Sign Up search


cerita-bunda

Jatuh Miskin Usai 3 Kali Nikah, Bisa-bisanya Ayahku Mengaku Disantet

Annisa Karnesyia Sabtu, 14 Dec 2019 18:59 WIB
Jatuh Miskin Usai 3 Kali Nikah, Bisa-bisanya Ayahku Mengaku Disantet caption
Jakarta - Hai Bunda, perkenalkan namaku Rina dan aku adalah anak dari istri pertama ayahku. Cerita ini begitu pilu untuk kuceritakan, tapi aku yakin ini harus dibagikan.

Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Di keluargaku, semua anak dididik keras oleh ayah sejak kecil. Ayah memang terkenal galak dan tegas.


Ibuku berjualan nasi warteg melanjutkan usaha orang tua, sedangkan ayah bekerja di salah satu perusahaan swasta besar. Hidup kami bahagia saat itu.


Sampai suatu ketika, saat aku duduk di kelas 2 SMA, ayah datang membawa badai ke keluarga kami. Ia mengaku pada ibu dan keluarga besar telah menikah lagi dengan seorang wanita. Wanita yang tidak dikenal.

Sejak saat itu, keluargaku seketika hancur. Kami membenci ayah yang saat itu langsung memutuskan untuk berpoligami. Ia bersikeras tidak akan menceraikan ibuku dan menyanggupi menafkahi keluarga. Tak lama, ayahku pergi dari rumah dan memutuskan tinggal di rumah istri keduanya.

Setiap kali aku, saudara-saudaraku, dan ibu bertemu ayah, pertengkaran selalu terjadi. Ayahku mulai berani main kasar. Ia melempar semua piring, bahkan memukul adik laki-lakiku di tengah jalan, di depan semua orang saat nenekku meninggal.

Dari pernikahan keduanya itu, ayahku dikaruniai dua anak perempuan. Entah kenapa, aku dan kedua saudaraku sangat membenci dua anak itu. Adikku bahkan pernah membentak mereka karena marah.

"Dasar anak perebut suami orang!," teriak adikku kencang saat dia mendatangi rumah istri kedua ayah untuk minta uang sekolah.

Hidup kami berjalan seperti ini selama lebih dari 20 tahun. Ibuku berhenti bicara dengan ayah. Ayah pun berhenti menafkahi kami sekeluarga. Sampai aku dan adik-adik lulus kuliah, semua biaya ibu yang tanggung, semuanya didapat dari hasilnya bekerja di warteg.

Sekitar lima tahun lalu, aku mendapat kabar dari adik tiriku yang kini sudah SMA. Ia bilang ayahku telah menikah lagi dengan seorang penjual nasi. Wanita itu adalah janda beranak satu yang usianya sama dengan kakakku.

Kejadian yang dialami ibuku berulang. Kali ini yang mengalaminya adalah istri kedua ayah. Ia ditinggalkan begitu saja tanpa dinafkahi.

Jujur, aku tidak peduli lagi dengan hidupnya. Malah sempat terlintas rasa senang melihat keluarga istri kedua ayah bernasib sama dengan keluargaku. Mereka sekarang hidup luntang-lantung.

Ilustrasi suami dan istri bertengkarIlustrasi suami dan istri bertengkar/ Foto: iStock

Sedikit cerita, sejak menikah dengan istri keduanya, ayah selalu hidup menghambur-hamburkan uang. Ia membeli banyak perabotan, mobil, dan menuruti semua permintaan dua anak perempuannya itu. Namun, ada yang aneh dari ayah. Ia tidak pernah mau membeli rumah. Ibuku dulu tinggal di rumah kontrakan, begitupun istri kedua dan ketiganya.

Kembali ke kisahnya bersama istri ketiga. Setelah menikah lagi, ayahku dikaruniai anak laki-laki. Setelah itu, kabar tentang ayah dan istri barunya hilang.

Kira-kira setahun yang lalu, ayahku muncul di rumah paman. Kebetulan rumah paman tidak jauh dari rumahku.

Ayah datang naik ojek dengan wajah lusuh. Aku ingat, saat itu dia sudah pensiun dari perusahaan tiga tahun sebelumnya.

Aku penasaran, mendatangi paman setelah ayah pergi. Paman bilang, ayahku sudah bangkrut. Ia mengaku menjadi korban santet yang membuatnya kehilangan harta dan ditinggal istri ketiganya.

"Bapak bilang dia ditinggal istrinya itu, dibenci anak-anaknya, dan bangkrut. Semua karena disantet. Ada yang enggak suka sama bapak," ujar paman padaku.

Aku lalu berpikir, kenapa ayah bisa menganggap dirinya disantet. Benar, banyak orang yang tidak suka padanya. Sampai istri dan anak-anak membencinya. Tapi, bukankah semua peristiwa itu terjadi karena ulahnya sendiri.

Sejak saat itu, ayah sering datang ke rumah paman. Meminjam uang untuk biaya hidup dan pengobatan untuk santetnya.


Perlahan-lahan hidupnya mulai menderita karena hartanya habis. Aku dengar dari paman, ayah bahkan tidak punya tempat tinggal dan beberapa kali menetap di masjid.

Sampai cerita ini aku bagikan, hidup ayahku masih sama. Ia tidak pernah mau bertemu dengan kami, bahkan ketika kakakku dan aku menikah, ia hanya datang saat akad untuk menjadi wali nikah, setelah itu pergi. Entahlah, mungkin dia merasa malu atau takut.

Aku tahu jika diriku terlihat jahat karena tidak mau membantu ayah. Tapi aku selalu teringat masa lalu, penderitaan ibu dan saudara-saudaraku. Meski begitu, paling tidak aku berdoa semoga Allah SWT selalu menjaga dan menyadarkannya.

(Kisah Bunda Rina di Lampung)

*Bunda yang ingin berbagi kisah seputar rumah tangga dan parenting di Cerita Bunda, bisa kirimkan langsung ke email redaksi kami di redaksi@haibunda.com Cerita paling menarik akan mendapat voucher belanja dari kami. dengan subjek Cerita Bunda. Ssst, Bunda yang tidak mau nama aslinya ditampilkan, sampaikan juga di email ya. Cerita yang sudah dikirim menjadi milik redaksi kami sepenuhnya. (ank/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi