psikologi

Yuk Sesekali Bebaskan Anak Membuat Keputusan

Melly Febrida 23 Apr 2018
Yuk Sesekali Bebaskan Anak Membuat Keputusan/ Foto: dok.HaiBunda Yuk Sesekali Bebaskan Anak Membuat Keputusan/ Foto: dok.HaiBunda
Jakarta - Setiap manusia memiliki hak untuk bebas, termasuk anak-anak, Bun. Kita saja sebagai orang dewasa nggak sedikit yang enggan dikendalikan. Ini karena ada sesuatu di dalam jiwa kita yang ingin bebas. Bicara soal kebebasan pada anak, sebagai orang tua, kita termasuk orang tua yang mengendalikan atau membimbing anak ya?

Ketika anak-anak masih bayi, mereka nggak memiliki banyak kapasitas untuk mengambil keputusan. Tapi, begitu anak sudah bisa berbicara, orang tua bisa menawarkan anak kesempatan untuk membuat pilihan. Misalnya, mau pakai baju yang warna apa?

Jenni Stahlmann dan Jody Hagaman yang memiliki sembilan anak menuliskan, anak-anak yang tumbuh besar sudah lebih banyak membuat pilihan, Bun. Inilah tantangan orang tua dalam memberi anak kebebasan untuk memilih, tetapi tetap aja sebagai orang tua kita mesti tahu kapan harus 'masuk' ke kehidupan dan membimbing mereka. Sehingga, bisa dibilang ada garis tipis antara kepemimpinan dan kontrol.



"Pertanyaan sebenarnya adalah apa batasannya? Kami ingin anak-anak kami aman, taat hukum, menghormati orang-orang di sekitar mereka dan juga melakukan sesuatu sesuai minat dan ketertarikannya," tulis Jenni dan Jody yang juga pembicara internasional seperti dilansir Herald Tribune.

Misalnya begini, Bun, kalau di luar suhunya dingin dan anak nggak mau pakai jaket orang tua mungkin bersikeras anak harus nurut melakukan itu. Tapi misalnya anak nggak mau pakai baju tertentu namun kita memaksanya karena malu dengan penampilan anak yang kayak gitu, coba lepaskan kendali, Bun.

Kalau bukan karena alasan yang urgent atau menyangkut keamanan dan kenyamanan anak, coba yuk biarkan anak jadi dirinya sendiri. Baru-baru ini, Jenni mengajarkan putrinya yang berusia 11 tahun Eden untuk membuat keputusan yang sulit. Eden ditawari beli tanaman dan dia harus bisa merawat sampai tanaman itu dijual. Tapi, Eden memutuskan untuk nggak ikut membeli tanaman.

"Jenni sempat menyarankan Eden membeli tanaman, tapi Eden tetap pada keputusannya. Saya pun membiarkan Eden nggak berjualan. Belajar untuk memimpin dan tidak mengendalikan anak-anak kita berarti mengajarkan mereka gimana memilih teman tetapi tidak memilihkan teman untuk mereka," kata Jenni dan Jody.

Itu berarti, kita sebagai orang tua, memungkinkan anak mendengarkan tubuh mereka sendiri dan berhenti makan ketika mereka kenyang daripada menuntut mereka membersihkan piring mereka. Kemudian, kita juga bisa mengajarkan anak konsekuensi dan segala sesuatu dalam hidup ini nggak selamanya berjalan sesuai kemauan.

"Pada akhirnya, kita para orang tua perlu mengingat anak-anak kita bukanlah perpanjangan dari kita. Mereka adalah orang-orang unik dengan perspektif, selera, dan takdir mereka sendiri," katanya.



Tugas kita sebagai orang tua, kata Jenni dan Jody, bukan untuk menentukan semua hasil untuk anak-anak kita tetapi untuk membimbing mereka sepanjang jalan sehingga pada akhirnya mereka dapat belajar untuk memimpin diri mereka sendiri. Orang tua yang cenderung mendikte kemauan anak dan berusaha bikin anak-anaknya menuruti apa yang dimau si orang tua dikenal dengan pola asuh otoriter Bun. Tapi, kata Kata Kevin Shafer, PhD, associate sociology professor di Brigham Young University cara itu nggak bagus.

"Pada pola asuh otoriter, berteriak supaya anak nurut dengan kita bisa jadi solusi. Tapi di jangka panjang, ada kalanya anak akan memberontak dan kecemasan orang tua justru meroket. Seperti kita tahu juga terlalu keras pada anak juga berpengaruh pada fisik kita. Tensi darah meningkat, amarah meluap dan detak jantung bertambah," kata Kevin dikutip dari Parents. (rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi