HaiBunda

PARENTING

Kenali Ciri-ciri Pneumonia pada Bayi dan Cara Mengatasi

Kinan   |   HaiBunda

Rabu, 26 Aug 2026 09:20 WIB
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Kannika Paison

Ciri-ciri pneumonia pada bayi perlu dikenali sejak awal agar lebih cepat diatasi sedini mungkin. Apa itu pneumonia dan bagaimana gejala yang perlu Bunda ketahui?

Pneumonia merupakan peradangan akut pada paru-paru. Hal ini bisa berakibat buruk bagi bayi dan anak-anak, sehingga perlu diwaspadai sejak dini.

Menurut data World Health Organization (WHO), pneumonia menjadi penyebab sekitar 15 persen dari seluruh kematian anak balita di dunia.


Pneumonia pada anak biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus. Pneumonia yang disebabkan oleh virus juga dapat berkembang menjadi pneumonia akibat infeksi bakteri.

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko anak mengalami pneumonia, misalnya riwayat penyakit kronis seperti cystic fibrosis atau asma. Selain itu, anak yang terpapar asap rokok juga memiliki risiko lebih tinggi terkena pneumonia.

Ciri-ciri pneumonia pada bayi

Dikutip dari Baby Center, pneumonia sering kali diawali dengan pilek atau infeksi saluran pernapasan atas lainnya, kemudian berkembang menjadi pneumonia.

Gejala utama pneumonia adalah kesulitan bernapas dan demam. Ciri-ciri pneumonia pada bayi yang mungkin terlihat antara lain:

  • Muntah
  • Diare
  • Tidak mau menyusu atau makan
  • Mengi atau napas berbunyi
  • Napas cepat
  • Batuk
  • Kulit, bibir, atau kuku berwarna kebiruan (akibat menurunnya kadar oksigen dalam aliran darah)
  • Kulit tampak pucat
  • Lemas dan kehilangan energi
  • Lebih rewel dari biasanya

Gejala lainnya seperti sakit kepala dan nyeri otot, sering kali lebih sulit diketahui pada bayi.

Pneumonia dapat berkembang dengan sangat cepat. Oleh karena itu, penting untuk segera menghubungi dokter atau tenaga kesehatan jika Bunda ada ciri-ciri pneumonia pada bayi.

Cara menghitung laju pernapasan bayi

Dikutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), cara menghitung laju frekuensi anak dapat dilakukan dengan meletakkan tangan orang tua atau pengasuh pada dada anak, kemudian menghitung gerakan napas anak selama 1 menit.

Napas anak dikatakan cepat apabila frekuensinya:

  • Lebih dari atau sama dengan 60 kali per menit pada anak berusia kurang dari 2 bulan
  • Lebih dari atau sama dengan 50 kali per menit pada anak berusia 2–11 bulan
  • Lebih dari atau sama dengan 40 kali per menit pada anak berusia 1–5 tahun

Jika napas anak cepat disertai tarikan dinding dada ke dalam, kondisi ini juga dapat disertai gejala seperti kepala yang mengangguk-angguk saat bernapas dan/atau bibir tampak kebiruan. Kondisi tersebut dapat menunjukkan adanya sesak napas.

Apakah pneumonia pada bayi bisa disembuhkan?

Meskipun beberapa kasus pneumonia tergolong ringan, sehingga bisa disembuhkan jika ditangani dengan cepat dan tepat.

Namun kondisi ini dapat menjadi serius, terutama pada bayi yang sistem kekebalannya belum berkembang sepenuhnya.

Hal ini karena ketika bayi mengalami pneumonia, kantung udara di dalam paru-parunya dapat terisi cairan dan nanah sehingga mereka kesulitan bernapas.

Infeksi juga dapat menyebar dan menyebabkan komplikasi lain, seperti sepsis, yaitu kondisi ketika infeksi masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan peradangan yang dapat mengganggu fungsi organ.

Jangan tunda untuk segera mencari pertolongan medis darurat jika bayi mengalami kesulitan bernapas yang sangat berat, misalnya sampai mengeluarkan suara mengerang saat bernapas, bernapas lebih dari 60 kali per menit, atau kulit di sekitar mulut tampak sangat pucat atau kebiruan.

Apakah pneumonia pada bayi menular?

Dikutip dari American Lung Association, pneumonia sebagai infeksi paru-paru tidak secara langsung menular, tetapi bakteri dan virus yang menyebabkannya dapat menyebar dari satu orang ke orang lain.

Sebagai contoh, flu merupakan penyakit menular yang pada beberapa kasus dapat berkembang menjadi pneumonia. Bakteri Streptococcus pneumoniae, yang merupakan salah satu penyebab paling umum pneumonia bakteri, juga dapat menular.

Kuman berupa bakteri dan virus tersebut paling sering menyebar ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara sehingga menghasilkan percikan cairan (droplets) yang masuk ke udara.

Percikan tersebut kemudian dapat terhirup oleh orang yang berada dalam jarak dekat. Dalam kasus yang lebih jarang, pneumonia juga dapat menyebar ketika seseorang menyentuh benda atau permukaan yang telah terkontaminasi kuman, kemudian menyentuh hidung atau mulut.

Cara mencegah pneumonia pada bayi

Menurut data dalam laman resmi Kemenkes RI, vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine atau PCV dapat memberikan perlindungan yang efektif untuk bayi dan anak-anak terhadap penyakit pneumonia, akibat infeksi bakteri pneumokokus.

Vaksin PCV sangat penting untuk didapat secara lengkap dan sesuai jadwal. Vaksin ini berguna mencegah penyakit pneumokokus, seperti penyakit radang paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis) dan infeksi darah (bakteremia). 

Sesuai jadwal vaksinasi anak IDAI tahun 2024, vaksin PCV diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan dengan booster pada usia 12-15 bulan.

Jika belum diberikan pada usia 7-12 bulan, vaksin PCV 2 kali dengan jarak minimal 1 bulan dan booster pada usia 12-15 bulan, dengan jarak 2 bulan dari dosis sebelumnya.

Hal lain yang dapat dilakukan untuk mencegah pneumonia antara lain:

1. Batasi paparan dengan orang yang sedang sakit

Hal ini terutama penting jika orang tersebut belum atau tidak dapat menerima vaksinasi. 
Membatasi paparan dapat membantu melindungi Si Kecil dari kerusakan paru-paru jangka panjang atau permanen, bahkan dapat melindungi nyawanya.

2. Rajin mencuci tangan

Menjaga kebersihan tangan penting bagi semua orang, terutama anak-anak yang masih kecil dan orang dewasa di sekitarnya. Jadi, tanamkan kebiasan rutin mencuci tangan pada seluruh anggota keluarga.

3. Jaga rumah bebas asap rokok

Ingat, jangan pernah merokok di dalam rumah dan jangan izinkan tamu melakukannya. 

Bahkan ketika merokok di luar rumah, bayi tetap dapat terpapar zat beracun dari asap rokok yang menempel pada rambut, napas, dan pakaian.

Dikutip dari Baby Center, anak yang tinggal di lingkungan yang terpapar asap rokok lebih sering mengalami sakit, termasuk pneumonia, dibandingkan anak yang tinggal di lingkungan bebas asap rokok.

Cara mengobati pneumonia pada bayi

Pengobatan pneumonia bergantung pada apakah penyakit itu disebabkan oleh virus atau bakteri.

Karena pneumonia akibat virus tidak dapat diatasi dengan antibiotik, pengobatan biasanya berfokus pada istirahat, mencukupi kebutuhan cairan, serta meredakan gejala, misalnya dengan mengisap lendir.

Untuk pneumonia akibat bakteri, dokter akan meresepkan antibiotik. Jika bayi mendapatkan antibiotik untuk mengatasi pneumonia bakteri, berikan obat tersebut sesuai dosis dan selama durasi pengobatan yang telah ditentukan dokter.

Meskipun kondisi bayi mulai membaik dalam beberapa hari, infeksi dapat kembali muncul jika obat tidak dihabiskan sesuai anjuran.

Jika bayi perlu dirawat di rumah sakit, dokter mungkin akan diberi antibiotik dan cairan melalui infus. Bayi juga dapat diberikan bantuan pernapasan dengan menggunakan selang oksigen hidung atau masker oksigen.

Kapan ciri-ciri pneumonia pada bayi muncul dan perlu dibawa ke dokter?

Jika anak menunjukkan tanda-tanda pneumonia, segera hubungi dokter anak sejak awal. Dokter dapat memberikan saran mengenai pemeriksaan dan penanganan yang dibutuhkan anak sesuai kondisinya.

Gejalanya dapat berbeda-beda, tergantung penyebab dan tingkat keparahannya. Namun, pneumonia sering kali diawali dengan batuk yang disertai demam dan menggigil.

Pada kasus yang lebih serius, anak dapat mengalami kesulitan bernapas dan nyeri dada, terutama ketika batuk atau menarik napas dalam. Kondisi ini mungkin membutuhkan perawatan segera di rumah sakit.

Anak juga perlu mendapatkan pemeriksaan medis jika mengalami:

  • Napas seperti naik-turun (seesaw breathing): dada anak bergerak ke dalam, sementara perut bergerak ke luar setiap kali menarik napas.
  • Kepala mengangguk-angguk (head bobbing): kepala bayi tampak bergerak atau terangkat menjauh dari tubuh setiap kali menarik napas.
  • Tarikan dinding dada ke dalam (retractions): kulit di antara tulang rusuk bayi tampak tertarik ke dalam setiap kali ia bernapas.
  • Pelebaran lubang hidung (flaring): lubang hidung bayi tampak melebar secara jelas ketika ia menarik napas.
  • Sianosis (cyanosis): kulit dapat tampak kebiruan atau pucat.

Itulah penjelasan tentang ciri-ciri pneumonia pada bayi dan cara mengatasinya. Lengkapi jadwal vaksinasi bayi sejak dini dan jangan tunda untuk segera konsultasi ke dokter jika ada ciri-ciri pneumonia.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

Anak Jatuh dan Kepala Terbentur? Jangan Panik, Lakukan Ini Bun

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Potret Nabila Syakieb Liburan Bareng Keluarga, Paras Dua Anaknya Curi Perhatian

Mom's Life Amira Salsabila

Kenali Ciri-ciri Pneumonia pada Bayi dan Cara Mengatasi

Parenting Kinan

Manfaat Baik Granola untuk Busui, Bisa Buat Camilan Sehat

Menyusui Annisa Aulia Rahim

Ciri Kepribadian Orang Karismatik, Sering Ucapkan 11 Kalimat yang Bikin Orang Lain Merasa Penting

Mom's Life Elia Amaliana

Hamil 2 Minggu, Apa yang Dirasakan dan Perubahan yang Terjadi?

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

7 Rekomendasi Hair Mask untuk Rambut Kering dan Rusak

Potret Nabila Syakieb Liburan Bareng Keluarga, Paras Dua Anaknya Curi Perhatian

Kenali Ciri-ciri Pneumonia pada Bayi dan Cara Mengatasi

Manfaat Baik Granola untuk Busui, Bisa Buat Camilan Sehat

23 Rekomendasi Anime Kerajaan Terbaik dengan Rating Tertinggi, Genre Romantis hingga Fantasi

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK