aktivitas

Studi Ini Ungkap Kesuksesan Juga Dipengaruhi Pendidikan Anak

Melly Febrida 22 Jan 2018
Studi Ini Ungkap Kesuksesan Juga Dipengaruhi Pendidikan Anak/ Foto: Thinkstock Studi Ini Ungkap Kesuksesan Juga Dipengaruhi Pendidikan Anak/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Pendidikan dan kesuksesan orang memang tidak selamanya berbanding lurus. Ada beberapa orang sukses yang justru punya sejarah tidak menyelesaikan pendidikannya. Misalnya saja Mark Zuckerberg yang tidak merampungkan kuliahnya namun sukses dengan Facebook-nya. Atau bos Microsoft, Bill Gates, yang menjadi sukses meski tanpa gelar.

Penasaran dengan beberapa fakta itu, penelitian pun digelar untuk mengetahui apakah benar kesuksesan tidak dipengaruhi kemampuan seseorang menyelesaikan studinya. Jonathan Wai, dari Duke University di North Carolina, dan Heiner Rindermann, dari German Chemnitz University of Technology, mempelajari 11.745 pemimpin AS, termasuk kepala eksekutif, politikus, pemimpin bisnis dan hakim federal.

Menurut penelitian yang berlangsung selama 45 tahun itu, anak yang lulus kuliah lebih mungkin mendapatkan gelar doktor, dan dua kali lebih mungkin mendapatkan gelar PhD di bidang STEM, dibandingkan dengan anak-anak cerdas tapi tidak lulus kuliah, Bun.

Penelitian tersebut juga menemukan sebagian besar pemimpin yang sukses telah merampungkan kuliahnya, dan kebanyakan merupakan jebolan universitas elit. Para akademisi yang terlibat dalam penelitian juga menemukan 94 persen pemimpin yang mereka survei pernah kuliah di universitas, di mana setengahnya kuliah di salah satu universitas terkemuka di AS.



"Anak-anak yang melakukan tes di satu persen teratas cenderung menjadi ilmuwan dan akademisi terkemuka, CEO, hakim federal, senator, dan miliarder," kata Jonathan Wai, seorang psikolog di Duke University Talent Identification Program, Durham, seperti dikutip dari situs tes.com.

Dari penelitian diketahui pula sepertiga multimiliarder merupakan lulusan salah satu universitas elit di Amerika Serikat. "Bagi siswa yang berbakat dan memiliki motivasi untuk mencapai posisi puncak di AS, sebuah perguruan tinggi elit mungkin bisa membantu mencapainya, entah itu karena jaringan yang didapatkan atau karena informasi universitas di CV," kata peneliti.



Lee Elliot Major, kepala eksekutif Sutton Trust, mengatakan hal serupa terjadi di Inggris. Sekitar satu persen dari populasi Inggris kuliah Oxford atau Cambridge. Nah, lebih dari 70 persen pengacara dan hakim diambil berasal dari dua universitas tersebut.

Agar Anak Sukses

Studi terhadap anak-anak berbakat dilakukan dengan mengamati 5.000 anak-anak yang dites kecerdasannya. Penelitian yang berjudul Study of Mathematically Preccious Youth, pada awalnya dilakukan pada tahun 1971 di Johns Hopkins namun kemudian dipimpim Vanderbilt University.

Jurnal sains mencatat anak-anak tersebut sekarang berada di puncak karir mereka. Menurut Jurnal Ilmiah Nature, temuan ini bertentangan dengan dua teori lama. Pertama, teori yang menyebutkan kinerja yang hebat berasal dari praktik. Kedua, setiap orang bisa mencapai puncak sukses dengan usaha yang cukup terfokus.

Jurnal tersebut juga menuliskan, penelitian menunjukkan kecerdasan kognitif yang memang dimiliki seseolah lebih banyak berdampak pada kesuksesan ketimbang faktor lain seperti status sosial dan ekonomi. Meski demikian, pemimpin studi tersebut memperingatkan agar orang tua tidak mendorong anak menjadi genius, Bun.

"Soalnya itu bisa menimbulkan berbagai masalah sosial dan emosional," kata Camilla Benbow, dekan pendidikan dan pengembangan manusia di Vanderbilt University, dikutip dari Nature.



Meski begitu sebenarnya dalam banyak kasus memperlihatkan percuma orang terlahir pintar tapi tidak menekuni hal yang digelutinya. Sementara itu banyak pula orang yang memiliki kemampuan biasa-biasa saja, tapi tekun dan mau belajar.

Studi ini juga mengusulkan delapan tips untuk mendorong kesuksesan anak-anak di kemudian hari:

1. Papar anak dengan berbagai pengalaman.
2. Bila seorang anak menunjukkan minat atau bakat yang kuat, berikan kesempatan untuk mengembangkannya.
3. Dukung kebutuhan intelektual dan emosional.
4. Bantu anak mengembangkan 'mindset untuk berkembang' dengan memuji usahanya.
5. Dorong anak-anak untuk mengambil risiko intelektual dan bersikap terbuka dengan kegagalan yang membantu mereka belajar.
6. Waspadai label berbakat karena bisa menjadi beban emosional.
7. Bekerjasama dengan guru untuk memenuhi kebutuhan anak. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi