya untuk menjelaskan sensasi fisik dari emosi tersebut secara rinci. Semakin lengkap penjelasannya, semakin baik.
5. Biarkan anak merasakan emosi tersebut
Saat emosi melanda, ajarkan anak untuk duduk dengan tenang dan biarkan energi tersebut mengalir.
Semakin sering berlatih, semakin mudah pula orang tua menjadi teladan bagi anak. Mulailah membiasakan pembicaraan tentang emosi di dalam keluarga dan bagikan pula emosi yang dirasakan kepada anggota keluarga.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki keterikatan yang aman maka lebih mampu mengatur emosinya sendiri.
6. Tidak selalu melindungi anak dari situasi sulit
Selalu melindungi anak dari situasi sulit justru menghalangi mereka belajar menghadapi emosi yang sulit. Dalam sebuah penelitian, peneliti menemukan bahwa anak-anak yang terpapar konflik memiliki kecerdasan emosional lebih baik dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa berbicara kepada anak tentang emosi dapat membantu memperkuat kecerdasan emosional anak.
7. Tetap bersabar mendampingi anak
Orang tua dapat membantu anak mengatur emosinya dengan membimbing mereka untuk memperlambat respons, berpikir lebih tenang, dan menghadapi situasi dengan tenang daripada bertindak secara impulsif.
Kesabaran dan umpan balik positif dari orang tua sangat penting. Dengan bimbingan yang konsisten, anak secara bertahap akan belajar menghadapi tantangan dan mengatasinya secara mandiri.
Itulah penjelasan tentang cara-cara orang Tua membentuk kecerdasan emosional anak. Semoga bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)