sign up SIGN UP search


trending

Ibunda Ledek Novel Baswedan Agar Terima Tawaran Jadi Direktur BUMN, Endingnya...

Annisa Afani Minggu, 03 Oct 2021 10:45 WIB
Korban penyiraman air keras Novel Baswedan bicara alasannya tak ikut rekonstruksi yang digelar polisi. Faktor kesehatan jadi alasan ia tak ikut rekonstruksi itu caption
Jakarta -

Beberapa waktu yang lalu, Novel Baswedan bersama 56 pegawai KPK yang tidak lulus tes wawasan kebangsaan (TWK) dipecat, Bunda. Tentunya, hal ini membuat rekan-rekan yang masih bertahan di sana menangis saat melepas mereka.

Pengumuman pemberhentian dengan hormat terhadap para pegawai KPK yang tak lolos TWK itu telah disampaikan oleh Wakil Ketua KPK Alexander Marwata pada Rabu (15/9). Dia mengatakan para pegawai KPK yang tak lolos TWK bakal diberhentikan dengan hormat per 30 September 2021.

Bicara soal sosok Novel Baswedan, ada pengalaman menarik ketika ia hendak menjadi pegawai KPK, Bunda. Saat akan menempuh langkah baru dalam hidupnya itu, Novel ternyata terlebih dahulu meminta restu ibunda, Fatmah.


Seperti diketahui, setelah lulus SMA, Novel menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol). Setelah lulus, dia menjadi polisi dan ditugaskan di beberapa daerah. Pada 2007, Novel dipercaya dan ditugaskan menjadi salah satu penyidik KPK dari unsur Polri.

Tak disangka, ternyata jadi penyidik KPK memang pekerjaan yang menarik buat Novel. Awalnya cuma diperbantukan dari Polri, seiring waktu Novel makin betah dan enjoy lalu berniat menjadi pegawai KPK. Ini artinya, Novel harus meninggalkan Polri.

Novel lantas mengutarakan keinginannya pada Fatmah demi mengharap restu ibundanya. Langsung saja Novel melancarkan jurus 'lobi pijitan'. Apa ya, Bunda?  Ternyata Novel mendekati ibunya dengan sudah membawa minyak gosok.

"Saya mau pijat kaki ibu dulu, baru ngomong sesuatu tentang pekerjaan saya," ucap Novel seperti dikutip dari buku Biarlah Malaikat yang Menjaga Saya, yang ditulis Zaenuddin MH.

Memang, Bunda, memijat kaki ibunya sudah jadi kebiasaan Novel. Setiap berkunjung ke rumah orang tuanya, Novel lebih dahulu menemui ibunya dan tak lupa memijat kakinya.

"Itu kelebihan Bang Novel sehingga dia begitu dekat dengan ibu. Terkadang saya jadi iri," kata adik Novel, Hafidz Baswedan.

Seolah-olah bisa menebak isi hati putranya, Fatmah langsung bertanya pada Novel apakah dia tertarik menjadi pegawai tetap KPK. Jawaban Fatmah pun bikin keputusan Novel makin mantap.

"Benar, Ma. Saya memang berniat bekerja di KPK saja. Apalagi kalau Ibu merestui, saya akan tinggalkan Polri dan jadi penyidik KPK. Terima kasih, ternyata Ibu sudah setuju ya," kata Novel sambil memijat kaki ibunya.

Suatu hari di tahun 2014 pun nama Novel termasuk dalam 28 penyidik dari Polri yang diangkat menjadi pegawai tetap KPK. Menjadi penyidik KPK dijalani Novel dengan penuh loyalitas. Jangankan kolega, orang tua saja tak mampu memengaruhi Novel.

Pernah suatu ketika saat santai sore Fatmah meledek Novel terkait pekerjaannya di KPK.

"Vel, katanya kamu ditawari jadi direktur BUMN. Ambil saja. Enak lho, Vel, gajinya besar. Kamu akan hidup kaya raya. Begitu terkadang saya meledek dia," ujar Fatmah.

"Ah, Mama. Saya jadi penyidik KPK saja. Kasihan kan rakyat, mereka harus dibela." Begitulah jawaban Novel. Bahkan, Fatmah sempat menyarankan putranya menangani kasus korupsi yang kecil saja. Kalau kasus besar yang dibongkar, Novel bisa punya musuh.

Tapi saat itu, dengan mantap Novel menjawab, "Kasihan, Ma. Rakyat jadi korban para koruptor. Jadi, kita harus membela rakyat."

Bunda, simak juga cerita pasangan beda negara yang bekerja keras di pesta pernikahan orang lain dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/som)
Share yuk, Bun!

Bunda sedang hamil, program hamil, atau memiliki anak? Cerita ke Bubun di Aplikasi HaiBunda, yuk!
Rekomendasi
Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!