PARENTING
15 Dongeng Romantis Sebelum Tidur tentang Cinta dan Kasih Sayang, Penuh Pesan Moral
Elia Amaliana | HaiBunda
Selasa, 29 Sep 2026 18:45 WIBMembacakan dongeng sebelum tidur merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menghabiskan waktu bersama Si Kecil di sela-sela kesibukan. Dari kebiasaan membacakan dongeng pada anak sama dengan mengenalkan berbagai nilai kehidupan pada anak.
Ada banyak tema dongeng, seperti petualangan, persahabatan, sejarah, hingga cinta dan kasih sayang. Dongeng dengan tema cinta dapat mengajarkan anak tentang ketulusan, kepedulian, kesetiaan, dan penting rasa kasih sayang terhadap sesama.
Nah, jika Bunda sedang mencari dongeng sebelum tidur, berikut 15 dongeng romantis sebelum tidur tentang cinta dan kasih sayang. Dikutip dari ensiklopedia dongeng anak paling populer, detikcom, Dongeng Dunia dan Aktivitas Anak Cerdas, dan Dongeng Anak Dunia.
15 Dongeng romantis sebelum tidur tentang cinta dan kasih sayang, penuh pesan moral
Berikut selengkapnya:
1. Keong Mas
Dahulu kala, di kerajaan Daha, hiduplah dua putri cantik bernama Dewi Galuh dan Candra Kirana. Candra Kirana kemudian dilamar oleh Raden Inu Kertapati di Kerajaan Kahuripan. Karena iri, Dewi Galuh meminta bantuan penyihir untuk mengubah Candra Kirana menjadi keong mas dan meminta untuk membuangnya ke laut.
Lalu penyihir mengabulkan permintaan Dewi Galuh. Keong mas yang sudah dibuang ke laut kemudian ditemukan oleh seorang nenek baik hati. Nenek tersebut langsung membawanya pulang dan merawatnya. Tanpa sepengetahuan nenek, setiap kali ia pergi, keong mas berubah menjadi Candra Kirana yang selalu membantu membereskan rumah.
Suatu hari nenek mengetahui hal tersebut dan menceritakan semua yang terjadi. Sementara itu, Raden Inu Kertapati terus mencari Candra Kirana hingga akhirnya ia menemukan keberadaannya.
Dengan bantuan seorang pertapa, kutukan Candra Kirana akhirnya berhasil dipatahkan dan kembali menjadi manusia. Kemudian mereka berdua menikah dan sang nenek yang merawatnya juga ikut tinggal bersama mereka di istana.
2. Jaka Tarub dan Nawang Wulan
Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda bernama Jaka Tarub yang dikenal rajin, berbakti, dan gemar berburu. Setelah ibu angkatnya, Mbok Randa, meninggal, ia hanya hidup seorang diri dan belum terpikir untuk menikah.
Suatu hari, saat berburu di hutan Jaka Tarub mendengar suara perempuan dari sebuah sungai. Ia melihat tujuh perempuan cantik yang ternyata adalah bidadari dari kayangan. Jaka Tarub terpikat dengan salah satu dari kelompok tersebut, ia bernama Nawang Wulan.
Jaka Tarub mengambil dan menyembunyikan selendangnya agar Nawang Wulan tidak dapat kembali ke kayangan. Karena tidak berhasil menemukan selendangnya, Nawang Wulan terpaksa tinggal di bumi. Jaka Tarub kemudian menawarkan bantuan hingga keduanya menjadi dekat dan menikah.
Mereka hidup bahagia dan memiliki seorang putri. Nawang Wulan memiliki kesaktian yang membuatnya mampu menanak nasi hanya dengan satu butir beras. Karena itu, persediaan padi keluarga mereka tidak pernah habis.
Suatu hari Nawang Wulan pergi ke sungai dan berpesan pada Jaka Tarub agar tidak membuka periuk nasi yang sedang ditanak. Namun, karena penasaran Jaka Tarub melanggar aturan tersebut. Ia melihat kesaktian Nawang Wulan dan sejak saat itu kesaktiannya hilang.
Nawang Wulan akhirnya harus menanak nasi seperti manusia biasa. Suatu hari, persediaan padi mereka pun perlahan berkurang. Saat mengambil beras di lumbung, Nawang Wulan menemukan selendang yang selama ini disembunyikan Jaka Tarub.
Akhirnya, ia mengetahui jika suaminya telah berbohong. Kecewa dengan tindakan suaminya, Nawang Wulan memutuskan untuk kembali ke kayangan dan menitipkan putrinya pada suaminya. Ia berjanji akan turun ke bumi setiap malam untuk menyusui anak mereka dengan syarat Jaka Tarub tidak boleh mengintipnya. Kali ini Jaka Tarub menyesali perbuatannya dan memilih untuk mematuhi pesan tersebut.
3. Dua Bersaudara yang Saling Mengasihi
Di sebuah desa kecil di Korea, hiduplah dua bersaudara yang saling mengasihi. Walaupun sudah memiliki kehidupan masing-masing mereka tetap saling memperhatikan satu sama lain.
Masing-masing dari mereka, memiliki satu petak sawah warisan dari orang tua mereka. Saat musim gugur tiba, hasil panen mereka selalu melimpah. Di suatu malam sang kakak teringat bahwa adiknya baru saja menikah dan memiliki banyak kebutuhan. Ia pun ingin membantu dengan memberikan satu karung beras secara diam-diam karena ia tahu adiknya mungkin akan menolak jika ditawari langsung.
Keesokan harinya sang kakak heran karena jumlah beras di lumbungnya tidak berkurang. Malam berikutnya ia kembali membawa sekarung beras untuk adiknya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seseorang yang ternyata adalah adiknya.
Rupanya, sang adik juga sedang membawa sekarung beras untuk diberikan kepadanya. Mereka pun tertawa bersama karena itulah alasan kenapa beras di lumbung adiknya tidak pernah berkurang, Ternyata kakak dan adik ini sama-sama ingin memberikan sekarung beras. Sungguh luar biasa rasa kasih sayang di antara dua bersaudara itu. Mereka begitu saling perhatian satu sama lain.
4. Kasih Sayang Terhadap Sesama
Jean dan Jacques tengah berlibur di desa nenek mereka. Akan tetapi, Jean dan Jacques hanya bermain di rumah karena sedang turun salju yang lebat. Saking lebatnya, butiran salju terlihat seperti kapas yang melayang di udara.
Memasuki siang hari, salju mulai reda. Melihat itu, mereka meminta izin kepada nenek mereka untuk membuat boneka salju. Setelah mendapat persetujuan dari nenek, mereka pun akhirnya bermain keluar dan saling melempar bola salju dan membuat boneka salju.
Secara tak sengaja, Jean melihat dua ekor burung yang menggigil kedinginan. Burung itu hinggap di dahan pohon cemara tidak jauh dari halaman rumah bermain mereka. Karena merasa kasihan mereka berdua bergegas berlari ke dalam rumah untuk mengambil semangkuk jagung yang telah dihaluskan.
Mereka lalu meletakkan semangkuk jagung itu di bawah pohon cemara dan memancing hewan tersebut. Seolah mengerti dengan bahasa isyarat Jean dan Jacques, kedua burung tersebut memakan jagung yang diberikan dengan lahap. Seusai memakan jagung, dua burung itu kembali ke atas dahan pohon sambil mengicaukan suara yang indah. Mungkin sebagai bentuk rasa terima kasih kepada Jean dan Jacques dalam bahasa burung.
5. Menghargai Jasa Orang Lain
Seekor burung merasa kesepian karena hanya dirinya yang tidak bisa terbang. Ia hanya bisa berjalan menyusuri hutan. Di tengah perjalanan, ia menemukan sebutir telur di tengah hutan.
Karena mengira telur itu ditinggalkan, ia memutuskan untuk mengeraminya hingga menetas. Kemudian burung itu mengerami telur tersebut.
Setelah sekian lama, telur itu menetas dan keluarlah seekor anak elang. Burung kesepian terkejut karena telur yang direaminya adalah telur elang. Namun, ia tetap senang dan memberi perhatian yang luar biasa, ia merawatnya hingga burung elang tersebut tumbuh dengan sehat.
Suatu hari burung elang bertanya bagaimana caranya agar bisa terbang, namun induk burung bingung menjawabnya. Sang induk pun mengaku tidak bisa mengajarinya terbang, tetapi ia mendorongnya untuk terus mencobanya sendiri.
Perlahan burung elang belajar terbang meskipun dalam prosesnya mengalami jatuh bangun. Akhirnya, ia bisa terbang bahkan terbangnya semakin tinggi dan mahir. Dalam diam, induk burung merasa sedih karena sebentar lagi anaknya akan terbang meninggalkannya. Anak elang yang memperhatikan raut wajah induknya pun merasakan kesedihan yang sama.
Lalu anak elang berpikir, “Aku lahir ke dunia karena ibu mengeraminku. Jika aku terbang meninggalkannya, kasih sekali ibuku. Aku memutuskan untuk menemani ibuku sampai batas usianya.”
Akhirnya anak elang tinggal bersamanya dan sang induk pun merasa senang karena anaknya tidak terbang melintasi dunia luar dan meninggalkannya. Bahkan sampai batas usia pun, induk burung tidak akan kesepian.
6. Putri Tandampalik
Dahulu kala, hiduplah seorang putri dari kerajaan daerah Luwu bernama Putri Tandampalik. Ia merupakan putri Datu Luwu yang dikenal cantik dan baik hati.
Raja Bone kemudian berniat menikahkan putranya dengan sang Putri, dan mengirim utusan untuk melamarnya. Meski awalnya ragu karena adat Luwu melarang perempuan menikah dengan pemuda dari negeri lain, Datu Luwu akhirnya menerima lamaran tersebut demi menghindari peperangan.
Tak lama kemudian, Putri Tandampalik menderita penyakit kulit yang menular dan tidak dapat disembuhkan oleh tabib kerajaan. Demi melindungi rakyatnya, Datu Luwu terpaksa mengasingkan putrinya ke tempat yang jauh. Sebelum berpisah, ia memberikan sebilah keris sebagai tanda bahwa ia tetap menyayangi dan tidak melupakan putrinya.
Putri Tandampalik kemudian menetap bersama para pengawalnya di sebuah wilayah yang kelak dikenal sebagai Wajo. Suatu hari, seekor kerbau putih menjilati kulitnya dan secara ajaib penyakit sang putri pun sembuh.
Karena merasa berhutang budi, Putri Tandampalik melarang siapa pun menyembelih atau memakan kerbau putih. Pada suatu malam, putra mahkota Bone tersesat ketika berburu dan menemukan tempat tinggal Putri Tandampalik. Mereka akhirnya berkenalan dan saling menyukai.
Saat kembali ke Bone, putra mahkota terus teringat pada Putri Tandampalik hingga akhirnya meminta ayahnya untuk melamarnya. Ketika utusan Bone datang ke Wajo, Putri Tandampalik memberikan keris pemberian ayahnya dan meminta putra mahkota membawanya kepada Datu Luwu.
Jika sang ayah menerima keris tersebut, ia bersedia menerima lamaran sang putra mahkota. Putra mahkota kemudian mendatangi Datu Luwu dan menceritakan semua yang terjadi. Datu Luwu pun menerima keris itu dan menjemput Putri Tandampalik. Beberapa tahun kemudian, keduanya akhirnya menikah di Wajo dan tidak lama putra mahkota Bone menjadi raja.
7. Lutung Kasarung
Kisah ini berawal ketika Prabu Tapa Agung, seorang raja di tanah pasundan mempunyai dua orang putri bernama Purbarang dan Purbasari. Suatu hari, raja menetapkan Purbasari sebagai ratu kerajaan. Penetapan tersebut membuat Purbarang kecewa karena ia merupakan anak sulung.
Dari kekecewaan tersebut, ia meminta penyihir untuk membuat wajah dan sekujur tubuh Purbasari dipenuhi bintik-bintik hitam. Setelah melihat perubahan tersebut Purbarang pun berkata, “Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas jadi ratu!”. Akhirnya Prabu Tapa Agung mengusir Purbasari ke hutan belantara.
Selama tinggal di hutan, Purbasari berteman dengan seekor Lutung Kasarung, sejenis kera berbulu lebat yang berwarna hitam legam dengan ekor panjang. Setiap harinya Lutung menghiburnya dengan memberikan bunga indah dan buah-buahan lezat. Di saat bulan purnama, lutung menyuruh Purbasari untuk mandi di sebuah telaga. Saat mandi, kulit Purbasari berubah menjadi bersih seperti semula, ia pun tidak bisa menutupi kegembiraannya.
Suatu hari, Purbarang kembali ke hutan untuk melihat kondisi adiknya. Namun, betapa terkejutnya ia ketika melihat Purbasari. Ia kemudian mengatakan jika seorang ratu harus memiliki suami yang tampan dan saat itu, Purbarang sudah memiliki calon suami. Purbasari spontan menarik tangan Lutung Kasarung dan Purbarang hanya tertawa dan mengejeknya.
Pada saat itu juga, Lutung Kasarung berubah menjadi seorang pangeran yang sangat tampan. Purbarang lalu meminta maaf pada adiknya agar tidak dihukum. Dengan kebaikan hatinya, Purbasari memaafkannya dan kembali ke istana bersama dengan pangeran tampan.
8. Jayaprana dan Layonsari
Pada zaman dulu, wabah dahsyat melanda Desa Kalianget, Bali, hingga hanya seorang bocah bernama Jayaprana yang selamat. Ia kemudian dirawat di istana dan tumbuh menjadi pemuda yang tampan, rajin, setia, dan dapat dipercaya oleh istana.
Ketika dewasa, Jayaprana jatuh cinta pada Ni Layonsari, seorang gadis yang dikenal lembut dan baik hati. Keduanya lalu menikah dengan restu raja dan hidup bahagia.
Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama karena sang raja justru terpikat pada Layonsari. Raja kemudian mengirim Jayaprana ke Teluk Terima, dengan alasan menjalankan tugas kerajaan.
Sesampainya di sana, Jayaprana baru menyadari bahwa tugas tersebut hanyalah jebakan. Para pengawal kerajaan diberi tugas untuk membunuhnya. Meskipun mengetahui dirinya dikhianati, Jayaprana tetap menerima nasibnya karena merasa memiliki utang budi kepada raja.
Setelah mendengar kematian suaminya, Layonsari sangat berduka dan menolak keinginan raja yang ingin menikahinya. Layonsari memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan keris karena tidak ingin berpisah dengan Jayaprana. Kisah Jayaprana ini dikenang oleh masyarakat Bali sebagai lambang kesetiaan dan cinta yang kuat.
9. Lalihote dan Putri Kayangan
Pada zaman dulu, hiduplah seorang pemuda bernama Lalihote di Gorontalo. Suatu hari, saat berburu di hutan, ia menemukan tujuh putri kayangan yang sedang mandi di sebuah telaga. Lalihote kemudian menyembunyikan selendang bersayap milik Boilode Hulawa, putri termuda, sehingga ia tidak bisa kembali ke kayangan.
Lahilote menawarkan bantuan dengan mengajak Boilode untuk tinggal bersamanya. Keduanya pun menikah dan hidup bersama. Namun, Boilode masih menyimpan harapan untuk kembali ke kayangan. Ia kemudian menemukan selendangnya dan terbang kembali ke kayangan saat suaminya pergi.
Mengetahui hal itu, Lahilote berusaha menyusulnya dengan bantuan pohon rotan ajaib bernama Hutia Mala. Setelah melewati banyak rintangan, akhirnya Lahilote bertemu dengan Boilode dan hidup bersama untuk sementara waktu. Namun, ketika Lahilote mulai menua, ia tidak dapat tinggal di kayangan dan Boilode berusaha membawanya kembali ke bumi dengan rambutnya. Sayangnya, rambut Boilode terputus di tengah perjalanan dan Lahilote pun terjatuh kembali ke bumi.
10. Danau Toba
Dahulu kala, hiduplah seorang petani bernama Toba di Sumatera Utara. Suatu hari, saat sedang memancing di sungai, ia mendapatkan seekor ikan besar yang ternyata bisa berbicara. Ikan tersebut memohon agar tidak dimakan dan ia pun melepaskannya kembali ke sungai.
Tak lama kemudian, ikan itu berubah menjadi seorang perempuan cantik. Ia mengaku sebagai putri yang terkena kutukan dan berterima kasih karena Toba telah membebaskannya. Ia kemudian bersedia menjadi istri Toba dengan syarat Toba tidak boleh menceritakan bahwa istrinya berasal dari seorang ikan.
Toba menyetujui syarat tersebut dan mereka hidup bahagia. Beberapa bulan kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Samosir. Anak itu tumbuh menjadi anak yang kuat, tetapi memiliki kebiasaan makan yang sangat banyak.
Suatu hari, Samosir diminta ibunya untuk mengantarkan makanan kepada ayahnya yang sedang bekerja di sawah. Namun, ia justru menghabiskan seluruh makanan tersebut dan tertidur di perjalanan.
Mengetahui makanannya telah habis, Toba sangat marah pada anaknya. Toba lalu tanpa sadar menyebut Samosir “anak ikan”. Ucapan itu berarti ia melanggar janji pada istrinya. Dalam sekejap, Samosir dan ibunya pun menghilang. Dari tempat Samosir berada, ia membanjiri wilayah tersebut dan membentuk sebuah danau yang kemudian dikenal sebagai Danau Toba.
11. Ande-ande Lumut
Pada zaman dahulu kala, kerajaan Jenggala dan Kediri sepakat menyatukan kerajaan melalui pernikahan Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Tujuannya adalah untuk menghindari adanya peperangan diantara mereka.
Namun, kerajaan Jenggala tiba-tiba diserang musuh dan saat perang terjadi, Sekartaji melarikan diri. Ia kemudian bertemu dengan seorang janda kaya raya bernama Nyai Intan dan ketiga putrinya yang cantik dan genit, yakni Klenting Abang (sulung), Klenting Ijo, dan Klenting Biru (bungsu). Dewi Sekartaji diangkat menjadi anaknya, lalu diberi nama Klenting Kuning.
Ketika hidup bersama Nyai Intan, Klenting Kuning sering diperlakukan kasar, tetapi ia tetap sabar dan baik hati. Sementara itu, Panji Asmarabangun mencari istrinya dan menyuruh pengawal untuk mencarinya. Akan tetapi, pengawal tersebut hanya menemukan wanita yang mirip dengan istrinya di desa Dadapan.
Penasaran dengan hal tersebut, Panji menyamar sebagai pemuda tampan bernama Ande-Ande Lumut dan mengadakan sayembara untuk menemukan gadis yang akan menjadi permaisurinya. Mendengar sayembara itu, ketiga putri Nyai Intan segera pergi mengikuti sayembara. Klenting Kuning awalnya tidak ikut karena tetap setia menunggu Panji. Namun, datanglah seekor burung bangau yang memberinya cambuk dan menyuruhnya pergi ke Desa Dadapan karena ia akan bertemu dengan suaminya.
Dalam perjalanan ia bertemu dengan kepiting raksasa bernama Yuyu Kangkang yang menawarkan bantuan, tetapi meminta gadis itu menciumnya sebagai syarat. Ketiga putri Nyai Intan menyetujuinya sedangkan Klenting Kuning menolak karena tidak ingin mengkhianati suaminya.
Dengan cambuk dari burung bangau, Klenting Kuning membuat air sungai surut dan berhasil menyeberang. Saat sayembara dimulai Ande-Ande Lumut tidak tertarik dengan ketiga putri Nyai Intan, ia justru memilih Klenting Kuning karena berhasil menjaga kesetiaannya. Ande-Ande Lumut membuka penyamarannya dan keduanya akhirnya bersatu kembali dan hidup bahagia.
12. Roro Jonggrang
Konon, di Jawa Tengah terdapat dua kerajaan yang bertetangga, yaitu Pengging dan Baka. Kerajaan Pengging dipimpin oleh Prabu Damar Maya yang memiliki putra bernama Bandung Bondowoso.
Sementara kerajaan Baka dipimpin oleh Prabu Baka, seorang raksasa pemakan manusia yang memiliki putri bernama Roro Jonggrang. Prabu Baka menyerang kerajaan Pengging untuk memperluas wilayahnya, namun dilawan oleh Bandung Bondowoso yang akhirnya berhasil mengalahkan Prabu Baka.
Setelah itu, Bandung Bondowoso menyerbu kerajaan Baka dan bertemu Roro Jonggrang. Seketika ia tiba-tiba jatuh cinta dan ingin menikahinya. Roro Jonggrang menolak, karena ia telah membunuh ayahnya. Karena terus didesak, ia akhirnya menerima lamarannya dengan dua syarat yakni membuat sumur Jalatunda dan membangun seribu candi dalam semalam.
Bandung Bondowoso berhasil membuat sumur tersebut. Kemudian ia meminta bantuan makhluk halus untuk membangun seribu candi. Saat hampir selesai, Roro Jonggrang berusaha untuk menggagalkannya dengan cara memerintahkan para dayang menumbuk padi dan membakar jerami agar suasana terlihat seperti pagi hari. Mengira matahari segera terbit, para makhluk halus melarikan diri dan hanya berhasil membangun 999 candi.
Mengetahui dirinya ditipu, Bandung Bondowoso marah dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca sehingga Roro Jonggrang pun menjadi candi ke-1000. Kisah ini dikaitkan dengan Candi Sewu di Kompleks Candi Prambanan, Jawa Tengah.
13. Timun Mas
Dahulu kala, tersebutlah seorang janda yang hidup sebatang kara. Wanita yang akrab disapa Mbok Randa itu sudah lama menginginkan anak untuk menemani hidupnya. Lalu munculah seorang raksasa, ia mengetahui keinginan Mbok Randa dan berjanji untuk mewujudkannya.
Raksasa itu memberikan biji mentimun kepada Mbok Randa dan menyuruhnya untuk menanamnya. Kelak, dia akan menemukan sesosok bayi di dalamnya.
Mbok Randa kemudian menanam dan merawatnya dengan baik. Di antara banyaknya buah, ada satu mentimun yang berukuran besar berwarna kuning keemasan. Saat dipetik, terdapat bayi mungil didalamnya. Dirawatlah bayi tersebut dengan penuh kasih sayang hingga tumbuh menjadi anak yang cantik bernama Timun Mas.
Namun, raksasa datang menagih janjinya. Mbok Randa keberatan jika Timun Mas diambil oleh raksasa itu untuk dimakan. Ia lantas meminta raksasa untuk bersabar hingga dua tahun lagi agar lebih matang dan enak untuk dimakan sebagai alasan.
Setelah itu, Mbok Randa akhirnya pergi menemui seorang petapa, dan sang petapa memberi beberapa bungkusan berisi biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. Benda tersebut nantinya bisa untuk menangkal kejahatan raksasa tersebut.
Dua tahun kemudian, raksasa kembali menagih janji. Mbok Randa menyuruh Timun Mas lari sambil membawa bungkusan pemberian petapa sakti. Saat raksasa itu mengejarnya, Timun Mas mengeluarkan bungkusan berisi biji mentimun. Ajaibnya, pohon mentimun tersebut tiba-tiba tumbuh dan melilit tubuh raksasa. Namun, raksasa berhasil membebaskan diri dan kembali mengejar Timun Mas.
Ketika jarak semakin dekat, Timun Mas mengeluarkan bungkusan jarum dari petapa dan menyebarkannya. Seketika, tumbuh hutan bambu lebat yang menghambat langkah raksasa. Namun, raksasa itu berhasil melewatinya dan kembali mengejar Timun Mas.
Lalu, ia menyebarkan garam yang berubah menjadi lautan. Meski begitu, raksasa masih mampu menyeberang. Dengan senjata terakhir, Timun Mas menyebarkan terasi. Seketika terbentuk lautan lumpur yang membuat raksasa terjebak dan akhirnya tenggelam. Timun Mas pun berhasil melarikan diri dan kembali pulang untuk hidup bahagia bersama Mbok Randa.
14. Sandubaya dan Lala Seruni
Pada zaman dulu, kerajaan Lombok dipimpin oleh Prabu Kertajaya. Di kerajaan itu, hiduplah pasangan muda Sandubaya dan Lala Seruni yang baru menikah. Lala Seruni terkenal karena kecantikannya hingga membuat Prabu Kertajaya terpikat padanya saat di Pura Kayangan. Mengetahui Lala Seruni bersuami, Prabu Kertajaya ingin memilikinya. Ia kemudian mengajak Sandubaya berburu ke Hutan Gebong. Saat Sandubaya berburu, seorang prajurit lalu menikamnya dari belakang hingga tewas. Anjingnya yang bernama Getah juga dibunuh, sementara kudanya, Gagak Mayang, berhasil melarikan diri.
Lala Seruni melihat Gagak Mayang pulang sendirian lalu ia segera pergi ke hutan dan menemukan suaminya telah meninggal. Prabu Kertajaya lalu menjemput Lala Seruni ke istana dengan alasan ingin membantunya. Setibanya di istana, ia membujuk Lala agar mau menikah dengannya, tapi Lala Seruni terus menolak dan mengurung diri di kamar.
Beberapa hari kemudian, Lala Seruni bersedia menikah dengan satu syarat, yaitu ia ingin mandi di Pantai Menanga Baris. Sesampainya di pantai ia meminta diambilkan teratai merah besar yang muncul dari laut.
Ketika para prajurit mengambilnya, mereka diserang ikan ganas hingga Prabu Kertajaya terluka. Teratai tersebut mendekati Lala Seruni. Ia naik ke atasnya dan dibawa ke tengah laut hingga akhirnya menghilang. Menurut cerita, Lala Seruni pergi ke alam arwah untuk bertemu dengan Sandubaya.
Kematian Sandubaya membuat kakaknya, Demung Brangbantun marah dan menyerang Prabu Kertajaya dan pertempuran akhirnya dimenangkan oleh Demung Brangbantun. Setelah itu, Prabu Rangkasari naik takhta dan memilih berdamai sehingga kerajaan Lombok hidup tenteram.
15. Kesetiaan seorang istri
Prabu Asvapatu adalah raja dari kerajaan Madraka yang bijaksana. Ia memiliki putri bernama Savitri yang cantik dan baik hati. Banyak pangeran datang melamarnya, tetapi Savitri menolak semuanya.
Hingga suatu hari, ia pergi mengembara untuk mencari jodohnya sendiri. Dalam perjalanan, Savitri bertemu dengan Satyawan, seorang pemuda tampan dan sopan. Keduanya lalu saling menyukai.
Satyavan ternyata adalah seorang putra mahkota Kerajaan Salva yang hidup di hutan bersama ayahnya, Resi Dyumatsena, setelah kerajaan mereka direbut musuh. Savitri pun meminta restu ayahnya untuk menikah dengan Satyavan. Namun Dewa Batara Narada memperingatkan bahwa Satyavan hanya memiliki waktu satu tahun untuk hidup. Mengetahui hal tersebut, Savitri tetap memilih menikah dengannya. Selama tinggal di hutan, Savitri selalu setia mendampingi suaminya dan berdoa agar mereka tetap bersama.
Setahun kemudian, Batara Yama, dewa kematian, datang untuk mengambil nyawa Satyavan. Savitri tidak menyerah, ia kemudian mengikuti Batara Yama sambil memohon agar suaminya diberi kesempatan untuk hidup kembali. Karena melihat kesetiaan dan ketulusan Savitri, Batara Yama memberinya beberapa permintaan. Awalnya, Savitri meminta agar penglihatan mertuanya dipulihkan dan kerajaan Salva dikembalikan. Setelah itu, ia meminta agar dapat hidup bersama Satyavan lebih lama karena masih ingin berbakti kepada suaminya. Batara Yama pun mengabulkan permintaan tersebut.
Permintaan Savitri ternyata membuat Batara Yama tidak dapat mengambil nyawa Satyavan. Akhirnya, Savitri dan Satyavan dapat hidup bersama dengan bahagia. Mereka lalu dikaruniai banyak keturunan, dan setelah Resi Dyumatsena wafat, Satyavan menjadi raja Kerajaan Salva.
Itulah 15 dongeng romantis sebelum tidur tentang cinta dan kasih sayang yang penuh dengan pesan moral. Semoga membantu, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)Simak video di bawah ini, Bun:
Cerita Fabel Animasi: Kisah Putri Ular
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Cerita Dongeng Fabel Anak Semut dan Belalang, Bagus Kaya Pesan Moral
3 Cerita Fabel Populer untuk Anak Beserta Pesan Moralnya
5 Jenis Dongeng Anak Indonesia Terfavorit, Yuk Kenali Apa Saja
Bunda Ngantuk Berat tapi Anak Minta Dibacakan Dongeng, Harus Bagaimana?
TERPOPULER
Potret Adzana dan Rizky Alatas Hadiri Peresmian Museum Sang Kakek Bing Slamet
Tak Perlu Tahan Lapar, Ini Rahasia Kareena Kapoor Sukses Turun BB Pasca Melahirkan
Cara Membuat 'Bawang Hitam' Kaya Manfaat dengan Magic Com di Rumah
Ciri Kepribadian Orang yang Terbiasa Bangun Sebelum Jam 6 Pagi Menurut Ilmu Psikologi
Kamu Suka Mengabaikan Panggilan dari Nomor Tak Dikenal? Bisa Jadi Punya Ciri Kepribadian Ini
REKOMENDASI PRODUK
7 Smart Door Lock Terbaik untuk Rumah Lebih Aman Anti Maling
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Deretan Mesin Cuci Termahal, Fitur Canggih dan Harganya Bikin Melongo
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Merk Baju Bayi Perempuan Baru Lahir yang Lucu dan Unik
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Produk Wardah yang Aman untuk Ibu Hamil, Lengkap dari Sabun Cuci Wajah-Suncreen
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Jet Cleaner Terbaik, Ampuh & Cepat Bersihkan Noda
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Potret Adzana dan Rizky Alatas Hadiri Peresmian Museum Sang Kakek Bing Slamet
15 Dongeng Romantis Sebelum Tidur tentang Cinta dan Kasih Sayang, Penuh Pesan Moral
Tak Perlu Tahan Lapar, Ini Rahasia Kareena Kapoor Sukses Turun BB Pasca Melahirkan
Cara Membuat 'Bawang Hitam' Kaya Manfaat dengan Magic Com di Rumah
Bank Mega Syariah Perkuat Segmen Lifestyle melalui METRO Modest Fashion Week di Solo
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Mau Rawat Bibir Lebih Intensif? Coba Kenali Melting Balm
-
Beautynesia
5 Cara Alami Mengencangkan Kulit Wajah, Bikin Tampak Kencang dan Awet Muda!
-
Female Daily
Deretan Artis Indonesia yang Nonton Konser The Weeknd di Jakarta, dari Sandrinna Michelle hingga Syifa Hadju
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
7 Foto Terbaru Alyssa Daguise-Al Ghazali Bareng Baby Soleil yang Jadi Sorotan
-
Mommies Daily
Jangan Keburu Baper, 8 Red Flag Ini Sebaiknya Kamu Perhatikan Saat First Date