cerita-bunda

Ketahuan Selingkuh, Suami Tega Rampas Anak Dariku

Radian Nyi Sukmasari Sabtu, 05 Oct 2019 13:06 WIB
Ketahuan Selingkuh, Suami Tega Rampas Anak Dariku
Jakarta - Tiga tahun menjalani rumah tangga, aku dan suami masih adem ayem. Namun, semuanya berubah ketika ada perepuan pelakor alias si perebut laki orang yang masuk di kehidupan kami. Ya, suamiku selingkuh.

Sebelum menikah dengan suamiku di tahun 2015, aku berpacaran dulu dengannya selama 2 tahun. Kami pun punya seorang putri. Ketika si kecil berukur 2,5 tahun, gelagat suamiku mulai berubah. Dia, yang menjadi pedagang di pasar malam mulai jarang pulang.

Aku pun curiga dan saat dia pulang, terjadilah keributan. Bagaimana tidak, selain jarang pulang, sekalinya pulang amat larut dan tidak membawa cukup uang. Padahal, dia bilang pasar malam ramai kala itu. Di pertengahan tahun 2018 suatu pagi aku menemukan chat WhatsApp di HP suamiku.


Ternyata, itu dari seorang perempuan. Aku balas chatnya dan aku katakan bahwa suamiku sudah beristri dan punya anak. Ini kulakukan sebagai cara mengatasi suami selingkuh dan berbohong. Tapi, si pelakor enggak membalasnya lagi. Saat suami bangun, aku bertanya padanya siapa perempuan itu. Hanya teman satu pekerjaan, katanya.

Suamiku beralasan si perempuan bertanya malam ini akan dagang di pasar malam mana. Logikaku bermain. Kan masih banyak pedagang pasar malam yang sama-sama wanita, tapi kenapa suamiku yang dihubungi? Jangan-jangan suami

Setelah kejadian itu, suatu ketika suamiku enggak pulang selama seminggu, tanpa jabar, dihubungi pun enggak bisa. Aku sendiri sejak menikah memang sudah enggak boleh memiliki HP sebab suamiku orang yang cemburuan.

ilustrasi suami selingkuhilustrasi suami selingkuh/ Foto: ilustrasi selingkuh (Andhika-detik)
Padahal, dalam hatiku mungkin saja karena dia khawatir aku tahu tingkah busuknya dia melalui media sosial. Sejak suami tak pulang-pulang, aku harus menghidupi anak dan diriku sendiri. Beruntungnya, tetanggaku membantu dengan memberi bahan makanan atau masakan.

Bahkan, aku sempat diancam diusir dari kontrakan karena sudah telat seminggu bayar kontrakan. Tak tahan lagi, aku cari tahu di mana suamiku dagang. Setelah tahu tempatnya, aku ke sana dan kupergoki suamiku sedang berduaan dengan si wanita yang ftonya terpampang di akun WhatsApp pagi itu.

"Kamu enggak tanggung jawab aku sampe diusir dari kontrakan karena sudah enggak bisa bayar lebih dari seminggu. Makan untuk sambung hidup dari bantuan tetangga," kataku sambil terisak dan menggendong anak.

Aku marah-marah atau lebih tepatnya ngamuk di situ. Aku katakan pada suamiku kenapa enggak kunjung pulang dan malah enak-enakan dengan selingkuhannya. Sambil sesenggukan, aku juga menagih tanggung jawab nafkah dari suamiku. Aku minta uang padanya untuk pulang kampung. Namun, apa yang terjadi?

Memanfaatkan momen ketika aku melabrak si perempuan pelakor, suamiku mengambil si kecil dari gendonganku. Dia pun membawa kabur anakku bersama selingkuhannya. Ya ampun! Anakku dirampas oleh suamiku yang selama ini tak pernah bertanggung jawab sama sekali.

Aku stres sekali saat itu. Sebab, aku enggak tahu ke mana suamiku membawa anakku pergi. Aku hanya mau ketemu anak kala itu. Dengan langkah gontai aku kembali ke area kontrakanku dan tidur di rumah temanku. Untuk memenuhi kebutuhan, aku menawarkan diri untuk jadi tukang cuci gosok baju dengan bayaran harian.

ilustrasi suami selingkuhilustrasi suami selingkuh/ Foto: Thinkstock
Beruntung, temanku mengajakku jadi terapis pijat di Kaizen Mobile Spa. Sang pemilik dan istrinya amat baik padaku. Tak meminta ijasah dan dokumen lain, pak bos menerimaku bekerja. Dia juga mau membantu aku mencari anakku. Dengan bantuannya, aku pun tahu bahwa suamiku tinggal di daerah Jakarta Selatan.

Setelah aku ke sana, rupanya dia sudah pindah ke daerah lain karena diusir oleh pak RT setempat. Pasalnya, suamiku dan kekasihnya itu kumpul kebo. Lagi-lagi, aku dibantu Pak Bos dan Bu Bos mencari tahu lokasi anakku. Kurang lebih waktu sudah berjalan 3 bulan sejak kejadian terkutuk di pasar malam itu.

Tiba-tiba, keluarga suamiku meneleponku. Mereka bilang anakku dititipkan suamiku di kampung halamannya dan diurus kakek neneknya. Aku langsung ke sana dn sempat terjadi drama. Suamiku minta dikirimkan uang untuk biaya hidup anakku. Tanpa ba bi bu, aku beri uang itu supaya dia tak banyak omong.Akhirnya, anakku kembali ke pangkuanku. Saat itu, aku sedih melihat kondisi anakku. Dia amat kurus, seperti tak pernah diberi makan.

Bahkan setelah bersamaku, anakku yang tahun ini genap berumur 4 tahun diare dan muntah-muntah. Setelah diperiksa dokter, disebut dokter anakku terlalu banyak diberi obat yang mengandung obat tidur. Ya Tuhan! Sungguh biadab apa yang dilakukan dua orang itu. Demi anakku tak rewel, mereka tega mencekoki anakku dengan obat yang bisa berbahaya buat dia.

Selama berpisah dengan anakku, aku hanya bisa meminta pada Allah. Selesai salat aku selalu minta pada Allah untuk menguatkanku dan mempertemukan aku lagi dengan anakku yang jadi motivasi untuk aku melanjutkan hidup.

Sejak itu, aku melanjutkan pekerjaan menjadi terapi pijat. Sementara, anak aku titipkan ke orang tuaku. Aku mengajukan cerai dan kini aku sudah resmi menjanda. Tak apa, kataku. Yang penting, saat ini hidupku seudah tenang karena anak sudah aman bersama neneknya. Selama ini pula cuma aku yang membiayai anakku.

Dari bekerja sebagai terapis pijat, aku mendapat uang yang cukup dalam sebulan untuk memenuhi kebutuhanku dan anak-anak. Biasanya, tiga atau empat bulan sekali aku pergi ke kampung untuk menengok anak dan memberi uang pada ibuku. Hanya saja, Lebaran lalu aku tak pulang kampung. Sebaliknya, ibu dan anakku yang ke Jakarta. Alhamdulillah, mereka bisa kunaikkan pesawat. Betapa bersyukurnya aku.

Anakku memang belum kumasukkan ke sekolah. Sebab, umurnya masih kurang. Nanti, kalau dia sudah umur 5 tahun, akan kusekolahkan di area yang dekat dengan rumah orang tuaku. Dialah gadis kecilku, penyemangat dan motivasiku. Kalau ingat bagaimana kondisi dia setelah dibawa kabur ayahnya, hatiku menangis. Apa yang dia rasakan kala itu tiap hari diberi obat tidur. Tak tega aku membayangkannya.

ilustrasi suami selingkuhilustrasi suami selingkuh/ Foto: iStock
Sampai detik ini, mantan suamiku tak ada itikad baik melaksanakan tanggung jawabnya sebagai ayah. Uang sepeserpun tak pernah diberi untuk putrinya. Tapi tak apa, aku yakin aku bisa jadi ibu sekaligus ayah untuk putriku. Sebagai ibu, aku mau anakku tetap mengenal ayahnya. Tapi sayang, mungkin karena sejak kecil jarang bertemu ditambah ada pengalaman tak mengenakkan saat dia dibawa kabur, putriku tak mau mengingat ayahnya.

Namun, aku tetap sesekali mengingatkan dia pada anaknya. Bagaimanapun, anakku seorang perempuan. Ketika dia menikah kelak, kehadrian ayahnya sebagai wali dibutuhkan. Bolehlah aku punya mantan suami atau mantan suami punya mantan istri yakni aku. Tapi, jangan sampai putriku punya mantan ayah, juga sebaliknya mantan suamiku punya mantan anak, putri kami.

Sampai sekarang, aku belum kepikiran untuk menjalin hubungan lagi. Aku masih trauma. Lagipula, kini aku mau fokus dulu membesarkan anakku supaya dia bisa jadi orang sukses. Setidaknya, dia tidak mengalami apa yang ibunya rasakan. Jika memang Allah berkehendak, aku juga bercita-cita membuka usaha salon. Semoga niatku ini bisa terwujud, sekali lagi demi kehidupan aku dan anakku satu-satunya.

Untuk para wanita yang mungkin sedang memiliki masalah yang sama denganku yakni suami tega selingkuh, tetaplah kuat Bunda. Ingatlah bahwa masih ada anak yang membutuhkan kita sebagai orang tuanya. Yakinlah pada Tuhan, memintalah padanya, jangan bosan. Insya Allah jika kita berusaha, akan ada jalannya. Semoga pengalamanku ini bisa menginspirasi para bunda di luar sana untuk tetap semangat dan tegar dalam menghadapi masalah rumah tangga.

(Bunda Yanti - Jakarta) (rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi