aktivitas

Keren! Bocah 11 Tahun Ini Ikut Kompetisi Spelling Bee Bergengsi di AS

Asri Ediyati 13 Feb 2018
Nathaniel Stone, berhasil lolos ke kompetisi Spelling Bee bergengsi di AS mewakili Jamaika/ Foto: Istimewa Nathaniel Stone, berhasil lolos ke kompetisi Spelling Bee bergengsi di AS mewakili Jamaika/ Foto: Istimewa
- Tentu ada perasaan bangga pada anak ketika mereka berhasil melakukan sesuatu. Terlebih lagi bagi bocah asal Jamaika bernama Nathaniel Stone ini, Bun. Soalnya, dia berhasil mewakili negaranya dalam kompetisi spelling bee (mengeja) bergengsi di AS.

Dalam tiga bulan, siswa dari seluruh negara akan bersaing memperebutkan piala emas yang didambakan pada kejuaraan Spelling Bee 2018, The Scripps National Spelling Bee. Nah, Nathaniel yang merupakan siswa kelas tujuh ini menjadi salah satu pesertanya.

Pada hari Rabu (7/2) lalu, Nathaniel Stone yang berusia 11 tahun menjadi juara kompetisi spelling bee Jamaika 2018. Pada bulan Mei mendatang, dia akan pergi ke Washington D.C. Tak cuma membawa diri, si kecil Nathaniel juga membawa serta harapan sebagai satu-satunya perwakilan negara non-AS yang memenangkan Scripps National Spelling Bee.

Meskipun sebagian besar pesaing berasal dari AS, program ini diperluas untuk memberikan kesempatan siswa dari negara lain seperti Kanada, Ghana, Jepang, Jamaika dan Meksiko dalam beberapa tahun terakhir.

"Untuk berhasil kita harus percaya kalau diri kita bisa mewujudkannya. Saya percaya pada diri saya sendiri," ujar Nathaniel dikutip dari People. Rencananya, Scripps National Spelling Bee berlangsung tanggal 27 Mei-31 Mei di Washington D.C.



Terkait dengan prestasi dan rasa percaya diri pada anak, patut diingat bahwa dalam memotivasi anak agar berprestasi di sekolah atau di bidang lainnya, jangan sampai membuat dia tertekan dan depresi ya, Bun. Menetapkan target nilai anak memang penting. Namun ingat, target yang dibuat bukan berdasarkan apa yang diinginkan orang tua, tapi target yang dibuat sendiri oleh anak.

"Biarkan anak punya target nilainya sendiri. Tapi misal dia kok target nilainya rendah banget misal cuma 5 atau 6, boleh orang tua menggali dan mendorong anak apa nggak pengen punya target yang lebih tinggi lagi. Tapi sekali lagi, bukan memakai target si orang tua ya," tutur psikolog anak dan remaja dari RaQQi Human Development and Learning Centre Ratih Zulhaqqi dikutip dari detikHealth.

Ingat juga, Bun, namanya kegagalan lumrah dialami anak karena di usianya, mereka memang lagi mencoba sesuatu dan ini kadang bisa bikin mereka putus asa dan nggak mau mencoba. Untuk itu, ketika anak mengalami kegagalan, orang tua baiknya tetap memotivasi si kecil dan tanamkan ke anak ketika sekali mengalami kegagalan, bukan berarti dia akan selalu gagal kok. Karena itu juga, penting banget untuk mengapresiasi anak dan tanamkan kepercayaan dirinya saat kondisi anak lagi drop.

"Tiap orang tua pasti ingin anaknya sukses. (Sedangkan) salah satu ciri kesuksesan adalah harus percaya diri. Anak yang percaya diri itu bisa begini karena mendapatkan pengakuan dari lingkungannya, terutama dari mama, papa, kakek-nenek, orang-orang terdekatnya lalu setelah sekolah, dari guru-gurunya," papar psikolog Rosdiana Setyaningrum.

(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi