psikologi

Memahami Trauma Anak yang Jadi Korban Pelecehan Seksual

Amelia Sewaka Rabu, 07 Nov 2018 - 12.02 WIB
Memahami Trauma Anak yang Jadi Korban Pelecehan Seksual/Foto: Istock Memahami Trauma Anak yang Jadi Korban Pelecehan Seksual/Foto: Istock
Jakarta - Baru-baru ini viral sebuah kasus pelecehan seksual. Seorang mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi korban pelecehan seksual rekannya sendiri saat menjalani kuliah kerja nyata (KKN) pada 2017 lalu.

Peristiwa pilu ini berbuntut pada proses perkuliahan keduanya. Mereka belum diizinkan wisuda sebelum administrasi dan pendampingan psikologi selesai. Setelah mengetahui kasus dugaan pelecehan seksual tersebut, pihak UGM langsung membentuk tim investigasi.

Tim ini telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi yang harus dilakukan pimpinan kampus. Salah satu rekomendasinya pihak kampus harus memberi pendampingan psikologi pada terduga pelaku dan korban. Sebelum pendampingan selesai, mereka tidak bisa menyelesaikan studinya di UGM.

"UGM akan mengambil langkah-langkah nyata yang diperlukan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum," ujar Kepala Bagian Humas dan Protokol UGM, Iva Aryani seperti dilansir detikcom.




Iva menjelaskan, opsi tersebut akan diambil pihak kampus apabila korban masih tidak puas dengan penyelesaian internal yang dilakukan pihak UGM. Menurut Iva, pihaknya mendukung penuh setiap langkah terduga korban dalam upayanya mencari keadilan.

Bisa dibayangkan ya, Bun, bagaimana perasaan orang tua ketika si anak dilecehkan secara seksual apalagi dilakukan oleh rekan atau temannya sendiri. Seperti kita tahu, pelecehan seksual yang dialami anak bisa jadi salah satu sebab anak merasakan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Pelecehan seksual adalah jenis trauma yang sangat menyeramkan karena berdampak pada rasa malu yang terjadi pada korban. Apalagi kalau korbannya anak-anak. Di usia ini mereka masih terlalu muda untuk tahu bagaimana harusnya anak mengungkapkan ketakutan dan mencari bantuan. Jika hal ini tak ditangani dengan benar, maka bisa menyebabkan PTSD, depresi dan kecemasan seumur hidup, seperti dilansir Psycholgy Today.
Memahami Trauma Anak yang Jadi Korban Pelecehan SeksualFoto: Istock
Trauma yang dihasilkan dari pelecehan seksual adalah sindrom yang memengaruhi bukan hanya korban dan keluarganya, tetapi masyarakat. Karena pelecehan seksual, penganiayaan dan pemerkosaan adalah konsep yang dipenuhi rasa malu dan terkadang budaya kita cenderung menekan atau menutupi informasi tentang si korban.

Menurut Child Trauma, di AS satu dari tiga wanita dan satu dari lima pria menjadi korban pelecehan seksual sebelum usia 18 tahun. Menurut American Academy of Experts in Traumatic Stress (AAETS), 40 persen perempuan dilecehkan secara seksual dan 30 persen laki-laki dilecehkan dengan cara tertentu. Ini artinya, pelecehan seksual tak hanya terjadi pada perempuan, tapi lelaki pun bisa mengalaminya.

Beberapa statistik paling mengejutkan yang digali selama penelitian tentang pelecehan seksual adalah anak-anak tiga kali lebih mungkin menjadi korban perkosaan daripada orang dewasa. Mengerikannya, pelaku pelecehan seksual pada anak lebih dimungkinkan oleh anggota keluarga atau dewasa lain yang akrab dengan keluarga, dibandingkan orang asing.
Memahami Trauma Anak yang Jadi Korban Pelecehan SeksualFoto: Istock

Penelitian lainnya menunjukkan, anak-anak yang mengalami pelecehan seksual cenderung pulih lebih cepat dan dengan hasil yang lebih baik jika mereka memiliki orang dewasa. Kemudian, jika orang tuanya memberi dukungan dan menunjukkan kepedulian secara konsisten.

Sangat penting bagi setiap korban pelecehan seksual mencari konseling untuk mengurangi atau mencegah gejala PTSD. Konseling juga bisa bantu mengurangi kemungkinan korban menjadi pelaku kekerasan.

(aml/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi