psikologi

Duh, Nak, Kecil-kecil Kok Sudah Bergosip?

Radian Nyi Sukmasari 21 Feb 2018
Duh, Nak, Kecil-kecil Kok Sudah Bergosip?/ Foto: Thinkstock Duh, Nak, Kecil-kecil Kok Sudah Bergosip?/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Bergosip. Dengar satu kata itu bisa jadi yang terlintas di pikiran kita hal tersebut hanya dilakukan orang dewasa. Tapi, gimana kalau yang bergosip adalah anak-anak ya, terutama anak usia sekolah?

Soalnya ini memang bisa terjadi, Bun. Pada anak umur 8-9 tahun, bergosip yang merujuk pada membicarakan orang lain secara sembunyi-sembunyi dan nggak jarang dilakukan diam-diam karena anak seusia ini sedang bereksperimen seberapa besar kekuatan dan pengaruh yang mereka miliki terhadap orang lain, demikian disampaikan Karin S. Frey, PhD, associate professor psikologi pendidikan di University of Washington.

Nah, kalau tahu anak bergosip apa yang baiknya dilakukan orang tua? Ada nih, Bun, sebuah studi dari Duke University yang meminta 60 pasang anak perempuan bebas bermain selama 15 menit. Selama waktu itu, mereka ternyata juga bergosip tentang 24 orang. Sebagian besar hanya membicarakan aja tapi lainnya ada yang memuji bahkan menyatakan sesuatu yang negatif dan berpotensi menyakitkan.

Kata pemimpin studi, Kristina McDonald PhD, orang tua perlu menjelaskan ke anak meski yang mereka bicarakan adalah kenyataan, tapi baiknya hindari hal itu. Coba bermain peran untuk menunjukkan kalau digosipkan pasti rasanya tidak mengenakkan. Kalau memang anak masih belum bisa menahan diri untuk nggak membicarakan temannya, minimal kita sampaikan ke mereka batasannya, Bun.

Seperti kata pakar parenting, Elleen Kennedy-Moore, ada batasan yang perlu kita sampaikan untuk tidak dibicarakan anak antara lain isu sensitif seperti perceraian orang tua dan situasi di keluarga, hal memalukan, dan hal yang belum tentu benar. Nah, ada hal yang menarik dalam temuan Kristina di studinya nih, Bun. Jadi, anak yang bergosip cenderung lebih disukai teman-temannya.



"Tapi kita bisa sampaikan ke anak kalau mereka sering menggosipkan orang lain, teman-temannya juga cenderung menggosipkannya. Kasih tahu juga ke anak selain bergosip ada kok cara lain yang bisa dilakukan untuk mempererat persahabatan misalnya bikin proyek bersama, galang dana bareng atau membentuk klub olahraga," tambah Kristina dikutip dari Parents.

Pastinya tidak menyenangkan ya, Bun, ketika merasa anak kok jadi senang bergosip. Untuk itu. Elleen punya saran ketika anak mulai bergosip atau membicarakan orang lain dengan kita dan kita tahu kabar itu belum tentu benar, sampaikan kalau hal itu nggak mesti dibahas dan bukan urusan kita.

Beberapa waktu lalu, psikolog anak Fathya Artha Utami menyampaikan memang penting buat kita membiasakan anak terbuka dengan orang tuanya, Bun. Tapi, ketika anak dirasa menyampaikan sesuatu yang kita tahu keliru, nggak perlu langsung potong atau hentikan omongan anak. Fathya menyarankan, dengarkan dulu apa yang disampaikan anak kemudian pelan-pelan kita 'masuk' untuk membenarkan kekeliruan itu.

"Tanya juga ke anak apa pendapat dia soal hal itu. Sehingga, nantinya terbentuk diskusi, bukannya kita langsung potong anak pas bicara dan marah-marahin dia," ujar Fathya.


(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi