aktivitas

Hiks! Anak 2 Tahun Robek Uang Kertas Rp 16 Juta

Asri Ediyati 08 Okt 2018
Hiks! Anak 2 Tahun Robek Uang Kertas Rp 16 Juta/ Foto: iStock Hiks! Anak 2 Tahun Robek Uang Kertas Rp 16 Juta/ Foto: iStock
Salt Lake City, Utah - Dikasih selembar uang robek saja rasanya kesal. Apalagi dalam jumlah yang banyak. Pasangan suami istri, Ben dan Jackee Belnap harus menerima nasib ketika anaknya, Leo yang berusia dua tahun merobek uang kertas mereka USD 1.060 atau Rp 16 juta (1 Dolar = Rp 15.200).

Leo rupanya senang bermain dengan alat pemotong kertas di rumahnya. Kejadiannya ini diceritakan kembali oleh Ben lewat Twitter. Ben menjelaskan cara Leo merobek uangnya untuk membelikan kakek Leo (ayah Ben) tiket pertandingan football di University of Utah.

"Jadi saya dan istri menabung untuk membeli tiket pertandingan football secara tunai. Kami menarik uang kemarin untuk membelinya, lalu kami tak bisa menemukan amplop sampai istri saya akhirnya memeriksa alat pemotong. Yup, anak kami merobek uang USD 1.060," tulis Ben di Twitter.

Jelas dari kejadian itu Ben dan Jackee nggak bisa marah dengan Leo. Twit Ben kemudian menjadi viral dan mendapat perhatian pada sejumlah media.


"Leo tidak tahu dia melakukan kesalahan apa pun. Rasanya tidak adil untuk marah, dan dia mungkin bahkan tidak tahu uang tunai apa yang kami gunakan, kartu kredit, hampir semuanya," kata Jackee kepada CBS.

Untungnya bagi orang tua yang santai ini, tidak semuanya hilang. Dalam sebuah twit lanjutan, Ben menjelaskan bahwa seorang pria di perbendaharaan meyakinkannya bahwa dia bisa mendapatkan uangnya kembali.

"Sebenarnya, saya berbicara dengan seorang pria di departemen perbendaharaan di DC. Dia pikir mereka mungkin bisa memulihkan beberapa (atau semua) uang yang robek," tulis Ben.


Hiks! Anak 2 Tahun Robek Uang Kertas Rp 16 JutaFoto: thinkstock

Ben melanjutkan, bahwa proses penggantiannya nggak langsung, akan membutuhkan waktu antara enam bulan dan tiga tahun untuk diganti. Setelah Ben dan Jackee bekerja memilah-milah semua kertas di shredder, mereka membagikan foto hasil akhirnya.

Soal ini, sebenarnya bisa dicegah jika tahu anaknya suka bermain dengan alat pemotong kertas. Orang bilang jangan banyak melarang anak yang sedang giat-giatnya mengeksplorasi lingkungannya. Banyak yang bilang biarkan saja anak mau bertindak apa saja agar kreativitasnya nggak mati dan nggak takut menghadapi dunia.

Tapi psikolog anak dari Rainbow Castle, Yulita Patricia Semet, bilang agar punya secure attachment dengan lingkungannya maka anak perlu struktur. Nah, struktur ini terbentuk dari batasan atau rule yang diterapkan orang tuanya.

"Yang dibutuhkan anak di bawah lima tahun adalah apa yang boleh dan yang tidak. Kalau memang ada larangan, maka harus ditampilkan secara konsisten," tutur perempuan yang akrab disapa Sisi ini.

Nah, kalau kita membiarkan anak melakukan semua hal yang dia inginkan, Bun, maka dampaknya justru anak nggak mandiri. Misalnya kalau kita membolehkan memberantakkan mainannya kapanpun anak mau, lantas ketika diajak membereskan mainan anak nggak mau maka kita yang membereskannya.

(aci/nwy)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi