PARENTING
Cara Orang Tua Inuit di Kanada Mendidik Anak Tanpa Membentak Meski sedang Marah
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Senin, 26 Oct 2026 15:35 WIBSetiap orang tua memiliki cara tersendiri dalam mendidik anak, terutama ketika Si Kecil berbuat kesalahan. Sebagian orang tua mungkin spontan meninggikan suara untuk menegur anaknya. Tapi, ada juga yang menahan amarah saat menghadapi perilaku anak yang salah.
Metode pengasuhan dengan pengendalian emosi ini ternyata bukan hal baru di kalangan suku Inuit. Suku yang merupakan penduduk asli wilayah Arktik Kanada, Alaska, dan Greenland ini dikenal memiliki budaya dinamis dan tangguh.
Melansir dari laman Scary Mommy, dalam budaya Inuit, seseorang harus memiliki pengendalian amarah, emosi, atau segala bentuk permusuhan apa pun. Menurut ulasan dari Inuit of Utkuhikhalik and Qipisa Communities, orang-orang suku Inuit menerapkan pengendalian diri yang kuat pada emosi mereka. Bagi suku Inuit, menunjukkan tanda-tanda kemarahan malah dapat dianggap kekanak-kanakan, lemah, dan bodoh.
Mahasiswa pascasarjana Harvard yang tinggal bersama suku Inuit selama 17 bulan pada tahun 1970-an, Jean Briggs, menjadi saksi bagaimana suku Inuit dapat mengendalikan emosi saat marah. Menurutnya, orang-orang di sana tidak pernah menunjukkan kemarahan padanya.
"Seorang pun pernah menunjukkan kemarahan, meskipun mereka sangat sering marah kepada saya," katanya kepada Canadian Broadcasting Corporation, menurut NPR.
Pola asuh lembut ala suku Inuit
Suku Inuit dikenal karena pola pengasuhan anak yang paling lembut di dunia. Mereka jarang, atau bahkan tidak pernah, membentak anak.
Richard Guy Condon dalam buku Inuit Youth: Growth and Change in the American Arct mengatakan bahwa ia hanya mendengar satu kasus hukuman fisik yang terbukti dalam tiga tahun penelitian di lapangan. Menurutnya, anak yang berperilaku buruk di suku Inuit tidak dianggap sebagai 'anak nakal', yang sengaja melakukan tindakan tersebut, tetapi sebagai anak yang 'benar-benar tidak bisa mendengarkan'.
Para tetua suku Inuit menganggap parenting 'marah' sebagai suatu yang tidak baik. Mereka bahkan menertawakan gagasan untuk berteriak atau memarahi anak kecil, Bunda.
"Itu hanya akan membuat detak jantung meningkat. Kalau anak-anak kesal tentang sesuatu, kita (orang tua) seharusnya mencari tahu apa itu," katanya.
Bagi suku Inuit, membentak anak kecil juga dianggap merendahkan. Melakukannya sama saja membuat orang tua menjadi seperti anak kecil yang sedang mengamuk.
Suku Inuit menggunakan cerita untuk mengubah perilaku anak
Alih-alih marah, orang tua suku Inuit menggunakan cerita untuk mengubah perilaku anak. Ketika anak-anak berperilaku buruk, semua orang harus menunggu sampai anak-anak tenang dari situasi tersebut.
Orang dewasa juga harus berada dalam kondisi pikiran yang tepat agar ia bisa menyampaikan cerita yang dapat mengubah perilaku anak. Setelah semuanya tenang, orang tua mulai bercerita dan memeragakan kembali adegan dalam cerita tersebut.
"Orang tua akan menanggapi dengan mengatakan hal-hal seperti, 'Apakah kamu tidak menyukaiku?' atau 'Aduh, sakit!' atau 'Apakah kamu masih bayi?'," ungkap Briggs.
Briggs mengatakan bahwa dia pernah melihat seorang ibu memberikan kerikil kepada anaknya. Alih-alih berteriak marah, ibu tersebut malah meminta anaknya untuk memukulnya dengan kerikil tersebut.
"Ibu itu bilang, 'Pukul aku! Ayo. Pukul aku lebih keras'. Dia lalu bilang, 'Aduh! Sakit!'," katanya.
Apa yang dilakukan ibu tersebut mungkin terdengar berlebihan seperti adegan di film. Tetapi menurut Briggs, anak-anak belajar mengatur emosi dengan cara tersebut. Mereka akan berlatih mengendalikan amarah terhadap situasi dan belajar merespons terhadap perilaku tersebut.
Demikian pola asuh suku Inuit di Kanada yang mendidik anak tanpa berteriak. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)Simak video di bawah ini, Bun:
9 Pola Asuh Orang Tua yang Menunjang Kesuksesan Anak
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
20 Perbuatan Orang Tua yang Tanpa Disadari Menyakiti Hati Anak, Hindari ya Bun
Pentingnya Mengatasi Inner Child agar Tak Pengaruhi Pola Asuh Bunda pada Si Kecil
Kini Jadi Psikolog, Caca Tengker Tak Ingin Andalkan Teori dalam Mengasuh Anak
5 Dampak Buruk Karakteristik Sindrom Anak Emas, Berprestasi tapi Takut Gagal
TERPOPULER
7 Kebiasaan Orang dengan Kecerdasan di Atas Rata-rata saat Sendirian
Cara Orang Tua Inuit di Kanada Mendidik Anak Tanpa Membentak Meski sedang Marah
7 Ciri Orang yang Selalu Memendam Emosi dan Terlihat Baik-Baik Saja
Berjaya Selama 92 Tahun, Pabrik Biskuit Legendaris Ini Tutup Akhir Oktober
Tawarkan Hunian Murah, Apartemen Ini Justru Larang Penghuninya Punya Kendaraan
REKOMENDASI PRODUK
10 Rekomendasi Parfum Bayi yang Aman & Wanginya Tahan Lama
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Tripod HP Terbaik untuk Bikin Konten, Foto, dan Video
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Coffee Machine Terbaik untuk Bikin Kopi ala Kafe di Rumah
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Catokan Pelurus Rambut Terbaik untuk Styling Praktis di Rumah
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Panci Pink Anti Lengket & Awet, Koleksi Cantik Bikin Semangat Masak
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Tawarkan Hunian Murah, Apartemen Ini Justru Larang Penghuninya Punya Kendaraan
7 Kebiasaan Orang dengan Kecerdasan di Atas Rata-rata saat Sendirian
Cara Orang Tua Inuit di Kanada Mendidik Anak Tanpa Membentak Meski sedang Marah
Ikuti The Next Sobat Cermat 6 Under 6 & Raih Total Hadiah Ratusan Juta
7 Ciri Orang yang Selalu Memendam Emosi dan Terlihat Baik-Baik Saja
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Cara Membersihkan dan Merawat Stand Mixer Biar Awet dan Tidak Bau Adonan
-
Beautynesia
Jung Eun Chae, Jang Do Yeon, dan Yuri SNSD Dikabarkan Bintangi Sitkom Baru
-
Female Daily
Menemukan Benjolan di Payudara? Ini yang Perlu Dilakukan Selanjutnya
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Sinopsis Wrath of Man di Bioskop Trans TV Hari Ini
-
Mommies Daily
Bayi Menyusu Terus-Menerus, Apakah Normal atau Tanda ASI Kurang?