aktivitas

Penyebab Anak Perempuan dan Laki-laki Punya Selera Mainan Berbeda

Siti Hafadzoh Rabu, 31 Okt 2018 - 08.05 WIB
Ilustrasi mainan anak/ Foto: thinkstock Ilustrasi mainan anak/ Foto: thinkstock
Jakarta - Pernah terpikirkan nggak sih, Bun, kenapa ya anak perempuan lebih suka bermain boneka dan anak laki-laki lebih suka bermain mobil-mobilan? Padahal, nggak ada orang dewasa yang mengajarkan mereka untuk memilih dan menyukai salah satu mainan tersebut.

Dilansir What to Expect, anak laki-laki dan perempuan memang berbeda bahkan sejak bayi. Perbedaan ini terjadi karena hormon yang mereka terima di dalam rahim. Dari lahir, anak perempuan memiliki ketertarikan lebih tinggi terhadap orang dan wajah dibandingkan dengan anak laki-laki. Anak perempuan juga cenderung lebih suka berbicara.

Penjelasan tersebut dapat menjadi alasan kenapa anak perempuan lebih menyukai mainan yang berbentuk menyerupai orang, misalnya boneka. Mereka juga suka permainan peran. Misalnya, anak perempuan biasanya berpura-pura menjadi dokter, guru, atau bahkan menjadi ibu.



Di sisi lain, anak laki-laki dilahirkan dengan massa otot yang lebih besar dibanding anak perempuan. Makanya, mereka biasanya lebih aktif secara fisik dibandingkan anak perempuan. Itulah kenapa anak laki-laki menyukai permainan yang mengasah kemampuan mekanik dan spasialnya. Misalnya, permainan menyusun balok atau membuat rute balap mobil-mobilan.

Ilustrasi mainan anakIlustrasi mainan anak/ Foto: thinkstock
Namun, bukan berarti anak terkurung pada stereotip gender, Bun. Boleh kok memberikan anak mainan yang berlawanan gender. Menurut founder Yayasan Peduli Sahabat, Agung Sugianto, anak-anak boleh main apapun. Anak perempuan juga boleh main mobil-mobilan dan anak laki-laki juga boleh main boneka. Tapi, harus diperhatikan ya karakter yang dimainkan oleh anak.

"Kalau mobil-mobilan, anak laki-laki seringnya mobilannya dikumpulin terus 'jeder-jeder' kayak ditabrakkan gitu. kalau anak cewek mobilannya satu atau dua dan 'oh ini mobil suamiku', misalnya. Terus kalau main masak-masakan, kalau anak laki-laki bertindak sebagai koki. Dia tanya 'mau pesan apa ayah?'. Kalau perempuan beda, 'kasihan ayah capek ya, mau aku buatin teh?" ujar pria yang akrab disapa Sinyo itu.

Jadi, permainan nggak harus memandang gender kok, Bun. Anak bisa memainkan apa saja yang mereka mau. Nggak terikat dengan stereotip gender. Nah, kalau ada anak laki-laki yang ikut main masak-masakan, nggak perlu dianggap aneh. Hal terpenting peran yang dimainkan anak memang sesuai dengan gendernya.

(rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi