HaiBunda

PARENTING

Anak Tidak Sopan & Sulit Menghargai Orang Lain? Ini 7 Kebiasaan yang Perlu Dibangun di Rumah

Asri Ediyati   |   HaiBunda

Rabu, 21 Oct 2026 18:20 WIB
Anak tidak sopan/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Antonio_Diaz

Sebagai orang tua, kita ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang baik. Kita ingin mereka berlaku sopan dan menghargai orang lain. Anak-anak perlu belajar cara bersikap hormat agar mereka dapat membangun hubungan yang sehat dengan teman sebaya, orang-orang di sekolah dan lingkungan, dan anggota keluarga. Anak-anak yang tidak hormat cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang juga tidak hormat.

Namun, ternyata mengajari tentang rasa hormat pada anak itu agak tricky bagi orang tua. Intinya, konsep-konsep abstrak seperti "rasa hormat" tidak memiliki makna bagi anak-anak, Bunda. Hingga usia sekitar 12 tahun, proses berpikir kita sebagian besar bersifat konkret.

Otak kita belum mengembangkan kompleksitas neurologis yang memadai untuk dapat memahami konsep-konsep yang bersifat abstrak atau tidak berwujud secara penuh.


"Jika Anda mencoba berbicara dengan anak kecil mengenai gagasan seperti "martabat", misalnya, kemungkinan besar pembicaraan tersebut tidak akan membuahkan hasil. Paling banter, Anda hanya akan mendapatkan respons berupa pengulangan kata-kata yang sebenarnya tidak dipahami oleh anak tersebut," ujar Terapis Pernikahan dan Keluarga berlisensi, memiliki gelar Magister di bidang Psikologi Konseling dan gelar Ph.D. di bidang Perkembangan Manusia, Gabriel Young, Ph.D., dikutip dari Psychology Today.

Akan tetapi, kita dapat mencapai tujuan komunikasi jika menyampaikan sesuatu yang bersifat konkret dan jelas. Seperti ini misalnya, Bunda melihat Si Kecil menjulurkan lidah. Bunda bisa mengajarkan, "Saat kamu menjulurkan lidah ke arah anak lain, itu membuat mereka merasa tidak enak. Jadi, kita punya aturan, lidah harus tetap berada di dalam mulut."

Anak tersebut mungkin belum mampu memahami apa artinya merendahkan martabat atau harga diri seseorang, karena konsep-konsep itu tidak bersifat konkret. Namun, instruksi "jaga lidahmu agar tetap di dalam mulut" sangatlah jelas dan mudah dipahami.

Dari sini, penting untuk membangun kebiasaan yang baik sejak dini anak agar kelak menjadi orang dewasa yang penuh hormat, perhatian, dan sopan.

7 kebiasaan yang perlu dibangun di rumah agar anak sopan dan menghargai orang lain

Supaya anak tumbuh menjadi pribadi yang sopan dan menghargai orang lain. Berikut tujuh cara kebiasaan yang perlu dibangun di rumah.

1. Mendorong anak untuk tidak membendung perasaannya

Anak-anak perlu bisa mengungkapkan rasa frustrasi mereka terkait kehidupan dalam keluarga dan aturan-aturan yang ada. Oleh karena itu, disarankan orang tua untuk menoleransi perilaku semacam itu.

Bagaimanapun, remaja perlu belajar untuk memiliki perasaan dan pendapat sendiri, serta membutuhkan ruang aman untuk meluapkan rasa frustrasinya. Terkadang, mereka mungkin menunjukkannya dengan cara yang sangat tidak dewasa.

2. Ajarkan tanggung jawab, akuntabilitas, dan konsekuensi

Selalu kaitkan konsep-konsep ini bagi anak yakni tanggung jawab, akuntabilitas, dan konsekuensi. Bunda bisa katakan kepada anak, 
“Kamu bertanggung jawab untuk berperilaku dengan cara tertentu. Ayah/Ibu akan meminta pertanggungjawaban atas perilakumu tersebut. Dan akan ada konsekuensi jika kamu tidak mau bertanggung jawab.”

Pastikan anak memahami hubungan antara ketiga konsep penting ini. Misalnya, jika anak remaja Bunda melontarkan sebutan kasar atau menyakitkan kepada saudaranya, lalu memintanya masuk ke kamar, duduklah bersamanya setelah suasana tenang. Kemudian peringatkan dan berikan konsekuensi

3. Jadilah panutan (role model)

Kita adalah contoh nyata bagi anak. Orang tua yang berkata kepada anaknya, “Jangan tiru perbuatanku, ikuti saja perkataanku,” justru menciptakan standar ganda yang memicu negativitas dan kebencian.

Jujur saja, jika kita sendiri melakukan hal tersebut, akan menjadi sangat rumit saat kita meminta anak untuk berhenti. Jangan diajarkan 'munafik' karena percayalah, anak-anak sangat peka terhadap itu, Bunda.

4. Mengingatkan dengan tegas untuk berbicara dan bertindak santun

Anak-anak masih dalam proses belajar. Terkadang, cara terbaik untuk merespons perilaku tidak sopan adalah dengan memberikan pengingat yang tenang namun tegas, bahwa kita mengharapkan mereka untuk berbicara dan bertindak dengan santun.

Akan tetapi, pengingat akan jauh lebih efektif jika disampaikan sebelum perilaku tersebut terjadi. Sebagai contoh, jika kita hendak naik pesawat bersama anak-anak, bahaslah seperti apa perilaku yang sopan itu (berbicara dengan suara pelan, tidak menendang kursi di depan, dan sebagainya).

5. Gunakan restitusi atau ganti rugi

Jika anak atau remaja berperilaku tidak sopan, restitusi mungkin diperlukan untuk mencegah perilaku tersebut terulang kembali. Restitusi berarti melakukan sesuatu yang baik bagi pihak yang dirugikan, atau melakukan sesuatu untuk memperbaiki kerusakan yang telah terjadi.

Misalnya, jika anak memukul saudaranya, mintalah ia mengerjakan tugas rumah tangga saudaranya untuk hari itu. Atau, jika remaja  merusak sesuatu karena marah, ia bisa memperbaikinya atau menanggung biaya perbaikannya.

Ajarkan kepada anak bahwa sekadar mengucapkan “maaf” tidak selalu bisa memperbaiki keadaan. Restitusi membantu mereka untuk bertanggung jawab atas perilaku tidak sopan yang dilakukan, sekaligus berupaya memperbaiki hubungan yang ada.

6. Ajarkan anak untuk merenungi kesalahan

Sebagian besar perilaku tidak sopan harus ditindaklanjuti dengan konsekuensi yang diberikan segera. Ajarkan anak untuk merenungi kesalahan jika mereka berlaku tidak sopan. 

Menyediakan sudut khusus untuk menenangkan diri bisa menjadi konsekuensi yang efektif bagi anak-anak yang masih kecil. Sebagai contoh, jika seorang anak berusia enam tahun berteriak di depan wajah saat sedang marah, segera jelaskan kepadanya mengapa perilaku tersebut tidak pantas, lalu berikan kesempatan baginya untuk memperbaiki diri.

7. Suka cari perhatian itu wajar, jadi abaikan saja

Dikutip dari laman Parents, mengabaikan tindakan tidak sopan yang tergolong ringan mungkin tampak seolah-olah kita, orang tua membiarkan anak lolos begitu saja. Namun, mengabaikan secara selektif bisa menjadi salah satu bentuk konsekuensi yang paling efektif.

Mengabaikan berarti tidak membiarkan sikap tidak sopan anak mengalihkan fokus dari tugas yang sedang dikerjakan. Jika kita meminta anak untuk membersihkan kamarnya lalu ia memutar bola mata, jangan terjebak dalam perdebatan panjang mengenai perilaku tidak sopan tersebut.

Setiap menit yang kita habiskan untuk berebut kendali berarti 60 detik waktu yang terbuang, di mana anak justru menunda untuk mulai membersihkan kamar. Berikan peringatan mengenai apa yang akan terjadi jika mereka tidak segera mulai mengerjakan tugasnya.

(rap/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Ayah Terlihat Cuek? Ini Dampaknya ke Mental dan Kepribadian Anak

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

11 Ciri Orang Sudah Melewati Banyak Ujian Hidup, Termasuk Sikapnya Lebih Tenang

Mom's Life Amira Salsabila

Anak Tidak Sopan & Sulit Menghargai Orang Lain? Ini 7 Kebiasaan yang Perlu Dibangun di Rumah

Parenting Asri Ediyati

Perempuan Ternyata Lebih Sering Merasakan Sakit daripada Laki-laki

Mom's Life Amira Salsabila

Resep Bumbu Dasar Putih Serbaguna, Bisa untuk Opor hingga Tumisan

Mom's Life Amira Salsabila

16 Tanda Anak yang Dibesarkan oleh Orang Tua Terlalu Kritis

Parenting Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

11 Ciri Orang Sudah Melewati Banyak Ujian Hidup, Termasuk Sikapnya Lebih Tenang

Perempuan Ternyata Lebih Sering Merasakan Sakit daripada Laki-laki

Anak Tidak Sopan & Sulit Menghargai Orang Lain? Ini 7 Kebiasaan yang Perlu Dibangun di Rumah

Resep Bumbu Dasar Putih Serbaguna, Bisa untuk Opor hingga Tumisan

Anak Mulai Aktif Bereksplorasi, Ini yang Perlu Diperhatikan untuk Mendukung Tumbuh Kembangnya

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK