psikologi

Cerita Nagita dan Raffi Hadapi Rafathar Saat Tantrum

Nurvita Indarini 31 Jul 2017
Raffi dan Nagita/ Foto: Nurvita Indarini Raffi dan Nagita/ Foto: Nurvita Indarini
Jakarta - Putra semata wayang pasangan selebriti Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, Rafathar, menjadi pemeran utama film Rafathar Movie. Nah, namanya anak-anak pasti mood-nya sering nggak menentu kan ya, Bun. Belum lagi kalau pas lagi tantrum.

Terus gimana ya Nagita dan Raffi menghadapi Rafathar saat tantrum, terutama dalam proses syuting film tersebut? Kalau kata Raffi, saat syuting dilakukan, umur Rafathar masih sekitar satu tahun, sehingga masih belum terlalu sering tantrum.

"Kalau sekarang kan udah mau dua (tahun), lagi 'parah-parahnya'. Lagi caper banget. Waktu syuting kan satu tahun berapa bulan, ada capernya tapi nggak banyak. Lebih banyak tidur. Jadi harus sabar-sabar," kata Raffi saat mampir ke markas detikcom, Gedung TransTV, Jl Kapt Tendean, Jakarta, Senin (31/7/2017).

Sang bunda, Nagita, menambahkan waktu syuting Rafathar Movie, Rafathar biasanya tidur siang dua kali. Belum lagi dia harus makan, lalu butuh main. Namanya batita ya, Bun, kan nggak bisa dipaksa ya. Kalau nggak mau diminta atau diajak melakukan sesuatu, artinya ya benar-benar nggak mau.

"Dia kalau lihat aku, nggak mau syuting," imbuh Nagita.

Biar proses syuting filmnya lancar, suatu kali kameranya bahkan ditutup kain warna hitam lho, Bun. Tapi bagian lensanya dibolongi. Lalu Rafathar diminta untuk main-main saja dan gerakannya direkam menjadi model digital. Canggih ya? Iya, soalnya pakai metode Motion Capture Technology atau Mocap. Kalau ingin tahu seperti apa hasilnya, nonton aja filmnya mulai Agustus 2017, Bun.

Oh iya, soal tantrum, kata Nagita, banyak yang bisa menjadi pemicu tantrum. Kadang tantrum hari ini beda pemicunya dengan tantrum yang terjadi hari kemarin atau esok hari.

"Ya namanya orang tua kita kan juga lagi belajar juga. Anaknya juga masih, ya masih berkembanglah," imbuh Nagita.

Hmm iya sih ya, Bun, bener banget, orang tua dan orang dewasa memang harus sabar-sabar menghadapi anak saat tantrum. Jadi jangan sampai orang tuanya ikut tantrum kalau anaknya sedang tantrum.

Nagita sendiri memilih menghindari anak sesaat saat Rafathar tantrum dengan memukul-mukul bundanya. Menghindar sesaat dari anak seenggaknya bisa bikin emosi kita sebagai bundanya lebih reda kan, Bun.

Psikolog anak dan remaja dari RaQQi - Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi beberapa waktu lalu juga menyarankan agar orang tua menyingkir sebentar untuk merenungkan sesaat apa penyebab tantrum pada anaknya. Anak juga perlu melepaskan marah dan kesalnya, misalnya dengan cara menangis keras. Setelah anak tampak lebih tenang, baru diajak berkomunikasi.

Kalau Bunda, punya cerita juga saat anak tantrum? Lalu gimana mengatasinya, Bun? (vit/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi