HaiBunda

PARENTING

Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menyebar, Ini Cara Lindungi Si Kecil dari Paparannya

Dilla Atqia Rahmah   |   HaiBunda

Senin, 07 Sep 2026 16:00 WIB
Jaga kesehatan saat hujan abu/ Foto: Getty Images/GOLFX

Abu vulkanik gunung anak Krakatau tengah menjadi pembicaraan hangat di berbagai daerah di Indonesia. Beberapa wilayah di Indonesia merasakan dampak dari erupsi Anak Krakatau, termasuk Jabodetabek. Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau ini tidak hanya terasa efek abunya yang memenuhi halaman rumah, tetapi juga mulai berdampak ke kesehatan. 

Bahkan, abu vulkanik Anak Krakatau ini membuat Bandara Soekarno Hatta ditutup sementara. Selain itu, abu vulkanik yang menyebar ke Jakarta dan sekitarnya  juga mulai berpengaruh pada sekolah. Sebagian sekolah mulai memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai dampak dari abu vulkanik ini.

Agar Si Kecil terhindar dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, ada beberapa cara menurut pakar yang dapat dilakukan untuk melindungi kesehatan SI Kecil. Yuk, Bunda, simak penjelasan selengkapnya berikut ini.


Mengenal abu vulkanik 

Abu vulkanik gunung erupsi muncul karena pada saat gunung berapi meletus, letusannya dapat melepaskan lava, bebatuan, gas panas, dan abu vulkanik dalam jumlah sangat besar.

Sementara itu, abu vulkanik terbentuk dari bebatuan yang hancur dan partikel kaca berdiameter lebih kecil dari dua milimeter. Ketika terhempas ke udara, abu ini dapat menyebar hingga ratusan bahkan mungkin ribuan kilometer sebelum akhirnya jatuh ke Bumi. 

Dikutip dari detikom, ada dua jenis abu vulkanik yakni abu halus dan abu kasar. Abu halus merupakan partikel berukuran lebih kecil dari 0,063 mm. Sementara abu kasar adalah partikel berukuran di bawah 2 mm. Untuk jenis abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau adalah jenis abu halus.

Dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau 

Bunda, penting untuk mengetahui dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, terutama untuk kesehatan. Abu vulkanik menimbulkan berbagai risiko bagi kesehatan manusia.

Orang yang terpapar hujan abu dapat berisiko terpapar gangguan kesehatan seperti  batuk, iritasi hidung dan tenggorokan, penyakit menyerupai bronkitis, serta rasa tidak nyaman saat bernapas.

Selain itu, abu vulkanik juga berdampak bagi hewan ternak. Ia juga bisa mengalami gangguan pada mata dan saluran pernapasan. Hewan yang mencari makan dengan merumput bisa kesulitan memperoleh makanan apabila sumber pakannya tertutup abu.

Selain itu, partikel abu vulkanik yang kecil, berstruktur banyak rongga kecil, serta kepadatannya relatif rendah sebagai material batuan, memungkinkan abu terangkat tinggi ke atmosfer saat letusan.

Kemudian terbawa angin hingga sangat jauh. Itulah yang menyebabkan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau hasil erupsi terasa dampaknya hingga ke provinsi lain yang jauh dari gunung yang meletus.

Jangkauan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau

Apabila Bunda penasaran sudah sampai mana abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang erupsi menyebar, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria,  melalui konferensi pers daring menyampaikan informasi ini.

Masih dikutip dari detikcom, Lana Saria mengatakan bahwa abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke lima provinsi. Lima provinsi tersebut adalah Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.

"Dan berdasarkan gabungan informasi erupsi dan VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dari PVMBG melalui Magma Indonesia, informasi VAAC (Volcanic Ash Advisory Centre) Darwin serta analisa citra satelit Himawari-9 oleh BMKG, bahwa abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau menyebar di atmosfer ke arah Banten, sebagian Jawa Barat, dan juga DKI Jakarta, serta Lampung dan Bengkulu," ungkapnya. 

Selain itu, abu vulkanik dari erupsi gunung Krakatau juga dapat menyebar ke wilayah lain tergantung arah mata angin dan kecepatan hujan abu. Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan ada kemungkinan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berkemungkinan menyebar hingga wilayah timur Pulau Jawa.

“Untuk kemungkinan abu vulkanik mencapai Jawa Tengah dan Jawa Timur, secara meteorologis hal tersebut bergantung pada perubahan arah angin di berbagai lapisan atmosfer,” kata Andri, dilansir dari detiknews.

Cara cek sebaran abu vulkanik terdekat dari lokasi dengan HP

Jika Bunda ingin mengetahui titik-titik wilayah yang terdampak abu vulanik, ada cara cek sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau melalui HP.

Caranya adalah dengan mengakses situs abu.cikoytew.my.id. Ini merupakan situs buatan Tri Purnomo Aji yang disebarkan melalui akun Threads @triprnmaji. Untuk mengakses situs cek sebaran abu vulkanik ini tidak memerlukan instalasi aplikasi. Bunda cukup ikuti langkah-langkah berikut:

  • Buka abu.cikoytew.my.id menggunakan browser seperti Chrome, Safari, atau browser lain. Situs ini dapat diakses melalui HP, tablet, atau desktop.
  • Kemudian, pilih gunung api yang ingin dipantau.
  • Masukkan nama kota tempat tinggal atau gunakan fitur lokasi jika tersedia.
  • Situs akan menampilkan informasi apakah lokasi tersebut berpotensi terkena sebaran abu.
  • Periksa pula arah pergerakan abu dan jarak lokasi dari wilayah yang diperkirakan terdampak.

Selain menggunakan situs tersebut, penting juga untuk tetap memantau informasi resmi dari pemerintah, melalui situs resmi seperti PVMBG/Badan Geologi, BMKG, BNPB maupun pemerintah daerah.

Karena, arah sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer, terutama arah dan kecepatan angin. Prediksi yang terlihat saat ini belum tentu akurat untuk beberapa jam kemudian.

5 Cara melindungi anak dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau 

Pada masa sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau ini, kesehatan penting sekali diperhatikan, termasuk kesehatan Si Kecil. Berikut ini cara yang bisa dilakukan untuk  melindungi anak dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

1. Anak tetap di dalam rumah

Apabila daerah rumah Bunda terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah dan memastikan Si Kecil tetap di dalam rumah. Imbauan ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin melalui laman resmi Kemenkes.

Menkes Budi menyampaikan bahwa intensitas abu vulkanik yang tinggi berisiko memicu gangguan kesehatan akut, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, dan gangguan pada kulit.

Selain itu, kelompok anak-anak, lanjut usia, serta penderita penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak paparan abu vulkanik.

Dalam masa sebaran abu vulkanik ini, Bunda bisa tunda aktivitas bermain di luar rumah. Kemudian, memindahkan kegiatan bermain di dalam rumah seperti menggambar, membaca buku, atau memainkan permainan.

2. Pilih masker sesuai usia

Cara melindungi anak dari paparan abu vulkanik berikutnya adalah dengan memilih masker sesuai usia Si kecil. Dilansir dari Instagram resmi IDAI @idai_ig, ada beberapa jenis masker yang bisa dipilih sesuai dengan usia anak.

Untuk anak yang sudah lebih besar, dapat menggunakan masker N95, KN95, atau masker yang menutup rapat saat keluar rumah. Sedangkan untuk bayi dan balita kecil sebaiknya jangan dipakaikan masker jenis N95. Ini berisiko membuat bayi sesak napas. Ruangan tertutup menjadi perlindungan yang terbaik bagi Si Kecil.

Selain itu, anak dengan asma sebaiknya selalu menyiapkan obat pelega napas di tangan. Penting juga untuk mengikuti arahan dari dokternya.

Apabila tidak ada masker N95, masker bedah berlapis atau kain lembap bisa digunakan daripada tidak menggunakan masker tidak sama sekali.

3. Lindungi mata dan kulit dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau 

Langkah perlindungan bagi anak saat masa paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau adalah melindungi mata dan kulit. Dokter paru dari RSUP Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menyampaikan bahwa debu vulkanis terdiri dari partikel halus yang bersifat iritatif, sehingga bisa berdampak bagi kesehatan.

"Di kulit bisa menyebabkan gatal, bisa mengenai mukosa mata sehingga menyebabkan mata merah," kata Prof Agus.

"Kalau terhirup masuk ke saluran napas, dapat menyebabkan iritasi di saluran napas atas, tengah, sampai ke bawah sehingga bisa menyebabkan keluhan seperti hidung gatal, berair, sakit tenggorokan, kemudian berdahak, kemudian meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran napas akut atau ISPA," sambung Prof Agus.

Untuk mengatasi permasalahan mata dan kulit akibat abu vulkanik, ada beberapa cara yang dilakukan. Apabila mata perih, sebaiknya jangan dikucek dan segera bilas dengan air bersih mengalir.

Kemudian, pengguna lensa kontak sebaiknya melepas lensa karena dapat terkena paparan abu vulkanik. Apabila terpaksa keluar rumah, ada baiknya menggunakan kacamata renang atau goggle.

Untuk melindungi kulit dari paparan abu vulkanik, gunakan baju dan celana yang menutupi tubuh. Selain itu, penting untuk segera mandi dan ganti baju setiap kembali dari luar rumah.

4. Komunikasikan ke anak dengan cara yang tepat bukan menakuti

Meskipun Gunung Anak Krakatau erupsi menjadi berita yang kurang menyenangkan dan menuntut kewaspadaan, namun penting untuk mengkomunikasikan tentang erupsi Gunung Anak Krakatau dengan cara yang tepat, alih-alih menakuti.

Komunikasi tentang abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dapat disesuaikan dengan usianya. Untuk anak usia 3 - 5 tahun, bisa gunakan bahasa yang sederhana untuk menjelaskan erupsi yang terjadi. Misalnya, “Gunungnya sedang batuk. Kita main di dalam supaya aman.”

Untuk anak usia 6-10 tahun, Bunda bisa jelaskan abu dan alasan mengapa harus menutup jendela. Komunikasi untuk remaja tentang erupsi Gunung Anak Krakatau bisa dilakukan dengan melibatkan anak dalam menyiapkan tas siaga keluarga.

Selain melakukan komunikasi yang tepat, memvalidasi perasaan takut anak juga bisa dilakukan, serta membatasi konten-konten di media sosial.

5. Kenali tanda bahaya akibat paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau 

Dampak abu vulkanik bisa terasa bagi kesehatan manusia, mulai dari pernapasan hingga kesehatan kulit. Untuk itu, penting untuk mengenali tanda bahaya akibat paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, serta segera ke Puskesmas atau rumah sakit jika ini terjadi. Tanda bahaya yang harus diwaspadai di antaranya adalah:

  • Sesak atau napas cepat, bibir atau ujung jari kebiruan
  • Batuk terus menerus, terutama pada anak yang menderita asma
  • Mata memerah dan nyeri tidak membaik setelah dibilas air
  • Bayi malas menyusu atau lemas

Tutup pintu, jendela, & ventilasi rumah agar terhindar dari paparan abu 

Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau bisa dirasakan dampaknya di rumah. Abu vulkanik dapat menempel ke berbagai benda di rumah seperti lantai, pintu, dan jendela. Selain itu, ventilasi udara juga rentan masuk abu vulkanik yang halus.

Untuk mengatasi hal ini ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, menutup ventilasi, lubang angin, dan celah menggunakan kertas. Kemudian, tutup pintu dan jendela agar abu vulkanik tak masuk rumah.

Bunda juga bisa meletakkan handuk lembap di bawah ambang pintu dan sumber angin lainnya, mempelkan selotip pada celah jendela yang berangin, menutup permukaan peralatan elektronik yang sensitif. Sebaiknya jangan dibuka hingga lingkungan sudah benar-benar bebas abu.

Siapkan ruang khusus untuk membersihkan diri sebelum orang-orang memasuki rumah, sediakan penyedot debu dan sikat agar orang dapat membersihkan abu dari pakaian. Kalau perlu, melepaskan pakaian sebelum pindah ke area rumah lain.

Penting juga untuk menyiapkan wadah berisi air untuk membersihkan abu yang menempel pada kaki dan sepatu sebelum masuk ke dalam rumah. Selain itu, jangan lupa untuk melindungi sumber air. Jika menggunakan sistem pengumpulan air hujan untuk pasokan air, lepaskan tangki sebelum hujan abu.

Cara penggunaan AC dan kipas angin di tengah paparan abu vulkanik

Apabila Bunda terbiasa menggunakan AC dan kipas angin sehari-hari, pada masa paparan abu vulkanik ini ada hal yang perlu diperhatikan. Ini merupakan upaya mengurangi risiko paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada kesehatan pernapasan.

"Untuk pencegahan primer, penggunaan air conditioner diperbolehkan, termasuk di dalam mobil, tapi harus menggunakan mode recirculate,” ujar Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), Dokter paru dari RSUP Persahabatan dikutip dari detikcom.

Prof Agus juga memberi saran terkait penggunaan AC dan kipas angin. Penggunaan kipas angin dan AC diperbolehkan selama berada di dalam ruangan  dan kualitas udara di dalam rumah itu baik.

"Kipas angin selama dia indoor dan kualitas udara di dalam rumah itu baik, debu dari luar tidak masuk, itu boleh," tutur Prof Agus.

Prof Agus juga menyampaikan bahwa "Tetapi bila kondisi udara luar tidak bisa disaring masuk karena misalnya ruangannya terbuka, maka disarankan tidak pakai kipas angin karena akan membuat debu beterbangan dan mudah terhirup," sambungnya.

Itu dia cara untuk melindungi anak dari paparan abu vulkanik akibat Gunung Anak Krakatau erupsi. Peristiwa Gunung Anak Krakatau erupsi ini memang perlu diwaspadai, apalagi mengingat Gunung Anak krakatau erupsi terjadi secara tiba-tiba dan sulit diprediksi kapan berakhirnya.

Karena anak termasuk dalam kelompok yang rentan terpapar abu vulkanik, penting untuk memastikan kesehatannya terjaga selama paparan abu vulkanik terjadi.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Anak Jatuh dan Kepala Terbentur? Jangan Panik, Lakukan Ini Bun

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Anak Krakatau Erupsi, Ini 5 Cara Lindungi Keluarga dari Abu Vulkanik

Parenting Fauzan Julian Kurnia & Tiara Jasmine

11 Kebiasaan yang Menunjukkan Seseorang Punya Pola Pikir Tajam Menurut Psikologi

Mom's Life Annisa Karnesyia

Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menyebar, Ini Cara Lindungi Si Kecil dari Paparannya

Parenting Dilla Atqia Rahmah

Ciri-ciri Orang yang Pendiam tapi Sebenarnya Cerdas, Apakah Kamu Salah Satunya?

Mom's Life Annisa Karnesyia

Raisa Tampil di Konser Sung Si Kyung di Korea Selatan, Sampaikan Doa untuk Indonesia yang Dilanda Bencana

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

11 Kebiasaan yang Menunjukkan Seseorang Punya Pola Pikir Tajam Menurut Psikologi

Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menyebar, Ini Cara Lindungi Si Kecil dari Paparannya

Anak Krakatau Erupsi, Ini 5 Cara Lindungi Keluarga dari Abu Vulkanik

Raisa Tampil di Konser Sung Si Kyung di Korea Selatan, Sampaikan Doa untuk Indonesia yang Dilanda Bencana

Ribuan Bunda Diduga Alami PTSD setelah Melahirkan, Ini Temuan Studi

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK