PARENTING
8 Cara Mendidik Anak agar Tangguh Menghadapi Tantangan Menurut Pakar
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Jumat, 02 Oct 2026 18:20 WIBSetiap anak akan menghadapi tantangan dalam proses tumbuh kembangnya, baik di lingkungan sekolah hingga kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, orang tua perlu membantu anak membangun kemampuan untuk menghadapi tantangan tanpa selalu bergantung pada bantuan orang lain.
Menurut pakar, sikap tangguh dapat dilatih sejak dini melalui pola asuh yang tepat. Kuncinya, orang tua perlu mengenalkan anak bahwa mereka bisa mengalami kemunduran saat ingin menggapai sesuatu yang diinginkan.
"Ketahanan bukan tentang berpura-pura bahwa sesuatu itu tidak sulit. Sebaliknya, ini tentang kemampuan untuk mengakui bagaimana perasaan seseorang dan mampu terus melewatinya. Beri tahu anak bahwa kita percaya padanya dan beri mereka kesempatan untuk mengalami kemunduran yang sesuai dengan usia mereka," ungkap psikoterapis Amanda Macdonald, dilansir laman GoodTo.
"Sebagai orang tua, kita mungkin tergoda untuk ikut campur, tetapi ini tidak memungkinkan anak untuk belajar bahwa kemunduran adalah hal yang normal, dan bahwa mereka dapat mengatasinya."
Lantas, bagaimana cara mendidik anak agar tangguh menghadapi tantangan? Simak penjelasannya berikut ini!
Cara membesarkan anak yang tangguh
Berikut 8 cara membesarkan anak yang tangguh menurut pakar:
1. Membangun hubungan yang saling percaya
Membangun hubungan yang saling percaya adalah salah satu cara untuk membesarkan anak menjadi tangguh. Menurut pakar Lauren Brown, orang tua dapat membantu mengembangkan ikatan ini dengan menghabiskan waktu berdua secara teratur dengan anak-anak, tanpa gangguan telepon atau pekerjaan.
Ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan bersama, seperti bermain game atau berolahraga bersama sehingga anak dapat melihat orang tuanya bisa memecahkan masalah, mengatasi kesulitan, dan mencoba hal-hal baru. Anak-anak juga akan belajar dari perilaku orang tuanya.
"Salah satu cara terpenting untuk membangun ketahanan pada anak-anak adalah dengan fokus membangun hubungan yang kuat dan saling percaya. Ketika anak-anak memiliki setidaknya satu orang tua, pengasuh, atau orang dewasa lain yang stabil dan suportif, mereka lebih cenderung mau mengambil risiko, keluar dari zona nyaman, dan mengelola stres karena mereka tahu bahwa orang ini akan ada di sana untuk mendukung mereka," ungkap Brown.
2. Komunikasi terbuka
Penelitian di Journal of Applied Communication Research tahun 2018, menunjukkan bahwa komunikasi positif dalam keluarga bisa memberikan landasan untuk membekali anak-anak dengan keterampilan untuk mengatasi stres dan pulih dari tantangan tak terduga. Komunikasi antara orang tua dan anak sangat penting dalam memberikan contoh respons terhadap keadaan yang penuh tekanan.
Komunikasi yang suportif, instruktif, dan responsif dapat memperkuat ketahanan. Sebaliknya, metode komunikasi yang mengontrol atau meremehkan bisa mendorong anak-anak untuk menjadi mudah marah atau impulsif ketika menghadapi kesulitan.
"Komunikasi membantu anak-anak mengembangkan fondasi ketahanan. Setelah dialog dibuka, orang tua dapat lebih mudah mengajarkan anak-anak keterampilan pemecahan masalah dan kemampuan untuk menganalisis tantangan," ujar konselor dan pakar pengasuhan anak, Jenny Warwick.
3. Hindari menyelesaikan masalah anak-anak
Sebagai orang tua, Bunda dan Ayah perlu menghindari untuk menyelesaikan semua masalah yang dialami anak-anaknya. Ketika anak-anak menghadapi masalah, mudah untuk langsung turun tangan dan menyelesaikannya untuk mereka, tetapi ini tidak memungkinkan mereka untuk menemukan cara mengatasi masalah tersebut sendiri.
"Sejumlah stres diperlukan untuk belajar dan berkembang," kata Macdonald.
"Seiring waktu, seiring pertumbuhan anak, dan saat mereka mulai bersekolah dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk jauh dari figur yang menjadi tempat bergantung mereka, seorang anak dituntut untuk belajar bagaimana mengatasi kemunduran tanpa orang tua atau pengasuh yang selalu ada untuk turun tangan, memberikan jaminan, dan memperbaiki keadaan."
4. Memecahkan masalah bersama-sama
Alih-alih membantu anak memecahkan masalah, Bunda bisa mendampingi anak agar melakukannya dengan benar. Cobalah untuk membantu anak menemukan solusi sendiri dengan memberikan perhatian penuh, melihat masalah bersama-sama, dan kemudian mengajukan pertanyaan yang akan mengarahkan mereka untuk mencoba pendekatan baru sendiri. Mengajarkan keterampilan pemecahan masalah akan membantu mereka memiliki kepercayaan diri untuk mencoba sendiri di masa depan.
"Seiring anak-anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa, mereka belajar bahwa orang tua mereka tidak dapat menyelesaikan segalanya. Jadi, dengan mengalami rintangan kecil dan menyelesaikannya dengan bimbingan orang tua, mereka memiliki sumber daya dalam diri mereka untuk terus maju melewati masa-masa sulit dan dapat mengurangi perasaan cemas yang dapat muncul ketika mereka menghadapi tantangan yang lebih besar," ungkap Macdonald.
5. Bersikap terbuka tentang tantangan yang Bunda hadapi
Anak-anak belajar melalui contoh. Bersikap jujur tentang tantangan yang dialami orang tua dapat mengajarkan anak cara mengatasi tantangan mereka sendiri.
"Dengan menunjukkan bagaimana orang tua mengelola ketahanan dengan memberi tahu anak ketika telah melakukan kesalahan, dan membiarkan anak melihat bagaimana kita mengatasi kemunduran adalah pelajaran yang bagus tentang ketahanan," kata Macdonald.
"Bagikan kepada anak bagaimana perasaan kita tentang hal itu, dengan cara yang sesuai dengan usianya, dan biarkan mereka menyadari bahwa kita mungkin mengalami kekecewaan atau rasa sakit, tetapi kita dapat terus maju."
6. Ajarkan anak-anak tentang pengambilan risiko
Para psikolog mengatakan bahwa orang tua perlu mengenali dan memahami perbedaan antara pengambilan risiko yang berbahaya dan pengambilan risiko yang sehat. Hal itu dapat memberikan contoh dan mengajarkan hal yang baik kepada anak-anak.
"Sebagai orang dewasa, mendekati aktivitas atau situasi baru dengan sikap, 'Apa hal terburuk yang bisa terjadi?', dapat membantu anak-anak kita menyadari bahwa mencoba sesuatu sering kali berakhir dengan baik," ungkap Brown.
"Contohnya bisa dengan membiarkan anak mencoba makanan baru. Ketika kita mencoba sesuatu yang baru, kita merangkul tantangan daripada memendam perasaan bahwa kita tidak mampu melakukan sesuatu yang baru," sambungnya.
7. Biarkan anak-anak memberi label pada emosi mereka
Membantu anak-anak memahami emosi mereka adalah langkah menuju penerimaan emosi tersebut. Brown menyarankan bahwa membiarkan anak-anak memberi label pada emosi mereka merupakan strategi positif untuk mengelolanya.
"Ketika menghadapi situasi atau masalah yang menegangkan, mengajari anak-anak untuk memberi label pada emosi mereka dapat membantu mereka memahami sensasi fisik yang mereka alami," kata Brown.
"Hal ini juga membantu anak untuk mengetahui bahwa orang tua memahami perasaan mereka dan membantu mereka untuk mengatur diri sendiri."
8. Nikmati keajaiban alam terbuka
Anak juga bisa menjadi tangguh bila dibiarkan untuk menikmati keajaiban alam terbuka. Penelitian menunjukkan bahwa berada di luar ruangan atau di alam dapat membantu tubuh untuk kembali normal, pikiran menjadi tenang, dan suasana hati membaik.
Ada banyak aktivitas yang dapat dilakukan di luar ruangan bersama anak, seperti mendaki bukit atau berkunjung ke taman. Mereka yang terbiasa menikmati suasana alam dapat memperoleh banyak keterampilan ketahanan dari pengalaman berinteraksi dalam segala kondisi.
Demikian cara mendidik anak agar tangguh menghadapi tantangan menurut pakar. Semoga informasi ini bermanfaat.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)Simak video di bawah ini, Bun:
7 Kalimat yang Bikin Anak Minder Seumur Hidup
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Anak Suka Menjawab Saat Dibilangin? Ini Cara Mendidiknya agar Tetap Berani Bicara tapi Sopan
Psikolog Ungkap Cara Mendidik Anak Tanpa Harus Memarahi & Membentak
5 Cara Mendidik Anak dalam Islam, Bunda Perlu Tahu
6 Tips Agar Anak Mau Memaafkan Kesalahan Bunda
TERPOPULER
Momen Leony Ajak Tunangan Bule Bertemu Sahabat hingga Keluarga Besar
9 Kalimat yang Diucapkan Orang Cerdas saat Hadapi Konflik
Kisah Pertani Temukan Emas 16 Kg di Sawah
8 Cara Mendidik Anak agar Tangguh Menghadapi Tantangan Menurut Pakar
Orang yang Suka Mengabaikan Panggilan Nomor Tak Dikenal Punya Ciri Kepribadian Ini
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Blush On Stick Terbaik untuk Bikin Pipi Merona Natural dan Fresh
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Smart Door Lock Terbaik untuk Rumah Lebih Aman Anti Maling
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Deretan Mesin Cuci Termahal, Fitur Canggih dan Harganya Bikin Melongo
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Merk Baju Bayi Perempuan Baru Lahir yang Lucu dan Unik
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Produk Wardah yang Aman untuk Ibu Hamil, Lengkap dari Sabun Cuci Wajah-Suncreen
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Momen Leony Ajak Tunangan Bule Bertemu Sahabat hingga Keluarga Besar
9 Kalimat yang Diucapkan Orang Cerdas saat Hadapi Konflik
8 Cara Mendidik Anak agar Tangguh Menghadapi Tantangan Menurut Pakar
Hamil 31 Minggu, Apa yang Dirasakan dan Perubahan yang Terjadi?
Kisah Pertani Temukan Emas 16 Kg di Sawah
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Butuh Jaket Tebal Untuk Liburan ke Dataran Tinggi? Ini Pilihannya
-
Beautynesia
5 Kampung Batik Paling Terkenal di Indonesia
-
Female Daily
Wardah SKINVERSE 3.0 Hadir di Jakarta, Saatnya Kamu Kenalan dengan Skin Longevity dan Lifestyle Rituals!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Rayakan 25 Tahun Film 'Glitter', Mariah Carey Pakai Kalung Berlian Rp 27,7 M
-
Mommies Daily
7 Tempat Belajar Membatik untuk Anak dan Dewasa, Seru dan Edukatif