aktivitas

Vennard Hutabarat, dari Hobi Jadi Profesi Berkat Dukungan Ortu

Yuni Ayu Amida Sabtu, 20 Okt 2018 - 18.00 WIB
Vennard Hutabarat/ Foto: Yuni Ayu Amida Vennard Hutabarat/ Foto: Yuni Ayu Amida
Jakarta - Memiliki profesi sesuai dengan hobi pastinya pilihan setiap orang. Begitu pula dengan Vennard Hutabarat, kapten timnas futsal Indonesia yang pernah juara pada laga Futsal AFF 2010 di Vietnam. Namun pastinya hasil ini tidak begitu saja diraih, Bun. Simak kisahnya yuk.

Vennard semula adalah pemain sepak bola profesional, namun ketika Indonesia menjadi tuan rumah piala Asia futsal pertama kali, tahun 2002, ia dan beberapa rekan lainnya dipilih PSSI untuk menjadi pemain futsal. Selain itu, salah satu alasan pria yang akrab disapa Veve ini akhirnya memilih fokus di futsal karena mengikuti pesan sang ayah, untuk menjaga ibunya.

"Orang tua saya almarhum, dan ibu saya meminta saya untuk jangan lagi main sepak bola karena banyak meninggalkan rumah kalau dikontrak sama tim-tim daerah ya. Akhirnya memutuskan untuk futsal dan sampai sekarang saya di futsal," kata Veve kepada Haibunda usai Press Conference McDonald's Junior Futsal Championship 2018 di McCafe, McDonald's Sarinah, Jl Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (19/10/2018).

Ilustrasi anak mainIlustrasi anak main/ Foto: iStock
Veve mengaku bahwa pencapaian yang diraihnya saat ini tidak lepas dari kerja keras dan dukungan kedua orang tuanya. Pria yang memang hobi berolahraga sejak umur 7 tahun ini memiliki bakat bermain bola yang diturunkan dari sang ayah yang juga gemar bermain bola.

"Dari kecil saya rutin latihan, setiap orang tua saya latihan sepak bola, saya selalu dibawa, seminggu bisa 2-3 kali. Itu membuat saya akhirnya suka olahraga. Suka sepak bola," tutur Veve.



Pria yang berhasil masuk nominasi 200 pemain futsal terbaik dunia ini pun bercerita bahwa sejak dulu orang tuanya selalu mendukung segala aktivitas olahraganya, seperti bulu tangkis, renang, dan karate. Sampai akhirnya ia menjatuhkan pilihan untuk fokus di futsal, dan menjadikannya sebagai profesi yang mengantarnya pada kesuksesan.

Ilustrasi anak mainIlustrasi anak main/ Foto: thinkstock
"Akhirnya di situlah saya bisa mengangkat yang namanya martabat keluarga, ortu didatangi wartawan dan diwawancarai itu suatu kebanggaan," ucap Veve dengan senyum.

Walau demikian, Veve tetap menunjukkan tanggung jawabnya sebagai anak. Dalam hal pendidikan, ia berhasil menyelesaikan sarjananya, berhasil di bidang olahraga, dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai hobinya.

Berkaca dari pengalamannya, Veve, yang kini jadi pelatih futsal ini menyimpulkan bahwa untuk membina dan membentuk seorang anak, orang tua tidak boleh memaksa kehendaknya. Orang tua pun harus memberikan kesempatan pada anak untuk menjalankan hobinya. Jangan membatasi anak, karena bisa membuat mentalnya terganggu.

"Kita bisa memberikan perhatian ketika anak itu memang memilih satu pilihan yang mereka jalankan dan kita melihat apa dia bisa bertanggung jawab dengan pilihannya. Ketika dia gagal dan arahnya bukan di futsal misalnya, ortu bisa mengalihkan ke hal lain. Misalnya kamu bagusnya belajar," tutup Veve.

Nah, dari cerita Veve ini, bisa kita simpulkan bahwa dengan memberikan anak kesempatan untuk menekuni hobinya, ia akan berhasil meraih impiannya. Boleh mengarahkan, tapi tidak memaksakan ya, Bun.

Dikutip dari detikcom praktisi multiple intelligence dan holistic learning, Ayah Edi, saat anak punya cita-cita ia akan fokus dengan tujuannya. Anak lebih mudah untuk terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun sebaliknya, ketika orang tua tidak mendukung cita-cita anak atau dengan kata lain memaksakan kehendaknya pada mereka, anak justru bisa berontak dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya saja menggunakan narkoba, mabuk-mabukan, dan seks bebas sebagai bentuk pelampiasan.

(nwy/nwy)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi