HaiBunda

PARENTING

Kenali Tanda-tanda Anak Sering Diabaikan Orang Tua Tanpa Sadar

Kinan   |   HaiBunda

Senin, 03 Aug 2026 13:20 WIB
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/Userba011d64_201
Jakarta -

Tanda-tanda anak sering diabaikan orang tua bisa menjadi 'lampu merah' agar tidak berlanjut semakin parah. Apa saja tanda yang perlu diperhatikan?

Sebab luka batin yang dibawa pada masa anak-anak bisa terbawa hingga dewasa, bahkan turut membentuk karakternya seiring bertambah usia.

Pengabaian emosional pada masa kanak-kanak umumnya terjadi ketika seorang anak tidak mendapatkan rasa aman secara emosional atau dukungan yang memadai dari orang tua.


Pada beberapa kasus, emosi anak mungkin sepenuhnya diabaikan atau dianggap tidak valid, baik secara sengaja maupun tidak. 

Apa itu pengabaian pada anak-anak?

Anak sering diabaikan orang tua bisa memicu trauma dan menimbulkan dampak jangka panjang.

"Pengabaian emosional dianggap sebagai salah satu bentuk trauma karena dapat menimbulkan dampak yang mendalam dan bertahan lama terhadap kesejahteraan emosional, serta psikologis seseorang," ujar terapis Daniel Rinaldi, MHC, seperti dikutip dari Very Well Mind.

Ia menambahkan bahwa pengabaian emosional yang berlangsung terus-menerus dapat membentuk kondisi emosional anak hingga dewasa. Hal ini juga berisiko bisa memengaruhi harga diri serta hubungan interpersonalnya.

Seperti apa contoh pengabaian emosional pada anak?

Dikutip dari Medical News Today, pengabaian emosional yang dilakukan oleh orang tua atau pengasuh utama lain pada masa kanak-kanak dapat terlihat dalam beberapa bentuk berikut:

1. Tidak hadir secara emosional

Orang tua tanpa sadar mungkin sering bersikap dingin, tidak responsif, atau bahkan tidak hadir secara emosional pada anak. 

Kondisi ini membuat anak kesulitan membangun kedekatan emosional dengan orang tua dan pengasuh utama lainnya.

2. Meremehkan perasaan anak

Saat anak mengungkapkan emosinya, orang tua yang melakukan pengabaian emosional mungkin akan meremehkan perasaan tersebut. Misalnya dengan mengatakan 'jangan menangis' atau 'kamu harus lebih kuat'.

3. Jarang menunjukkan kasih sayang secara fisik

Pengabaian emosional juga dapat ditunjukkan melalui kurangnya kasih sayang secara fisik, seperti pelukan atau sentuhan yang menenangkan.

4. Kurang perhatian

Anak yang sering diabaikan orang tua biasanya juga kurang diberi perhatian. Tanpa sadar Bunda mungkin kurang peka terhadap kebutuhan emosional anak, seperti mendengarkan keluh kesahnya, menghibur saat anak sedang sedih atau merayakan pencapaiannya.

5. Tidak memvalidasi perasaan anak

Pengabaian emosional juga dapat terlihat ketika pengasuh jarang mengakui dan memvalidasi pengalaman maupun emosi anak.

Sebagai contoh, anak yang mengalami perundungan di sekolah tidak memperoleh dukungan atau pengakuan atas apa yang dialaminya dari orang tua.

Selain itu, bentuk pengabaian juga bisa berupa tidak mendukung minat, bakat atau passion anak. Hal ini dapat menghambat perkembangan rasa percaya dirinya. 

Bagaimana tanda-tanda anak sering diabaikan orang tua?

Berikut beberapa tanda yang dapat mengindikasikan adanya pengabaian emosional pada anak:

  • Perubahan perilaku yang ekstrem, seperti selalu menuruti orang lain, bersikap agresif, menjadi terlalu pasif, atau terlalu menuntut.
  • Berperilaku 'terlalu dewasa', misalnya mengambil tanggung jawab merawat anak-anak lain.
  • Berperilaku seperti anak yang usianya lebih kecil dari seharusnya.
  • Mengalami keterlambatan perkembangan emosional maupun fisik.
  • Menunjukkan gejala depresi.
  • Dalam kasus yang ekstrem, anak mungkin memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup.
  • Sulit membentuk ikatan emosional dengan orang lain.

Tanda-tanda pengabaian masa kecil pada orang dewasa

Selain dapat dilihat sejak awal, tanda-tanda anak sering diabaikan juga bisa dilihat saat ia tumbuh menjadi dewasa.

Sebuah penelitian tahun 2023 yang diterbitkan dalam jurnal Springer Nature melakukan penelitian tentang hubungan antara pengalaman buruk pada masa kanak-kanak, gaya keterikatan (attachment style), dan depresi pada mahasiswa.

Hasilnya, ditemukan bahwa orang dewasa yang mengalami pengabaian emosional pada masa kecil cenderung:

  • Takut atau sangat peka terhadap tanda-tanda penolakan, meskipun hanya dirasakan atau dipersepsikan.
  • Bereaksi secara berlebihan terhadap situasi yang menimbulkan stres.
  • Menekan atau menghindari emosi negatif.
  • Kesulitan membangun dan mempertahankan hubungan baru.
  • Mengalami gejala depresi.
  • Sulit mempercayai orang lain.
  • Kesulitan mengungkapkan perasaan secara efektif.
  • Mengembangkan pola keterikatan yang tidak aman (insecure attachment).

"Pengabaian emosional sering kali sulit dikenali karena tidak selalu tampak secara kasat mata, bahkan oleh tenaga profesional," kata praktisi kesehatan mental dan psikoterapis Aurisha Smolarski, LMFT.

Smolarski juga menyebutkan bahwa pengabaian emosional lebih sering ditandai oleh hal-hal yang tidak dilakukan orang tua, bukan oleh tindakan yang mereka lakukan.

Pengabaian juga bisa menyebabkan trauma

Ilustrasi/ Foto: Getty Images/GOLFX

Rinaldi menjelaskan bahwa pengabaian emosional dapat memengaruhi kehidupan seseorang meskipun hanya terjadi satu atau dua kali. 

Namun dampaknya akan jauh lebih besar dan lebih kompleks apabila terjadi secara berulang dalam jangka waktu yang lama.

Hal yang perlu diperhatikan, pengabaian emosional yang berlangsung terus-menerus bahkan juga dianggap sebagai salah satu bentuk kekerasan terhadap anak. 

Menurut US Department of Health & Human Services, pengalaman traumatis ini, terutama jika berat atau berlangsung dalam waktu lama, dapat memengaruhi perkembangan anak.

"Trauma dapat menyebabkan perubahan pada otak dan sistem saraf yang kemudian mengakibatkan kesulitan mengekspresikan emosi, rendahnya harga diri, serta munculnya rasa malu atau bersalah," ujar Smolarski.

Anak-anak yang mengalami trauma akibat pengabaian dapat mengalami masalah perilaku di rumah maupun di sekolah, serta kesulitan membangun dan mempertahankan hubungan, baik saat masih anak-anak maupun ketika telah dewasa.

Pengabaian yang lebih berat juga dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan zat berbahaya, kecenderungan melakukan perilaku berisiko, serta masalah kesehatan mental jangka panjang, seperti depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Bisakah pulih dari luka pengabaian masa kecil?

Pemulihan dari pengabaian emosional masa kecil maupun bentuk trauma lainnya merupakan proses panjang dan sering kali memerlukan dukungan profesional.

Orang yang mengalami tekanan emosional berat, depresi, atau kecemasan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mental atau dokter.

Pertimbangkan juga untuk menjalani terapi dengan psikolog atau konselor, terutama yang berpengalaman menangani trauma dan pengabaian pada masa kanak-kanak.

Jika Bunda menyadari anak mulai menunjukkan tanda-tanda diabaikan, berikut hal yang bisa dilakukan:

1. Akui pola yang terjadi

Langkah pertama adalah menyadari bahwa kebutuhan emosional anak sama pentingnya dengan kebutuhan fisik. 

Termasuk ruang yang cukup bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya.

2. Dengarkan perasaan anak tanpa menghakimi

Ketika anak mengungkapkan kesedihan, kemarahan, atau ketakutannya, usahakan untuk tidak langsung mengoreksi atau memberi solusi.

Beri waktu pada anak untuk menyampaikan kesedihannya terlebih dahulu ya, Bunda.

3. Validasi emosi anak

Validasi bukan berarti membenarkan semua perilaku anak, tetapi mengakui bahwa emosi yang dirasakannya itu nyata.

4. Luangkan quality time bersama

Sebisa mungkin sediakan waktu untuk berinteraksi dengan anak. Tidak harus dalam waktu yang sangat lama, bisa dengan 10–20 menit setiap hari.

Saat sedang mengobrol dengan anak, usahakan untuk tidak menggunakan ponsel atau melakukan pekerjaan terlebih dahulu. 

5. Tunjukkan kasih sayang secara konsisten

Jangan ragu untuk menunjukkan kasih sayang secara konsisten pada anak, termasuk memberikan perhatian seperti pelukan, senyuman, atau ucapan seperti "Bunda sayang kamu" dan "Ayah bangga sama kamu".

Ini dapat membantu anak merasa dicintai dan diterima. Hal yang tak kalah penting, jangan lupa untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan saat menyadari telah mengabaikan atau melukai perasaan anak.

Itulah penjelasan tentang tanda-tanda anak sering diabaikan orang tua. Kenali tanda-tandanya sejak awal untuk meminimalkan ini berdampak pada masa depan Si Kecil.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

Anak Bosan Saat Libur? Coba 7 Mainan Tanpa Gadget Ini!

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Ini Dia Negara Paling Jujur dan Paling Tidak Jujur di Dunia, Indonesia Masuk Mana?

Mom's Life Amira Salsabila

Seberapa Efektif Pola Asuh 5:1 untuk Bangun Hubungan yang Sehat antara Anak dan Orang Tua?

Parenting Annisa Karnesyia

Rayakan Hari Anak Nasional Lewat Momen Penuh Keceriaan Bersama Anak-anak Pejuang Kanker

Parenting Tim HaiBunda

Darah Haid Menggumpal seperti Daging Hati Ayam, Apakah Normal?

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

4 Kode Warna dan Abjad Nutri-Level di Produk Pangan Olahan

Mom's Life Tim HaiBunda

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Dongeng: Anak Itik Buruk Rupa

Bayi Minum ASI Banyak Hari Ini tapi Besok Sedikit, Normalkah?

5 Potret Andy /rif Bersama Kedua Putranya, Beda Postur Tubuh Ayah-Anak Jadi Sorotan

Seberapa Efektif Pola Asuh 5:1 untuk Bangun Hubungan yang Sehat antara Anak dan Orang Tua?

Rayakan Hari Anak Nasional Lewat Momen Penuh Keceriaan Bersama Anak-anak Pejuang Kanker

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK